KFC & makanan sejenis yg kaya dengan MSG
Tahukah anda,bahwa selama ini kita telah terlalu banyak mengkomsumsi racun yang lezat, yang tidak kita sadari telah masuk ke dalam tubuh kita dan itu semua adalah berpotensi sebagai bahan yang bersifat KARSINOGENIK. Bahan itu tak lain adalah MONOSODIUMGLUTAMATE ( MSG ) .
Burger King, McDonalds, Wendy's, Taco Bell, di semua restoran, bahkan yang tersedia di meja, seperti TGIF, Chilis', Applebees dan Denny's, tulen menggunakan MSG secara melimpah.
Kentucky Fried Chicken tampaknya merupakan pelanggar paling buruk: MSG ada di tiap hidangan ayam, kuah salada dan saus. Tak heran jika orang lahap menyantap pelapis kulit ayam, rahasianya ya bumbunya pakai MSG! (watch bahaya MSG )
Waspadai Bahaya MSG
Ratusan penelitian para ahli di mancanegara menunjukkan, vetsin alias MSG sebagai "penyedap makanan" - bukan soal halal atau haram, yang jelas merusak otak anak-anak. Sedangkan untuk orang dewasa akibatnya bisa memicu degeneratif syaraf otak, dengan munculnya parkinson, huntington, ALS dan alzheimer alias pikun. Pejabat pemerintah maupun media massa memilih bungkam, semata-mata demi uang !
BANGSA Indian punya sebuah petuah terkenal. Bunyinya, begini: "Bumi tempat kita hidup hari ini bukanlah warisan nenek moyang kita. Tapi merupakan pinjaman dari anak cucu kita." Nasehat turun-temurun itu mengingatkan agar manusia tidak berlaku zalim terhadap alam lingkungan serta bumi seisinya.
Manusia bertindak zalim bukan hanya terhadap alam lingkungan - dan sejarah membuktikan akibatnya sungguh tidak terpermanai. Perilaku zalim di antara sesama manusia, pun sudah menjadi pengetahuan umum membawa beragam kesengsaraan. Dan lebih tragis lagi adalah ketika kezaliman justru dilakukan terhadap diri sendiri.
Contoh menzalimi diri sendiri, misalnya, kegemaran merokok. Ini mungkin masih dianggap kecil dibandingkan dengan kecanduan narkotika. Nah, jika narkotika sudah luas terbukti berakibat fatal, maka ada lagi kecanduan setara terhadap bahan kimia lain yang tak kalah gawatnya untuk kehidupan anak manusia. Bahan kimia dimaksud adalah Monosodium Glutamate (MSG) alias bumbu penyedap makanan. Di Indonesia, mulanya dikenal sebagai vetsin. Atau lazim pula dilafalkan jadi micin. Merek dagang yang ditawarkan beragam - tanpa perlu disebut lagi, semua penyedap makanan itu tulen berupa bumbu kimia.
MSG Merusak Syaraf Otak
Ratusan penelitian para ahli di mancanegara menunjukkan, MSG sebagai "penyedap makanan" berakibat merusak otak anak-anak. Dalam masa pertumbuhan, efeknya buruk terhadap sistem syaraf anak. Mereka mengalami kesulitan secara emosional - dan lemah untuk belajar. Bukti ilmiah pula menunjukkan bahan kimia ini secara permanen merusak bagian otak paling kritis yang mengendalikan hormon. Sehingga kelak manusia menghadapi gangguan kelenjar endokrin. Begitu pula akibat yang ditimbulkan pemanis buatan dalam minuman ringan untuk diet, bisa memicu tumor otak yang jumlahnya meningkat dramatis semenjak pemanis buatan ini dilansir secara luas.
Setelah mengetahui bahaya meminum produk semacam ini, apakah anda masih melahapnya, atau membiarkan anak-anak juga meminumnya? Bukti menunjukkan, satu dari bumbu pemanis ini bahan kimianya bernama aspartate, dapat merusak jaringan otak - sama seperti efek buruk MSG.
Sedangkan buat orang dewasa, sudah diperagakan bukti yang melimpah bahwa semua jenis bahan kimia - namanya: excitotoxin, dapat berakibat buruk. Atau bahkan memicu aneka epidemi dewasa ini seputar degeneratif syaraf otak, seperti penyakit parkinson, huntington, ALS dan alzheimer alias pikun gawat. Mungkin belum luas disadari bahwa excitotoxin sebagai penyedap makanan secara khusus berisiko bagi pengidap diabetes. Atau pernah kena stroke, cedera otak, tumor otak, serangan mendadak atau pengidap darah tinggi, radang selaput otak (meningitis), atau radang otak akibat virus.
Penelitian pula menunjukkan cedera otak adalah akibat dari semua produk tadi. Dan pada anak-anak, tak dapat dipulihkan, hanya lantaran mengkonsumsi satu dari produk yang mengandung kimia penyedap tersebut.
Meracuni Diri & Anak Cucu
Silakan satu kali melongok ke dapur, buka rak makanan dan lemari es. MSG ada di semua makanan! Di dalam sup Campbell, Hostess Doritos, keripik kentang Lays, Top Ramen, Betty Crocker Hamburger Helper, saus kalengan Heinz, Swanson frozen prepared meals, saus salada Kraft, terutama yang ditulisi 'sehat rendah lemak'. Produk yang dikatakan tak ada MSG, sebenarnya mengandung bahan kimia yang disebut Hydrolyzed Vegetable Protein - ini cuma nama lain untuk Monosodium Glutamate. Sungguh kita jadi terbelalak melihat begitu banyak makanan yang diberikan kepada anak-anak tiap hari, semua berisi racun. Produsen menyembunyikan MSG dengan banyak nama berbeda untuk membodohi konsumen.
Ketika bersama keluarga kita ramai-ramai makan di luar, kita pun bertanya di restoran apakah menunya mengandung MSG? Para pelayan - bahkan sang manajer, bersumpah tidak menggunakan MSG.
Tapi coba tanyakan daftar bumbunya. Mereka enggan memperagakan, maka yakinlah bahwa MSG dan Hydrolyzed Vegetable Protein ada di mana-mana.
Burger King, McDonalds, Wendy's, Taco Bell, di semua restoran, bahkan yang tersedia di meja, seperti TGIF, Chilis', Applebees dan Denny's, tulen menggunakan MSG secara melimpah.
Kentucky Fried Chicken tampaknya merupakan pelanggar paling buruk: MSG ada di tiap hidangan ayam, kuah salada dan saus. Tak heran jika orang lahap menyantap pelapis kulit ayam, rahasianya ya bumbunya pakai MSG!
Lalu, mengapa MSG begitu banyak ada dalam makanan yang kita santap? Apakah dia merupakan vitamin? Sama sekali tidak! Menurut John Ebr dalam
bukunya The Slow Poisoning of America, MSG ditambahkan dalam makanan agar ada efek kecanduan di tubuh manusia.
Menurut situs propaganda di internet, yang disponsori kelompok lobi pabrik makanan pendukung MSG di alasan bumbu penyedap dalam makanan adalah untuk membuat orang makan lagi. Kelompok lobi - Asosiasi Glutamate - mengatakan, makan lagi dan lagi bermanfaat untuk orang lanjut umur.
MSG Disembunyikan
Industri makanan menyembunyikan dan menyelubungi unsur kimia tambahan excitotoxin (MSG dan aspartate), hingga tak mudah dikenali. Tak masuk akal?
Anda mau sewot? Faktanya adalah banyak makanan diberi label "No MSG".
Kenyataan di dalamnya mengandung bukan hanya MSG, tapi juga dijejali dengan excitotoxin lain yang setara potensi serta bahayanya. Seluruh keterangan di atas adalah sungguh-sungguh. Dan semua bahan yang dikenal meracuni otak ini, diaduk ribuan ton dalam makanan dan minuman guna mendongkrak penjualan. Bumbu kimia itu tak punya tujuan lain kecuali sekadar penyedap dan pemanis aneka produk konsumsi.
Seperti diungkapkan tadi, pabrik dan industri makanan selalu menyelubungi penambahan MSG dalam produknya. Berikut ini adalah daftar nama umum untuk MSG terselubung. Ingat juga excitotoxin yang amat kuat, aspartate dan L-cystine, yang sering ditambahkan dalam makanan, menurut ketentuan FDA harus disebutkan, tapi tidak dicantumkan dalam label sama sekali.
Penyedap yang Selalu Berisi MSG
* Monosodium Glutamate (MSG).
* Protein Sayuran Hydrolyzed.
* Protein Hydrolyzed.
* Protein Tanaman Hydrolyzed.
* Sari Protein Tanaman.
* Sodium Caseinate
* Calcium Caseinate
* Sari Ragi.
* Protein Jaringan (termasuk TVP).
* Ragi Autolyzed.
* Tepung Gandum Hydrolyzed.
* Minyak Jagung.
Penyedap yang Sering Berisi MSG
* Sari Gandum.
* Malt Flavoring.
* Bouillon.
* Broth.
* Stock.
* Flavoring.
* Natural Flavors/Flavoring.
* Natural Beef Or Chicken Flavoring.
* Seasoning.
* Spices.
Penyedap yang Mungkin Berisi MSG atau Excitotoxin
* Carrageenan.
* Enzymes.
* Soy Protein Concentrate.
* Soy Protein Isolate.
* Whey Protein Concentrate.
Minuman Diet, Awas!
Minuman ringan untuk diet, permen karet bebas gula, Kool Aid bebas gula, Crystal Light, obat anak-anak, serta ribuan pro-duk lain yang mengklaim ?rendah kalori', ?diet', atau ?bebas gula'.
Pejabat & Media Massa Bungkam, Demi Uang !
Dr. Blaylock mengungkapkan sebuah pertemuan dengan seorang eksekutif senior urusan industri bumbu penyedap. Si pejabat terus-terang bilang bahwa tak jadi soal adanya excitotoxin dalam makanan, dan tak peduli mau tukar nama kapan pun. Begitu pula yang dialami John Erb. Beberapa bulan lampau, ia membawa buku dan keprihatinannya kepada seorang pejabat tinggi kesehatan di Kanada.
Sembari duduk di kantor yang nyaman, sang pejabat bilang: "Tentu saja saya tahu betapa buruknya MSG. Saya tidak pernah menyentuhnya!" Namun si petinggi pemerintah urusan kesehatan ini menolak untuk memberi tahu masyarakat tentang hal yang diketahuinya itu. Bahkan Presiden George W Bush.
Bush dan para pendukungnya tengah mendorong sebuah Rancangan Undang-Undang di Kongres Amerika. Namanya: Personal Responsibility in Food Consumption Act, juga dikenal sebagai Cheeseburger Bill. Undang-Undang besar ini melarang semua orang menggugat pabrik makanan, penjual dan para penyalurnya.
Sampai presiden pun "kepincut" membela industri bumbu penyedap makanan, ingat, juga pernah kejadian di Indonesia. Yakni ketika ada satu merek bumbu masak diramaikan mengandung tulang babi, sekitar tahun 1999.
Lalu timbul soal halal atau haram. Padahal inti persoalannya jauh lebih gawat: mudaratnya sangat keterlaluan. Namun bagian ini diabaikan, pasalnya tak lain hanyalah hitungan kalkulator: ya ada pajak untuk kocek pemerintah.
Sikap mendewakan uang juga dianut kalangan media massa. Mereka tidak bakal buka cerita tentang bahaya MSG buat manusia. Mereka takut tuntutan hukum dari pemasang iklan. Dalam pikiran mereka, membuka urusan dengan industri makanan cepat-saji bakal merusak keuntungan bisnis.
Apa yang Harus Dilakukan?
Pengusaha makanan dan restoran telah membuat kita kecanduan pada dagangan mereka selama bertahun-tahun, dan kini kita membayar harga yang tidak murah sebagai akibatnya.
Di Amerika, para orang tua berharap anak-anak tidak mengutuk mereka lantaran menjadi gembrot akibat bumbu penyedap. Selebihnya, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita mampu menghentikan peracunan terhadap anak-anak kita, sementara petinggi seperti Bush memastikan perlindungan finansial untuk industri yang jelas-jelas meracuni kita.
Kembali Pakai Bumbu Alamiah, Stop MSG!
Dan kita tidak setuju makanan yang membuat kita menjadi bangsa gembrot, letargik alias mengantuk lantaran kekenyangan, bagaikan biri-biri yang cuma menunggu untuk disembelih. Akan halnya di Indonesia, boleh jadi efek kimia bumbu penyedap itu tidak serta-merta membuat orang jadi gembrot. Tapi minimal dapat sifat orang gembrot, yakni indolent alias lamban - dan lebih cilaka: dambin bin lamban dalam berpikir.
Bahkan ketika aneka kepentingan asing kian mencengkeram di bumi bernama Republik Indonesia ini, belum kunjung disadari bahaya yang mengancam kedaulatan bangsa sudah di pelupuk mata.
Tadi sudah disebut, para orang tua di Amerika cemas bakal dikutuk anak-anak mereka akibat keracunan MSG, lalu apa gerangan pikiran para orang tua di Indonesia? Apakah masih tenang melahap kimia-penyedap ini, dan hanyut berjamaah keracunan MSG dengan anak cucu?
Tentu bukan demikian pilihan kita. Oleh sebab itu, mari sebarkan e-mail ini ke semua orang. Harapan kita adalah warkah ini melingkari bola dunia untuk membangun kesadaran: stop konsumsi makanan dengan bumbu penyedap kimia.
Kembalilah menggunakan bumbu alamiah, seperti kunyit, lengkuas, jahe, serai, bawang, daun salam, cabe, tomat, serta aneka tanaman rempah serta bumbu dapur yang turun-temurun terbukti sehat.
Marilah kita merdekakan diri dari belenggu "kimia penyedap" - yang nyata-nyata cuma urusan seujung lidah. Tapi akibatnya fatal untuk seluruh kehidupan kita serta anak cucu. Ingat, petuah Bangsa Indian yang tetap modern tadi. Janganlah menghancurkan masa depan anak cucu, lantaran orang tua teledor menjejalinya dengan makanan yang dibumbui penyedap kimia.
sumber : http://red-msg.blogspot.com/2008/05/waspadai-bahaya-msg.html
5.20.2010
5.14.2010
Emansipasi Wanita dalam Sejarah Manusia
Setiap 21 April masyarakat Indonesia memperingati tanggal tersebut sebagai hari Ibu. Tanggal yang diambil dari kelahiran RA. Kartini yang diklaim sebagai pelopor semangat kebangkitan kaum wanita Indonesia dari keterbelakangan dan penindasan kaum laki-laki. Slogan yang senantiasa diusung dalam ‘perjuangan’ kaum wanita tersebut dikenal dengan istilah Emansipasi Wanita.
Emansipasi wanita seringkali difahami secara keliru oleh para feminis di Indonesia sebagai menyetarakan kedudukan wanita dan laki-laki dalam segala hal; sosial, ekonomi, politik maupun beragama. Mereka menginginkan tidak ada pembedaan dalam hak dan kebebasan antara laki-laki dan wanita.
Maka adalah SALAH BESAR jika menganggap Kartini mencita-citakan persamaan antara perempuan dan laki-laki seperti dalam paradigma barat. Kartini bahkan menyerang peradaban barat. Hal ini tertuang dalam surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902: "Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?"
Jika Kartini sekarang masih hidup, dia pasti akan menyerang pengertian emansipasi yang ada seperti sekarang ini. Kartini akan menyerang kontes ratu-ratuan yang mengumbar aurat, Kartini akan menyerang keinginan perempuan untuk menjadi seperti pria yang sebenarnya berangkat dari perasaan rendah diri dan pengakuan jika pria lebih unggul, sebab menurut Kartini, perempuan dan laki-laki itu memiliki keunggulan dan juga kelemahannya masing-masing yang unik, sebab itu mereka memerlukan satu dengan yang lainnya, saling melengkapi.
DUNIA SEBELUM ISLAM
Sejatinya emansipasi wanita, feminisme atau faham kesetaraan gender adalah ideologi kemarahan dan pemberontakan kaum perempuan terhadap konstruk sosial dan doktrin agama Barat yang sangat diskiriminatif kepada kaum wanita. Sebelum Islam datang, masyarakat dunia memandang wanita berikut ini:
Romawi dan Persia, misalnya. Pada dua kerajaan adikuasa pada masa itu, nasib perempuan sangat mengenaskan. Banyak wanita menjadi budak belian dan pemuas nafsu, atau korban persembahan bagi dewa-dewa. Seperti diilustrasikan oleh Al-Abrasyiy dalam buku ”Keagungan Muhammad” (1985), pada tahun 586M (sekitar 16 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad) di Perancis pernah diselenggarakan suatu sidang yang membahas apakah wanita itu termasuk manusia atau bukan.
Dalam budaya China Kuno terdapat sebuah kaidah: "tidak ada di dunia sesuatu yang paling rendah nilainya selain wanita", "wanita adalah tempat terakhir dalam jenis kelamin dan dia mesti ditempat pada pekerjaan yang paling hina".
Dalam perundang-undangan Yunani, sebagaimana ditulis Dymosten: "kami menjadikan wanita pelacur untuk bersenang-senang, menjadikan teman wanita (pacar) untuk kesehatan fisik kami, menjadikan istri-istri kami agar kami memiliki anak-anak yang legal" .
Di Italia pada sebagian wilayahnya wanita dianggap seperti pembantu rumah tangga, dia hanya boleh duduk di lantai sementara suaminya duduk di atas kursi. Apabila suaminya mengendarai kuda maka sang istri mesti berjalan di bawah mengikuti sang suami meski dalam perjalanan yang jauh sekalipun".
Sedangkan India dalam materi Qanun no: 147 disebutkan bahwa wanita tidak berhak pada setiap tahapan hidupnya untuk melakukan aktifitasnya sesuai keinginannya, meskipun dalam masalah rumah tangganya". Peradaban Hindu dan Cina tidak lebih baik dari yang lain. Hak hidup bagi perempuan yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya. Istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar. Tradisi ini baru berakhir pada abad XVII Masehi.
Dalam budaya Romawi wanita tidak mendapatkan posisi terhormat, bahkan diperlakukan seperti anak-anak dan orang-orang gila, sebagaimana dikutip Abdul Mun'im Badr dan abdul Mun'im al-Badrawi dalam bukunya Mabadi' al-Qanun ar-Rumani hal: 197-265.
Peradaban Romawi menjadikan perempuan sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah menikah, kekuasaan pindah ke tangan suami. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh. Ini berlangsung hingga abad V Masehi. Segala hasil usaha perempuan, menjadi milik keluarganya yang laki-laki.
Pada puncak peradaban Yunani, perempuan merupakan alat pemenuhan naluri seks laki-laki. Mereka diberi kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan dan selera tersebut dan para perempuan dipuja untuk itu. Patung-patung telanjang yang terlihat dewasa ini di Eropa adalah bukti dan sisa pandangan itu.
Tertullian (150 M), sebagai Bapak gereja pertama menyatakan tentang perempuan: “Wanita yang menggunakan pintu bagi masuknya godaan setan dan membimbing kaum pria ke pohon terlarang untuk melanggar hukum Tuhan, dan membuat laki-laki menjadi jahat serta menjadi bayangan Tuhan”. St John Crysostom (345-407 M) seorang Bapak Gereja bangsa Yunani menyatakan: “Wanita adalah setan yang tidak bisa dihindari, suatu kejahatan dan bencana yang abadi dan menarik, sebuah resiko rumah tangga dan ketidakberuntungan yang cantik”. (Abul A’la Al-Maududi, Al-Hijab, 1995).
FEMINISME
Istilah feminisme berasal dari bahasa Latin femina, perempuan. Konon dari kata fides dan minus menjadi fe-minus, artinya kurang iman. Perempuan di Barat, dalam sejarahnya, memang diperlakukan seperti manusia kurang iman. Wajah dunia Barat pun dianggap terlalu macho.
Tapi lawan kata feminis, yakni masculine tidak lantas berarti penuh iman. Masculinus atau masculinity sering diartikan sebagai strength of sexuality. Maka dari itu dalam agama Barat, wanita Barat itu korban inuisisi dan di masyakarat jadi korban perkosaan laki-laki. Tak pelak lagi agama dan laki-laki menjadi musuh wanita Barat.
Itulah worldview Barat asal feminisme lahir. Dan memang worldview, menurut Al-Attas, Alparslan, Thomas Wall, Ninian Smart dll. adalah sumber aktifitas intelektual dan sosial. Buktinya worldview Barat liberal menghasilkan feminist liberal,
Barat Marxis membuahkan feminis Marxis, Barat posmodern melahirkan feminism posmo dan seterusnya. Seperti liberalisme tuntutan feminis liberal adalah hak ekonomi dan kemudian hak politik. Dalam bukunya A Vindication of the Rights of Women, Mary Wollstonecraft menyimpulkan di abad ke 18, wanita mulai kerja luar rumah karena didorong oleh kapitalisme industri. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan jasmani (perut), tapi berkembang menjadi ambisi sosial. Taylor dalam Enfranchisement of Women(1851) malah memprovokasi agar perempuan memilih jadi ibu atau wanita karir.
Tapi berkarir bukan tanpa masalah. Para feminis itu ternyata berkarir diluar rumah tapi dirumah ia mempekerjakan pembantu wanita. Taylor sendiri begitu. Bagi feminis liberal berkarir apapun wanita harus dibela. Bahkan menurut Rosemarie Putnam Tong dalam Feminist Thought-nya feminis liberal terang-terangan membela karier wanita pelacur dan ibu yang mengkomersialkan rahimnya.
Semua berhak melakukan semua dan harus dibela, begitu kira-kira doktrinnya. Membela wanita berarti membela wanita yang melecehkan dirinya sekalipun. Memberdayakan wanita berarti membenci laki-laki. Aroma adagium barbar masih kental membela diri artinya menyakiti orang lain. Biar wirang asal menang. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.
Karena kapitalisme dilawan sosialisme, maka feminis liberal dilawan juga oleh feminis Marxis. Idenya sudah tentu menolak kapitalisme. Sebab struktur politik, sosial dan ekonomi kapitalis liberal telah meletakkan wanita dalam kelas sosial yang lain. Kapitalis-liberal juga menciptakan sistim patriarkis. Karena itu gagasan Feminis Marxis adalah menghapus kelas sosial ini. Namun, nampaknya feminisme liberal atau Marxis masih dianggap kurang nendang. Mereka perlu lebih radikal lagi. Ba hasanya bukan lagi reformasi tapi revolusi. Fokusnya tidak lagi menuntut hak sipil tapi memberontak sistim seks/gender yang opresif.
Pembagian hak dan tanggung jawab seksual serta reproduksi wanita dan laki-laki dianggap tidak adil. Bible pun tak luput dari kritikan. “Kristen itu menindas perempuan,” kata Stanton dalam The Women’s Bible. Selain itu perempuan sering diposisikan sebagai alat pemuas lelaki. Inilah sebabnya feminis radikal lalu marah. Tanpa lelaki wanita dapat hidup dan memenuhi kebutuhan seksnya begitulah kemarahan mereka. Lesbianisme pun dianggap keniscayaan.
Padahal dalam The Vatican Declaration on Sexual Ethics tahun 1975 diputuskan bahwa perilaku lesbian dan homoseks are intrinsically disordered and can in no case be approved of. Paus Benediktus XVI pada malam Tahun Baru 2006, mengutuk hubungan seks sejenis itu. Tapi apa arti agama jika iman tak lagi di dada. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.
Tapi Gayle Rubin, juru bicara feminis radikal libertarian, malah ngompori baiknya wanita jangan hanya puas menjadi lesbi tapi juga memprotes segala aturan tentang hubungan seks. Institusi perkawinan pun jadi sasaran. Tapi beda dari libertarian, feminis kultural justru memprotes pornografi, prostitusi, dan heteroseksual. Tapi tidak berarti mereka setuju dengan UU pornografi dan perda bernuansa syariah. Sebab kedua aliran ini sepakat untuk menghapus institusi keluarga.
Feminis radikal sedikit banyak dapat angin dari gerakan feminis psikoanalisis dan gender. Pendekatannya bukan sosial, politik atau seksual, tapi psikologis biologis. Bahasanya lebih radikal dari feminis radikal. Gerakannya menggugat konstruk gender secara sosial dan biologis. Karena laki-laki dominan bukan karena faktor biologis, tapi sebab konstruk sosial. Maka konstruk sosial ini harus dirubah. Kalau perlu laki-laki bisa hamil dan menyusui, dan wanita bisa menjadi pemimpin laki-laki.
Feminisme adalah gerakan nafsu amarah. Pemicunya adalah penindasan dan ketidak adilan. Obyeknya adalah laki-laki, konstruk sosial, politik dan ekonomi. Ketika diimpor ke negeri ini, ia berwajah gerakan pemberdayaan wanita. Nampaknya bagus. Tapi nilai, prinsip, ide dan konsep gerakannya masih orisinal Barat. Buktinya nafsu lesbianisme ikut diimpor dan dijual bagai keniscayaan, dibela dengan penuh kepercayaan dan dijustifikasi dengan ayat-ayat keagamaan. Bangunan konseptualnya berwajah liberal, radikal, Marxis dan terkadang posmo. Begitulah, nafsu tidak memiliki batas dan marah tidak mengenal moralitas. Dan memang gerakan feminisme adalah feminus, alias kurang iman.
Anggapan sebagian umat Islam, bahwa kaum perempuan di Barat yang senatiasa memperhatikan kaum perempuan Islam, kondisinya membahagiakan, memiliki kemerdekaan, hak-hak mereka terjamin, dan bisa menikmati eksisitensi mereka dalam percaturan kehidupan. Padahal kondisi kaum perempuan di Barat telah mengalami dehumanisasi eksistensi. Kemuliaan dan kehormatan mereka diinjak-injak, hak-hak mereka diperkosa melalui berbagai bentuk slogan yang mengatasnamakan pembebasan perempuan. Bahkan, mereka telah menjadi alat pemuas nafsu birahi kaum laki-lakinya dan objek komersialisasi seks sama seperti leluhur mereka dulu melakukannya, sekalipun dilakukan dengan cara yang lebih moderat tapi jauh lebih merusak.
Islam memandang tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan itu adalah untuk menjadi pasangan. Suatu pasangan, akan menjadi sempurna jika antara satu dengan lainnya saling melengkapi (komplementer), bukan saling menggantikan (substitusi). Laki-laki dan perempuan adalah pasangan yang ideal. Masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Ketika keduanya dipaksakan untuk menjadi sama, maka disharmoni pasti akan terjadi. Keseimbangan menjadi terganggu, dan pada akhirnya sistem dan tatanan sosial menjadi rusak. Bagaimanapun juga perempuan tidak persis sama dengan laki-laki. Jika laki-laki dan perempuan itu sama, tidak perlu diciptakan dua jenis yang berbeda.
Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal seseorang di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan….!” (Ali ‘Imran: 195)
Barangsiapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga. Mereka tidak akan dizalimi sedikitpun. (An-Nisa’: 124)
Barangsiapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga. Mereka tidak akan dizalimi sedikitpun. (An-Nisa’: 124)
Rasulullah saw bersabda: “Dunia adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah”. (HR Muslim).
“Maukah kalian aku beritahu sebaik-baik harta simpanan seseorang? Yaitu wanita sholihah, jika ia memandangnya menyenangkannya, jika ia tidak berada di depannya ia peliharanya, jika ia memerintahkannya ia menataati” (HR. Ibnu Majah, Imam Ahmad, an-Nasa’i dan al-Hakim).
”Barangsiapa yang mempunyai tiga anak perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, kemudian ia berbuat baik dalam berhubungan dengan mereka dan bertakwa kepada Allah atas (hak) mereka, maka baginya surga" (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, hanya saja pada riwayat Abu Dawud Rasulullah saw bersabda, "Kemudian ia mendidik, berbuat baik, dan menikahkan mereka, maka baginya surga.").
Emansipasi wanita seringkali difahami secara keliru oleh para feminis di Indonesia sebagai menyetarakan kedudukan wanita dan laki-laki dalam segala hal; sosial, ekonomi, politik maupun beragama. Mereka menginginkan tidak ada pembedaan dalam hak dan kebebasan antara laki-laki dan wanita.
Maka adalah SALAH BESAR jika menganggap Kartini mencita-citakan persamaan antara perempuan dan laki-laki seperti dalam paradigma barat. Kartini bahkan menyerang peradaban barat. Hal ini tertuang dalam surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902: "Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?"
Jika Kartini sekarang masih hidup, dia pasti akan menyerang pengertian emansipasi yang ada seperti sekarang ini. Kartini akan menyerang kontes ratu-ratuan yang mengumbar aurat, Kartini akan menyerang keinginan perempuan untuk menjadi seperti pria yang sebenarnya berangkat dari perasaan rendah diri dan pengakuan jika pria lebih unggul, sebab menurut Kartini, perempuan dan laki-laki itu memiliki keunggulan dan juga kelemahannya masing-masing yang unik, sebab itu mereka memerlukan satu dengan yang lainnya, saling melengkapi.
DUNIA SEBELUM ISLAM
Sejatinya emansipasi wanita, feminisme atau faham kesetaraan gender adalah ideologi kemarahan dan pemberontakan kaum perempuan terhadap konstruk sosial dan doktrin agama Barat yang sangat diskiriminatif kepada kaum wanita. Sebelum Islam datang, masyarakat dunia memandang wanita berikut ini:
Romawi dan Persia, misalnya. Pada dua kerajaan adikuasa pada masa itu, nasib perempuan sangat mengenaskan. Banyak wanita menjadi budak belian dan pemuas nafsu, atau korban persembahan bagi dewa-dewa. Seperti diilustrasikan oleh Al-Abrasyiy dalam buku ”Keagungan Muhammad” (1985), pada tahun 586M (sekitar 16 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad) di Perancis pernah diselenggarakan suatu sidang yang membahas apakah wanita itu termasuk manusia atau bukan.
Dalam budaya China Kuno terdapat sebuah kaidah: "tidak ada di dunia sesuatu yang paling rendah nilainya selain wanita", "wanita adalah tempat terakhir dalam jenis kelamin dan dia mesti ditempat pada pekerjaan yang paling hina".
Dalam perundang-undangan Yunani, sebagaimana ditulis Dymosten: "kami menjadikan wanita pelacur untuk bersenang-senang, menjadikan teman wanita (pacar) untuk kesehatan fisik kami, menjadikan istri-istri kami agar kami memiliki anak-anak yang legal" .
Di Italia pada sebagian wilayahnya wanita dianggap seperti pembantu rumah tangga, dia hanya boleh duduk di lantai sementara suaminya duduk di atas kursi. Apabila suaminya mengendarai kuda maka sang istri mesti berjalan di bawah mengikuti sang suami meski dalam perjalanan yang jauh sekalipun".
Sedangkan India dalam materi Qanun no: 147 disebutkan bahwa wanita tidak berhak pada setiap tahapan hidupnya untuk melakukan aktifitasnya sesuai keinginannya, meskipun dalam masalah rumah tangganya". Peradaban Hindu dan Cina tidak lebih baik dari yang lain. Hak hidup bagi perempuan yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya. Istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar. Tradisi ini baru berakhir pada abad XVII Masehi.
Dalam budaya Romawi wanita tidak mendapatkan posisi terhormat, bahkan diperlakukan seperti anak-anak dan orang-orang gila, sebagaimana dikutip Abdul Mun'im Badr dan abdul Mun'im al-Badrawi dalam bukunya Mabadi' al-Qanun ar-Rumani hal: 197-265.
Peradaban Romawi menjadikan perempuan sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah menikah, kekuasaan pindah ke tangan suami. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh. Ini berlangsung hingga abad V Masehi. Segala hasil usaha perempuan, menjadi milik keluarganya yang laki-laki.
Pada puncak peradaban Yunani, perempuan merupakan alat pemenuhan naluri seks laki-laki. Mereka diberi kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan dan selera tersebut dan para perempuan dipuja untuk itu. Patung-patung telanjang yang terlihat dewasa ini di Eropa adalah bukti dan sisa pandangan itu.
Tertullian (150 M), sebagai Bapak gereja pertama menyatakan tentang perempuan: “Wanita yang menggunakan pintu bagi masuknya godaan setan dan membimbing kaum pria ke pohon terlarang untuk melanggar hukum Tuhan, dan membuat laki-laki menjadi jahat serta menjadi bayangan Tuhan”. St John Crysostom (345-407 M) seorang Bapak Gereja bangsa Yunani menyatakan: “Wanita adalah setan yang tidak bisa dihindari, suatu kejahatan dan bencana yang abadi dan menarik, sebuah resiko rumah tangga dan ketidakberuntungan yang cantik”. (Abul A’la Al-Maududi, Al-Hijab, 1995).
FEMINISME
Istilah feminisme berasal dari bahasa Latin femina, perempuan. Konon dari kata fides dan minus menjadi fe-minus, artinya kurang iman. Perempuan di Barat, dalam sejarahnya, memang diperlakukan seperti manusia kurang iman. Wajah dunia Barat pun dianggap terlalu macho.
Tapi lawan kata feminis, yakni masculine tidak lantas berarti penuh iman. Masculinus atau masculinity sering diartikan sebagai strength of sexuality. Maka dari itu dalam agama Barat, wanita Barat itu korban inuisisi dan di masyakarat jadi korban perkosaan laki-laki. Tak pelak lagi agama dan laki-laki menjadi musuh wanita Barat.
Itulah worldview Barat asal feminisme lahir. Dan memang worldview, menurut Al-Attas, Alparslan, Thomas Wall, Ninian Smart dll. adalah sumber aktifitas intelektual dan sosial. Buktinya worldview Barat liberal menghasilkan feminist liberal,
Barat Marxis membuahkan feminis Marxis, Barat posmodern melahirkan feminism posmo dan seterusnya. Seperti liberalisme tuntutan feminis liberal adalah hak ekonomi dan kemudian hak politik. Dalam bukunya A Vindication of the Rights of Women, Mary Wollstonecraft menyimpulkan di abad ke 18, wanita mulai kerja luar rumah karena didorong oleh kapitalisme industri. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan jasmani (perut), tapi berkembang menjadi ambisi sosial. Taylor dalam Enfranchisement of Women(1851) malah memprovokasi agar perempuan memilih jadi ibu atau wanita karir.
Tapi berkarir bukan tanpa masalah. Para feminis itu ternyata berkarir diluar rumah tapi dirumah ia mempekerjakan pembantu wanita. Taylor sendiri begitu. Bagi feminis liberal berkarir apapun wanita harus dibela. Bahkan menurut Rosemarie Putnam Tong dalam Feminist Thought-nya feminis liberal terang-terangan membela karier wanita pelacur dan ibu yang mengkomersialkan rahimnya.
Semua berhak melakukan semua dan harus dibela, begitu kira-kira doktrinnya. Membela wanita berarti membela wanita yang melecehkan dirinya sekalipun. Memberdayakan wanita berarti membenci laki-laki. Aroma adagium barbar masih kental membela diri artinya menyakiti orang lain. Biar wirang asal menang. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.
Karena kapitalisme dilawan sosialisme, maka feminis liberal dilawan juga oleh feminis Marxis. Idenya sudah tentu menolak kapitalisme. Sebab struktur politik, sosial dan ekonomi kapitalis liberal telah meletakkan wanita dalam kelas sosial yang lain. Kapitalis-liberal juga menciptakan sistim patriarkis. Karena itu gagasan Feminis Marxis adalah menghapus kelas sosial ini. Namun, nampaknya feminisme liberal atau Marxis masih dianggap kurang nendang. Mereka perlu lebih radikal lagi. Ba hasanya bukan lagi reformasi tapi revolusi. Fokusnya tidak lagi menuntut hak sipil tapi memberontak sistim seks/gender yang opresif.
Pembagian hak dan tanggung jawab seksual serta reproduksi wanita dan laki-laki dianggap tidak adil. Bible pun tak luput dari kritikan. “Kristen itu menindas perempuan,” kata Stanton dalam The Women’s Bible. Selain itu perempuan sering diposisikan sebagai alat pemuas lelaki. Inilah sebabnya feminis radikal lalu marah. Tanpa lelaki wanita dapat hidup dan memenuhi kebutuhan seksnya begitulah kemarahan mereka. Lesbianisme pun dianggap keniscayaan.
Padahal dalam The Vatican Declaration on Sexual Ethics tahun 1975 diputuskan bahwa perilaku lesbian dan homoseks are intrinsically disordered and can in no case be approved of. Paus Benediktus XVI pada malam Tahun Baru 2006, mengutuk hubungan seks sejenis itu. Tapi apa arti agama jika iman tak lagi di dada. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.
Tapi Gayle Rubin, juru bicara feminis radikal libertarian, malah ngompori baiknya wanita jangan hanya puas menjadi lesbi tapi juga memprotes segala aturan tentang hubungan seks. Institusi perkawinan pun jadi sasaran. Tapi beda dari libertarian, feminis kultural justru memprotes pornografi, prostitusi, dan heteroseksual. Tapi tidak berarti mereka setuju dengan UU pornografi dan perda bernuansa syariah. Sebab kedua aliran ini sepakat untuk menghapus institusi keluarga.
Feminis radikal sedikit banyak dapat angin dari gerakan feminis psikoanalisis dan gender. Pendekatannya bukan sosial, politik atau seksual, tapi psikologis biologis. Bahasanya lebih radikal dari feminis radikal. Gerakannya menggugat konstruk gender secara sosial dan biologis. Karena laki-laki dominan bukan karena faktor biologis, tapi sebab konstruk sosial. Maka konstruk sosial ini harus dirubah. Kalau perlu laki-laki bisa hamil dan menyusui, dan wanita bisa menjadi pemimpin laki-laki.
Feminisme adalah gerakan nafsu amarah. Pemicunya adalah penindasan dan ketidak adilan. Obyeknya adalah laki-laki, konstruk sosial, politik dan ekonomi. Ketika diimpor ke negeri ini, ia berwajah gerakan pemberdayaan wanita. Nampaknya bagus. Tapi nilai, prinsip, ide dan konsep gerakannya masih orisinal Barat. Buktinya nafsu lesbianisme ikut diimpor dan dijual bagai keniscayaan, dibela dengan penuh kepercayaan dan dijustifikasi dengan ayat-ayat keagamaan. Bangunan konseptualnya berwajah liberal, radikal, Marxis dan terkadang posmo. Begitulah, nafsu tidak memiliki batas dan marah tidak mengenal moralitas. Dan memang gerakan feminisme adalah feminus, alias kurang iman.
Anggapan sebagian umat Islam, bahwa kaum perempuan di Barat yang senatiasa memperhatikan kaum perempuan Islam, kondisinya membahagiakan, memiliki kemerdekaan, hak-hak mereka terjamin, dan bisa menikmati eksisitensi mereka dalam percaturan kehidupan. Padahal kondisi kaum perempuan di Barat telah mengalami dehumanisasi eksistensi. Kemuliaan dan kehormatan mereka diinjak-injak, hak-hak mereka diperkosa melalui berbagai bentuk slogan yang mengatasnamakan pembebasan perempuan. Bahkan, mereka telah menjadi alat pemuas nafsu birahi kaum laki-lakinya dan objek komersialisasi seks sama seperti leluhur mereka dulu melakukannya, sekalipun dilakukan dengan cara yang lebih moderat tapi jauh lebih merusak.
Islam memandang tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan itu adalah untuk menjadi pasangan. Suatu pasangan, akan menjadi sempurna jika antara satu dengan lainnya saling melengkapi (komplementer), bukan saling menggantikan (substitusi). Laki-laki dan perempuan adalah pasangan yang ideal. Masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Ketika keduanya dipaksakan untuk menjadi sama, maka disharmoni pasti akan terjadi. Keseimbangan menjadi terganggu, dan pada akhirnya sistem dan tatanan sosial menjadi rusak. Bagaimanapun juga perempuan tidak persis sama dengan laki-laki. Jika laki-laki dan perempuan itu sama, tidak perlu diciptakan dua jenis yang berbeda.
Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal seseorang di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan….!” (Ali ‘Imran: 195)
Barangsiapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga. Mereka tidak akan dizalimi sedikitpun. (An-Nisa’: 124)
Barangsiapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga. Mereka tidak akan dizalimi sedikitpun. (An-Nisa’: 124)
Rasulullah saw bersabda: “Dunia adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah”. (HR Muslim).
“Maukah kalian aku beritahu sebaik-baik harta simpanan seseorang? Yaitu wanita sholihah, jika ia memandangnya menyenangkannya, jika ia tidak berada di depannya ia peliharanya, jika ia memerintahkannya ia menataati” (HR. Ibnu Majah, Imam Ahmad, an-Nasa’i dan al-Hakim).
”Barangsiapa yang mempunyai tiga anak perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, kemudian ia berbuat baik dalam berhubungan dengan mereka dan bertakwa kepada Allah atas (hak) mereka, maka baginya surga" (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, hanya saja pada riwayat Abu Dawud Rasulullah saw bersabda, "Kemudian ia mendidik, berbuat baik, dan menikahkan mereka, maka baginya surga.").
4.11.2010
Tuhan tidak ada!
Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.
“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.
Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar??
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.
Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (mlungker-mlungker- istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, “Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”
Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu ??”.
“Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana “, si konsumen menambahkan.
“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
” Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.
“Cocok!” kata si konsumen menyetujui.
“Itulah point utama-nya!.
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !
Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”
Si tukang cukur terbengong !!!
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.
“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.
Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar??
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.
Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (mlungker-mlungker- istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, “Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”
Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu ??”.
“Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana “, si konsumen menambahkan.
“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
” Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.
“Cocok!” kata si konsumen menyetujui.
“Itulah point utama-nya!.
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !
Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”
Si tukang cukur terbengong !!!
UMAT ISLAM DI PERSIMPANGAN JALAN
فَأَيْنَ تَذْهَبُوْنَ (التكوير26)
“Maka kemanakah kamu akan pergi (Q.S. At-Takwîr/81:26)
Karakteristik terpenting dari umat Islâm sebagai umat terbaik adalah umat yang satu (ummatan wâhidah). Allah berfirman : “Sesungguhnya (agama tauhîd) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”. (Q.S. Al-Anbiyâ’/21:92). Tersirat dari ayat ini, bahwa pondasi ummatan wâhidah adalah tauhîd. Kesamaan dan kesepahaman dalam tauhîd akan memuluskan jalan menuju persatuan umat. Diakui ataupun tidak problematika terbesar yang dihadapi umat Islâm selama ini adalah persatuan. Membicarakan masalah ummat tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang ukhûwah, sebab tidak akan terwujud persatuan tanpa adanya ukhûwah dan tidak akan terjalin ukhûwah tanpa adanya kesamaan tauhîd.
Umat Islâm saat ini yang tercampakkan di sudut peradaban; hina, kotor, sakit, tidak ada kemampuan untuk ikut berlaga di kancah kemajuan zaman, Apa yang salah ? siapa yang salah ? Ada lagikah korban kesekian yang akan di “kambing hitam”kan lagi oleh umat Islâm ?, memilukan. Kesalahan dan kelemahan tidak terdapat pada syari’at agama ini, “Dan al-Qur’ân itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi. Al-Qur’ân itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapatmenghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allâh , Tuhan semesta alam”. (Q.S. At-Takwîr/81:25-29)
Kemana kita akan pergi ? sedangkan kita bercerai-berai, bersilang paham dan saling melukai. Persatuan umat Islâm adalah keniscayaan. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Q.S. Al-Hujurât/49:10). Ayat ini terus menerus dikuliahkan dan dikhutbahkan, dan selalu dijadikan hujjah dalam diskusi-diskusi dikalangan kita, supaya umat ini bersatu. Tetapi sampai saat ini cita-cita itu masih berupa mimpi yang indah di gulita malam.
Di bidang duniawi (sosial politik) masih tetap bersimpang siur. Dalam menghadapi soal negara belum juga kelihatan kesatuan sikap dan tindakan. Maka tampaknya saling menjegal.
Kenapa ummat Islâm belum dapat bersatu ? padahal mereka tahu bahwa ajaran Islâm menghendaki yang demikian itu. Dr. Mohammad Natsir mengungkapkan bahwa persatuan adalah soal hati. Kenyataannya konsep Innamal Mu’minûna Ikhwah sebatas slogan pemanis bibir dalam pidato-pidato para pemimpin sekarang, dimana mereka tidak menjiwai persatuan dalam ikatan rasa persaudaraan yang tumbuh dari keimanan kepada Allâh dan rasul-Nya.
Persatuan merupakan masalah qalbu dan wijhah, yakni tujuan hidup yang diniatkan oleh hati yang hendak diraih, serta merupakan kebersihan amal untuk mencapai tujuan dengan penuh keikhlasan.
يآ أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللهُ وَ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ (الأنفال : 64)
“Wahai Nabi, cukuplah Allâh (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu”. (Q.S Al-Anfâl/8:64)
Tujuan hidup orang-orang mukmin hanyalah satu : yakni keridlaan Allâh semata. Inilah motif dari melakukan sesuatu atau menahan diri melakukan sesuatu. Ini pula yang menjadi dasar dalam ibadah dan beramal. Keridlaan Allâh bukan keridlaan manusia.
“… yang menafkahkan hartanya (di jalan Allâh ) untuk membersihkannya. Padahal tidak seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridlaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”. (Q.S. Al-lail/92:18-21).
Tujuan mencari keridlaan Allâh yang dipegang orang-orang mukmin inilah sebagai ikatan pemersatu ummat. Dari itu pula tumbuhnya tali ukhuwah yang sebenarnya.
Apabila umat Islâm, terutama para pemimpinnya menyadari dan menghayati, apa wijhah yang harus mereka tuju sebagai umat Muhammad yang berpegang teguh padanya dalam segala aspek kehidupan, maka yang akan lahir bukanlah perpecahan, melainkan perlombaan dalam berbuat baik, jujur dan sehat serta sinergis (saling mengisi, menguatkan dan membangun). Firman Allâh ;
وَ لِكُلِّ أُمَّةٍ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا اْلخَيْرَاتِ (البقرة:148)
“Dan bagi tiap-tiap ummat ada tujuan yang ditujunya; maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan”. (Q.S. Al-Baqarah/2:148).
Kita tidak berharap wijhah yang suci ini kemudian menjadi samar-samar dan kabur di tengah perjuangan mencari keridlaan Allâh yang asalnya hendak ditanamkan cinta kepada Allâh dan takut kepada-Nya menjadi cinta harta dan kedudukan serta takut mati (al-wahn), yang dimaksud tadinya da’wah ilallâh (memanggil ummat kepada Allâh ) menjadi da’wah ilân nafsî (takabur dan egois), yang tumbuh adalah ananiyah (egoisme) dalam berbagai bentuk dan coraknya.
Kalau sudah sampai tingkat itu, maka persatuan ummat Islam dilukiskan oleh Allâh , “Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka berpecah belah”. (Q.S. Al-Hasyr/59:14).
Setelah semuanya jelas bagi kita, apakah ummat ini masih akan dipersimpangan jalan ?. “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allâh kepadamu agar kamu bertakwa”. (Q.S. Al-An’âm/6:153). Wallâhua'lam.
“Maka kemanakah kamu akan pergi (Q.S. At-Takwîr/81:26)
Karakteristik terpenting dari umat Islâm sebagai umat terbaik adalah umat yang satu (ummatan wâhidah). Allah berfirman : “Sesungguhnya (agama tauhîd) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”. (Q.S. Al-Anbiyâ’/21:92). Tersirat dari ayat ini, bahwa pondasi ummatan wâhidah adalah tauhîd. Kesamaan dan kesepahaman dalam tauhîd akan memuluskan jalan menuju persatuan umat. Diakui ataupun tidak problematika terbesar yang dihadapi umat Islâm selama ini adalah persatuan. Membicarakan masalah ummat tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang ukhûwah, sebab tidak akan terwujud persatuan tanpa adanya ukhûwah dan tidak akan terjalin ukhûwah tanpa adanya kesamaan tauhîd.
Umat Islâm saat ini yang tercampakkan di sudut peradaban; hina, kotor, sakit, tidak ada kemampuan untuk ikut berlaga di kancah kemajuan zaman, Apa yang salah ? siapa yang salah ? Ada lagikah korban kesekian yang akan di “kambing hitam”kan lagi oleh umat Islâm ?, memilukan. Kesalahan dan kelemahan tidak terdapat pada syari’at agama ini, “Dan al-Qur’ân itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi. Al-Qur’ân itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapatmenghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allâh , Tuhan semesta alam”. (Q.S. At-Takwîr/81:25-29)
Kemana kita akan pergi ? sedangkan kita bercerai-berai, bersilang paham dan saling melukai. Persatuan umat Islâm adalah keniscayaan. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Q.S. Al-Hujurât/49:10). Ayat ini terus menerus dikuliahkan dan dikhutbahkan, dan selalu dijadikan hujjah dalam diskusi-diskusi dikalangan kita, supaya umat ini bersatu. Tetapi sampai saat ini cita-cita itu masih berupa mimpi yang indah di gulita malam.
Di bidang duniawi (sosial politik) masih tetap bersimpang siur. Dalam menghadapi soal negara belum juga kelihatan kesatuan sikap dan tindakan. Maka tampaknya saling menjegal.
Kenapa ummat Islâm belum dapat bersatu ? padahal mereka tahu bahwa ajaran Islâm menghendaki yang demikian itu. Dr. Mohammad Natsir mengungkapkan bahwa persatuan adalah soal hati. Kenyataannya konsep Innamal Mu’minûna Ikhwah sebatas slogan pemanis bibir dalam pidato-pidato para pemimpin sekarang, dimana mereka tidak menjiwai persatuan dalam ikatan rasa persaudaraan yang tumbuh dari keimanan kepada Allâh dan rasul-Nya.
Persatuan merupakan masalah qalbu dan wijhah, yakni tujuan hidup yang diniatkan oleh hati yang hendak diraih, serta merupakan kebersihan amal untuk mencapai tujuan dengan penuh keikhlasan.
يآ أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللهُ وَ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ (الأنفال : 64)
“Wahai Nabi, cukuplah Allâh (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu”. (Q.S Al-Anfâl/8:64)
Tujuan hidup orang-orang mukmin hanyalah satu : yakni keridlaan Allâh semata. Inilah motif dari melakukan sesuatu atau menahan diri melakukan sesuatu. Ini pula yang menjadi dasar dalam ibadah dan beramal. Keridlaan Allâh bukan keridlaan manusia.
“… yang menafkahkan hartanya (di jalan Allâh ) untuk membersihkannya. Padahal tidak seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridlaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”. (Q.S. Al-lail/92:18-21).
Tujuan mencari keridlaan Allâh yang dipegang orang-orang mukmin inilah sebagai ikatan pemersatu ummat. Dari itu pula tumbuhnya tali ukhuwah yang sebenarnya.
Apabila umat Islâm, terutama para pemimpinnya menyadari dan menghayati, apa wijhah yang harus mereka tuju sebagai umat Muhammad yang berpegang teguh padanya dalam segala aspek kehidupan, maka yang akan lahir bukanlah perpecahan, melainkan perlombaan dalam berbuat baik, jujur dan sehat serta sinergis (saling mengisi, menguatkan dan membangun). Firman Allâh ;
وَ لِكُلِّ أُمَّةٍ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا اْلخَيْرَاتِ (البقرة:148)
“Dan bagi tiap-tiap ummat ada tujuan yang ditujunya; maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan”. (Q.S. Al-Baqarah/2:148).
Kita tidak berharap wijhah yang suci ini kemudian menjadi samar-samar dan kabur di tengah perjuangan mencari keridlaan Allâh yang asalnya hendak ditanamkan cinta kepada Allâh dan takut kepada-Nya menjadi cinta harta dan kedudukan serta takut mati (al-wahn), yang dimaksud tadinya da’wah ilallâh (memanggil ummat kepada Allâh ) menjadi da’wah ilân nafsî (takabur dan egois), yang tumbuh adalah ananiyah (egoisme) dalam berbagai bentuk dan coraknya.
Kalau sudah sampai tingkat itu, maka persatuan ummat Islam dilukiskan oleh Allâh , “Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka berpecah belah”. (Q.S. Al-Hasyr/59:14).
Setelah semuanya jelas bagi kita, apakah ummat ini masih akan dipersimpangan jalan ?. “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allâh kepadamu agar kamu bertakwa”. (Q.S. Al-An’âm/6:153). Wallâhua'lam.
AQIDAH BARU DI TAHUN BARU
Adalah tahun baru merupakan awal perjalanan kehidupan 365 hari ke depan, dari 365 hari yang telah lewat. Tahun baru juga awal 12 bulan ke depan dari 12 bulan yang telah lewat. Allah ‘azza wajalla dalam Al-qur’an menggunakan kata yaum (hari) terulang sebanyak 365, sejumlah hari-hari dalam setahun, kata syahr (bulan) terulang 12 kali juga sejumlah bulan-bulan dalam setahun. Subhanallah.
Sekarang kita menjalani hari-hari pertama tahun baru 2010 dan bulan pertama di tahun yang sama, apapun pemaknaan orang tentang tahun baru, bagi umat Islam bukanlah hal yang rumit untuk memaknainya. Berangkat dari prinsip “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan besok harus lebih baik dari hari ini” melengganglah umat Islam menjalani tahun baru tanpa harus terbebani pertimbangan-pertimbangan duniawiyah yang memenjarakan dan memperbudak.
Tentu penghitungan awal tahun baru bagi umat Islam adalah bulan Muharam dalam tahun Hijriyah. Sesuai dengan yang ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab radliallâh ‘anhu atas momentum hijrahnya Rasulullâh salallâhu ‘alaihi wa salam dan para sahabat dari Mekah ke Madinah. Sedangkan Januari adalah awal dari tahun baru Masehi berdasarkan momentum kelahiran Isa Al-masih.
Memaknai tahun baru bagi umat Islam harus berbeda dari apa yang dilakukan umat lain. Dalam menentukan tahun baru ini agenda umat Islam terbesar ialah meluruskan aqidah dan persepsi tentang tauhid, risalah dan pembalasan. Tahun baru haruslah mewujudkan aqidah yang baru, dalam arti peningkatan dan pengokohan kembali keimanan dan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla untuk menghadapi tantangan da’wah ilallah yang mungkin tidak lebih ringan dari tahun kemarin.
Kenapa kita harus memfokuskan agenda terbesar pada pengokohan kembali aqidah ? sebab kita menyadari bencana dan ujian yang terus menerus menimpa kita bukanlah akibat krisis ekonomi, politik sosial, maupun budaya, melainkan dilahirkan oleh krisis aqidah. Akibat dari krisis aqidah inilah lahirlah krisis duniawi di atas. Dimana manusia mengalami kehancuran akhlaq, melalaikan ibadah dan menghamba kepada selain Allâh ‘azza wa jalla yang Maha Kaya dan Maha Perkasa.
Agenda umat Islam ditahun baru dengan meluruskan aqidah dan berbagai persepsinya terbagi dalam tiga hal : pertama, meneguhkan kembali sendi-sendi tauhid. Syirik adalah kejahatan paling besar yang dilakukan oleh manusia, Allah berfirman :
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذلِكَ ِلَـمَنْ يَشَآءُ.. (ألنساء : 48)
“ٍٍٍٍٍٍSesunggguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allâh akan mengampuni dosa-dosa selain dosa syirik bagi orang-orang yang di kehendaki-Nya..... ” (QS. An-Nisa : 48)
Sebab syirik merupakan kedzaliman terhadap hakikat, pemalsuan terhadap kenyataan dan penurunan terhadap martabat manusia dari kedudukannya sebagai pemimpin seperti yang di kehendaki Allâh ‘azza wa jalla. Lalu beralih ke martabat penghambaan dan ketundukan makhluk, baik kepada benda mati, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, atau lain-lainnya.(QS. Lukman :13, Al-hâjj : 30-31)
Karena syirik itu merupakan sarang berbagai kebatilan dan khurafat, maka kita wajib untuk menyembah Allâh ‘azza wa jalla semata dan meyakini bahwa yang demikian ini merupakan prinsip pertama yang ada dalam semua risalah para nabi, setiap nabi menyeru kaumnya untuk menyembah Allah, yang tiada sembahan selain Dia. (QS. An-Nahl : 36, al-Anbiya’ : 45)
Seruan tauhid merupakan asas kebebasan yang sebenarnya. Tiada kebebasan bagi orang yang mensucikan orang lain atau yang menyembah harta dan jabatan. Seruan kepada tauhid juga merupakan asas persaudaraan dan persamaaan derajat, karena hal itu hamba Allâh ‘azza wa jalla. Kedua, meluruskan aqidah tentang Nubuwwah dan Risalah. Masalah ini dapat dirinci sebagai berikut :
1.Umat Islam harus meyakini akan adanya kebutuhan terhadap Nubuwwah dan Risalah. Sehingga manusia, tidak mempunyai alasan untuk menolak keduanya (QS. An-Nahl : 64,Al-Baqarah : 213)
2.Umat Islam harus meyakini bahwa para rasul diutus untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan kepada manusia. Mereka bukan Tuhan yang di sembah dan bukan pula anak-anak Tuhan, tapi mereka manusia biasa yang mendapatkan wahyu (QS. Al-kahfi : 110).
3.Umat Islam harus menghindari berbagai syubhât yang di bangkitkan orang-orang terdahulu yang merendahkan dan meragukan risalah para Rasul. ( QS. Ibrâhim : 11, Al-Isra :95)
4.Umat Islam harus meyakini adanya kesudahan (tsawâb) yang baik bagi orang-orang yang membenarkan risalah dan meyakini adanya kesudahan yang buruk (‘iqab) bagi orang-orang yang mendustakan mereka (QS. Al-Furqan : 27-29, Yunus : 103)
Ketiga, Umat Islam harus memantapkan aqidah iman kepada akhirat dan pembalasan. Ada beberapa cara untuk memantapkan aqidah tersebut diantaranya adalah :
1.Meyakini akan kekuasan Allah untuk mengembalikan makhluk seperti sediakala (QS. Al-Hâjj : 50)
2.Memahami peringatan tentang penciptaan manusia di banding penciptaan alam yang lebih besar, ini termasuk hal yang remeh (QS. Al-Ahqâf : 33)
3.Meyakini adanya hikmah Allâh ‘azza wa jalla dibalik perbedaan balasan yang diterima oleh orang-orang yang berbuat baik dan balasan yang diterima oleh orang-orang yang berbuat buruk (QS. Al-Mukmin : 115, Shâd : 27-28)
4.Meyakini adanya pahala bagi orang-orang mukmin dan meyakini siksa dan penyesalan bagi orang-orang kafir (QS. Al-Bayyinah : 6-8)
5.Menepis berbagai persangkaan orang-orang kafir dan musyrik bahwa sesembahan mereka dapat memintakan syafaat di kiamat (QS. An-Najm : 30-39, Al-Mukmin : 18, Al-Baqarah : 255, Al-kahfi : 49)
Tiga pilar pengokohan aqidah di atas akan menjadi modal besar dalam usaha perbaikan kehidupan dunia dan akhirat, tanpa ada keraguan lagi. Jika dijalankan dengan penuh konsistensi (istiqomah), bersungguh-sungguh dan berharap ridha Allah semata.
Wallahu’alam.
Sekarang kita menjalani hari-hari pertama tahun baru 2010 dan bulan pertama di tahun yang sama, apapun pemaknaan orang tentang tahun baru, bagi umat Islam bukanlah hal yang rumit untuk memaknainya. Berangkat dari prinsip “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan besok harus lebih baik dari hari ini” melengganglah umat Islam menjalani tahun baru tanpa harus terbebani pertimbangan-pertimbangan duniawiyah yang memenjarakan dan memperbudak.
Tentu penghitungan awal tahun baru bagi umat Islam adalah bulan Muharam dalam tahun Hijriyah. Sesuai dengan yang ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab radliallâh ‘anhu atas momentum hijrahnya Rasulullâh salallâhu ‘alaihi wa salam dan para sahabat dari Mekah ke Madinah. Sedangkan Januari adalah awal dari tahun baru Masehi berdasarkan momentum kelahiran Isa Al-masih.
Memaknai tahun baru bagi umat Islam harus berbeda dari apa yang dilakukan umat lain. Dalam menentukan tahun baru ini agenda umat Islam terbesar ialah meluruskan aqidah dan persepsi tentang tauhid, risalah dan pembalasan. Tahun baru haruslah mewujudkan aqidah yang baru, dalam arti peningkatan dan pengokohan kembali keimanan dan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla untuk menghadapi tantangan da’wah ilallah yang mungkin tidak lebih ringan dari tahun kemarin.
Kenapa kita harus memfokuskan agenda terbesar pada pengokohan kembali aqidah ? sebab kita menyadari bencana dan ujian yang terus menerus menimpa kita bukanlah akibat krisis ekonomi, politik sosial, maupun budaya, melainkan dilahirkan oleh krisis aqidah. Akibat dari krisis aqidah inilah lahirlah krisis duniawi di atas. Dimana manusia mengalami kehancuran akhlaq, melalaikan ibadah dan menghamba kepada selain Allâh ‘azza wa jalla yang Maha Kaya dan Maha Perkasa.
Agenda umat Islam ditahun baru dengan meluruskan aqidah dan berbagai persepsinya terbagi dalam tiga hal : pertama, meneguhkan kembali sendi-sendi tauhid. Syirik adalah kejahatan paling besar yang dilakukan oleh manusia, Allah berfirman :
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذلِكَ ِلَـمَنْ يَشَآءُ.. (ألنساء : 48)
“ٍٍٍٍٍٍSesunggguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allâh akan mengampuni dosa-dosa selain dosa syirik bagi orang-orang yang di kehendaki-Nya..... ” (QS. An-Nisa : 48)
Sebab syirik merupakan kedzaliman terhadap hakikat, pemalsuan terhadap kenyataan dan penurunan terhadap martabat manusia dari kedudukannya sebagai pemimpin seperti yang di kehendaki Allâh ‘azza wa jalla. Lalu beralih ke martabat penghambaan dan ketundukan makhluk, baik kepada benda mati, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, atau lain-lainnya.(QS. Lukman :13, Al-hâjj : 30-31)
Karena syirik itu merupakan sarang berbagai kebatilan dan khurafat, maka kita wajib untuk menyembah Allâh ‘azza wa jalla semata dan meyakini bahwa yang demikian ini merupakan prinsip pertama yang ada dalam semua risalah para nabi, setiap nabi menyeru kaumnya untuk menyembah Allah, yang tiada sembahan selain Dia. (QS. An-Nahl : 36, al-Anbiya’ : 45)
Seruan tauhid merupakan asas kebebasan yang sebenarnya. Tiada kebebasan bagi orang yang mensucikan orang lain atau yang menyembah harta dan jabatan. Seruan kepada tauhid juga merupakan asas persaudaraan dan persamaaan derajat, karena hal itu hamba Allâh ‘azza wa jalla. Kedua, meluruskan aqidah tentang Nubuwwah dan Risalah. Masalah ini dapat dirinci sebagai berikut :
1.Umat Islam harus meyakini akan adanya kebutuhan terhadap Nubuwwah dan Risalah. Sehingga manusia, tidak mempunyai alasan untuk menolak keduanya (QS. An-Nahl : 64,Al-Baqarah : 213)
2.Umat Islam harus meyakini bahwa para rasul diutus untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan kepada manusia. Mereka bukan Tuhan yang di sembah dan bukan pula anak-anak Tuhan, tapi mereka manusia biasa yang mendapatkan wahyu (QS. Al-kahfi : 110).
3.Umat Islam harus menghindari berbagai syubhât yang di bangkitkan orang-orang terdahulu yang merendahkan dan meragukan risalah para Rasul. ( QS. Ibrâhim : 11, Al-Isra :95)
4.Umat Islam harus meyakini adanya kesudahan (tsawâb) yang baik bagi orang-orang yang membenarkan risalah dan meyakini adanya kesudahan yang buruk (‘iqab) bagi orang-orang yang mendustakan mereka (QS. Al-Furqan : 27-29, Yunus : 103)
Ketiga, Umat Islam harus memantapkan aqidah iman kepada akhirat dan pembalasan. Ada beberapa cara untuk memantapkan aqidah tersebut diantaranya adalah :
1.Meyakini akan kekuasan Allah untuk mengembalikan makhluk seperti sediakala (QS. Al-Hâjj : 50)
2.Memahami peringatan tentang penciptaan manusia di banding penciptaan alam yang lebih besar, ini termasuk hal yang remeh (QS. Al-Ahqâf : 33)
3.Meyakini adanya hikmah Allâh ‘azza wa jalla dibalik perbedaan balasan yang diterima oleh orang-orang yang berbuat baik dan balasan yang diterima oleh orang-orang yang berbuat buruk (QS. Al-Mukmin : 115, Shâd : 27-28)
4.Meyakini adanya pahala bagi orang-orang mukmin dan meyakini siksa dan penyesalan bagi orang-orang kafir (QS. Al-Bayyinah : 6-8)
5.Menepis berbagai persangkaan orang-orang kafir dan musyrik bahwa sesembahan mereka dapat memintakan syafaat di kiamat (QS. An-Najm : 30-39, Al-Mukmin : 18, Al-Baqarah : 255, Al-kahfi : 49)
Tiga pilar pengokohan aqidah di atas akan menjadi modal besar dalam usaha perbaikan kehidupan dunia dan akhirat, tanpa ada keraguan lagi. Jika dijalankan dengan penuh konsistensi (istiqomah), bersungguh-sungguh dan berharap ridha Allah semata.
Wallahu’alam.
Langganan:
Postingan (Atom)