6.06.2009

KENAPA PARA PETINGGI PKS MAKIN ‘NGAWUR’ ?

Saudara Roeslan melalui e-mailnya di buku tamu dakta.com menyebutkan bahwa dalam pemberitaan Radio Dakta FM, 03-05-09. Presiden PKS mengatakan, “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?” katanya. “Soal selembar kain saja kok dirisaukan”.

Sebelumnya wasekjen DPP PKS Zulkieflimansyah mengatakan bahwa hati warga PKS condong ke pasangan JK-Wiranto karena istri pasangan itu berjilbab. Pernyataan yang berbuah teguran. Penulis yakin pernyataan Zul ini keluar dari fithrah nuraninya, karena siapapun selama masih memiliki keimanan akan yakin bahwa berjilbab lebih baik dari yang tidak berjilbab.

Zul menambahkan bahwa kalangan muslim tradisional masih menganggap simbol semacam jilbab sangat penting. Pernyataan Zul yang ini berbisa dan bermakna ganda. Jika yang ia maksud dengan tradisional adalah kampungan, kalangan tertinggal, tidak moderat, suka berfikir sempit dan tidak berperadaban, sungguh ini adalah tuduhan yang keji dan sangat menyakitkan. Bukan hanya untuk mereka yang orang kampung tetapi juga untuk semua tokoh Islam yang istrinya berjilbab bahkan untuk dirinya sendiri yang istrinya berjilbab dan seluruh petinggi dan warga PKS yang juga istri-istrinya berjilbab. Bahwa mereka para tokoh Islam itu, kita, Zul dan petinggi-petinggi PKS kampungan, tertinggal, sempit fikir dan tidak berperadaban.

Namun jika yang dia maksud dengan tradisional adalah mereka kalangan yang sederhana, tidak pernah neko-neko, jujur, berkepribadian utuh, wara’, qana’ah dan ta’at beragama, maka sungguh mengutamakan yang berjilbab adalah tanda ketaatan beragama mereka. Mereka jujur terhadap hati nurani dan konsekuensi keberagamaannya.

Sementara itu menanggapi wacana di atas anggota FPKS Suripto mengatakan “kita akan memilih presiden bukan istrinya presiden.” Pernyataan Suripto ini (yang kabarnya intel yang disusupkan ke PKS agar PKS keluar dari jalur da’wahnya seperti kita saksikan hasilnya saat ini) ngawur, sebab salah satu capres yang akan dipilih nanti adalah perempuan yakni ibu Megawati, masa suaminya Megawati dibilang istri. Siapa tahu justru nanti masyarakat memilih ibu Mega menjadi presiden. Nah lho…

Selain itu Suripto telah mengabaikan peran istri bagi suami. Tanpa perlu dinasehatkan panjang lebar bahwa begitu pentingnya posisi seorang istri bagi suaminya. Istri yang justru seringkali mewarnai kata, sikap dan kebijakan suaminya. Suaminya yang bisa jadi seorang tukang becak, pemulung, ketua RT atau bahkan presiden. Betapa Suripto juga tahu bahwa acapkali sebuah kekuasaan bangkit dan jatuh dilatari oleh peran perempuan yang jadi istri dari si penguasa.

Ucapan emosional Suripto itu telah menjadi bumerang bagi calon presiden pujaannya. Karena hal yang sama bisa kita tanyakan, “apa hubungannya iklan SBY dengan kondisi ‘keharmonisan’ keluarganya?” Bukankah kita tidak akan memilih istrinya SBY, anaknya, menantunya apalagi cucunya? Afalaa ta’qiluun…

Untuk menjawab ucapan arogan dan ngawurnya pak Thifatul di awal (sebelumnya para ulama harap mencermati ucapannya pak Thifatul “soal selembar kain saja kok dirisaukan” ini apakah sudah terkait persoalan aqidah atau belum), di bawah ini penulis mencantumkan tanggapan seorang kawan pekerja media atas tulisan penulis (Mengapa Harus JK-Win ?) selamat menikmati penuturan renyahnya;

Akh saya setuju dengan antum yang untuk sekarang sedikit mengenyampingkan urusan halal-haram demokrasi bagi muslim. Selain tepat waktu, juga sudah terlalu banyak perpecahan karena isu ini. Pada hakikatnya, masih banyak yang belum dewasa dalam berwacana pada ranah cukup tinggi, yaitu negara, sehingga yang bermunculan adalah fatwa-fatwa yang memiliki kesan "ada untuk tiada". Artinya, siapapun yang mengkategorikan para pemilih muslim sebagai orang yang ridho akan demokrasi berarti telah menjamah keharaman, juga tidak memberikan solusi praktis ataupun konseptual atas keinginan masyarakat muslim secara umum untuk bisa merubah keadaan. Bukankah perubahan yang diharapkan masyarakat tidak muluk-muluk. Mereka hanya ingin bisa makan bergizi tiga kali sehari, dapat pelayanan kesehatan memadai, pendidikan lebih diperhatikan dan hal-hal lain yang sangat nyata dalam kehidupan. Para orang awam, sebagai bagian terbesar umat ini, pastinya tidak pernah ada keinginan untuk melawan Tuhan, dan untuk saat ini memang inilah yang bisa mereka lakukan. Memilih para wakil, yang mudah-mudahan, bisa memberikan "sedekah amal" berupa kebijakan-kebijakan, yang minimalnya, tidak terlalu mencekik hidup.

Mengenai pasangan JK-Win memang tengah menjadi sorotan. Beberapa waktu lalu ada obrolan dikantor mengenai siapakah kira-kira yang lumayan baik. Sebab dalam hal pilpres, fatwa yang digunakan bukan siapa yang lebih bermanfaat tapi siapa yang lebih kecil madhorotnya. Seorang teman menuturkan pengalamannya saat masih bersama-sama dengan Rizal Malarangeng, yang saat ini menjadi tim sukses SBY. Ceritanya panjang tapi ada satu hal yang saya catat baik-baik, bahwa dia termasuk tim negoisator pertambangan gas alam dengan pihak asing, bersama Boediono dan teman-teman ekonom lainnya, yang hasilnya saat ini bisa kita ketahui sangat merugikan negara. Saat itu ia masih berada di pihak Megawati, dan negoisasi itu dilakukan di masa Mega menjadi presiden. Hanya ada satu penentang konsepsi kerjasama gas alam tersebut, yaitu pak Kwik Kian Gie.

Teman saya memberi catatan, bahwa perihal terjadinya liberalisasi ekonomi memang menjadi sesuatu yang tak terhindarkan bila tim ekonomi suatu pemerintahan berisi para ekonom yang mendapat didikan Amerika. Seperti Faisal Basri, jangan pernah percaya kalau dia pro rakyat, tidak. Karena itu nanti tinggal lihat saja di tiap pasangan capres-cawapres, siapa yang akan menjadi tim ekonominya. Berbeda bila tim ekonomi berasal dari didikan Eropa maka akan digunakan konsep ekonomi sosialis, yang lebih berpikir tentang keuntungan negara diatas segala-galanya. Bagi ekonom Eropa ini asing hanya tamu, dan alat, tidak lebih.

Kala itu pernah satu kali Rizal Malarangeng marah besar karena berulang kali konsepsi ekonomi timnya ditolak oleh pak Kwik. Ucapannya kala itu, "kalau saja pak kwik masih muda, sudah saya tampar dia". Menunjukkan arogansi sangat besar. Rizal memang begitu, ia pintar, berprestasi, liberal, ambisius, percaya diri, pragmatis dan temperament juga.

Berbeda dengan JK-Win. Kalau mereka menang, maka bisa dipastikan bahwa perkenomian Indonesia akan dikuasai oleh para kerabatnya, yang berisikan keluarga dan para teman-teman bugisnya. JK dan keluarganya memang pengusaha sejak dulu kala, bahkan JK tumbuh berkembang di Kadin (kamar dagang Indonesia), sebuah institusi terbesar yang beranggotakan para pengusaha. Dan teman-teman JK tak lain adalah mereka para fungsionaris Golkar, seperti Abu Rizal, Fahmi Idris, Surya Paloh, dan lain sebagainya. Dari kalangan keluarga Bugis sangat mungkin dimotori oleh Aksa Mahmud, yang kini menjabat ketua Kadin. Kelebihan JK memang sikapnya yang sangat natural dan responsif dalam menata keadaan. Masih terbayang di salah satu teman kami, saat untuk pertama kali JK memimpin rapat tim ekonomi di istana. Di situ JK disodori sebuah laporan keuangan negara, setelah membacanya JK langsung melemparnya ke hadapan sang pelapor. Ia marah karena laporan negara sangat buruk cara penyusunannya sehingga sulit dianalisa sebagai bahan acuan rencana kerja. Dan hal hampir serupa dilakukan oleh JK dalam penanganan kasus Aceh, Poso, Sampit dan lain sebagainya.

Siapa yang sangka Aceh yang bergelimang darah, berpuluh-puluh tahun berkonflik, sudah ratusan janji diberikan setiap presiden yang memimpin, reda dalam waktu satu tahun atau dua tahun. Sekarang, tak ada lagi yang berpikir tentang negara Aceh Merdeka. Poso pun demikian, siapa pula yang memperkirakan kalau JK pada akhirnya seorang diri datang mengakhiri segala kekerasan. Ya, memang tidak langsung berhasil tapi setidaknya ia memang lebih cepat, dan selalu mementingkan kerja daripada retorika.

Sampai disini saya bisa memahami pujian seorang Syafi'i Ma'arif terhadap pak JK, sebagai "The Real President".

Itulah komentarnya, anda bisa setuju atau tidak terserah anda. Terlepas dari itu semua, hal yang pasti adalah penulis hanya peduli soal jilbabnya bukan soal siapa suaminya. Siapapun yang menghina jilbab, ia telah mengobarkan api jihad di dada-dada kaum muslim yang konsisten atas syari’at agamanya.

Tidak cukupkah buat anda kekejian mulut Ruhut Sitompul, yang buat Kristen fundamentalis seperti dirinya Arab adalah Islam. Maka saat ia menghina Arab ia sedang menghina Islam.

Juga jangan pernah menghina jilbab! Karena ‘hanya’ soal itu pernah terjadi perang antara pasukan Allah dan pasukan musuh Allah.

Silakan pilih di pasukan mana anda sekarang? Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar