9.15.2010

KLARIFIKASI FPI ATAS INSIDEN BEKASI

Jakarta, Suara Islam.com-- Berikut adalah klarifikasi dari Dewan Pengurus Pusat Front Pembela Islam (FPI) tentang Insiden Bekasi yang terjadi pada hari Ahad, 12 September 2010 lalu. Klarifikasi ini dikirimkan oleh Habib Muhammad Rizieq Syihab kepada Suara Islam (SI) melalui layanan pesan pendek (sms) pada Kamis pagi (16/9/2010).

Berikut pernyataan selengkapnya.

Peristiwa Bekasi Ahad 3 Syawwal 1431 H / 12 September 2010 M, BUKAN perencanaan tapi insiden, BUKAN penghadangan tapi perkelahian, BUKAN penusukan tapi tertusuk, karena 9 pelaku adalah IKHWAN yang sedang lewat berpapasan dengan 200 (orang jemaat) HKBP, lalu terjadi perkelahian, saling pukul, saling serang, saling tusuk, saling terluka.
Jika perencanaan, mana mungkin 9 ikhwan berbaju muslim dengan identitas terbuka!. Jika penghadangan, mana mungkin 9 menghadang 200!. Jika penusukan, mana mungkin 9 ikhwan lebam-lebam, luka, patah tangan, bahkan ada yg tertusuk juga!.

Ketua FPI Bekasi Raya (Ustadz Murhali Barda, red) dinon-aktifkan DPP FPI bukan karena salah, tapi untuk melancarkan roda organisasi FPI Bekasi Raya yang teramat berat tantangannya. Beliau PEJUANG bukan pecundang. Beliau tidak ada di lokasi kejadian. Beliau hanya kirim SMS AJAKAN kepada umat Islam untuk membela warga Ciketing, tapi dituduh sebagai provokator, sedangkan para Pendeta HKBP yang mengajak, membawa dan memimpin massa Kristen serta memprovokasi warga muslim, tak satu pun diperiksa.

Pertanyaannya:
Kenapa para Pendeta HKBP yang jadi PROVOKATOR insiden tadak diperiksa?. Kenapa kegiatan HKBP setiap Ahad di Ciketing yang menggelar KONVOI keliling perumahan warga muslim dengan lagu-lagu Gereja secara demonstratif dibiarkan?. Kenapa dua pendeta yang membawa PISTOL dan menembakannya ke (arah) warga pada Insiden 8 Agustus 2010 tidak ditangkap?. Kenapa dua jemaat HKBP, Purba & Sinaga, yang membawa PISAU saat insiden 12 September 2010 sudah ditangkap lalu dilepas?. Kenapa jemaat HKBP yang memukul dan menusuk 9 ikhwan tidak ditangkap?. Keadilan harus ditegakkan!. Kezaliman harus dilawan.!.

Tirani Minoritas

Ayyuhal Ikhwah, marilah kita belajar dari masa lalu agar tidak lagi tertipu di masa kini dan masa depan…

KEBERANIAN kelompok Kristen radikal di Indonesia menentang golongan
Islam mencapai momentum puncak di era reformasi di bawah kepemimpinan
presiden Abdurrahman Wahid yang memang sejak lama sangat membela
golongan minoritas itu. Golongan Kristen bahkan berani membantai ummat
Islam secara biadab di berbagai wilayah Indonesia.

Pembantaian yang terjadi di Pesantren Walisongo, Poso Sulawesi Tengah
bukan kepalang biadabnya, di mana 200 orang warga pesantren itu dibasmi
secara keji terdiri 152 santri pondok, puluhan guru/ustadz, pengelola
pondok keluarganya termasuk anak-anak, bayi dan orang tua, dibantai
dengan mencincang--cincang bagai jagal rumah hewan memotong-motong sapi.
Kasus Poso ini serangkaian dengan pertikaian Islam-Krisen di Maluku yang
terjadi lebih dahulu di mulai sejak 19 Januari 1999 di mana saat ummat
Islam merayakan Idul Fitri diserang golongan Kristen dan mengobarkan
perang yang tak kunjung henti hingga tepat dua tahun sekarang ini
(Januari 2001).

Berdasarkan pengamatan Media Dakwah sejak lima tahun terakhir keberanian
golongan Kristen melawan golongan Islam dimulai dengan test case di
berbagai daerah, di mana mereka mayoritas seperti di Nusa Tenggara Timur
(NTT) dan Timor Timur. Pada 1995 hingga 1996 marak berhembus isu anti
pendatang di NTT dan Timor Timur sehingga acap kali terjadi pembakaran
rumah-rumah pendatang termasuk pembakaran masjid. Berpuluh-puluh masjid
dibakar di dua daerah ini, namun reaksi ummat Islarn Indonesia
dingin-dingin saja. Hal ini menjadi modal, cikal-bakal, dan embrio
rencana raksasa golongan Kristen untuk melawan golongan mayoritas Islam
di negeri ini.

Jika pada 1970-an prakarsa Sidang Dewan Gereja Dunia yang nekat akan
diselenggarakan di Indonesia, terhenti begitu saja setelah salah seorang
pastur dari luar negeri dibunuh oleh Hasyim Yahya; tapi kini di era
reformasi ini justru sebaliknya. Telah terjadi pembantaian golongan
Islam oleh galongan Kristen secara massal di Indonesia, namun tidak ada
reaksi ganti memerangi golongan Kristen. Umat Islam bagai pasrah oleh
berbagai pembantaian di Indonesia.

Kasus Maluku/Ambon, NTT-Timor Timur, hingga Poso jelas-jelas proyek
mereka yang sukses fantastis kini mereka telah menampilkan diri menjadi
rejim tiran sebagai minoritas di negeri Muslim terbesar di dunia. Belum
lagi jika diperhitungkannya berbagai kasus pembantaian ummat Islam
secara amat terlengas dalam kasus Sambas Kalimantan Barat di mana warga
pendatang Madura (Muslim) dibantai oleh Suku Dayak yang. menganut
animisme dan Kristen. Lagi, kasus-kasus pembantaian guru-guru agama dan
ustadz di Banyuwangi, Malang membawa korban tewas dibantai rakyat dengan
isu dukun santet.

Kejadian mengerikan di Banyuwangi, disusul Malang dan Ciamis di mana
guru-guru agama menjadi korban pembantaian, namun hingga hari ini tidak
pernah jelas siapa yang menjadi otak serangkaian pembantaian tersebut.
Peristiwa dua tahun itu kini terjadi lagi di daerah Cianjur Selatan.
Lebih seratus jiwa melayang terdiri sebagian besar guru agama, tokoh
Islam di pedesaan. Motifnya mirip atau sama dengan kasus Banyuwangi,
Malang, Ciamis, yakni tuduhan dukun santet. Enam puluh orang dilaporkan
dibunuh keji dan mayatnya digantung di pohon--pohon di daerah
terpencil. Sementara lebih empat puluh mayat lagi ditemukan di sungai,
hutan, sawah, dan diduga banyak lagi korban yang tidak diketemukan karena
dikubur mayatnya. Hebatnya, keluarga korban tidak ada yang berani
melaporkan kepada aparat keamanan, karena ancaman hendak dibantai lagi
anggota keluarga lainnya.

Lengkap sudah illustrasi di atas untuk menggambarkan betapa dihinakan
eksistensi ummat Islam di negerinya sendiri yang jumlahnya hampir 90%
dari 210 juta jiwa bangsa Indonesia sekaligus bangsa Muslim terbesar di
dunia. Bukan hanya dihina bahkan dibantai, dicincang, bahkan pemusnahan
massal (geno-cide) seperti kasus Poso dan berbagai perkampungan Islam di
Maluku, NTT, dan Timor Timur.

Adalah peranan presiden Abdurrahman Wahid semenjak lebih sepuluh tahun
silam; selalu menjadi pembela golongan Kristen secara getol, dan
sebaliknya kendati ia tokoh Islam, justru acap menyakiti ummat Islam.
Kini dengan jabatannya sebagai orang. nomor satu di negeri ini makin
leluasa membela golongan minoritas.

Tidak penting lagi untuk mengusut motif Abdurrahman mengapa ia yang
tokoh Islam justru membela golongan minoritas itu, dan kiranya kini
terjadi konspirasi yang membentuk rejim tiran kaum minoritas di negeri
ini. Yang jelas kini telah muncul secara nyata kekuatan tiran minoritas
melawan mayoritas Islam di mana posisi ummat Islam sungguh ironis
terkalahkan, terbantai terus menerus. Darah ummat Islam yang terus
menerus bertumpahan di negeri ini bagai menjadi bahan bakar bensin untuk
terus memacu mesin sang tiran melanjutkan pembantaian dan penghancuran
ummat Islam di negeri ini.

Dari mana munculnya kekuatan moral-material kaum minoritas Kristen
melawan dan hendak menghancurkan ummat Islam? Bukan mustahil mereka
mengambil inspirasi kasus faktual yang dialami bangsa Palestina yang
telah dicaplok Israel lebih setengah abad terakhir. Upaya puluhan negara
Islam di kawasan Titnur Tengah yang mengepung Israel yang kecil tak
pernah berhasil menghancurkan Israel yang jelas-jelas diback up raksasa
Amerika.

Sejumlah dokumen mulai terkuak. Golongan Kristen Indone-sia kini juga
mulai mendapat dukungan penuh Kongres Amerika Serikat. Sebuah surat
kongres AS telah dilayangkan ke presiden Gus Dur agar membantu Doulos.
Jika umat Islam tidak segera menyadari kenyataan ini, niscaya umat Islam
tinggal menunggu waktu saja untuk diluluh-lantakkan, oleh golongan
minoritas Kristen yang kini terang-terangan tampil menjadi rejim tiran
yang amat keji.

Saat ini kasus Ciketing Bekasi, bukanlah juga kasus yang berdiri sendiri, melainkan kasus yang direkayasa oleh konspirasi Kristen dan Zionis global. Jika tidak begitu, lalu atas wangsit apa Presiden SBY yang biasanya lamban mirip SiBuYa..tiba-tiba menjadi sangat reaktif, tegas, lugas dan cepat menyikapi isu dusta ‘penusukan’ itu?

Wal ‘Iyadzu Billah

9.09.2010

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu

Wahai...saudaraku para kekasih Allah,

Idul fitri telah menghampiri
para pecinta Tuhan sejati
yang sebulan memberi bukti
dengan amalan tanda berbakti pada Ilahi yang Maha suci

Mohon dirimu sudi melengkapi
dengan mengampuni segala salah yang kuperbuat selama ini
Seiring terbitnya matahari pagi
mohon dirimu sudi mengampuni
dosa-dosaku yang telah mengotori hubungan kita selama ini

Di hari lebaran mengemis kemurahan Tuhan
agar kita dikaruniai cinta sejati bukan cinta basa-basi
hanya dimulut dan dalam hati tanpa bukti berbakti pada Ilahi

Perjalanan panjang di Bulan Ramadhan
tempat cinta dibuktikan dengan amal perbuatan
Semoga membuat kita berhak menjadi kekasih Tuhan

Lebaran kita berjabat tangan
untuk saling memaafkan segala salah dan kekhilafan
Semoga segala amal perbuatan selama bulan Ramadhan
dicatat sebagai pemberat timbangan amal kebaikan untuk hari kemudian.

Idul fitri kita saling memaafkan
segala kesalahan mohon dihapuskan
Kita jalani hari baru tempuh masa depan
dengan hati murni setelah puasa sebulan.

Bolehlah kita mengaku pecinta Tuhan
asal terbukti dalam amal perbuatan
bukan sekedar di lisan dan alam pikiran
Selamat hari lebaran segala kesalahan
mohon dimaafkan kita mulai hari baru raih masa depan.

Cinta pada Tuhan telah kita buktikan
dengan amalan selama Ramadhan.
Karena cinta hanya di lisan
atau cinta hanya di hati dan perasaan
tanpa didukung amal perbuatan
yang sesuai perintah Al Quran tak lebih dari cinta dalam angan-angan

Puasa sebulan tempat menyadarkan manusia
bahwa cinta dan merasa dekat dengan-Nya
hanyalah fatamorgana yang membuat terlena
bila tidak terbukti dalam amal nyata
sesuai perintah dalam kitab suci-Nya

Lebaran adalah hari kemenangan
Ramadhan ajang membuktikan cinta kita pada Tuhan
sekedar khayalan atau cinta sebenar-benar orang beriman
dari amal-amalan selama sebulan.

Lebaran telah tiba setelah sebulan
kita membuktikan cinta pada Tuhan
dengan amalan berupa sedekah dan shalat malam,
bukan sekedar mengingat nama Tuhan.

Kalau cinta hanya di lisan
Kalau cinta hanya kata-kata menawan
tanpa didukung amal-perbuatan
apalagi berani menentang kebenaran Al Quran
Pantaskah berlebaran merayakan hari kemenangan

Kita tahu cinta bukan hanya di hati
Karena Tuhan menuntut bukti
dengan waktu malam dan harta pribadi
tidak sayang kita persembahkan buat Ilahi
Semoga di hari fitri ini amal kita menjadi saksi
bahwa cinta kita bukan sekedar wacana dalam hati

Kalau cinta hanya dengan menyebut nama Ilahi
dan mengingat keberadaan-Nya dalam hati
tapi tak peduli firman-firman dalam ayat suci
tapi tak pernah mengikuti sunnah nabi
maka cinta seperti itu bukanlah cinta sejati
yang layak dipersembahkan pada Sang Maha tinggi.

Semoga lebaran hadirkan kesadaran
bahwa cinta kita perlu dibuktikan
dengan amal perbuatan sesuai Al Quran.

Para pengajar kesesatan
ajak tinggalkan Al Quran dan kebenaran
hanya demi dogma-dogma kebebasan
Selamat hari lebaran segala salah mohon dimaafkan
semoga puasa sebulan membawa kita mencintai kebenaran

Agama kebebasan meninggalkan ajaran Tuhan
membuat para pengikutnya kebingungan
karena kehilangan Al Quran pegangan kebenaran
Selamat hari lebaran Segala salah mohon dimaafkan

Ketika orang sesat sedang kebingungan
habiskan waktu untuk melakukan pencarian
dan berunding untuk menentukan kebenaran

Orang yang berpegang teguh pada Al Quran
sibuk beramal dan memajukan ilmu pengetahuan
karena kebenaran telah ditunjukkan Tuhan.
Selamat hari Lebaran Segala Salah mohon dimaafkan
Semoga kita terhindar dari kesesatan.

Orang beriman tak perlu lakukan pencarian
Karena jalan kebenaran telah ditunjukkan Tuhan
pada orang-orang beriman lewat Al Quran
Manusia tinggal mengikuti pedoman jalan
agar meraih sebenar-benar kebahagiaan.
Semoga di hari lebaran kita makin teguh menempuh jalan kebenaran

Taqabbalallahu minna wa minkum..Taqabbal yaa kariim kullu 'aam wa antum bikhairin

9.01.2010

IDE GILA ! Perang Indonesia VS Malasyia

Ada rasa jijik mengikuti berita-berita seputar konflik Indonesia-Malaysia. Begitu besar kebencian bangsa Indonesia ke Malaysia, sehingga bernafsu ingin berperang melawan negara jiran tersebut. Protes, kecaman, provokasi, dll. marak di mana-mana, menggugat sikap Malaysia yang dianggap sering melecehkan bangsa Indonesia. Di Malaysia sendiri, warga dan Pemerintah di sana juga bersikap keras. Walhasil, akankah terjadi konfrontasi terbuka antara Indonesia Vs Malaysia?

Kalau mendengar pernyataan-pernyataan provokasi Permadi, dia jelas sangat mendukung Indonesia perang melawan Malaysia. Permadi meyakinkan, pasukan Indonesia meskipun peralatan sederhana, tetapi berani mati. Sementara Malaysia, meskipun fasilitas militer bagus, nyalinya kecil. Permadi setuju gerakan, Ganyang Malaysia!

Kalau perang itu nanti terjadi, saya usul Permadi diberi seragam militer, khususnya pasukan infanteri, lalu diterjunkan dalam peperangan di front terdepan. Kita ingin melihat, apakah dia berani menerjuni peperangan tersebut? Begitu juga, wartawan-wartawan TV dan backing politik di belakangnya, yang sok nasionalis itu, mereka perlu diberi seragam infanteri juga, untuk berdiri di front line. Kita buktikan saja, sejauh mana kebenaran omongan mereka? Apakah mereka berani mati, seberani pernyataan mereka?

Perang melawan Malaysia adalah IDE GILA. Ide sangat gila, dan jangan dipikirkan sedikit pun peluangnya. Bukan karena kita takut mati, tetapi Malaysia itu bangsa Muslim. Mungkinkah kita akan berperang melawan sesama Muslim? Sudah sedungu dan sebejat itukah kita, sehingga ada niatan ingin berperang dengan sesama Muslim? Masya Allah, betapa rusaknya agama kaum Muslimin di negeri ini, sehingga urusan negara diletakkan lebih tinggi dari agama.

…Perang melawan Malaysia adalah ide sangat gila, jangan dipikirkan sedikit pun peluangnya. Bukan karena kita takut mati, tetapi Malaysia itu bangsa Muslim. Mungkinkah kita akan berperang melawan sesama Muslim?...

Kalau bangsa Indonesia berani, ayo kita berperang melawan Australia, berperang melawan Singapura, berperang melawan Timor Leste, atau Thailand sekalian. Andaikan ada peperangan seperti ini, insya Allah saya akan ikut mendaftar, dengan niatan membela kaum Muslimin di negeri ini. Lha, sekarang mau perang dengan Malaysia, negeri yang di sana ada jutaan kaum Muslimin yang sama-sama bersujud, puasa, dan membaca Al-Qur’an seperti kita. Perang semacam itu sangat gila, segila ide perang Irak melawan Kuwait dan Saudi, di masa lalu. Sama-sama Muslim, sama-sama hamba Allah, kok saling memerangi?

Anda tentu masih ingat tahun 1990-1991 lalu, ketika terjadi Perang Teluk antara Irak Vs Kuwait-Saudi. Perang ini benar-benar gila, rusak, dan menghancurkan kehidupan bangsa Irak, menguras kas keuangan Kuwait dan Saudi. Tahukah Anda, mengapa terjadi perang itu? Demi Allah, perang ini adalah adu domba Eropa dan Amerika belaka.

Saddam Hussein pernah mengaku, bahwa dia tak pernah punya niat menyerang Kuwait atau Saudi. Saddam sangat sadar bahwa dalam perang Irak-Iran, Kuwait dan Saudi sangat mendukung posisi Irak. Jadi tidak mungkin kalau Irak akan menyerang Kuwait dan Saudi.

Ide gila menginvasi Kuwait ketika itu muncul di benak Saddam, karena dia terus diprovokasi oleh utusan-utusan dari kedutaan besar Inggris dan Prancis. Utusan itu terus datang ke Saddam memprovokasi dirinya agar menyerang Kuwait. Alasan yang dibawa utusan itu ialah, Kuwait diduga telah menyedot cadangan minyak Irak dari wilayah Kuwait. Utusan-utusan penipu itu meyakinkan Saddam Husein dengan data-data, fakta-fakta, yang dibuat-buat. Saddam pun terprovokasi, sehingga akhirnya menginvasi Kuwait. Saddam mengklaim Kuwait adalah sebuah provinsi, bagian dari wilayah Irak.

Ketika Irak sudah menginvasi Kuwait, syaitan-sayitan dari Inggris dan Perancis segera melarikan diri dari arena. Peranan selanjutnya dikerjakan Amerika Serikat. Amerika merasa dirinya sangat peduli, sangat mencintai, sangat memuja bangsa Kuwait; mereka pun tampil sebagai pahlawan, siap menegakkan keadilan dan melenyapkan penindasan. Tak lupa pahlawan-pahlawan kesiangan Amerika membawa slogan Rambo, “No one can stop me!”

Akhirnya, Irak digebuk dari berbagai arah. Ribuan ton rudal dijatuhkan ke wilayah Irak, puluhan ribu pasukan, ratusan pesawat tempur, tank, kapal induk, dll. dikerahkan ke Irak. Amerika tidak berani menghadapi Irak sendiri, mereka menggandeng negara-negara Sekutu NATO.

…Jangan menyalahkan Malaysia kalau mereka bersikap agresif. Dulu di jaman Soeharto, bangsa lain tak berani memprovokasi kita, karena ketika itu kita masih memiliki sedikit INTEGRITAS. Nah, saat ini sebagian besar politisi dan pejabat bersikap munafik, oportunis…

Tahukah Anda, apa yang terjadi setelah itu?

Ribuan rakyat Irak tewas sebagai korban, rumah-rumah hancur, masjid-masjid hancur, sekolah, perpustakaan, museum, fasilitas listrik, transportasi, dll. semua hancur. Irak menjadi negara puing-puing. Mereka luluh lantak. Katanya, sampai saat ini korban jatuh di pihak rakyat Irak dan tentaranya, berjumlah lebih dari 1 juta jiwa sejak Perang Teluk 1990-1991 itu. Negeri Irak hancur bukan karena kegagahan prajurit Amerika, tetapi karena pesawat-pesawat tempur dan rudal mereka. Amerika sedikit memakai tenaga manusia. Kalau perang, mereka lebih suka memakai alat-alat militer.
Lalu siapa yang disuruh membiayai peperangan itu?

Semua biaya perang itu dibebankan kepada: Kuwait dan Saudi. Seingat saya, ketika itu Saudi harus mengeluarkan biaya sekitar US$ 30 miliar (atau sekitar 300 triliun rupiah). Begitu pula Kuwait, kas negara itu dikuras oleh pasukan Sekutu. Belum lagi, konsesi pengelolaan minyak di Irak, Kuwait, Saudi pasca Perang Teluk, sangat dicampuri kepentingan Amerika, Inggris, Prancis. Prancis pernah marah kepada Amerika, karena mereka hanya kebagian porsi kue ekonomi kecil. Sebegitu bejatnya kaum kuffar terlaknat itu. Mereka sendiri yang membuat perang, mereka yang terjun perang, mereka pula yang minta diongkosi. Habis sudah, kekayaan-kekayaan negeri Muslim.

Lihatlah betapa kejinya kelakuan syaitan-syaitan kafir itu! Mereka memprovokasi Irak agar menyerang Kuwait, setelah itu Irak ditinggalkan. Selanjutnya mereka mendukung negara Irak dihancurkan Amerika dan Sekutu. Setelah perang usai, Irak hancur, Saddam menderita, Saudi dan Kuwait disuruh membayar biaya perang. Ini semua adalah akal-akalan gila orang kafir terkutuk, semoga laknat Allah, para Malaikat, dan alam semesta menimpa wajah-wajah mereka, menimpa anak-anak mereka, menimpa hidup mereka. Allahumma amin.

…Kafir-kafir terkutuk ini rupanya tidak puas dengan menghisap ratusan triliun kekayaan kaum Muslimin selama Perang Teluk lalu. Kini mereka bersiap-siap menghisap kekayaan kaum Muslimin di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia-Malaysia…

Lalu, kini apa yang terjadi?

Kafir-kafir terkutuk ini rupanya tidak puas dengan menghisap ratusan triliun kekayaan kaum Muslimin selama Perang Teluk lalu. Kini mereka bersiap-siap menghisap kekayaan kaum Muslimin di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia-Malaysia.

Coba saja, siapa yang paling diuntungkan oleh konflik Indonesia-Malaysia ini? Siapa wahai bangsa Indonesia, siapa? Yang paling diuntungkan, adalah kafir-kafir yang mencari makan di negeri kita itu. Mereka semua kini sedang bersiap menjerumuskan kita dalam perang antar saudara serumpun, yang akibatnya pasti merusak kehidupan rakyat Indonesia dan Malaysia sendiri. Sementara mereka terus saja mengeruk kekayaan kita tanpa henti.

Kalau banga Indonesia jujur, mengapa tidak dibersihkan saja negeri ini dari para ekonom Neolib, dari IMF dan Bank Dunia, negara donor asing, dibersihkan dari jaringan bisnis China, dari perusahaan-perusahaan Amerika, Jerman, Inggris, Jepang, Korea, dll. Mengapa tidak kita bersihkan saja negeri kita dari kolonialis-kolonialis itu? Mengapa kita justru hendak memantik permusuhan dengan sesama negara Muslim?

Okelah, andaikan harus berperang dengan Malaysia. Tetapi pertanyaannya, akan kita kemanakan para kolonialis-kolonialis asing itu? Apakah akan kita biarkan saja mereka terus mengeruk kekayaan negeri ini? Apakah adil, kita berperang melawan Malaysia karena alasan-alasan yang bisa dirundingkan antar pemimpin birokrasi kedua negara, sementara itu kita diam saja atas penjajahan oleh perusahaan-perusahaan asing yang sejak tahun 70-an (selama 40 tahunan) aktif mengeruk kekayaan negeri ini? Apakah ini suatu keadilan?

…Kita tidak pungkiri betapa sakit hati kita menghadapi sikap-sikap oknum di Malaysia yang overacting, kejam kepada TKI, dan sangat melecehkan. Sebagai bangsa yang masih punya harga diri, kita marah. Tapi masalahnya, kondisi itu kita ciptakan sendiri…

Kita tidak pungkiri betapa sakit hati kita karena menghadapi sikap-sikap oknum di Malaysia yang overacting, kejam kepada TKI, dan sangat melecehkan. Sebagai bangsa yang masih punya harga diri, kita marah. Tapi masalahnya, kondisi itu kita ciptakan sendiri. Kita telah memilih Reformasi 1998. Di balik Reformasi ini ada gelombang LIBERALISME di segala bidang. Akibat liberalisme, kehidupan kita hancur-lebur, seperti sekarang.

Dalam kondisi rusak, lemah, dan hancur ini, kita tak mampu meninggikan martabat kita. Wajah kita tertunduk lesu, memandangi kekalahan bangsa dalam pergolakan politik yang tak jelas ujungnya itu. Saat lemah seperti ini, apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga harga diri bangsa? Tidak ada! Kelemahan ini adalah PILIHAN kita sendiri yang meminta Reformasi, meminta demokrasi liberal, meminta ekonomi liberal, meminta pemimpin seperti Gus Dur, Megawati, Gus Dur. Semua ini pilihan kita sendiri!

Jangan menyalahkan Malaysia kalau mereka bersikap agresif. Dulu di jaman Soeharto, bangsa lain tak berani memprovokasi kita, karena ketika itu kita masih memiliki sedikit INTEGRITAS. Nah, saat ini sebagian besar politisi dan pejabat bersikap munafik, oportunis. Apa yang bisa diharapkan dari keadaan seperti ini?

Demi Allah, janganlah kita buka IDE GILA tentang konfrontasi Indonesia-Malaysia. Kita ini bangsa serumpun, sama-sama Muslim. Jangan mau diadu domba oleh syaitan-syaitan keji yang terus gentayangan menjajakan proposal perang itu. Kita yang nanti berperang, kita yang sama-sama bonyok, sementara mereka terus menghitung untung dari jualan senjata.

…janganlah kita buka ide gila tentang konfrontasi Indonesia-Malaysia. Kita ini bangsa serumpun, sama-sama Muslim. Jangan mau diadu domba. Kita yang nanti berperang, kita yang sama-sama bonyok, sementara mereka terus menghitung untung dari jualan senjata…

Kini Amerika dan sekutunya Eropa, sedang kelimpungan untuk menghentikan perang di Irak, Afghanistan, dan Pakistan. Mereka kesusahan, sebab perang itu sangat menguras energi. Mereka nyaris kalah di medan-medan itu. Kini mereka memprovokasi Korea Utara, Korea Selatan, Jepang, China, dll. agar terlibat perang juga. Ya, alasannya masih klise, cari makan untuk anak-isteri, buat beli paha babi, minum whiskey, dan seks bebas.

Indonesia-Malaysia menjadikan bidikan berikutnya. Jangan bodoh, jangan lebay! Kita harus pintar melihat kenyataan. Andaikan nanti kita sudah merasakan 1001 nestapa akibat peperangan yang kita sendiri tak punya kemampuan menerjuni perang itu, barulah kita akan sadar arti dari “kotoran” yang dilempar aktivis Bendera ke Kedubes Malaysia. Kotoran itu kelak bisa dikutuk oleh berjuta manusia di Indonesia-Malaysia.

Camkan firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah perselisihan di antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Qs Al-Hujurat 10).

Bandung, 21 Ramadhan 1431 H.

AM. Waskito.

http://abisyakir.wordpress.com/

8.30.2010

Al-Qur'an; Kitab tanpa tanding

Oleh;

Nizar A. Saputra

Sudah menjadi kebiasaan di sebagian umat Islam, terutama di Indonesia, pada malam 17 Ramadhan memperingati nuzul al-Quran. Biasanya dalam peringatan tersebut diisi dengan ceramah-ceramah dan siraman religi yang ada kaitannya dengan al-Quran. Memang, salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah diturunkannya al-Quran. Al-Quran sendiri mengabarkan kepada kita tentang ini;

Bulan Ramadhan (adalah bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Al-Baqarah; 185

Ayat tersebut tidak merinci kapan atau tanggal berapa Ramadhan al-Quran itu diturunkan. Informasi yang diberikan al-Quran sendiri, tentang nuzul al-Quran, juga tidak hanya dalam satu ayat. Di ayat lainnya, al-Quran menginformasikan bahwa al-Quran diturunkan pada malam yang penuh berkah (inna anzalnahu fi lailatin mubarakah). Apa lailatun mubarakatun itu? Jawabannya tentu adalah lailah al-Qadr, ini sesuai dengan firman-Nya, Inna anzalnahu fi lailat al-Qadr (Qs. Al-Qadr: 1).

Dengan demikian, bagi orang yang meyakini bahwa al-Quran diturunkan pada malam 17 Ramadhan, dia juga meyakini bahwa malam tersebut (17 Ramadhan) sebagai malam lailah al-Qadr.

Jika merujuk kepada sumber-sumber hadits, tentunya pendapat yang meyakini bahwa al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan agaknya kurang tepat. Kekurang tepatannya, menurut penulis, dimulai dari anggapan yang salah tentang lailah al-Qadr. Seandainya mereka merujuk berbagai hadits, lailah al-Qadr itu terjadi pada sepuluh malam terkahir Ramadhan. Abu Sai’id al-Khudri sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, menceritakan bahwa Rasulullah pernah bermimpi tentang lailah al-Qadr, lalu beliau menyeru; ”carilah malam lailah al-Qadr itu pada malam kesepuluh terakhir di bulan Ramadhan, dan carilah pada setiap malam ganjil. Dalam riwayat Anas, Ibnu Umar, Abu Hurairah radiyallahu ’anhum matannya juga sama.

Dengan keterangan-keterangan hadits di atas, jelaslah bahwa tidaklah tepat kalau seandainya kita meyakini bahwa al-Quran itu diturunkan pada malam 17 Ramadhan. Sebab, lailah al-Qadr sebagaimana dijelaskan hadits-hadits yang shahih, ternyata ada di malam kesepuluh terakhir yang ganjil. Bisa malam ke 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan.

Ibnu Abbas ketika ditanya oleh seorang shahabat tentang nuzul al-Quran berkenaan dengan ayat Qs. Al-Baqarah; 185 dan al-Qadr; 1, menjawab bahwa al-Quran itu diturunkan pada malam 25 Ramadhan.



Menyikapi Nuzul al-Quran

Sebenarnya, memperingati nuzul al-Quran jika dilihat secara fiqih, tentunya merupakan sesuatu yang baru (muhdats), sebab Nabi dan para sahabat tidak pernah menganjurkan dan melakukannya. Yang dilakukan Nabi saw dan para sahabat ketika datang Ramadhan adalah muraja’ah hafalan al-Quran. Nabi saw biasanya didatangi Jibril untuk mua’radah hafalan al-Qurannya. Bahkan Jibril datang dua kali di bulan Ramadhan diakhir hayat Nabi. Menurut al-Qhattan, pada mura’jaah terakhir Nabi dengan Jibril, Ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit ikut menyaksikannya.

Karenanya, di bulan Ramadhan ini alangkah baiknya seandainya kita melakukan Qira’at al-Quran, mempelajari dan mentadaburinya, sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap Allah yang telah menurunkan al-Quran yang menjadi pedoman dan petunjuk kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Ada yang lebih penting untuk disadari oleh umat Islam berkaitan dengan al-Quran. Sejatinya kita jadikan momentum nuzul al-Quran untuk melakukan intropeksi sikap kita terhadap al-Quran. Mengingat banyaknya hujatan-hujatan, penistaan-penistaan yang dilancarkan oleh para musuh Islam. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, hujatan dan penistaan terhadap al-Quran datang dari kalangan umat Islam sendiri.

Sekedar contoh. Mungkin kita masih ingat kejadian di Penjara Guantanamo beberapa tahun ke belakang. Tentara Amerika meneror para tahanan Muslim dengan membuang dan menginjak-injak al-Quran di toilet. Jauh sebelumnya, Salman Rusdi menulis novel satanic Versus yang intinya menyebut al-Quran sebagai ayat-ayat syetan, bukan firman Allah. Di Indonesia sendiri, konon di IPDN, sebagaimana dituturkan salah satu dosennya, pernah terjadi penginjakan terhadap al-Quran oleh mahasiswa. Informasi terbaru terkait dengan penistaan al-Quran. Seperti hangat diberitakan di media massa, di Amerika, tepatnya di Florida, di tengah gencarnya isu dan pro-kontra pembangunan Mesjid di bekas gedung WTC, ada rencana propokasi untuk membakar al-Quran berskala internasional. Rencananya, pada 11 September 2010, bertepatan dengan tanggal dan bulan hancurnya menara WTC, atas gagasan World Dove Outreach Centre di Gaines Ville dengan tokohnya Terry Djones, mengajak dunia internasional untuk membakar al-Quran secara serentak. Rencana biadab yang tak berprikemanusiaan tersebut, penulis sebut tak berprikemanusiaan karena melanggar hak asasi manusia, bahkan bukan saja tak berprikemanusiaan, tapi tak berpriketuhanan, sejatinya menjadi perhatian utama kaum muslimin sedunia. Apalagi, sebenarnya, jika diukur dari kwantitas, umat Islam merupakan penduduk terbesar kedua di dunia. Tentunya, besarnya jumlah pemeluk agama Islam tersebut, seharusnya bisa menjadi sebuah kekuatan dan tekanan bagi mereka yang ingin melakukan penistaan terhadap al-Quran, agar mengurungkan niatnya tersebut.

Itu penistaan secara fisik. Yang lebih bahaya penistaan al-Quran secara ideologi yang sangat sulit diketahuinya kecuali oleh para ulama dan cendekiawan. Kini, termasuk di Indonesia, banyak para pemikir muslim yang menghujat dan menghina al-Quran. Nasr Hamid Abu Zayd, liberlis dari Mesir yang divonis murtad oleh para ulama di Mesir, menganggap al-Quran sebagai produk budaya. Bagi oarang awam statment Abu Zaid tersebut mungkin hanya biasa-biasa saja, tidak ada masalah. Namun jika ditela’ah secara mendalam, konsekuensinya sangatlah fatal. Dengan pernyataan tersebut, al-Quran nantinya tidak akan dianggap sebagai firman Allah, melainkan buatan Muhammad.

Selain Abu Zaid, Arkoun, pemikir dari Tunisia yang juga kolega Abu Zaid, hampir sama dengan Abu Zayd. Dia sudah tidak mau lagi mengakui kesakralan al-Quran. Baginya yang sakral hanya di Lauh Mahfudz, sedangkan yang ada di tangan kita sekarang tidaklah jauh berbeda dengan buku-buku lainnya. Lebih parahnya lagi, Arkoun menganjurkan kita untuk bermain-main dengan al-Quran.

Kedua pemikir tadi banyak diikuti oleh kalangan pelajar (mahasiswa) muslim di Indonesia. Di Semarang bahkan ada jurnal kampus yang khusus mendekonstruksi asas-asas yang prinsipil dalam Islam, termasuk menggugat keotentikan al-Quran. Mereka sudah tidak percaya lagi dengan orisinalitas al-Quran. Mereka menganggap bahwa al-Quran yang ada sekarang adalah hasil rekayasa Utsman dan kabilah Quraisy.

Mengapa mereka sampai berani melakukan seperti itu? Ini tidaklah lain karena sikap kita yang tidak begitu peduli terhadap al-Quran. Kita mengaku muslim, tapi berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk mempelajari al-Quran. Jangankan mempelajarinya, sekedar membacanya saja mungkin sangat jarang sekali. Mari kita budayakan membaca, menatadaburi, memahami dan merealisasikan al-Quran dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu A’lam bi al-Shawab.