Apa Arti Peredaran Uang Rp 2000?
Uang Kertas 2000 rupiah Dewasa ini, bila anda berkendaraan melalui jalan tol, anda akan jarang menerima uang kembalian berupa lembaran Rp 1.000,-. Kasir pintu tol justru mengembalikan sisa tol dengan koin Rp 500,- aluminium. Memang sejak Maret 2007, Bank Indonesia berencana menerbitkan uang kertas (UK) baru, pecahan Rp 2000,- dan Rp 20.000,- lalu menarik uang kertas Rp 1000,- bergambar Pattimura untuk digantikan dengan koin baru Rp 1.000,- yang bahan metalnya lebih murah dari koin Rp 1.000,- seri Kelapa Sawit (1993 - 2000). Lalu apa arti perubahan ini?
Ya, tentu saja, dengan terbitnya pecahan Rp 2000, berarti pemangkasan harta atau aset kita dalam mata uang rupiah, menjadi separuh dari daya belinya semula, yang disebut inflasi rupiah! Anda yang tadinya cukup nyaman dengan penghasilan, katakanlah Rp 2 juta/bulan, kini dengan adanya pemangkasan tadi, anda harus menambah penghasilan dua kali lipatnya! Artinya selepas Idul Fitri 1430 H nanti, penghasilan anda harus naik menjadi Rp 4 juta atau sekurangnya Rp 3 juta / bulan bila ingin tetap nyaman seperti hari ini (Juli 2009).
Lalu bagaimana dengan rakyat kebanyakan yang penghasilannya kurang dari Rp 1 juta sebulan ? Ya, semakin blangsak
Berdasarkan sejarah, ketika era Soeharto dulu, uang kertas tertinggi sejak tahun 1968-1991 adalah Rp 10.000,-. Lalu dengan alasan defisit APBN, diedarkanlah uang lembaran Rp 20.000,- seri Cengkeh/Cenderawasih, tahun 1992. Karena nominal "aneh" ini sukses beredar, maka tak lama kemudian muncul nominal lebih tinggi lagi yaitu Rp 50.000,- bergambar Pak Harto (1993). Dan tidaklah mustahil, bila uang kertas Rp 2.000,- baru ini sukses beredar, maka Bank Indonesia akan menerbitkan uang kertas dengan nominal baru lainnya, misalnya: Rp 200.000,-; Rp 500.000,-, bahkan Rp 1 juta!
Sebab hal itu memang lazim dilakukan oleh Bank Sentral di negara berkembang. Karena ciri khas mata uang negara maju, nominal angkanya hanya tiga digit saja, seperti USA $100, Arab Saudi 200 riyal, Eropa 500 euro, Inggris 100 poundsterling; kecuali Jepang dan Korea Selatan dengan 10.000 yen dan 10.000 won, sebagai sisa sebuah trauma ekonomi pasca Perang Dunia II.
Dengan ditariknya pecahan Rp 1.000,- maka otomatis uang receh terkecil adalah Rp 500,-. Sedangkan koin pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- akan lenyap dengan sendirinya, rusak atau dicuekin. Hal ini lazim terjadi pasca terbitnya uang baru, ketika pecahan Rp 1,- dan Rp 2,- lenyap pada tahun 1975, sepuluh tahun kemudian Rp 5,- dan Rp 10,- lenyap di tahun 1985, lalu Rp 25,- dan Rp 50,- lenyap di tahun 1995. Kini pada 2009 ini pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- sudah kehilangan daya belinya. Rakyat dieksploitasi untuk memacu kegiatan ekonominya, dan dipaksa merelakan hilangnya sebagian jerih payah mereka.
Perhatikan akibatnya. Bila tadinya sebutir telur ayam negeri seharga Rp 10,-/butir di tahun 1975, lalu naik menjadi Rp 100,-/butir di tahun 1985, maka pemegang uang rupiah telah kehilangan asetnya 1 digit dari Rp 10,- ke Rp 100,-. Artinya si pemegang uang kertas harus mencari sepuluh kali lipat lebih banyak lagi lembaran rupiah agar bisa membeli telur yang sama. Bisa jadi suatu hari nanti harga sebutir telur ayam negeri harus dibayar dengan lembaran Rp 10.000,-/butir, tinggal menunggu waktu saja.
Untuk mengakali inflasi ini, Bank Indonesia cukup menambah angka nol pada uang kertas baru. Inilah riba Zero Sum Game! Sampai kapan permainan riba ini akan berakhir? Rakyat yang kalah gesit dalam mengimbangi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya.
[wakalanusantara.com]
Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia
sumber: swaramuslim.com
9.25.2009
9.12.2009
Hanya Untuk Para Jomblo..
Ayyuhal Jomblouun…bagi anda yang menjomblo karena alasan ideologis Laa Takhof wa Laa Tahzan karena anda benar sebelum jodoh menghampiri anda.
Coba anda tanyakan beberapa pertanyaan di bawah ini kepada mereka yang berpacaran :
1.Apakah anda dapat berlaku jujur tentang hal ihwal adegan yang pernah anda lakukan waktu berpacaran dengan si A, B, C, s/d Z, kepada calon pasangan yang akan menjadi istri/suami anda yang sesungguhnya? Kalau tidak, mengapa anda berani mengatakan, pacaran merupakan satu bentuk pengenalan kepribadian antara dua insan yang saling jatuh cinta dengan dilandasi sikap saling percaya? Sedangkan kenapa kepada calon pasangan hidup anda yang sesungguhnya anda berdusta? Bukankah sikap keterbukaan merupakan salah satu kunci terbinanya keluarga sakinah?
2.Mengapa anda pusing tujuh keliling untuk memutuskan seseorang menjadi pendamping hidup anda? Apakah anda takut mendapatkan pendamping yang telah sekian kali berpindah tangan? Tapi mengapa anda begitu gemar berpacaran, hingga melahirkan korban baru yang siap pindah tangan dengan kondisi menyedihkan dari tangan anda?
3.Jika anda diminta menjatuhkan pilihan terhadap dua calon pasangan untuk menjadi pendamping hidup anda, yang satu pernah berpacaran dan yang lainnya teguh memegang Syari’at tidak berpacaran, yang mana akan anda pilih? Tentu tak diragukan lagi anda akan memilih yang kedua. Tapi mengapa anda berpacaran dengan orang lain, sementara anda menginginkan pendamping hidup yang bersih?
4.Bagaimana perasaan anda, jika mengetahui istri/suami anda sekarang, memiliki nostalgia berpacaran? Tentu anda kecewa bukan kepalang. Tapi mengapa anda melakukan adegan serupa terhadap seseorang yang nantinya akan menjadi pendamping hidup orang lain?
5.Kalaupun istri/suami anda sekarang mau buka mulut tentang nostalgia berpacarannya sebelum menikah dengan anda, Apakah anda percaya jika dia bilang “saat itu kami hanya bicara biasa-biasa saja dan tidak saling bersentuhan sedikitpun? Kalau tidak, mengapa ketika berpacaran anda bersentuhan dan berciuman, anda bilang itu sekedar bumbu penyedap?
6.Jika anda telah menjadi seorang Ayah atau Ibu dari anak-anak anda, apakah anda senang memiliki anak yang selalu menjadi pengorban atau korban pacaran? Kalau tidak, mengapa anda begitu tega menyeret orang tua anda ke dalam bara api Neraka? Anda tuntut mereka di hadapan Allah karena tidak melarang anda berpacaran dan tidak menganjurkan anda untuk segera menikah?
Mari kita bernasyid…
Jadi Ikhwan
Jangan punya pikiran sempit
Mikir ko berbelit-belit
Ayo dong buru-buru merit
Jangan Cuma bisa berkelit
Begini Akh
Bukan ane ga mau nikah
Hidup ane lagi payah
Kasih dong ane jalur ma’isyah
Nanti ane buruan walimah
Jadi Akhwat
Jangan bikin syarat yang berat
Mikir ko kayak orang Barat
Nanti satupun bisa ga dapat
Jadi perawan sampai kiamat
Begini Ukh
Bukan ane ga mau patuh
Hidup ane masih keruh
Kasih dong ane doa yang teduh
Pasti ane ga nyari yang jauh
Coba anda tanyakan beberapa pertanyaan di bawah ini kepada mereka yang berpacaran :
1.Apakah anda dapat berlaku jujur tentang hal ihwal adegan yang pernah anda lakukan waktu berpacaran dengan si A, B, C, s/d Z, kepada calon pasangan yang akan menjadi istri/suami anda yang sesungguhnya? Kalau tidak, mengapa anda berani mengatakan, pacaran merupakan satu bentuk pengenalan kepribadian antara dua insan yang saling jatuh cinta dengan dilandasi sikap saling percaya? Sedangkan kenapa kepada calon pasangan hidup anda yang sesungguhnya anda berdusta? Bukankah sikap keterbukaan merupakan salah satu kunci terbinanya keluarga sakinah?
2.Mengapa anda pusing tujuh keliling untuk memutuskan seseorang menjadi pendamping hidup anda? Apakah anda takut mendapatkan pendamping yang telah sekian kali berpindah tangan? Tapi mengapa anda begitu gemar berpacaran, hingga melahirkan korban baru yang siap pindah tangan dengan kondisi menyedihkan dari tangan anda?
3.Jika anda diminta menjatuhkan pilihan terhadap dua calon pasangan untuk menjadi pendamping hidup anda, yang satu pernah berpacaran dan yang lainnya teguh memegang Syari’at tidak berpacaran, yang mana akan anda pilih? Tentu tak diragukan lagi anda akan memilih yang kedua. Tapi mengapa anda berpacaran dengan orang lain, sementara anda menginginkan pendamping hidup yang bersih?
4.Bagaimana perasaan anda, jika mengetahui istri/suami anda sekarang, memiliki nostalgia berpacaran? Tentu anda kecewa bukan kepalang. Tapi mengapa anda melakukan adegan serupa terhadap seseorang yang nantinya akan menjadi pendamping hidup orang lain?
5.Kalaupun istri/suami anda sekarang mau buka mulut tentang nostalgia berpacarannya sebelum menikah dengan anda, Apakah anda percaya jika dia bilang “saat itu kami hanya bicara biasa-biasa saja dan tidak saling bersentuhan sedikitpun? Kalau tidak, mengapa ketika berpacaran anda bersentuhan dan berciuman, anda bilang itu sekedar bumbu penyedap?
6.Jika anda telah menjadi seorang Ayah atau Ibu dari anak-anak anda, apakah anda senang memiliki anak yang selalu menjadi pengorban atau korban pacaran? Kalau tidak, mengapa anda begitu tega menyeret orang tua anda ke dalam bara api Neraka? Anda tuntut mereka di hadapan Allah karena tidak melarang anda berpacaran dan tidak menganjurkan anda untuk segera menikah?
Mari kita bernasyid…
Jadi Ikhwan
Jangan punya pikiran sempit
Mikir ko berbelit-belit
Ayo dong buru-buru merit
Jangan Cuma bisa berkelit
Begini Akh
Bukan ane ga mau nikah
Hidup ane lagi payah
Kasih dong ane jalur ma’isyah
Nanti ane buruan walimah
Jadi Akhwat
Jangan bikin syarat yang berat
Mikir ko kayak orang Barat
Nanti satupun bisa ga dapat
Jadi perawan sampai kiamat
Begini Ukh
Bukan ane ga mau patuh
Hidup ane masih keruh
Kasih dong ane doa yang teduh
Pasti ane ga nyari yang jauh
9.09.2009
Barangkali Anda Ingin Tahu..
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya hancurnya umat sebelum kalian, hanyalah karena kalau para bangsawan mencuri mereka tinggalkan (tidak menegakkan hukum), dan apabila orang lemah yang mencuri mereka laksanakan hukuman. Demi Allah seandainya Fathimah bintu Muhammad mencuri, niscaya kupotong tangannya.” (Ahmad dari Aisyah ra)
“Sesungguhnya orang gila adalah yang terus menerus mendurhakai Allah.” (Ibn Asakir dari Abu Hurairah)
“Sesungguhnya akan datang orang-orang dari umatku yang mempertentangkan ayat-ayat al-Qur’an satu sama lain dengan maksud membatalkannya, dan mengikuti apa yang menimbulkan keraguan (karena menyerupai maknanya antara satu dengan lainnya), dan mereka meyakini berada dalam jalan yang diperintahkan Tuhan mereka. Dan bagi setiap agama ada ‘Majusi’, mereka dalah Majusi dari umatku dan serigalanya neraka.” (Ibn Asakir dari Abu Hurairah ra) Barangkali Hadits ini tepat untuk kalangan Jaringan Islam Liberal.
“Saya adalah orang yang menyampaikan da’wah Ibrahim, dan orang terakhir yang memberikan kabar gembira (tentang kerasulanku) adalah Isa bin Maryam.” (Ibn Asakir dari Ubadah bin Shamit ra)
“Fikirkanlah olehmu tentang ciptaan-Nya dan jangan fikirkan Penciptanya, sesungguhnya kamu tidak akan mampu.” (Abu Syaikh dari Ibnu Abbas ra)
“Kalian yang terbaik pada zaman jahiliyyah, menjadi yang terbaik di zaman Islam, jika memahami dan melaksanakan Syari’at.” (Bukhari Muslim dari Abu Hurairah)
“Di akhirat nanti Allah tidak akan melihat bentuk tubuh dan harta kalian, tapi Allah hanya akan memperhatikan Hati dan amal kalian.” (At Tirmidzi)
“Apabila suatu perkara diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (Bukhari)
“cintailah kekasihmu sewajarnya saja, sebab bisa jadi suatu saat engkau akan membencinya dan bencilah musuhmu sewajarnya saja, sebab bisa jadi suatu saat engkau akan mencintainya.” (Tirmidzi dari Abu Hurairah)
“Barangsiapa yang sangat mencintai seseorang kemudian ia tetap menjaga diri dari perbuatan dosa dan menyimpan cintanya sampai ia mati karenanya, maka ia telah mati syahid.” (Hakim)
“Cukup seseorang itu disebut pendusta jika setiap apa yang ia dengar, ia ceritakan.” (Al-Hadits?)
“Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, jika orang Yahudi dan Nasrani mati setelah mendengar seruanku dan tetap tidak beriman terhadap apa yang aku bawa, ia akan menjadi penghuni neraka. Kalaulah Musa as masih hidup niscaya ia harus mengikutiku.” (Muslim)
“Ajaran Islam akan pudar satu demi satu, dan setiap satu ajaran lenyap, orang akan bermalas-malasan untuk melaksanakan ajaran selanjutnya. Adapun ajaran yang akan pertama kali lenyap adalah sistem pemerintahan Islam, sedangkan yang terakhir adalah Sholat.” (Ahmad)
“Sesungguhnya hancurnya umat sebelum kalian, hanyalah karena kalau para bangsawan mencuri mereka tinggalkan (tidak menegakkan hukum), dan apabila orang lemah yang mencuri mereka laksanakan hukuman. Demi Allah seandainya Fathimah bintu Muhammad mencuri, niscaya kupotong tangannya.” (Ahmad dari Aisyah ra)
“Sesungguhnya orang gila adalah yang terus menerus mendurhakai Allah.” (Ibn Asakir dari Abu Hurairah)
“Sesungguhnya akan datang orang-orang dari umatku yang mempertentangkan ayat-ayat al-Qur’an satu sama lain dengan maksud membatalkannya, dan mengikuti apa yang menimbulkan keraguan (karena menyerupai maknanya antara satu dengan lainnya), dan mereka meyakini berada dalam jalan yang diperintahkan Tuhan mereka. Dan bagi setiap agama ada ‘Majusi’, mereka dalah Majusi dari umatku dan serigalanya neraka.” (Ibn Asakir dari Abu Hurairah ra) Barangkali Hadits ini tepat untuk kalangan Jaringan Islam Liberal.
“Saya adalah orang yang menyampaikan da’wah Ibrahim, dan orang terakhir yang memberikan kabar gembira (tentang kerasulanku) adalah Isa bin Maryam.” (Ibn Asakir dari Ubadah bin Shamit ra)
“Fikirkanlah olehmu tentang ciptaan-Nya dan jangan fikirkan Penciptanya, sesungguhnya kamu tidak akan mampu.” (Abu Syaikh dari Ibnu Abbas ra)
“Kalian yang terbaik pada zaman jahiliyyah, menjadi yang terbaik di zaman Islam, jika memahami dan melaksanakan Syari’at.” (Bukhari Muslim dari Abu Hurairah)
“Di akhirat nanti Allah tidak akan melihat bentuk tubuh dan harta kalian, tapi Allah hanya akan memperhatikan Hati dan amal kalian.” (At Tirmidzi)
“Apabila suatu perkara diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (Bukhari)
“cintailah kekasihmu sewajarnya saja, sebab bisa jadi suatu saat engkau akan membencinya dan bencilah musuhmu sewajarnya saja, sebab bisa jadi suatu saat engkau akan mencintainya.” (Tirmidzi dari Abu Hurairah)
“Barangsiapa yang sangat mencintai seseorang kemudian ia tetap menjaga diri dari perbuatan dosa dan menyimpan cintanya sampai ia mati karenanya, maka ia telah mati syahid.” (Hakim)
“Cukup seseorang itu disebut pendusta jika setiap apa yang ia dengar, ia ceritakan.” (Al-Hadits?)
“Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, jika orang Yahudi dan Nasrani mati setelah mendengar seruanku dan tetap tidak beriman terhadap apa yang aku bawa, ia akan menjadi penghuni neraka. Kalaulah Musa as masih hidup niscaya ia harus mengikutiku.” (Muslim)
“Ajaran Islam akan pudar satu demi satu, dan setiap satu ajaran lenyap, orang akan bermalas-malasan untuk melaksanakan ajaran selanjutnya. Adapun ajaran yang akan pertama kali lenyap adalah sistem pemerintahan Islam, sedangkan yang terakhir adalah Sholat.” (Ahmad)
8.10.2009
Bonus Ramadhan
“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)
Suatu ketika direktur perusahaan di tempat anda bekerja memanggil anda ke kantornya. Ia memberitahukan bahwa berkat prestasi kerja anda selama ini, anda akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang prestisius. Namun dengan satu syarat, pekan depan anda harus mengikuti seleksi kerja satu bulan penuh. Seleksi yang setelah anda tanyakan ternyata relatif ringan bahkan dengan bonus yang menggiurkan. Bagaimana tidak hanya dengan melakukan kerja yang standar anda akan dapat bonus 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Ternyata itu belum seberapa, anda pun dijanjikan jika berhasil melewati seleksi tahap akhir dengan predikat sangat memuaskan maka anda akan diberikan jaminan kebutuhan hidup selama 83 tahun lebih. Wow! Sangat menggiurkan.
Anda pun jelas, sangat menunggu-menunggu waktu itu tiba, anda begitu hanyut dalam kerinduan penantian. Anda merasa waktu berjalan sangat lamban, lebih lamban dari siput pinggir sawah pak tani. Anda heran melihat jarum jam seolah berdetak malas-malasan, padahal baterainya baru anda ganti dua hari kemarin. Aaah…
Pun perbekalan telah anda siapkan sepulang dari kantor direktur anda, bahkan telah anda cek berulang-ulang khawatir ada yang terlewat dari catatan anda. Skill kerja anda yang telah lama menjadi decak kagum partner kerja anda, makin anda asah jauh lebih berkilat daripada zamrud dari India sekalipun. Bahan-bahan dan petunjuk kerja telah anda pelajari berulang-ulang, bahkan istri anda mengira anda telah jatuh hati pada buku-buku itu dan menjadikannya istri muda anda. Amboi, kerinduan memang memabukkan.
Pembaca, kiranya sudah mulai pahamkah anda akan saya bawa kemana arah cerita ini? Tentu sebagai muslim yang cerdas anda akan sontak menjawab “Inilah Ramadhan yang akan kita tempuh sepekan lagi.”
Ya, inilah Ramadhan. Bulan yang selain gaji tetap akan didapatkan juga bonus 10 hingga 700 kali lipat. Bahkan jika prestasi seleksi amalan di bulan ini konsisten sampai akhir, maka bonus pahala 1000 bulan (83 tahun lebih) bisa anda raih.
Bulan yang telah Allah informasikan kepada anda 1500 tahun yang lalu, tidak seperti direktur anda yang memberikan informasi hanya sepekan sebelum hari H. Jelas sekali persiapan dan perbekalan anda akan jauh lebih paripurna. Aneh nian, jika anda masih ragu dan gagap saat Ramadhan tiba padahal anda punya waktu 11 bulan untuk bersiap-siap menyambutnya. Bahkan anda sudah mengetahuinya sepanjang hayat anda.
Lihatlah para shahabat Rasulullah saw., manusia-manusia langit itu luar biasa gembira menyambut Ramadhan dan luar biasa pilu ditinggal Ramadhan. Mereka berharap setahun itu bulannya adalah Ramadhan semua. Layaknya anda yang begitu meluap kegembiraan saat bulan seleksi itu tiba menghampiri anda. Kegairahan memuncak untuk menelusuri satu ibadah yang Allah berkenan memberikan pahala melimpah-limpah secara langsung.
Allah menyeleksi manusia, kira-kira manusia macam apakah yang akan sanggup melaksanakan aturannya yang ini. Ternyata Allah mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman”, duhai berbahagialah orang yang beriman kepada Allah kerena mereka lulus seleksi, yang bukan hanya mengaku Islam, karena predikat muslim saja tidak cukup layak mengikuti lomba super hebat di bulan Ramadhan. Mereka tidak akan mampu, akan kepayahan…
Mereka, yang hanya Islam saja, sebagaimana sudah Rasulullah ingatkan “Betapa banyak orang yang shaum namun tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Mereka tidak tahan untuk tidak makan minum, tidak tahan untuk konsisten shalat tarawih, tidak tahan berlama-lama membaca al-Qur`an, tidak tahan untuk tidak mencaci orang lain, tidak tahan berbaik sangka kepada orang lain, tidak tahan untuk membatasi apa yang dia makan saat berbuka dan tidak tahan untuk tidak berhura-hura saat malam ‘Iedul Fithri padahal itu berpotensi menghapus seluruh pahala Ramadhan yang susah payah ia kumpulkan.
Memang nyata, kita belum seperti para shahabat Rasulullah saw., mungkin anda atau saya bahkan merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan. Atau yang lebih celaka, justru khawatir dan takut menjalani Ramadhan. Na’udzubillah. Yang menyambut gembira Ramadhan adalah orang beriman, yang menyambut dengan ekspresi datar agak berat mungkin fasiq, yang malah takut dan khawatir bisa jadi munafiq atau bahkan kufur.
Baiklah, ternyata bagi yang merasa berat, Allah telah sebutkan bahwa kewajiban shaum itu “telah diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian,” kalau umat-umat terdahulu saja sudah diwajibkan shaum lalu kenapa kita harus merasa berat seolah-olah hanya kita saja yang diberikan ‘beban’. Maka bagi siapa saja yang merasa terbebani oleh kewajiban shaum, sungguh ia hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja tanpa mendapatkan saripati dari ibadahnya sedikitpun. Sia-sia
Orang yang beriman dan bersabar tanpa terbebani akan dengan mudah mendapatkan saripati ibadah shaum Ramadhan sebagaimana target shaum itu sendiri yakni “supaya kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa,” kata Allah. Taqwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia disisi-Nya adalah insan yang bertaqwa.
Taqwa adalah juga konsistensi. Seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah “nasehatilah aku yang tidak akan aku minta lagi kepada orang lain.” Rasul menjawab: “katakanlah: aku beriman kepada Allah, lalu konsistenlah kamu dalam keimanan itu.” Iman plus konsistensi adalah taqwa. Maka ciri orang yang sukses meraih predikat taqwa dari ibadah Ramadhan adalah konsistensi ibadahnya di bulan-bulan lain sama seperti yang dilakukannya di bulan Ramadhan.
Shaum Ramadhan adalah start bukan final, adalah awal bukan akhir dari perjalanan ibadah sepanjang hayat kita. Maka tidak ada hari kemenangan bagi yang melaksanakan ibadah Ramadhan dengan biasa-biasa saja, yang asalkan tidak makan, minum dan bersenggama. Sementara hewan pun jika hanya sekedar itu mampu melakukannya.
Shaum Ramadhan adalah ibadah yang berfungsi sebagai charger untuk on-nya ibadah disebelas bulan berikutnya. Adalah mengerikan, orang berduyun-duyun di akhir Ramadhan merayakan hari kemenangan, sementara mereka sudah tidak lagi berpuasa. Kembali ke kulit palsunya yang mereka tahu bahwa itu palsu. Memang benar, orang paling bodoh adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu namun sok tahu seolah-olah dirinya tahu. Benarlah, hanya yang beriman dan bersabar dalam ibadah Ramadhan lah yang akan diampuni dosa masa lalunya.
Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan ditentukan oleh sebelas bulan berikutnya. Tarawihnya di bulan Ramadhan berlanjutkah dalam tahajud di bulan berikutnya, tilawah Qur’annya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, zakatnya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, dermawan dan pemaafnya di bulan Ramadhan berlanjutkah atau kembali menjadi bakhil dan pemberang selepas bulan itu?
Jika hal-hal di atas tidak terwujud, jangan salahkan jika ibadah kita tidak membawa dampak positif. Allah sendiri mencela orang shalat sebagai pendusta agama, yang shalat dalam keadaan lalai. Saat seharusnya shalat membuahkan proteksi atas perbuatan keji dan mungkar, namun anda, saya dan kita masih menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.
Bahkan Ramadhan kita kali ini, seharusnya tidak lagi menyantuni orang miskin yang sama, yang dulu kita serahkan zakat kita kepadanya. Tidak lagi, karena orang miskin itu tidak mau menerimanya, ia telah merasa mampu dari hasil pemberdayaan ekonomi melalui zakat kita di Ramadhan sebelumya.
Mampukah Ramadhan kita kali ini membuahkan hasil, paling tidak membuat petugas pembagi zakat menangis tersedu-sedu karena mereka ditolak dari pintu ke pintu, sebagaimana petugas pembagi zakat di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz. Semua menutupnya karena telah berdaya, harga dirinya terangkat untuk tidak terus menerus menjulurkan telapak tangan.
Sayangnya kita belum, bahkan kita secara tidak langsung melestarikan kemiskinan. Betapa tidak, kita berzakat ke orang yang sama selama bertahun-tahun. Membuat mereka haqqul yaqien bahwa zakat adalah rezeki pokoknya tanpa harus berpeluh-peluh.
Allahumma sallimnii Ramadhan, wa sallim Ramadhana lii mutaqabbalan
Kayutsha Kalashinov
Suatu ketika direktur perusahaan di tempat anda bekerja memanggil anda ke kantornya. Ia memberitahukan bahwa berkat prestasi kerja anda selama ini, anda akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang prestisius. Namun dengan satu syarat, pekan depan anda harus mengikuti seleksi kerja satu bulan penuh. Seleksi yang setelah anda tanyakan ternyata relatif ringan bahkan dengan bonus yang menggiurkan. Bagaimana tidak hanya dengan melakukan kerja yang standar anda akan dapat bonus 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Ternyata itu belum seberapa, anda pun dijanjikan jika berhasil melewati seleksi tahap akhir dengan predikat sangat memuaskan maka anda akan diberikan jaminan kebutuhan hidup selama 83 tahun lebih. Wow! Sangat menggiurkan.
Anda pun jelas, sangat menunggu-menunggu waktu itu tiba, anda begitu hanyut dalam kerinduan penantian. Anda merasa waktu berjalan sangat lamban, lebih lamban dari siput pinggir sawah pak tani. Anda heran melihat jarum jam seolah berdetak malas-malasan, padahal baterainya baru anda ganti dua hari kemarin. Aaah…
Pun perbekalan telah anda siapkan sepulang dari kantor direktur anda, bahkan telah anda cek berulang-ulang khawatir ada yang terlewat dari catatan anda. Skill kerja anda yang telah lama menjadi decak kagum partner kerja anda, makin anda asah jauh lebih berkilat daripada zamrud dari India sekalipun. Bahan-bahan dan petunjuk kerja telah anda pelajari berulang-ulang, bahkan istri anda mengira anda telah jatuh hati pada buku-buku itu dan menjadikannya istri muda anda. Amboi, kerinduan memang memabukkan.
Pembaca, kiranya sudah mulai pahamkah anda akan saya bawa kemana arah cerita ini? Tentu sebagai muslim yang cerdas anda akan sontak menjawab “Inilah Ramadhan yang akan kita tempuh sepekan lagi.”
Ya, inilah Ramadhan. Bulan yang selain gaji tetap akan didapatkan juga bonus 10 hingga 700 kali lipat. Bahkan jika prestasi seleksi amalan di bulan ini konsisten sampai akhir, maka bonus pahala 1000 bulan (83 tahun lebih) bisa anda raih.
Bulan yang telah Allah informasikan kepada anda 1500 tahun yang lalu, tidak seperti direktur anda yang memberikan informasi hanya sepekan sebelum hari H. Jelas sekali persiapan dan perbekalan anda akan jauh lebih paripurna. Aneh nian, jika anda masih ragu dan gagap saat Ramadhan tiba padahal anda punya waktu 11 bulan untuk bersiap-siap menyambutnya. Bahkan anda sudah mengetahuinya sepanjang hayat anda.
Lihatlah para shahabat Rasulullah saw., manusia-manusia langit itu luar biasa gembira menyambut Ramadhan dan luar biasa pilu ditinggal Ramadhan. Mereka berharap setahun itu bulannya adalah Ramadhan semua. Layaknya anda yang begitu meluap kegembiraan saat bulan seleksi itu tiba menghampiri anda. Kegairahan memuncak untuk menelusuri satu ibadah yang Allah berkenan memberikan pahala melimpah-limpah secara langsung.
Allah menyeleksi manusia, kira-kira manusia macam apakah yang akan sanggup melaksanakan aturannya yang ini. Ternyata Allah mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman”, duhai berbahagialah orang yang beriman kepada Allah kerena mereka lulus seleksi, yang bukan hanya mengaku Islam, karena predikat muslim saja tidak cukup layak mengikuti lomba super hebat di bulan Ramadhan. Mereka tidak akan mampu, akan kepayahan…
Mereka, yang hanya Islam saja, sebagaimana sudah Rasulullah ingatkan “Betapa banyak orang yang shaum namun tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Mereka tidak tahan untuk tidak makan minum, tidak tahan untuk konsisten shalat tarawih, tidak tahan berlama-lama membaca al-Qur`an, tidak tahan untuk tidak mencaci orang lain, tidak tahan berbaik sangka kepada orang lain, tidak tahan untuk membatasi apa yang dia makan saat berbuka dan tidak tahan untuk tidak berhura-hura saat malam ‘Iedul Fithri padahal itu berpotensi menghapus seluruh pahala Ramadhan yang susah payah ia kumpulkan.
Memang nyata, kita belum seperti para shahabat Rasulullah saw., mungkin anda atau saya bahkan merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan. Atau yang lebih celaka, justru khawatir dan takut menjalani Ramadhan. Na’udzubillah. Yang menyambut gembira Ramadhan adalah orang beriman, yang menyambut dengan ekspresi datar agak berat mungkin fasiq, yang malah takut dan khawatir bisa jadi munafiq atau bahkan kufur.
Baiklah, ternyata bagi yang merasa berat, Allah telah sebutkan bahwa kewajiban shaum itu “telah diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian,” kalau umat-umat terdahulu saja sudah diwajibkan shaum lalu kenapa kita harus merasa berat seolah-olah hanya kita saja yang diberikan ‘beban’. Maka bagi siapa saja yang merasa terbebani oleh kewajiban shaum, sungguh ia hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja tanpa mendapatkan saripati dari ibadahnya sedikitpun. Sia-sia
Orang yang beriman dan bersabar tanpa terbebani akan dengan mudah mendapatkan saripati ibadah shaum Ramadhan sebagaimana target shaum itu sendiri yakni “supaya kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa,” kata Allah. Taqwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia disisi-Nya adalah insan yang bertaqwa.
Taqwa adalah juga konsistensi. Seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah “nasehatilah aku yang tidak akan aku minta lagi kepada orang lain.” Rasul menjawab: “katakanlah: aku beriman kepada Allah, lalu konsistenlah kamu dalam keimanan itu.” Iman plus konsistensi adalah taqwa. Maka ciri orang yang sukses meraih predikat taqwa dari ibadah Ramadhan adalah konsistensi ibadahnya di bulan-bulan lain sama seperti yang dilakukannya di bulan Ramadhan.
Shaum Ramadhan adalah start bukan final, adalah awal bukan akhir dari perjalanan ibadah sepanjang hayat kita. Maka tidak ada hari kemenangan bagi yang melaksanakan ibadah Ramadhan dengan biasa-biasa saja, yang asalkan tidak makan, minum dan bersenggama. Sementara hewan pun jika hanya sekedar itu mampu melakukannya.
Shaum Ramadhan adalah ibadah yang berfungsi sebagai charger untuk on-nya ibadah disebelas bulan berikutnya. Adalah mengerikan, orang berduyun-duyun di akhir Ramadhan merayakan hari kemenangan, sementara mereka sudah tidak lagi berpuasa. Kembali ke kulit palsunya yang mereka tahu bahwa itu palsu. Memang benar, orang paling bodoh adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu namun sok tahu seolah-olah dirinya tahu. Benarlah, hanya yang beriman dan bersabar dalam ibadah Ramadhan lah yang akan diampuni dosa masa lalunya.
Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan ditentukan oleh sebelas bulan berikutnya. Tarawihnya di bulan Ramadhan berlanjutkah dalam tahajud di bulan berikutnya, tilawah Qur’annya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, zakatnya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, dermawan dan pemaafnya di bulan Ramadhan berlanjutkah atau kembali menjadi bakhil dan pemberang selepas bulan itu?
Jika hal-hal di atas tidak terwujud, jangan salahkan jika ibadah kita tidak membawa dampak positif. Allah sendiri mencela orang shalat sebagai pendusta agama, yang shalat dalam keadaan lalai. Saat seharusnya shalat membuahkan proteksi atas perbuatan keji dan mungkar, namun anda, saya dan kita masih menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.
Bahkan Ramadhan kita kali ini, seharusnya tidak lagi menyantuni orang miskin yang sama, yang dulu kita serahkan zakat kita kepadanya. Tidak lagi, karena orang miskin itu tidak mau menerimanya, ia telah merasa mampu dari hasil pemberdayaan ekonomi melalui zakat kita di Ramadhan sebelumya.
Mampukah Ramadhan kita kali ini membuahkan hasil, paling tidak membuat petugas pembagi zakat menangis tersedu-sedu karena mereka ditolak dari pintu ke pintu, sebagaimana petugas pembagi zakat di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz. Semua menutupnya karena telah berdaya, harga dirinya terangkat untuk tidak terus menerus menjulurkan telapak tangan.
Sayangnya kita belum, bahkan kita secara tidak langsung melestarikan kemiskinan. Betapa tidak, kita berzakat ke orang yang sama selama bertahun-tahun. Membuat mereka haqqul yaqien bahwa zakat adalah rezeki pokoknya tanpa harus berpeluh-peluh.
Allahumma sallimnii Ramadhan, wa sallim Ramadhana lii mutaqabbalan
Kayutsha Kalashinov
8.02.2009
KARENA KITA LEMAH…
Saya pernah mendengar Aa Gym berkata: “Bukan karena mereka kuat, tetapi karena kita lemah.”
Mungkin Inilah dalilnya ;
Allah swt berfirman dalam hadits Qudsi :
“Wahai Muhammad, sesungguhnya jika aku sudah memutuskan suatu ketetapan, maka keputusan itu tidak dapat ditolak lagi. Dan sungguh aku telah menetapkan untuk umatku, bahwasanya mereka tidak akan dapat dibinasakan oleh kelaparan yang merata, dan tidak akan dapat dikalahkan oleh musuh, sekalipun mereka berhimpun dari segala penjuru dunia, sehingga sebagian mereka (umat Islam) membinasakan sebagian yang lain.” (Shahih Muslim, Bab “Halaka hadzihil ummah ba’dhuhu biba’dhin”)
Suatu hari Rasulullah saw membebaskan seekor unta yang meminta perlindungan kepada beliau karena akan disembelih oleh pemiliknya dengan membelinya seharga seratus dirham. Rasulullah saw berkata kepada sang Unta, “Pergilah, kamu bebas sekarang.”
Unta itu mengeluarkan suara. Rasulullah saw. mengucapkan “Amin” . Ketika ia bersuara lagi, beliau mengamininya lagi. Untuk yang ketiga kalinya unta itu bersuara lagi dan beliau mengamininya. Ketika ia bersuara untuk keempat kalinya, beliau menangis. “Tahukah kalian, apa yang dikatakan unta ini?” Tanya beliau kepada para Sahabat. “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Jawab para Sahabat
“Ia mengatakan, ‘Semoga Allah membalas jasamu terhadap Islam wahai Nabi.’ Aku katakan, ‘Amin.’ Lalu ia berkata, ‘Semoga Allah menenteramkan ketakutan umatmu pada hari kiamat sebagaimana engkau menenteramkan hatiku.’ Aku katakan, ‘Amin. ’ Kemudian ia berkata, ‘Semoga Allah melindungi umatmu dari musuh-musuh mereka sebagaimana engkau melindungi nyawaku.’ Aku katakan, ‘Amin.’ Selanjutnya ia berkata, ‘Semoga umatmu tidak saling berbunuh dan berperang sesama mereka.’ Mendengar doa terakhirnya aku menangis. Permohonannya itu sudah aku mintakan kepada Allah dan Dia mengabulkannya, kecuali permohonan terakhir. Jibril memberitahuku dari Allah bahwa umatku hancur karena saling berperang sesama mereka. Semuanya sudah tertulis.”
Mungkin Inilah dalilnya ;
Allah swt berfirman dalam hadits Qudsi :
“Wahai Muhammad, sesungguhnya jika aku sudah memutuskan suatu ketetapan, maka keputusan itu tidak dapat ditolak lagi. Dan sungguh aku telah menetapkan untuk umatku, bahwasanya mereka tidak akan dapat dibinasakan oleh kelaparan yang merata, dan tidak akan dapat dikalahkan oleh musuh, sekalipun mereka berhimpun dari segala penjuru dunia, sehingga sebagian mereka (umat Islam) membinasakan sebagian yang lain.” (Shahih Muslim, Bab “Halaka hadzihil ummah ba’dhuhu biba’dhin”)
Suatu hari Rasulullah saw membebaskan seekor unta yang meminta perlindungan kepada beliau karena akan disembelih oleh pemiliknya dengan membelinya seharga seratus dirham. Rasulullah saw berkata kepada sang Unta, “Pergilah, kamu bebas sekarang.”
Unta itu mengeluarkan suara. Rasulullah saw. mengucapkan “Amin” . Ketika ia bersuara lagi, beliau mengamininya lagi. Untuk yang ketiga kalinya unta itu bersuara lagi dan beliau mengamininya. Ketika ia bersuara untuk keempat kalinya, beliau menangis. “Tahukah kalian, apa yang dikatakan unta ini?” Tanya beliau kepada para Sahabat. “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Jawab para Sahabat
“Ia mengatakan, ‘Semoga Allah membalas jasamu terhadap Islam wahai Nabi.’ Aku katakan, ‘Amin.’ Lalu ia berkata, ‘Semoga Allah menenteramkan ketakutan umatmu pada hari kiamat sebagaimana engkau menenteramkan hatiku.’ Aku katakan, ‘Amin. ’ Kemudian ia berkata, ‘Semoga Allah melindungi umatmu dari musuh-musuh mereka sebagaimana engkau melindungi nyawaku.’ Aku katakan, ‘Amin.’ Selanjutnya ia berkata, ‘Semoga umatmu tidak saling berbunuh dan berperang sesama mereka.’ Mendengar doa terakhirnya aku menangis. Permohonannya itu sudah aku mintakan kepada Allah dan Dia mengabulkannya, kecuali permohonan terakhir. Jibril memberitahuku dari Allah bahwa umatku hancur karena saling berperang sesama mereka. Semuanya sudah tertulis.”
Langganan:
Postingan (Atom)