1.28.2009

Fitna dan Tuan Van Dam

Oleh : Wildan Hasan

Harian Republika Jum’at (4/4) menurunkan wawancara dengan Duta Besar Belanda untuk Indonesia dan Timor Leste Dr. Nikolaos Van Dam terkait kasus film Fitna yang dibuat oleh politisi ultra kanan Belanda, Geert Wilders, yang menyulut kontroversi. Dalam wawancara tersebut dinyatakan bahwa tuan Van Dam hafal 15 surat dalam Al-Qur’an dan terkesan sangat simpatik. Namun apakah dengan hal seperti itu telah merubah sesuatu dari kasus Fitna? Ternyata tidak merubah apapun. Kecuali membuktikan kembali salah satu kemukjizatan Al-Quran yang akrab dan mudah dihafal oleh manusia bahkan oleh manusia yang mengingkarinya sekalipun. Berbanding terbalik dengan kitab suci tuan Van Dam yang apakah juga beliau dengan mudah hafal satu surat atau satu pasal saja dari Al-Kitab. Sementara Al-Qur’an keseluruhannya banyak dihafal oleh jutaan manusia.


Di sisi lain tuan Van Dam meminta umat Islam merenungkan surat Al-Zalzalah dalam menyikapi berbagai bencana yang terjadi saat ini. Ungkapan itu kembali terdengar sangat simpatik dan ucapan terimakasih patut disampaikan kepada tuan Van Dam atas masukannya tersebut. Sekalipun sebenarnya banyaknya bencana di muka bumi saat ini lebih banyak disebabkan bukan oleh umat Islam.
Pemerintah Belanda banyak berbicara soal kebebasan, kebebasan yang entah versi siapa. Termasuk arti kebebasan versi pemerintah Belanda yang kembali diulang oleh tuan Van Dam untuk membela sikap pemerintahnya terhadap kasus Geert Wilders. Sekali lagi hal ini tidak merubah apapun jika standar kebebasan yang dianut pemerintah Belanda tetap menerapkan standar ganda. Seharusnya sebagai sebuah pemerintahan yang sah, pemerintah Belanda harus memberikan hak beragama umat Islam yang juga warga Negara Belanda untuk menghirup udara kebebasan dan kemerdekaannya tanpa harus terganggu oleh orang-orang yang tidak mampu menghargai hak dirinya sendiri. Sebenarnya pemerintah Belanda dengan segala kewenangannya bisa melakukan hal yang lebih daripada hanya sekedar pernyataan dan himbauan, sehingga mampu menjelma menjadi sebuah pemerintahan yang layak dihargai oleh warga masyarakat Negara lain. Kalau hanya sekedar menolak dan mengecam, rakyat jelata juga mampu melakukan hal itu. Namun bukan untuk itu sebuah pemerintahan ditegakkan. Sekali lagi tanpa adanya tindakan nyata, sikap seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah menghadapi warga Negara yang mencoreng muka bangsanya sendiri. Buat apa ada aturan, undang-undang, penegak hukum dan pemimpin negara jika ternyata wewenangnya hanya menyatakan dan menyatakan? Maka kasus-kasus seperti ini akan terus bermunculan selama penyikapannya masih terus ambigu tidak berubah. Jadi siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai, pemerintah Belanda atau Geert Wilders?
Di bagian lain wawancara, tuan Van Dam sendiri menyatakan bahwa sebagian besar pejabat pemerintah Belanda menolak pendapat bahwa Islam menyebabkan kekerasan seperti serangan terhadap WTC dan bom Madrid. Dari pernyataan itu artinya sebagian yang lain yakin bahwa pelaku pemboman itu adalah umat Islam dan Islam identik dengan kekerasan. Artinya pula di pemerintahan Belanda tidak ada kesatuan kata untuk menyikapi kasus yang maha dahsyat, sangat fatal dan luar biasa sensitif seperti ini.
Tuan Van Dam melanjutkan bahwa dalam setiap masyarakat ada ekstremis, baik di masyarakat Kristen, Islam, Budha dan masyarakat lainnya. Tuan Van Dam dengan pernyataan ini seolah-olah menunjukkan bahwa yang melakukan peledakan-peledakan itu adalah ekstremis Islam. Masalahnya adalah adakah bukti dan faktanya? Tuan Van Dam pun sebenarnya tahu bahwa sampai saat ini tidak ada yang bisa menunjukkan bukti sahih umat Islam yang melakukannya. Sebaiknya tuan Van Dam sebagai orang yang bergelar Doktor berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan sebelum jelas fakta dan datanya agar tidak menodai dunia akademis.
Tuan Van Dam ternyata tidak bisa melepaskan diri dari kungkungan pola pikir Orientalis masa lalu yang mengadu domba umat Islam dengan pemilahan antara ekstremis dan moderat. Seolah-olah ada sisi ekstremisme dalam Islam. Padahal Islam tidak mengenal istilah-istilah seperti itu jika tuan Van Dam dengan benar mempelajari Islam. Dalam Islam tidak ada sisi ekstrim yang kemudian bisa membawa sebagian umatnya menjadi ekstremis. Adapun ada sebagian kecil umat Islam yang bertindak ekstrim, maka dapat dipastikan dia telah menyalahi aturan agamanya dan akan dianggap bersalah serta dijatuhi hukuman tanpa harus ada cap sebagai ekstremis Islam. Nampaknya saat ini dan seterusnya tuan Van Dam harus benar-benar membersihkan jiwa kolonialisme yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Kecuali –sebagai bentuk kebebasan- beliau bersedia dicap juga sebagai ekstremis Belanda. Sekalipun pada akhir wawancaranya beliau mengoreksi pemilahannya tersebut.
Hal di atas mirip dengan apa yang dinyatakan oleh Kepala Bagian Politik Kedutaan Besar Belanda, Paul Ymkeers (Republika, Jum’at 4/4) saat mengunjungi konsulatnya di Medan yang dirusak oleh mahasiswa. Dia kecewa atas bentuk penolakan film Fitna dengan perusakan karena pemerintah Belanda juga menolaknya. Tentu perbuatan mahasiswa di Medan patut disesalkan karena akan semakin mengaburkan penyelesaian kasus ini. Namun Mahasiswa Medan masih jauh lebih baik daripada sebagian lain umat Islam yang tidak merasa sakit ketika kehormatan agamanya dinodai. Jika pemerintah Belanda mau berkaca tidakkah mereka menyadari bahwa aksi anarkis Mahasiswa itu - termasuk aksi-aksi anarkis mahasiswa lainnya di berbagai belahan bumi Indonesia – bisa jadi adalah sisa-sisa dari ‘teladan’ yang Belanda wariskan saat menjajah Indonesia. Bukankah pada waktu itu lebih dari tiga ratus tahun kolonial Belanda begitu mapan menerapkan kekerasan kepada rakyat Indonesia yang jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan memecahkan kaca-kaca jendela konsulat.
Sementara itu sikap pemerintah Indonesia dalam menyikapi kasus ini sudah bisa ditebak. Dimana politik fragmatis memang benar-benar mengendalikan negeri ini. Sekalipun terkesan sangat simpatik membela dan menjunjung kewibawaan umat Islam ujung-ujungnya hanya ingin memperkuat pesona dan aura. Pemerintah kita berani bersuara keras ketika seluruh dunia pun mengutuk kasus itu termasuk PBB dan Amerika. Bisa dibayangkan apakah pemerintah akan menyatakan hal yang sama ketika PBB dan Amerika mengeluarkan suara yang justru mendukung Wilders. Sejak kapan pemerintah mendukung secara konkrit dan terang-terangan proyek pembangunan dan pemberdayaan umat Islam selain hanya Life service semata. Kalau hanya sekedar pernyataan dan penegasan, siapa pun yang memimpin ketika situasi politik dunia mendukung akan aman dan prestise. Soal Pelarangan peredaran film itu apakah pemerintah sudah bergerak sementara banyak orang sudah menyaksikan film tersebut. Kemudian pencekalan terhadap Wilders nampaknya tidak akan berlaku efektif, toh ‘warga’ zionis Israel saja yang lalu lalang di Indonesia selama ini tidak ada tindakan apa pun dari pemerintah dan apa untungnya Wilders berkenan mengunjungi Indonesia?
Satu hal yang harus diapresiasi dari tuan Van Dam adalah beliau mampu berbahasa Arab dengan fasih karena memang lama malang melintang menjadi duta besar di Negara-negara Arab. Terutama saat beliau menyatakan bahwa bahasa Arab lebih mudah dibandingkan dengan bahasa lain serta mengakui bahwa bahasa Al-Qur’an adalah bahasa yang paling tinggi. Semoga pernyataan itu murni keluar dari kesadaran hati nurani dan semakin mendekatkan beliau kepada agama yang haq. Namun tanpa dinyatakan seperti itu pun Al-Qur’an dan Islam adalah ya’lu wa laa yu’la ‘alaih (tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya).
Di luar itu semua salut untuk tuan Van Dam yang mau membuka pintu dialog di saat pemimpin-pemimpin barat lainnya lebih mengedepankan aksi-aksi kekerasan terhadap umat Islam. Tentu dialog yang sama sederajat, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Dialog yang tujuannya untuk mencari kebenaran yang satu, bukan menyatakan sama-sama benar atas dasar fanatisme, egoisme dan kebodohan. Karena sesungguhnya dengan kebenaran Islam itu sendiri, Islam tidak anti dialog bahkan menantang dialog dan pembuktian supaya jelaslah bahwa hanya Islam agama yang benar. “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS. Al-Baqarah 2:23). Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar