2.24.2009

Sunnatullah dalam dinamika kepartaian di Indonesia: Menyorot banyaknya Partai Islam

Pemilu 2004 mendatang telah menghasilkan 24 partai peserta pemilu yang akan bertarung memperebutkan 200 juta lebih suara rakyat Indonesia. Di antara 24 partai tersebut terdapat sejumlah partai yang berasaskan Islam, yaitu: Partai Keadilan Sejahtera pimpinan Hidayat Nur Wahid, Partai Bulan Bintang pimpinan Yusril Ihza Mahendra, Partai Persatuan Pembangunan pimpinan Hamzah Haz, Partai Bintang Reformasi pimpinan Zainuddin MZ, dan Partai Nahdlatul Umat Indonesia pimpinan Syukron Makmun.


Kelima partai tersebut mengusung idealisme yang sama yaitu tegaknya syariat Islam di negeri tercinta ini. Namun senantiasa ada pertanyaan klasik, jika tujuannya sama kenapa tidak satu saja partai Islam itu? Sebuah pertanyaan yang seringkali dihindari oleh para pemimpin partai Islam. Selama ini para pemimpin partai Islam ambigu menjawab pertanyaan tersebut. Tidak pernah memuaskan, yang pada akhirnya sebagian rakyat memandang faktor ego mengambil peranan sangat dominan dari ketidak bersediaan para pemimpin partai Islam menyatukan partainya dalam satu partai besar umat Islam.
Tentu tidak sepenuhnya benar egoisme kepemimpinan yang menyebabkan tercerai berainya suara umat Islam ke berbagai partai Islam. Sekalipun indikasi “Lebih baik jadi kepala tikus daripada ekor gajah” pada beberapa tokoh Islam kental terasa. Yaitu lebih baik menjadi pemimpin partai baru sekalipun kecil daripada harus menjadi anggota dari partai besar yang sudah lama dan mapan.

Namun demikian, dibalik itu semua saya melihat ada sunnatullah yang berlaku dalam dinamika kepartaian di tengah umat Islam saat ini. Merujuk kepada firman Allah swt dalam surat Al-Maidah ayat 48 yang berbunyi:
“…untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan-aturan dan jalan terang. Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikan –Nya satu umat (saja). Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa tiap umat (kelompok/partai) diberikan syariat (aturan) tersendiri dan manhaj (metode) yang jelas dalam hidup dan kehidupannya. Dalam prespektif Islam, jelas bahwa syariat kita adalah Islam. Syariat Islam inilah yang tidak bisa ditawar-tawar dan merupakan harga mati bagi sebuah realitas perjuangan kehidupan umat. Dimana jika keluar dari rel itu, akan dianggap telah keluar dari usaha memperjuangkan Islam. Maka dalam tataran hidup berdemokrasi yang sistem kepartaian merupakan keniscayaan, hal di atas tampak nyata dalam berbagai partai yang ada saat ini. Secara umum partai-partai yang mengikuti pemilu 2004 mendatang mengusung salah satu dari tiga asas dominan di Indonesia, yaitu: Islam, Pancasila dan marhaenisme.

Dengan melihat ayat di atas, dapatlah dipahami bahwa kewajiban partai-partai Islam adalah berasaskan Islam, sebab itu merupakan syariat. Adapun kemudian soal manhaj (metode ) Perjuangannya, disesuaikan dengan kapasitas pembacaan terhadap bagaimana cara agar syariat dapat tegak dan berlaku. Oleh karena itu dapat dipahami kenapa begitu banyak partai Islam. Sebab tiap individu memiliki idealisme, pemahaman dan kerangka yang berbeda untuk menegakkan syariat sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Hal di atas memang berbau egoisme, namun perlu dipahami pula bahwa umat Islam saat ini baru mendapatkan keleluasaan untuk berpolitik, dimana selama puluhan tahun pengalaman dan kedewasaan berpolitiknya terpasung. Sehingga ketika kran reformasi dibuka lebar-lebar, umat ini masih cukup balita saat harus bersaing dengan pemain-pemain lama di kancah perpolitikan. Maka munculah idealisme-idealisme kepartaian dengan corak masing-masing dalam memperjuangkan Islam yang melahirkan banyaknya partai Islam. Di luar itu semua, jika Allah swt menghendaki niscaya akan dijadikan satu saja partai-partai Islam itu.

Tetapi Karena Allah swt hendak menguji umat ini, maka Allah berikan kesempatan kepada semua golongan, organisasi ataupun partai politik untuk berlomba-lomba dalam kebajikan. Dari sanalah Allah akan melihat siapa yang ikhlas dengan komitmen perjuangan syariatnya atau tidak. Sehingga ketika semuanya bertindak dengan ikhlas dan menggunakan metode yang benar, suatu saat pasti akan disatukan oleh Allah.
Sebagaimana sebuah gunung yang meletus, kemudian memunculkan alur-alur sungai bekas aliran lahar yang turun. Makin ke hilir alur-alur tersebut menyatu dengan alur yang paling besar. Demikian pula fenomena kepartaian Umat Islam saat ini. Pada akhirnya atas izin Allah akan menyatu ke dalam satu partai yang paling besar dan paling kuat, jika semuanya ikhlas dalam perjuangan syariat. Hingga berpadulah partai Islam dan kekuatan umat sebagai ummatan wahida.

Alhasil, banyaknya partai Islam saat ini jangan dirasakan terlalu menyesakkan dan mengkhawatirkan. Yang patut dikhawatirkan adalah sikap kekanak-kanakan para fungsionaris partai-partai tersebut. Saling jegal, saling olok, hasud dan saling hina adalah perkara-perkara yang akan menghanguskan nilai keikhlasan. Sebab semuanya akan kembali pada Allah, lalu akan diterangkan oleh-Nya apa yang telah diperselisihkan oleh umat ini. Wh
Wallahu A’lam

(Pernah dimuat dalam rubrik Opini Majalah Mahsiswa STID Mohammad Natsir Jakarta, edisi perkenalan-Syawal 1424 H/Desember 2003)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar