2.10.2012

Cara Bijak dan Cerdas; hutang cepat lunas :-)))

1. Mulailah dengan doa dan senantiasa terus berdoa agar hutang kita segera dilunasi Allah. Amalkan doa ini setiap saat, terutama di waktu-waktu maqbul.

Allahumma innii a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min gholabatit daini wa qohrir rijal

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perasaan susah dan duka, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku belindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, serta aku berlindung kepada-Mu dari hutang yang tidak terbayar dan dari musuh yang sewenangwenang”


2. Perbanyak sedekah (dalam macam bentuknya) dan berbuat kebaikan.

Allah (S.W.T.) berfirman dalam surat Saba bahwa Allah (S.W.T.) akan mengganti sedekah yang kita keluarkan: "Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (Q.S. Saba 34:39)

Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda bahwa harta seseorang tidak akan berkurang karena disedekahkan:

"Ada tiga perkara yang saya bersumpah atasnya dan saya memberitahukan kepadamu semua akan suatu Hadits, maka peliharalah itu: Tidaklah harta seseorang itu akan menjadi berkurang sebab disedekahkan, tidaklah seseorang hamba dianiaya dengan suatu penganiayaan dan ia bersabar dalam menderitanya, melainkan Allah menambahkan kemuliaan padanya, juga tidaklah seseorang hamba itu membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan," (H.R. Tirmidzi, dari Abu Kabsyah, yaitu Umar bin Sa'ad al-Anmari r.a.)

Sedekah membuka pintu rezeki

Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda "Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah." (HR. Al-Baihaqi)

Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah Tabaraka wata’ala berfirman: "Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu." (H.R. Muslim)

Dalam hadits lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah (r.a.), Nabi (S.A.W.) pernah bersabda: "Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: "Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq. Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: "Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya)." (H.R. Bukhari - Muslim)


3. Segeralah bayar bila ada uang, berapa pun mampu kita bayar cicilannya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Diampuni semua dosa orang yang mati syahid, kecuali hutang”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1502]

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Jiwa orang mukmin itu tergantung (tertahan) dengan hutangnya sehingga hutang itu dibayar”. [HR. Tirmidzi, dan ia berkata, “Ini hadits Hasan”, juz 2, hal. 271, no. 1085]

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jiwa orang mukmin itu tergantung (tertahan) selama dia mempunyai tanggungan hutang”. [HR. Ibnu Hibban juz 7, hal. 331, no. 3061]

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa mengambil (berhutang) harta manusia, sedang dia ingin mengembalikannya, maka Allah akan mengembalikannya. Dan barangsiapa mengambil (berhutang), sedang dia ingin membinasakannya (tidak ingin mengembalikannya), maka Allah akan membinasakan padanya”. [HR. Bukhari juz 3, hal. 82]

Dari Ibnu Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mati masih mempunyai tanggungan hutang satu dinar atau satu dirham, maka akan dibayarkan dari kebaikan-kebaikannya, karena disana tidak berlaku dinar dan tidak pula dirham”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 807, no. 2414, dengan sanad hasan]

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy, bahwasanya dia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada shahabatnya, “Janganlah kalian membinasakan diri kalian”. Shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, dengan apa kami membinasakan diri kami ?”. Beliau menjawab, “Dengan hutang”. [HR. Hakim, dan ia berkata : Shahih sanadnya, juz 2, hal. 31, no. 2216,.

Dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah dari Abu Qatadah bahwasanya dia mendengarnya ia menceritakan dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau berdiri diantara para shahabatnya memberi nasehat kepada mereka. “Sesungguhnya jihad fii sabiilillaah dan iman kepada Allah adalah amalan yang paling utama”. Lalu ada seorang laki-laki berdiri dan bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika saya terbunuh fii sabiilillaah, apakah dosa-dosaku terhapus ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Ya. Jika kamu terbunuh fii sabiilillaah sedangkan kamu tetap sabar dan ikhlash, maju terus menghadapi musuh tidak melarikan diri”. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang kamu tanyakan tadi ?”. Orang tersebut berkata, “Bagaimana pendapat engkau jika aku terbunuh fii sabiilillaah, apakah dosa-dosaku terhapus ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Ya, jika kamu tetap sabar dan ikhlash, maju terus menghadapi musuh tidak melarikan diri, kecuali hutang. Karena Jibril AS berkata demikian kepadaku”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1501]

Dari Wahb bin Kaisan, dari Jabir bin ‘Abdullah RA ia menceritakan kepadanya bahwa ayahnya meninggal dunia dan meninggalkan hutang (kurma) tiga puluh wasaq kepada orang Yahudi (1 wasaq = 60 sha’. 1 sha’ + 3 ltr), lalu Jabir minta kepada orang Yahudi agar hutang itu ditangguhkan, tetapi orang Yahudi itu tidak mau. Kemudin Jabir bercerita kepada Rasulullah SAW agar beliau menolongnya. Maka Rasulullah SAW datang kepada orang Yahudi itu agar mau mengambil buah kurma Jabir yang ada dikebun untuk membayar hutangnya, tetapi ia menolaknya (karena terlihat hanya sedikit). Lalu Rasulullah SAW masuk ke kebun kurma itu, berjalan mengelilinginya, kemudian bersabda kepada Jabir, “Petiklah dan bayarkanlah untuknya”. Jabir pun memetiknya setelah Rasulullah SAW pulang. Lalu dibayarnyalah tiga puluh wasaq dan masih ada kelebihan tujuh belas wasaq. Lalu Jabir datang kepada Rasulullah SAW untuk memberitahukan apa yang telah terjadi, tetapi beliau sedang shalat ‘Ashar. Maka setelah selesai shalat, ia menceritakan kepada beliau dengan adanya sisa itu. Lalu beliau bersabda, “Ceritakanlah yang demikian itu kepada Ibnul Khaththab”. Lalu Jabir pergi kepada ‘Umar lalu menceritakannya, maka ‘Umar berkata, “Sungguh aku tahu ketika Rasulullah SAW berjalan-jalan di dalam kebun itu memang beliau mohon agar kebun itu diberi berkah”. [HR. Bukhari juz 3, hal. 84]

Dari Jabir bin ‘Abdullah RA, ia memberitahukan bahwasanya ayahnya mati syahid dalam perang Uhud (karena dibunuh musuh), sedang ayahnya itu masih mempunyai tanggungan hutang. Lalu orang-orang yang memberinya hutang mendesak menuntut hak mereka. Maka saya menghadap Nabi SAW. Kemudian beliau meminta kepada orang-orang yang memberi hutang itu supaya mau menerima pembayaran berupa kurma yang ada di kebunku, dan menghalalkan ayahku. Namun mereka itu tidak mau menerima yang demikian itu. Maka Nabi SAW tidak memberikan kurma di kebunku kepada mereka, kemudian beliau bersabda, “Kami akan datang kepadamu besok pagi”. Lalu keesokan harinya dan masih pagi-pagi benar, beliau datang kepada kami. Beliau lalu berjalan mengelilingi pohon kurma sambil berdoa (kepada Allah Ta’ala) agar Allah memberikan berkah pada buah kurma tersebut. Kemudian aku pun memetik buahnya dan melunasi hutang ayahku kepada mereka. Dan masih ada sisa buah kurma untuk kami. [HR. Bukhari juz 3, hal 84]

Dari Abu Hurairah, bahwasanya dahulu apabila ada orang meninggal yang masih punya tanggungan hutang dibawa kepada Rasulullah SAW, maka beliau bertanya, “Apakah dia meninggalkan sesuatu untuk menyahur hutangnya ?”. Maka jika dijawab bahwa dia meninggalkan sesuatu untuk membayar hutangnya, maka beliau menshalatkannya. Dan jika tidak begitu, maka beliau bersabda, “Shalatkanlah kawanmu itu !”. Maka setelah Allah membukakan beberapa kemenangan, beliau bersabda, “Aku lebih berhaq terhadap orang-orang mukmin daripada diri-diri mereka. Barangsiapa meninggal, sedangkan dia masih mempunyai tanggungan hutang, maka menjadi tanggunganku untuk membayarnya. Dan barangsiapa yang meninggalkan harta, maka untuk ahli warisnya”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1237]

Dari ‘Aisyah bahwasanya ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa dari ummatku yang mempunyai tanggungan hutang dan dia bersungguh-sungguh untuk mengembalikannya, kemudian dia mati belum bisa mengembalikannya, maka saya sebagai walinya (yang membayarnya)”. [HR. Ahmad juz 9, hal. 495, no. 25266, dengan sanad baik]

Dari ‘Urwah bahwa ‘Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW berdo’a di dalam shalat, beliau mengucapkan do’a yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang”. Ada seorang bertanya kepada beliau, “Alangkah banyaknya engkau mohon perlindungan dari hutang, ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang itu apabila punya hutang (bisa menyebabkan) dia berbicara, lalu berdusta dan berjanji, lalu menyelisihi”. [HR. Bukhari juz 3, hal. 85]

Dari Abu Sa’id (Al-Khudriy), ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW berdo’a, “Aku berlindung kepada Allah dari kekafiran dan hutang”. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mensejajarkan hutang dengan kekafiran ?”. Beliau menjawab, “Ya”. [HR. Nasai juz 8, hal. 264].


4. Mintalah kepada si pemilik uang untuk mengikhlaskan uang yang dipinjamkannya. Berat memang, tapi kan belum dicoba..cobalah dengan menyampaikan hadits2 tentang sedekah di atas, siapa tahu hasilnya mengejutkan he….


5. Usahakan jangan sampai punya hutang. Hiduplah qona’ah, insya Allah penuh hikmah.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya.” HSR Muslim (no. 1054).

Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)”. HSR al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 120).

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan)”. HR at-Tirmidzi (no. 2305) dan Ahmad (2/310), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani.

Selamat bijak dan cerdas menyikapi hutang, sabarlah karena sabar bagian dari Iman. Karena tidak sabar pun tetap punya utang toh… :-)

Ustadz Umar At Tilminasi mengatakan: “Kekayaan yang paling sempurna adalah tidak punya Hutang.”

10 komentar:

  1. pak wildan, mau tanya,. prioritas alokasi keuangan bagaimana caranya? antara mnabung dan sedekah didahulukan mana? trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sangat bisa merasakan kebingungan mereka yang tidak bisa bayar hutang , berbagai upaya baik doa , bekerja dan berikhtiar apapun dijalankan untuk mendapatkan uang agar bisa membayar hutang .Jangan menyerah gan " ingat pepatah mengatakan dimana ada kemauan disitu ada jalan " Nah jangan mudah terpedaya oleh segala sesuatu yang tidak masuk akal . Hati-hati untuk tawaran yang tidak masuk akal . Kalau bisa cari milyaran kenapa harus pasang iklan cari uang ratusan ribuan ??? jaman sudah android sudah gk jamanya percaya takhayul . kalau agan kesulitan uang buat bayar utang harusnya pakai metode yang realistis dan nyata dengan kecanggihan internet sekarang ini. Tinggal klik http://softwarepsr.com/atm-agung anda bisa dapatkan solusinya tanpa mengeluarkan biaya jutaan sdh bisa mendapatkan tambahan dana di rekening atm kita...nah sobat bagi anda-anda yang kelilit utang silahkan klik aja biar dapat uang melimpah di rekeningnya...silahkan klik aja http://softwarepsr.com/atm-agung

      Hapus
  2. Barokallahu fik pak Naufal; prinsipnya sedekah adalah juga menabung, bahkan tabungan dunia akhirat. menabung baik, sedekah lebih baik. Sebaiknya jumlah uang untuk sedekah lebih banyak dari yang ditabungkan di bank. Jadi, bila menabung dalam sebulan 1.000.000, maka sedekahlah lebih dari itu. Karena, balasan sedekah jauh lebih besar daripada menabung. :-)

    BalasHapus
  3. syukron kang wildan , ini memberi pencerahan kepada saya dan keluarga ...

    BalasHapus
  4. saling mengingatkan diantara kita.. nice post..

    BalasHapus
  5. assalamualaikum.
    Mas Wildan
    saya sedang kebingungan ,karena hutang di bank jumlahnya besar mencapai 400 jt dan akan saya cicil samapi 5 thn,aku ingin sekali melunasi ,,gaji di potong setiap bulanya sehingga sisa sulit membaginya
    bagaimana ya,,,?
    insaallah tahun ini kami berdua mau ke Hajji apakah pantas kami memohon /berdoa minta dilunasi hutangnya saat di tanah suci mekkah ?

    wassalam

    BalasHapus
  6. ass...
    salam kenal mas Wildan, mohon pencerahan nya mas post diatas sangat luar biasa dan bermanfaat
    begini mas , saya seorang suami dan bapak dari 1 orang putri yang lucu berumur 1,5tahun, kehidupan kami penuh dengan lika liku dan cobaan dari mulai anak kami yg pertama wafat, hingga permasalahan hutang, sekarang ini saya tidak mempunyai kerjaan sama sekali, karena bisnis yg sy geluti gulung tikar dan meninggalkan hutang yang fantastis sekitar 200jt,ini sudah berjalan sekitar 1tahun..tiap hari kami didatangi debt collector dari yang kasar sampai yang menaggih baik2, barang2 sudah kami jual habis dan hampir tidak menyisakan apa2, saya sudah berusaha mencari kerjaan apa pun yg penting halal,untuk menyambung hidup keluarga kami, allhamdulillah masih blum ada yg tetap, sekedar kerja serabutan, alhasil kami selalu ketergantungan dengan orang lain atau sodara dekat kami untuk makan dan susu putri kami, rasa malu dan tidak enak selalu hinggap di perasaan ini, tp kami bersyukur atas nikmatNYA ternyata masih ada yg peduli dengan keluarga kami,dan allhamdulilah sampai saat ini kami selalu bersedekah apa yg kami punya, meski kami kekurangan kami selalu menyempatkan untuk sedekah apa pun bentuknya, sy pun selalu mengajarkan istri untuk selalu bangun malam tahajud dan pagi mengerjakan dhuha,( insyallah kami tidak berniat sombong ini hanya cerita kehidupan kami mas wildan) , singkat cerita semakin hari kami merasa kehidupan kami makin berat, padahal kami tidak pernah putus berdoa,pertanyaan sy mas wildan bagaimana sy harus menyikapi ini semua , kenapa allah blum mengabulkan doa kami, apa memang benar mungkin dosa-dosa kami begitu besar hingga doa yg kami panjatkan blum terkabul,hingga saya pribadi sudah hampir putus asa dan prustasi,sy pribadi sangat lirih dan sedih dikala melihat putri kami yg harus ikut menanggung beban ini,seharusnya dia lebih bahagia dari sekarang ini dan kami juga ingin sejauh mungkin membuang jauh sifat prasangka buruk ke allah,
    sy pribadi mohon pencerahan bagaimana sy/kami seharusnya dalam menghadapi ini semua, sekedar membangkitkan motivasi sy untuk terus bertahan dan berjuang.....
    sekedar info saya pun selalu mengamalkan doa Allahumma innii a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min gholabatit daini wa qohrir rija...tiap saat...
    sebelumnya kami ucapkan terima kasih kepada mas wildan sudah mau membaca pengalaman hidup kami, maaf klo terlalu panjang yah mas...semoga allah selalu memberikan kebahagian kepada mas wildan dan keluarga amien....
    terima kasih

    wss....

    BalasHapus
  7. hidup penuh dengan problematika, apapun permasalahan yang anda hadapi, tetaplah yakin bahwa pasti ada jalan keluar, konsultasikan permasalahan anda ke. 085729111654

    BalasHapus
  8. klo melihat hadist hadist di atas jadi ngeri saya......tapi ini sudah terjadi....jadi tambah bingung aja .....sementara belum ada jalan keluar yang kongkrit.....hanya masukan aja ada, g yang mau sedekah....!kan yang punya hutang juga termasuk orang yang berhak mendapat sedekah jangan cuma komentar,nulis artikel,coba misalkan ada orang punya hutang 100jt....dia dah g sanggup bayar sementara orang atou bank tempat dia pinjam g mau tau harus bayar......klo boleh usul pak wilda mending kumplkan orang sebanyak banyaknya lalu kita urunan untuk bayar hutangnya kan sedekahnya jadi ringan orang pun tertolong konkrit kan.....klo beban yang berat kita gotong bersama pasti ringan, tapi ada g yang peduli untk itu paling bisa solusi lewat artikel dan komentar....coba dech action...hhheheheheh...haturnuhun

    BalasHapus
  9. Pak Wildan, Penghasilan saya masih kurang untuk kebutuhan sehari-hari dan membiayai anak sekolah, sementara hutang ke bank semakin menumpuk dan dinyatakan blacklist oleh bank, apakah saya wajib bersedekah?

    BalasHapus