Di depanku, berdiri gontay lelaki kurus 'objek'modernitas yg dari
matanya menyiratkan bhw ia seolah hendak mengangkat bendera putih karena
hrs trgusur laju raksasa konsumerisme demi mendapat segurat tipis
senyum seorang anak perempuan brpakaian lusuh, namun dg air muka penuh
harap yg persis brada disampingnya.
"tiasa 30rb?"(Bisa 30 ribu?).
Dmk Kalimat basis yg trlontar dr perasaan lugu,jujur,bhkn trksan
dipaksakan dg mengubur rasa risih yg terseret keluar dr alam bawah sadar
lelaki tsb, yg jg nampak keengganan mengucapknnya ketika ia terkesiap
melihat deret angka di pricelist sepatu Homyped terbaru yg trdiri dr 6
digit....
Aku trperanjat, suara parau dan berat tsb bagiku mirip
sebuah erangan pesakitan yg tak sanggup menahan pedihnya himpitan
realitas dan keinginan utk membahagiakan anaknya yg bulan depan, akan
masuk SD,walau pun bagiku anak perempuan yg menyimpan kcantikan alami di
balik debu yg nempel di sekujur tubuhnya itu lebih pantas masuk TK
karena postur yg ringkih tsb hanya ditopang sepasang kaki size 25...
Alih-alih
menjawab pertanyaannya, aku sejenak termenung, banyak hal berkecamuk dalam
benakku...dan nampaknya lelaki kurus yg telah berjuang tampil necis tersebut
sedang beruntung, karena seharian ini aku hanya ditemenin "ustadz-ustadz" kritis dari
Frankfurt yang senantiasa menenangkan sekaligus merangsang utk bukan hanya
memahami realitas, melainkan bagaimana realitas tersebut seharusnya. Mereka jg
banyak menghiburku tatkala kegelisahanku menumpuk, luber melihat
"kebodohan" yg dipelihara secara hierarkis dan diberi kedok "tradisi
luhur" yg taken for granted. Mereka jg yg hari ini menolong lelaki tsb,
krn biasanya "pembeli gelo" yg nawar pricelist smpai 80% seperti ini,
lgsung dpt "counter attack" yg lebih nylekit klo kondisiku lg normal.
"bade
lebet ka SD pa?"kalimat tsb meluncurTrdorong keingintahuanku dan
komitmen emansipatoris. pdhal biasanya kalimat tsb hnya basabasi.
Niatnya sih mencoba metode refleksi-diri ala Freudian yg dulu prnah
diapresiasi dg nilai A oleh dosenku ktika msh di Jur Psikologi dan
Bimbingan atau lebih akrab di sebut BK di UNY. Serasa mendapat angin
segar, lelaki berkumis tak terawat itu spontan menjawab
“muhun, bade lebet ka SD Gan”.
Gan?
Siapa yang dia maksud Agan (Juragan)? Hatiku mulai kritis. Kata Agan
dalam kamus kehidupanku memang sangat akrab. Ketika aku kecil, kata Agan
senantiasa menjadi kata “mudhaf ilaih” yang menunjukan feodalisme dan
borjuisme, seperti ‘Kebon Agan’, ‘Balong Agan’, ‘Sawah Agan’ tempat
dimana aku dan kawan-kawanku biasa bermain-main di “daerah terlarang
bagi anak kampung, dekil dan proletar macam aku dkk., dan dengan biasa
pula diakhiri dengan adegan kejar-kejaran bak film standar Hollywood,
dimana aku dkk (yang dikejar) selalu lolos karena rela nyebur ke sungai
basah-basahan, sedangkan “bodiguard sang Agan” yang biasa kami panggil
si Giri, hanya menunjukan telunjuknya disamping ‘sasak’ sambil diiringi
repetan cacian bak Mike Shinoda, rapper Linking Park ketika ia
melantunkan ‘a place for my head’. Dari “rapper” gadungan sang Agan
inilah (si giri) aku juga mulai mengenal kata-kata cacian kotor dan
kasar, seperti ‘anjing’, goblog, bebel, kehed dll, yang digunakannya
secara sporadis untuk membantai kami. Pernah suatu saat aku penasaran
menanyakan arti kata ‘bebel kehed’ yang baru aku dengar dari si Giri
pecundang tersebut pada bapakku. Alih-alih dijawab bapakku balik
melontarkan pertanyaan, “dari siapa kamu mendengar kata tersebut? Karena
di keluargaku kata-kata tersebut sangat terlarang, “haram” mungkin yang
sangat tepatnya. Selain itu, perilaku sang Agan juga dalam pandanganku
sangat eksklusif, karena walaupun “istananya” berada di tengah kampung
kami, namun jarang sekali aku melihatnya keluar berbaur dengan orang
melarat dan nyaris sekarat macam kami. Pernah sekali aku melihat tampang
Agan tersebut ketika mau memantau ‘ngabedahkeun balongnya’ dengan
sedikit kumis tipis melintang bak zorro, baju safari hitam mengkilat
serta dilengkapi dengan aksesoris tongkat hitam ruyung di tangan
kanannya yang mempunyai fungsi ganda, untuk mementung pegawainya yang
kerjanya tidak becus, serta untuk menambah sangar penampilannya. ketika
berpapasan dengannya orang-orang seolah rebutan ingin menyapa sang
borjuis tersebut, “bade kamana gan? Seraya berharap si Agan akan
menoleh, tersenyum dan menyapa kembali dan tentunya mental orang miskin
yang tidak bisa sombong itu akan mengharapkan suatu saat akan ada
“stimulus” yang mencair dari hasil panen ikannya. Harapan yang
sia-sia!!! Karena tidak pernah sekalipun si Agan (sepengetahuanku)
memberi dengan cuma-Cuma.
Namun walaupun ia bersifat arogan dan
“pelit” serta tidak care pada wong cilik layaknya pembesar-pembesar
Quraisy zaman Nabi Muhammad dulu, si Agan tetap saja merupakan orang
dianggap dan dipandang “terpandang” karena limpah ruah hartanya membuat
ia dipandang. Hal yang biasa dalam sistem masyarakat feodalistik di
indonesia, bahkan sampai saat ini. Definisi subjektif seperti inilah
yang membuatku gusar dan tidak rido ketika lelaki yang tingginya
sedang-sedang saja tersebut mengalamatkan kata ‘Gan’ padaku.
Akhirnya
dengan tanpa menghiraukan kegelisahan hati, aku memulai aksi
freudian-ku. “Kamari TK-na dimana? Pancingku. “ah naminage di kampung,
teu aya TK atuh Gan, aya oge sakola SD impres.” Celoteh si lelaki
tersebut. Bah....Agan lagi... gerutuku dalam hati. “Aya oge di soreang
atuh gan, eta oge meni awis (mahal sekali) biaya lebetnya (masuknya)”,
sambung lelaki tersebut. Mahal? Apa betul biaya masuk TK mahal? “emang
sabaraha biaya lebetna pa?” tanyaku penasaran. “di TK anu caket (dekat)
puskesmas soreang mah kedah aya artos kirang langkung 2 jutaan upami
bade lebet na teh”. Bah.....2 juta? Aku masuk S2 aja juga Cuma 2juta
lebih dikit... maklum S2 “generik” paket hemat, dimana untuk ukuran S2,
tempatku nyantri lagi ini termasuk yang paling murah di Bandung. Maka
wajar fasilitas seadanya, perpus mengkhawatirkan, managemen sangat
tradisional (untuk tidak menyebut tidak profesional).
Kayaknya
si bapak tersebut hanya mengetahui TK yang dekat puskesmas tersebut,
karena memang puskesmas adalah tempat berobat orang-orang mustad’afin,
ongkos berobatnya pun Cuma 2000 rupiah, yah... namanya juga tempat
berobat yang murah.... jadi berbanding lurus dengan pelayanan yang
diberikan kepada sang pasien mustad’afin tersebut yang dipaksa untuk
memaklumi kondisi yang memang harusnya diperbaiki dan ditingkatkan dari
sisi layanan kepadda publik yang tidak mampu....jika pakai perspektif
agama sebetulnya pengelola puskesmas itu akan mendapat pahala yang
berlimpah dari Gusti Nu Agung karena banyak menolong orang-orang tidak
mampu apalagi jika pelayanan ditingkatkan lagi.
Di belakang
puskesmas itulah berdiri megah TK atau yang sekarang mulai dikenal
dengan sebutan PAUD. TK yang terbilang mempunyai fasilitas lengkap
tersebut, dibangun kurang lebih diatas tanah seluas 2 hektar, persis
menghadap ke arah matahari terbit gerbang kokoh dari besi ‘ala’
minimalis dengan cat warna hitam pekat yang memberi kesan elegan
tersebut menghadap. Di halaman terdapat saung-saung “paniisan” khas
sunda tempat ibu-ibu murid menunggu sambil “ngrumpi” atau bahkan
ngegosip, ngomongin orang, binatang, kerjaan suaminya, mobil suaminya,
laptop, HP, Blackberry, twiteer, dll dan tidak jarang terjadi pertengkaran hanya
karena masalah-masalah “keduniaan” yang dalam kacamata al-Qur’an bisa
menjadi khitab dari surat al-Humazah dan al-Takatsur....na’udzubillah
min dzalik (hamba berlindung dari hal-hal negatif seperti yang
demikian).
Masuk ke lokasi sekolah yang memang didesain khusus
untuk mendirikan TK “elite” , yang berbeda dengan TK-TK kebanyakan di
Soreang yang banyak memanfaatkan ruang kosong baik itu rumah, loteng
mesjid --seperti yang Ibuku rintis sejak 15 tahun yang lalu, rumah di
komplek perumahan yang sumpek, bahkan ada yang menggunakan serambi
mesjid dan surau untuk dijadikan tempat PAUD, terdapat kolam renang
ukuran 5x 6 M yang disampingnya persis terhampar pasir putih yang sengaja
dijadikan alas pelindung arena permainan dan out bond anak-anak...wes
anak kecil manapun pasti akan merengek-rengek pengen bermain disana.
Selain itu kelas yang terdiri dari empat lokal tersebut semuanya
bergambar dengan teknik air brush yang lumayan rapi dengan warna yang
mencolok khas Taman kanak-kanak. Di samping kelas terdapat aula atau
ruang serba guna yang cukup besar yang banyak peruntukannya, diantaranya
pertemuan orang tua murid dan pihak sekolah (ah..ini mungkin sudah
biasa), tempat anak-anak makan bersama (biasa juga), tempat anak-anak
berlatih balet, senam dan konon katanya, yoga....(biasa ga ya...yang
jelas dalam pandanganku hal ini sangat luar biasa). Oh..ya ada yang
lupa, ada juga ruang komputer yang terletak persis disebelah ruang
kepala sekolah. Dari ruang komputer inilah tersambung kabel-kabel audio
yang terhubung keseluruh penjuru sekolah, baik untuk menyampaikan
pengumuman maupun sekedar memutar lagu yang mengiringi saat anak-anak
bermain dan beristirahat...wuuuuhhh pokoke untuk ukuran daerahku Paud
ini dah keren banget.
Makanya mungkin tidak heran biaya masuknya
juga besar. Sekolah-sekolah macam inilah –yang oleh orang-orang di sebut
sekolah bonafide—tempat orang-orang berduit “menitipkan”anak-anaknya
supaya ‘pinter’, nggak ‘gaptek’, ‘gaul’ dan up to date dengan
perkembangan zaman. Ada kesan gengsi dari orang-orang berduit untuk
menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah murah, konon kata temanku, di
jakarta jika membuka lembaga pendidikan atau apapun yang terkait dengan
edukasi, motivasi, training dll, jika mematok harga murah tidak akan
laku, karena dianggapnya tidak bonafide, tidak bermutu, dll. Beuh....
maka tidak heran pula jika belakangan muncul trend “pengajian motivasi”
kalangan borjuis yang diselenggarakan di hotel berbintang yang tidak
pernah sepi peminat. Kenapa yaa..training seperti itu tidak mampu
dirasakan semua kalangan, khususnya orang-orang yang tidak berduit yang
sejatinya dalam hatinya juga mempunyai keinginan untuk “tercerahkan” dan
“sukses”, kenapa mesti di hotel? Tidak di madrasah aja? Di
pendopo-pendopo desa? Dan tempat lain yang bisa dijangkau oleh orang
mustad’afin?
Idealnya dan di atas kertas memang input yang dihasilkan
dari sekolah dan training macam ini akan menghasilkan “produk-produk”
unggul. Namun ini hanyalah itungan di atas kertas, kenyataannya bisa iya
bisa tidak....(setuju..)
“gan...” teguran lelaki itu
menyadarkanku dari lamunan kritisku. “kumaha...tiasa 30rb sapatu
teh?”.....pertanyaan yang sebenarnya gampang dijawab, namun entah kenapa
aku...dari tadi mengulur-ulur terus...namun akhirnya.....aku meneguhkan
hati untuk menjawab “upami anu artikel matrix mah teu tiasa pa...,
tapi aya anu mirah oge lumayan kualitasna, walau tos rada teu model
(udah tidak model)”. Tapi dulu dua tahun kebelakang sepatu ini termasuk
barang yang mahal juga... dan yang jelas kualitasnya bagus... beda
dengan kualitas ‘produk’ sekolah mahal yang belum tentu “bagus” pula,
namun untuk masalah sepatu “pangaos mah teu ngabobodo” (harga tidak
ngebohongin). Mahal ya... kualitasnya sepadan, murah juga sepadan,
disamping brand image merk-merk yang udah terkenal, selain mahal tapi
punya ‘Quality control’ demi ‘kepuasan konsumen’. Quality control inilah
yang mesti dirancang di lembaga-lembaga pendidikan zaman sekarang yang
seolah-olah kualitas sekolah yang bersangkutan hanya ditentukan oleh
lulusannya yang mudah dapet kerja dan diorientasikan pada kerja. Namun
juga harus dipertimbangkan bagaimana lulusan tersebut mampu memberikan
upaya yang disebut oleh Habermas Emansipasi, yaitu pencerahan dari
ketidak tahuan yang diakibatkan oleh adanya kesadaran palsu atau
dogmatisme. Sehingga upaya emansipatoris ini mesti dijadikan standar
kualitas lulusan orang-orang sekolahan.
Istilah emansipasi
menurut Habermas bukan semata-mata sebagai pembebasan dari kendala
sosial, seperti perbudakan, kolonialisme dan kekuasaan yang tiranik,
melinkan juga dari kendala-kendala internal seperti gangguan psikis, dan
ketidaktahuan. Seorang mengalami emansipasi jika ia beralih dari
kondisi ketidaktahuan menjadi tahu. Tetapi makna "tahu" bersifat relatif
terhadap situasi pengetahuan pada zaman tertentu. Pengetahuan dan
ketidaktahuan seseorang diukur menurut skala penilaian yang ada pada
zaman itu. Di sini Habermas bebicara mengenai "dogmatisme".
Bentuk-bentuk pengetahuan yang mapan pada situsi sosial tertentu
cenderung berkuasa sebagai juru tafsir satu-satunya yang benar atas
realitas. Bentuk-bentuk pengetahuan itu lalu juga menyingkirkan
tafsir-tafsir yang bertentangan sebagai "bid'ah". Sistem pengetahuan
absolut totaliter inilah dogmatisme. Emansipasi dalam pengertian
Habermas adalah proses pencerahan atas "ketidaktahuan" akibat dogmatisme
Selain
itu adanya fenomena ‘kerja oriented’ juga mengundang kecemasan yang
menghinggapi benak para pemikir. Kecemasan itu berkenaan dengan kemajuan
pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, yang semula dan seyogyanya
berjalan di atas rel kesejarahan dan kepentingan umat manusia, namun
belakangan justru berbalik “memperbudak”, “menyengsarakan” dan bahkan
“memperalat” manusia. Dalam kebudayaan masyarakat modern, yang
semangatnya berasal dari cita-cita “Barat” untuk melepaskan diri dari
agama, kecemasan ini nampaknya menjadi semakin beralasan. Bagaimana
manusia menghadapi problem-problem kemanusiaan modern dimana mereka
menghadapi apa yang disebut dengan mekanisasi kerja. Alat-alat produksi
baru yang dihasilkan oleh teknologi modern dengan proses mekanisasi,
otomatisasi dan standarisasinya, ternyata menyebabkan manusia cenderung
menjadi elemen yang mati dari proses produksi. Teknologi modern yang
sesungguhnya diciptakan untuk pembebasan manusia dari kerja ternyata
telah menjadi alat perbudakan baru. Manusia yang semula “merdeka”, yang
merasa menjadi pusat dari segala sesuatu (antroposentrisme), kini telah
diturunkan derajatnya menjadi tidak lebih sebagai bagian dari mesin,
mesin raksasa, teknologi modern.
Mengapa hal seperti ini bisa
terjadi? Ada beberapa jawaban yang dapat diajukan untuk itu : pertama,
argumen historis, “dosa” anak-cucu Renaissance yang memisahkan antara
aktivitas ilmiah dengan nilai-nilai keagamaan di masa lalu menjadikan
ilmu bergerak tanpa kendali dan kering dari rambu-rambu normatif. Kedua,
argumen etis-normatif, orientasi akademik mengalami pergeseran dari
wilayah keilmuan ke wilayah pasar yang cenderung profit oriented,
sehingga demi uang, segolongan ilmuwan tidak segan-segan melanggar kode
etik ilmiah. Hal ini juga membuat kalangan ilmuwan tertentu seolah-olah
sengaja “menutup mata” bahkan mengabaikan fungsi prediksi dan kontrol
dari ilmu pengetahuan. Sehingga disini patut kita renungkan ‘ungkapan
kegelisahan hati’ Albert Einstein :
"Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah,
hanya
membawa kebahagiaan yang sangat sedikit? Ilmu yang seharusnya
membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah
menjadikan manusia budak-budak mesin.
Jawaban yang sederhana adalah karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya
secara wajar"
wallahu 'a'lam bi al-shawab
7.10.2011
6.06.2011
SEPULUH KALI LIPAT
Bismillah...
Sekedar tahadduts bini'mah dan memuji keagungan dan kebesaran Allah Ta'ala atas segala janji yang ditawarkan kepada hamba-hamba-Nya.
Hari ini, persediaan modal dapur keluarga kami tersisa 50 rb rupiah, sementara gajian msh sekitar 2 pekan lg he..
Siang tadi datanglah tamu seorang ibu beserta 6 orang anaknya yg membutuhkan bantuan, tanpa babibu uminya menyerahkan uang terakhir kami itu...'gimana bi? tanyanya. 'tidak apa2..' jwb saya.
Maha benar Allah dengan segala janji-Nya...perusahaan tiba2 (biidznillah) dengan tdk saya sangka2 memberikan uang santunan kelahiran bayi kedua kami sebesar 500 rb rupiah. SEPULUH KALI LIPAT dari yang kami infakkan...Subhanallah.
wa man yatawakkal 'alallah fahuwa hasbuh...wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib.
(Mudah2an kami termasuk di dalamnya) amien...
Sekedar tahadduts bini'mah dan memuji keagungan dan kebesaran Allah Ta'ala atas segala janji yang ditawarkan kepada hamba-hamba-Nya.
Hari ini, persediaan modal dapur keluarga kami tersisa 50 rb rupiah, sementara gajian msh sekitar 2 pekan lg he..
Siang tadi datanglah tamu seorang ibu beserta 6 orang anaknya yg membutuhkan bantuan, tanpa babibu uminya menyerahkan uang terakhir kami itu...'gimana bi? tanyanya. 'tidak apa2..' jwb saya.
Maha benar Allah dengan segala janji-Nya...perusahaan tiba2 (biidznillah) dengan tdk saya sangka2 memberikan uang santunan kelahiran bayi kedua kami sebesar 500 rb rupiah. SEPULUH KALI LIPAT dari yang kami infakkan...Subhanallah.
wa man yatawakkal 'alallah fahuwa hasbuh...wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib.
(Mudah2an kami termasuk di dalamnya) amien...
UNDANGAN SILATURAHIM PEMUDA PERSIS BEKASI
UNDANGAN:
Kepada Yth,
Semua Pengurus dan anggota Pemuda Persis Bekasi Raya untuk hadir dalam acara silaturahim dan konsolidasi Pimpinan Pusat Pemuda Persis dengan Pemuda Persis Bekasi Raya.
Waktu: Sabtu 18 Juni 2011/ 09.00-16.00 WIB.
Tempat: Aula Masjid Wadhah Al-Bahr Pusdiklat Dewan Dakwah Setiamekar Tambun Selatan Kab Bekasi.
Bentuk Acara: Bedah buku karya terbaru Ketua Umum PP Pemuda Persis Tiar Anwar Bachtiar (Lajur-lajur pemikiran Islam), ishoma, rapat internal PP Pemuda bersama Pemuda Bekasi.
Infaq kegiatan: @ Rp. 35.000,- (diserahkan pada saat acara)
Jazakumullahu Khairan Katsiran
Kepada Yth,
Semua Pengurus dan anggota Pemuda Persis Bekasi Raya untuk hadir dalam acara silaturahim dan konsolidasi Pimpinan Pusat Pemuda Persis dengan Pemuda Persis Bekasi Raya.
Waktu: Sabtu 18 Juni 2011/ 09.00-16.00 WIB.
Tempat: Aula Masjid Wadhah Al-Bahr Pusdiklat Dewan Dakwah Setiamekar Tambun Selatan Kab Bekasi.
Bentuk Acara: Bedah buku karya terbaru Ketua Umum PP Pemuda Persis Tiar Anwar Bachtiar (Lajur-lajur pemikiran Islam), ishoma, rapat internal PP Pemuda bersama Pemuda Bekasi.
Infaq kegiatan: @ Rp. 35.000,- (diserahkan pada saat acara)
Jazakumullahu Khairan Katsiran
5.09.2011
Alhamdulillah Dakta 107 FM disebut Radikal
Religious Radio a Force to Be Reckoned With
Elisabeth Oktofani | May 07, 2011
When Islamic hard-liners in Bekasi and Bogor were questioned recently about what influenced them to take up causes or attend demonstrations, most pointed toward an often overlooked medium: the radio.
Haryanto, a resident of Ciketing in Bekasi, said it was through the radio that he became aware of Murhali Barda, the former head of the Bekasi chapter of the hard-line Islamic Defenders Front (FPI). And it was through Murhali’s speeches on the radio that Haryanto felt compelled to attend the former FPI head’s criminal trial for inciting violence.
Murhali was found guilty of inciting an attack last September that culminated in the stabbing of two leaders of the Batak Christian Protestant Church (HKBP) in Ciketing. He was sentenced to five months in prison in February.
“I do not know Murhali personally. I only know of him from the Dakta radio station,” Haryanto told the Jakarta Globe. “Every Sunday I’d listen to his program on Dakta. Through this program, I felt that I needed to support him as much as I could.”
Haryanto is just one of thousands of listeners of Islamic radio programs that at times carry information on where demonstrations in support of religious or moral causes are being held. Or which mosques will host preachers like Murhali.
Completing the News
Media analyst Iswandi Syahputra says many people who rely on television or social networking Web sites for their information underestimate the influence of radio.
According to the Alliance of Islamic Radio (ARIN), there are about 50 registered Islamic radio stations across Indonesia, about 30 of which are members of ARIN. The alliance itself was officially launched in February of last year.
Dhea Qotrunnada, who heads ARIN, recently told the Globe that Islamic radio stations in the country were established to augment and sometimes counter the news on Islam being carried in the mainstream press.
“The main purpose of our broadcasts is getting as many people as possible to stand together. Why should we stand alone? We would never be successful in striking down incomplete reports by mainstream media if we were to stand alone,” Dhea said.
“We air news that has a clear Islamic perspective. We need this to make up for the news being carried by mainstream media, which often discredits Islam. We also air nasyid [Islamic songs].”
Great Variety of Stations
Dakta Radio, which Haryanto likes to tune into, is based in Bekasi. It was established in 1992 and broadcasts news and speeches for what it claims are one million listeners in Greater Jakarta. But director Andi Kosala denied on Friday that it was an exclusively Islamic radio station.
“This is a news radio station that happens to have 40 percent Islamic content,” Andi told the Globe. “It needs to be understood that this is not an Islamic radio station.”
Asked why of all the Islamic preachers in the country Dakta Radio picked Murhali to host his own program, Andi said, “We used Murhali because we saw that he was competent. We did not know that he was an FPI leader.”
At Radio Nuris, an executive told the Globe that the station was established because its founders were concerned about young Indonesian straying from the path of Islam.
“We believed this was happening because of the strength of Western culture,” Rudianto said. “So we began to offer Islamic edutainment for young people, especially students and university students, with 100 percent Islamic values.”
Dadang Rahmat Hidayat, who chairs the Indonesian Broadcasting Commission (KPI), said there were many religious radio stations, and not just Islamic ones.
“There are also Christian stations, like Petra FM,” Dadang said. “It needs to be understood, however, that there is not necessarily anything wrong with ‘radio dakwah’ [radio for preaching purposes] — as long as they do not provoke listeners to commit crimes.”
But that can sometimes be difficult to prevent.
“We do not have the equipment to monitor radio broadcasts,” Dadang said. “So we ask listeners to report anything they find offensive.”
(www.thejakartaglobe.com)
Elisabeth Oktofani | May 07, 2011
When Islamic hard-liners in Bekasi and Bogor were questioned recently about what influenced them to take up causes or attend demonstrations, most pointed toward an often overlooked medium: the radio.
Haryanto, a resident of Ciketing in Bekasi, said it was through the radio that he became aware of Murhali Barda, the former head of the Bekasi chapter of the hard-line Islamic Defenders Front (FPI). And it was through Murhali’s speeches on the radio that Haryanto felt compelled to attend the former FPI head’s criminal trial for inciting violence.
Murhali was found guilty of inciting an attack last September that culminated in the stabbing of two leaders of the Batak Christian Protestant Church (HKBP) in Ciketing. He was sentenced to five months in prison in February.
“I do not know Murhali personally. I only know of him from the Dakta radio station,” Haryanto told the Jakarta Globe. “Every Sunday I’d listen to his program on Dakta. Through this program, I felt that I needed to support him as much as I could.”
Haryanto is just one of thousands of listeners of Islamic radio programs that at times carry information on where demonstrations in support of religious or moral causes are being held. Or which mosques will host preachers like Murhali.
Completing the News
Media analyst Iswandi Syahputra says many people who rely on television or social networking Web sites for their information underestimate the influence of radio.
According to the Alliance of Islamic Radio (ARIN), there are about 50 registered Islamic radio stations across Indonesia, about 30 of which are members of ARIN. The alliance itself was officially launched in February of last year.
Dhea Qotrunnada, who heads ARIN, recently told the Globe that Islamic radio stations in the country were established to augment and sometimes counter the news on Islam being carried in the mainstream press.
“The main purpose of our broadcasts is getting as many people as possible to stand together. Why should we stand alone? We would never be successful in striking down incomplete reports by mainstream media if we were to stand alone,” Dhea said.
“We air news that has a clear Islamic perspective. We need this to make up for the news being carried by mainstream media, which often discredits Islam. We also air nasyid [Islamic songs].”
Great Variety of Stations
Dakta Radio, which Haryanto likes to tune into, is based in Bekasi. It was established in 1992 and broadcasts news and speeches for what it claims are one million listeners in Greater Jakarta. But director Andi Kosala denied on Friday that it was an exclusively Islamic radio station.
“This is a news radio station that happens to have 40 percent Islamic content,” Andi told the Globe. “It needs to be understood that this is not an Islamic radio station.”
Asked why of all the Islamic preachers in the country Dakta Radio picked Murhali to host his own program, Andi said, “We used Murhali because we saw that he was competent. We did not know that he was an FPI leader.”
At Radio Nuris, an executive told the Globe that the station was established because its founders were concerned about young Indonesian straying from the path of Islam.
“We believed this was happening because of the strength of Western culture,” Rudianto said. “So we began to offer Islamic edutainment for young people, especially students and university students, with 100 percent Islamic values.”
Dadang Rahmat Hidayat, who chairs the Indonesian Broadcasting Commission (KPI), said there were many religious radio stations, and not just Islamic ones.
“There are also Christian stations, like Petra FM,” Dadang said. “It needs to be understood, however, that there is not necessarily anything wrong with ‘radio dakwah’ [radio for preaching purposes] — as long as they do not provoke listeners to commit crimes.”
But that can sometimes be difficult to prevent.
“We do not have the equipment to monitor radio broadcasts,” Dadang said. “So we ask listeners to report anything they find offensive.”
(www.thejakartaglobe.com)
5.04.2011
'Fitnah' Wahabi-Salafi?
Hari itu, Ahad 24 April 2011, pagi hari di tengah gerimis yang cukup menggigit, Pondok Pesantren Riyadhul Jannah Pasir Gombong Cikarang Bekasi menggelar hajatan besar Tabligh Akbar bertemakan “membongkar kebohongan & tipu daya fatwa-fatwa Wahabi-Salafi (palsu)”. Hajatan yang digelar bekerjasama dengan FOSWAN (Forum Shilaturahim Warga Nahdliyyin) ini mengusung tema dari judul sebuah buku terbitan Foswan dengan Redaksi yang sama. Buku yang terbitan pertamanya berjudul “Menyingkap tipu daya dan fitnah keji fatwa-fatwa kaum salafi dan wahabi” bermaterikan ungkapan-ungkapan keresahan, kekesalan dan kemarahan kepada sekelompok atau paham yang diidentifikasi sebagai Wahabi-Salafi ala penyusun buku tersebut.
Hal itu tampak nyata dalam Tabligh Akbar yang digelar hari itu yang penuh dengan sumpah serapah dan caci maki membabi buta. Mendengarkan Tabligh akbar tersebut yang disampaikan kepada seribuan lebih jama’ah membuat bulu kuduk merinding melihat suasana yang sangat emosional, saat penceramah muda (sekitar 30-35 tahun usianya) KH. Imam Musthofa Mukhtar yang disebut oleh MC pernah mesantren di Madinah selama puluhan tahun dengan berapi-api membakar emosi para jama’ah (jika 20 tahun saja dia mondok di madinah maka sejak usia 10-an tahun dia telah belajar di Madinah). Jama’ah yang berdatangan dari kelompok-kelompok pengajian kampung itu tampak lugu dan polos mendengarkan dramatisasi, pemutarbalikan fakta dan pembohongan dari penceramah yang sarat arogansi dan emosi. Saat itu seolah-olah bukan mengikuti ceramah agama seperti ditulis di spanduk acara, tetapi menghadiri kampanye partai politik yang penuh janji-janji muluk atau orasi massa di depan gedung bulog menuntut pembagian beras murah.
Atmosfir di atas, termanifestasi pula dalam muqaddimah bukunya Foswan yang berbunyi “Buku ini ditulis karena rasa prihatin yang mendalam terhadap keresahan masyarakat Islam menyangkut munculnya “orang-orang usil” dari kalangan Wahabi & Salafi yang selalu mempermasalahkan kebiasaan dan tradisi keagamaan masyarakat, sejak dulu telah menjadi cobaan besar bagi umat Islam di seluruh dunia. Keresahan itu sering memicu kemarahan bahkan tindak kekerasan hanya karena perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah yang seringkali dibesar-besarkan.”
Wahabi-Salafi digambarkan sangat ekstrim dalam Tabligh Akbar tersebut. Yang paling absurd adalah menyamakan total antara Wahabi dengan Salafi. Wahabi-Salafi dipandang sebagai ideologi dan aliran radikal yang bisa memicu terorisme. Bahkan Syaikhul Islam Imam Ibn Taimiyah dan Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhab digambarkan pelopor paham radikalisme. Pemikiran dan fatwa-fatwa Syaikhan inipun dianggap keliru, ganjil dan menyesatkan. Buku Tauhidnya Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan disebut sebagai buku berbahaya dan wajib dilarang oleh pemerintah.
Yang rumit sekaligus menggelikan adalah saat Wahabi-salafi dianggap sebagai aliran radikal pemicu terorisme, sementara pada saat yang sama Wahabi-Salafi disebut sebagai paham atau sekelompok orang yang membid’ahkan praktek yasinan, tahlilan, ziarah kubur dll. Seolah-olah penceramah ingin menggiring para jama’ah dan pihak kepolisian dari polres kab Bekasi yang hadir saat itu memandang bahwa orang-orang yang membid’ahkan yasinan, tahlilan dan lain-lain sebagai radikalis dan teroris.
Sungguh, jika anda mendengarkan Tabligh Akbar waktu itu, anda akan mengerutkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepala saking heran dan trenyuh menyikapi keresahan Foswan (bukan warga Nahdliyin keseluruhan, apalagi Foswan adalah institusi non struktural NU) yang berlebihan bahkan menimbulkan keresahan baru. Al-Habib Al-Idrus, narasumber kedua dalam Tabligh Akbar tersebut yang seharusnya menyampaikan do’a namun malah berorasi tanpa kendali sampai sempat-sempatnya mengatakan, “Jika mau berdebat, biarlah orang-orang Wahabi-Salafi itu menghidupkan lagi ulama-ulama mereka, biar mereka bawa ribuan kitab mereka punya, saya hadapi dengan satu kitab cukup buat saya menghabisi mereka.” Wal’iyadzubillah
Cukupkah sikap emosional seperti ini menyelesaikan permasalahan umat? Bisa jadi benar ada sikap yang berlebihan dilakukan oleh kalangan yang mengklaim diri sebagai salafiyyun yang perlu diklarifikasi dan diluruskan. Namun apabila sikap berlebihan disikapi dengan sikap yang sama nampaknya hanya kerusakan hasilnya.
Tidak bisa dipungkiri pula bahwa ada sikap-sikap ekstrim yang dilakukan oleh kalangan yang mengaku diri sebagai salafi ini (terlepas dari perdebatan makna dan definisinya). Yang paling nampak adalah sikap ghuluw dalam thoriqoh dakwahnya yang keras dan kasar.
Sebenarnya hal inilah nampaknya yang membuat penasaran kaum ahlu yasinan wa tahlilan. Sikap yang melegenda dari beratus-ratus tahun yang lalu yang seyogyanya bisa disikapi dengan lebih bijak dan cerdas.
Dakta 107 FM, sebuah Radio pengusung dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (slogan yang juga diklaim oleh kalangan Nahdliyyin) namanya tercantum dalam buku “membongkar kebohongan dan tipu daya fatwa-fatwa Wahabi-Salafi” yang disebut sebagai salah satu media penyebar paham Wahabi-Salafi, mencoba membuka ruang diskusi dan shilaturahmi dengan mengundang pihak Foswan live on air pada hari Sabtu, 30 April 2011 lalu. Pertemuan dan diskusi berlangsung hangat dan akrab sekalipun tetap masih banyak PR yang harus dituntaskan oleh semua pihak.
Upaya klarifikasi Dakta sehubungan Dakta disebut sebagai media Wahabi-Salafi yang digambarkan secara ekstrim oleh Foswan selesai dengan permintaan maaf Foswan kepada Dakta. Di lain pihak Foswan menuntut Dakta untuk berimbang dalam menampilkan narasumber religi dengan merekrut pula Asatidzah dari kalangan Nahdliyyin. Namun bukan pula bahwa Dakta sepakat dengan persepsi Foswan terhadap Wahabi-Salafi secara keseluruhan.
Perkara kesalahpahaman ini hanya bisa tuntas dengan menuntut ilmu yang benar dari rujukan yang benar dan mu’tabar. Tidak akan bisa selesai dengan sikap emosional dan arogan. Sebab, emosional adalah ciri-ciri orang yang kurang ilmu. Allah Ta’ala mengatakan, “Apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu?” Imam Bukhari Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Ilmu dulu baru bicara dan beramal.” Sebab, ucapan dan amal sebanyak dan sehebat apapun apabila tidak dilandasi dengan ilmu yang benar, sia-sia belaka hasilnya. (Abu Gozian)
Hal itu tampak nyata dalam Tabligh Akbar yang digelar hari itu yang penuh dengan sumpah serapah dan caci maki membabi buta. Mendengarkan Tabligh akbar tersebut yang disampaikan kepada seribuan lebih jama’ah membuat bulu kuduk merinding melihat suasana yang sangat emosional, saat penceramah muda (sekitar 30-35 tahun usianya) KH. Imam Musthofa Mukhtar yang disebut oleh MC pernah mesantren di Madinah selama puluhan tahun dengan berapi-api membakar emosi para jama’ah (jika 20 tahun saja dia mondok di madinah maka sejak usia 10-an tahun dia telah belajar di Madinah). Jama’ah yang berdatangan dari kelompok-kelompok pengajian kampung itu tampak lugu dan polos mendengarkan dramatisasi, pemutarbalikan fakta dan pembohongan dari penceramah yang sarat arogansi dan emosi. Saat itu seolah-olah bukan mengikuti ceramah agama seperti ditulis di spanduk acara, tetapi menghadiri kampanye partai politik yang penuh janji-janji muluk atau orasi massa di depan gedung bulog menuntut pembagian beras murah.
Atmosfir di atas, termanifestasi pula dalam muqaddimah bukunya Foswan yang berbunyi “Buku ini ditulis karena rasa prihatin yang mendalam terhadap keresahan masyarakat Islam menyangkut munculnya “orang-orang usil” dari kalangan Wahabi & Salafi yang selalu mempermasalahkan kebiasaan dan tradisi keagamaan masyarakat, sejak dulu telah menjadi cobaan besar bagi umat Islam di seluruh dunia. Keresahan itu sering memicu kemarahan bahkan tindak kekerasan hanya karena perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah yang seringkali dibesar-besarkan.”
Wahabi-Salafi digambarkan sangat ekstrim dalam Tabligh Akbar tersebut. Yang paling absurd adalah menyamakan total antara Wahabi dengan Salafi. Wahabi-Salafi dipandang sebagai ideologi dan aliran radikal yang bisa memicu terorisme. Bahkan Syaikhul Islam Imam Ibn Taimiyah dan Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhab digambarkan pelopor paham radikalisme. Pemikiran dan fatwa-fatwa Syaikhan inipun dianggap keliru, ganjil dan menyesatkan. Buku Tauhidnya Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan disebut sebagai buku berbahaya dan wajib dilarang oleh pemerintah.
Yang rumit sekaligus menggelikan adalah saat Wahabi-salafi dianggap sebagai aliran radikal pemicu terorisme, sementara pada saat yang sama Wahabi-Salafi disebut sebagai paham atau sekelompok orang yang membid’ahkan praktek yasinan, tahlilan, ziarah kubur dll. Seolah-olah penceramah ingin menggiring para jama’ah dan pihak kepolisian dari polres kab Bekasi yang hadir saat itu memandang bahwa orang-orang yang membid’ahkan yasinan, tahlilan dan lain-lain sebagai radikalis dan teroris.
Sungguh, jika anda mendengarkan Tabligh Akbar waktu itu, anda akan mengerutkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepala saking heran dan trenyuh menyikapi keresahan Foswan (bukan warga Nahdliyin keseluruhan, apalagi Foswan adalah institusi non struktural NU) yang berlebihan bahkan menimbulkan keresahan baru. Al-Habib Al-Idrus, narasumber kedua dalam Tabligh Akbar tersebut yang seharusnya menyampaikan do’a namun malah berorasi tanpa kendali sampai sempat-sempatnya mengatakan, “Jika mau berdebat, biarlah orang-orang Wahabi-Salafi itu menghidupkan lagi ulama-ulama mereka, biar mereka bawa ribuan kitab mereka punya, saya hadapi dengan satu kitab cukup buat saya menghabisi mereka.” Wal’iyadzubillah
Cukupkah sikap emosional seperti ini menyelesaikan permasalahan umat? Bisa jadi benar ada sikap yang berlebihan dilakukan oleh kalangan yang mengklaim diri sebagai salafiyyun yang perlu diklarifikasi dan diluruskan. Namun apabila sikap berlebihan disikapi dengan sikap yang sama nampaknya hanya kerusakan hasilnya.
Tidak bisa dipungkiri pula bahwa ada sikap-sikap ekstrim yang dilakukan oleh kalangan yang mengaku diri sebagai salafi ini (terlepas dari perdebatan makna dan definisinya). Yang paling nampak adalah sikap ghuluw dalam thoriqoh dakwahnya yang keras dan kasar.
Sebenarnya hal inilah nampaknya yang membuat penasaran kaum ahlu yasinan wa tahlilan. Sikap yang melegenda dari beratus-ratus tahun yang lalu yang seyogyanya bisa disikapi dengan lebih bijak dan cerdas.
Dakta 107 FM, sebuah Radio pengusung dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (slogan yang juga diklaim oleh kalangan Nahdliyyin) namanya tercantum dalam buku “membongkar kebohongan dan tipu daya fatwa-fatwa Wahabi-Salafi” yang disebut sebagai salah satu media penyebar paham Wahabi-Salafi, mencoba membuka ruang diskusi dan shilaturahmi dengan mengundang pihak Foswan live on air pada hari Sabtu, 30 April 2011 lalu. Pertemuan dan diskusi berlangsung hangat dan akrab sekalipun tetap masih banyak PR yang harus dituntaskan oleh semua pihak.
Upaya klarifikasi Dakta sehubungan Dakta disebut sebagai media Wahabi-Salafi yang digambarkan secara ekstrim oleh Foswan selesai dengan permintaan maaf Foswan kepada Dakta. Di lain pihak Foswan menuntut Dakta untuk berimbang dalam menampilkan narasumber religi dengan merekrut pula Asatidzah dari kalangan Nahdliyyin. Namun bukan pula bahwa Dakta sepakat dengan persepsi Foswan terhadap Wahabi-Salafi secara keseluruhan.
Perkara kesalahpahaman ini hanya bisa tuntas dengan menuntut ilmu yang benar dari rujukan yang benar dan mu’tabar. Tidak akan bisa selesai dengan sikap emosional dan arogan. Sebab, emosional adalah ciri-ciri orang yang kurang ilmu. Allah Ta’ala mengatakan, “Apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu?” Imam Bukhari Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Ilmu dulu baru bicara dan beramal.” Sebab, ucapan dan amal sebanyak dan sehebat apapun apabila tidak dilandasi dengan ilmu yang benar, sia-sia belaka hasilnya. (Abu Gozian)
Langganan:
Postingan (Atom)