6.17.2009

"Yahya" Baru

Pak Natsir berbicara :

"Akan Muncul ‘Yahya-Yahya’ Baru"

Majalah Panji Masyarakat, No. 582, 7-16 Dzulhijjah / 21-30 Juli 1988 memuat wawancara dengan Dr. Mohammad Natsir terkait kekhawatiran beliau akan minimnya kader-kader Da’i sebagaimana khawatirnya Nabi Zakaria terhadap keberlangsungan tugas Risalah dengan belum dianugerahinya keturunan (Nabi Yahya).

Dua hal saja dari ucapan mutiara pak Natsir yang akan kami kutip:

Pertama, Pak Natsir mengatakan :
“Waktu itu, Kita menyadari sistem pendidikan kita di tangan Belanda. Kita menyadari pula sistem ini tidak sempurna sebagaimana yang kita kehendaki sebagai orang Islam. Lalu timbullah cita-cita untuk terjun di dunia pendidikan. KITA MULAI DENGAN MENDIRIKAN SEKOLAH-SEKOLAH TK DAN SD.”

Ungkapan beliau itu menunjukkan bahwa betapa pentingnya mencetak kader-kader da’i sejak awal dari mulai TK dan SD. Pendidikan yang utuh dan mendasar, yang berproses dengan sentuhan kesabaran dan kearifan.

Kedua, pak Natsir mengatakan saat beliau ditanya kenapa sampai bisa terjun ke dunia politik :
“Sekolah kami, yang dalam tempo 10 tahun sudah mulai maju, akhirnya bubar ketika Jepang berkuasa…..Nah, bayangkan saja, orang yang bercita-cita menciptakan sistem pendidikan Islam, dan berjuang 10 tahun di dunia pendidikan, tiba-tiba harus terlibat dalam dunia politik.”

Ungkapan beliau itu menunjukkan bahwa sebetulnya cita-cita awal beliau adalah menjadi seorang pendidik (Guru), dimana beliau di awal perjuangannya 10 tahun menjadi guru TK dan SD. Jika saja Jepang tidak datang niscaya beliau terus akan berjuang di dunia yang dicintainya itu. Namun beliau mengatakan bahwa ‘kita membuat rencana, akhirnya rencana Allah jua yang terjadi’.

Maka tidak ada alasan bagi kader-kader pak Natsir untuk berkecil hati karena menjadi Guru TK dan SD, justru harus berbangga karena sesungguhnya mereka lah yang melanjutkan cita-cita pak Natsir yang tertunda untuk membentuk kader du’at sejak awal.

Dan pula tidak seorang pun yang berhak merendahkan profesi guru TK maupun SD, karena hal itu sama saja dengan menyakiti hati pak Natsir.

Wahai Guru-Guru TK dan SD… nun jauh di sana pak Natsir tersenyum bangga kepada kalian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar