3.21.2011

Kajian Fiqih Ibadah I

• Hadits 3: “Dari An-Nawas bin Sam’an Radiyallahu Anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan dan dosa, beliau bersabda, “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan kejahatan itu adalah sesuatu yang mengganjal dalam hatimu dan engkau tidak suka orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim)
• Kebaikan adalah watak/ karakter dan upaya untuk berakhlak baik dan menjadi contoh buat orang lain.
• Akhlak mulia terkumpul dalam sabda Nabi saw: “Menunjukkan wajah yang berseri, menahan diri agar tidak menyinggung orang lain dan berusaha berbuat baik merupakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari)
• Dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam pikiran, perasaan ragu untuk melakukan atau meninggalkannya. Lebih utama meninggalkan sesuatu yang meragukan, sebagaimana sabda Nabi saw: “Tinggalkan apa yang engkau ragukan dan kerjakan apa yang engkau tidak ragu.” (HR. Bukhari)
• Hadits ini membuktikan bahwa Allah swt telah menanamkan fitrah pada manusia sehingga dapat membedakan perkara yang tidak halal dan yang tercela untuk dilakukan.

• Hadits 4: “Dari Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian bertiga maka janganlah dua orang berbisik tanpa menyertakan yang satunya. Sampai kalian bergabung dengan orang-orang, karena yang demikian itu dapat membuatnya bersedih.” (Muttafaq Alaih)
• Hadits ini tidak terkait dengan larangan yang ditujukan kepada orang Yahudi dalam surat Al-Mujadilah: “Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia.” (QS. Al-Mujadilah: 8)

• Hadits 5: “Dari Abdullah bin Umar Radiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Janganlah seseorang mengusir orang lain dari tempat duduknya lalu ia duduk di situ. Akan tetapi hendaklah ia katakan: Berilah kelapangan dan berilah kelonggaran.” (Muttafaq Alaih)
• Dalam hadits lain Rasululah saw bersabda: “Barangsiapa bangkit dari majlisnya kemudian ia kembali, maka ia lebih berhak untuk menempati tempat tersebut.” (HR. Muslim)

• Hadits 6: “Dari Abdullah bin Abbas Radiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang dari kalian makan, maka janganlah ia membasuh tangannya sebelum ia menjilatinya atau dijilat oleh orang lain.” (Muttafaq Alaih)
• Hadits ini menunjukkan wajibnya untuk menjilati jari sendiri atau dijilat oleh orang lain. Karena kita tidak tahu dimana letak keberkahan pada makanan tersebut. Bahkan Nabi saw memerintahkan piringnya untuk dijilati, lantas beliau berkata: “Kalian tidak tahu dimana letak keberkahannya.”
• Rasulullah saw bersabda: “Jika makanan salah seorang dari kamu jatuh maka hendaklah ia membuang kotoran yang menempel padanya lalu makanlah, janganlah ia membiarkannya dimakan oleh setan.”
• Rasulullah makan dengan tiga jari

• Hadits 7: “Dari Abu Hurairah Radiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu mendahului memberi salam kepada orang Yahudi atau Nasrani. Dan apabila kamu bertemu maka desaklah mereka ke jalan yang paling sempit.” (HR. Muslim)
• Nabi saw bersabda: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepadamu maka jawablah: wa’alaikum. Jika mereka mengatakan as-saamu ‘alaika maka jawablah: wa’alaika.” (HR. Muslim)
• Mendesak ke tempat yang sempit dimaknai secara majazi bahwa kita jangan sampai membiarkan mereka bebas menganggu dan merupaya merusak umat Islam.

• Hadits 8: “Dari Abu Hurairah Radiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Apabila kalian memakai sandal, mulailah dengan yang kanan. Dan apabila melepasnya, mulailah dengan yang kiri. Hendaklah yang kanan paling pertama dipakai dan yang terakhir dilepas.” (Muttafaq Alaih)
• Nabi saw juga bersabda: “Janganlah kalian berjalan dengan memakai sandal sebelah. Tapi hendaklah ia pakai keduanya atau ia lepas keduanya.” (Muttafaq Alaih)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar