6.07.2009

Klarifikasi Pak Thifatul..

Kontroversi ini diawali dengan wawancara yang dimuat oleh Majalah Tempo edisi 1-7 Juni 2009 halaman 29. Saat itu Pak Tifatul berbicara, "Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?" katanya. "Soal selembar kain saja kok dirisaukan."

Kalau benar memang demikian, maka tentu ini sebuah pernyataan yang fatal. Sehingga muncul tanggapan berbagai pihak via SMS, salah satunya: "Astaghfirullah! Bgm jika pertanyaan itu dilanjutkan sbb: "Apa kalau capresnya shalat, puasa, zakat, dan berhaji lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?". Sama dengan shalat, puasa, zakat dan berhaji, jilbab itu perintah Qur'an. Demi sekedar kekuasaan dunia, Tifatul tega mereduksi perintah Qur'an jadi soal selembar kain"

Ketika menerima SMS tersebut, saya tidak mengambil sikap apapun, percaya tidak, tidak percaya juga tidak, hanya sekedar berita lewat saja.

Hari Senin itu juga (1 Juni) saya menerima SMS, bersanad shahih dari Pak Tifatul, yang isinya sbb: "Ente percaya ame tempo atau ame ane? enta baca tuh artikel yng nyerang pks di tempo juge. Die tanye, apakah pks menekan sby agar bu ani pakai jilbab, saya bilang bukan. Die tanye, apakah bu ani berjilbab lantaran alasan politik, saya jawab gak tahu, tanya langsung ke orangnya, anda ini rewel banget kata saya, urusan selembar kain diatas kepala wanita, die gak pake kerudung ente ributin, dah pake kerudung diributin juga. Itu bahasa saya ke tempo, yang saya tahu wataknya tidak Islami, nah ente percaye siape?"

Jadi memang lebih tepat buat saya untuk tidak bersikap apapun. Yang salah bisa saja majalah Tempo atau Pak Tifatul. Menyebut orang berwatak tidak islami itu juga tidak elok. Yang menjadi masalah buat saya adalah hak publik atas informasi. Tentu kalau kita bertanya kepada kader PKS, mereka akan minta untuk tabayyun langsung ke Pak Tif. Pertanyaan saya, kalau 8 juta pemilih PKS itu mau tabayyun langsung ke Pak Tif, apa mungkin?

Mengapa Pak Tif tidak membuat klarifikasi saja di media yang sama, melalui hak jawab? Karena beliau adalah pemimpin sebuah partai besar, tidak mungkin disepelekan. Atau minta pada Tempo untuk memberikan rekaman wawancara, convert sebagai MP3 dan dimuat di website PKS. Lagu dangdut saja ada di website PKS, masa wawancara lengkap presidennya tidak bisa?

Sumber: http://pkswatch.blogspot.com

1 komentar:

  1. Wildan Hasan11 Juni 2009 05.30

    ada yang menyebut saya PKS (Ikhwani) ada pula yang menyebut saya Salafi. Padahal saya mencintai keduanya juga mengkritisi keduanya. Saya adalah MUSLIM QOBLA WA BA'DA KULLI SYAIIN.

    BalasHapus