7.10.2011

Releksi back to school

Di depanku, berdiri gontay lelaki kurus 'objek'modernitas yg dari
matanya menyiratkan bhw ia seolah hendak mengangkat bendera putih karena
hrs trgusur laju raksasa konsumerisme demi mendapat segurat tipis
senyum seorang anak perempuan brpakaian lusuh, namun dg air muka penuh
harap yg persis brada disampingnya.

"tiasa 30rb?"(Bisa 30 ribu?).

Dmk Kalimat basis yg trlontar dr perasaan lugu,jujur,bhkn trksan
dipaksakan dg mengubur rasa risih yg terseret keluar dr alam bawah sadar
lelaki tsb, yg jg nampak keengganan mengucapknnya ketika ia terkesiap
melihat deret angka di pricelist sepatu Homyped terbaru yg trdiri dr 6
digit....

Aku trperanjat, suara parau dan berat tsb bagiku mirip
sebuah erangan pesakitan yg tak sanggup menahan pedihnya himpitan
realitas dan keinginan utk membahagiakan anaknya yg bulan depan, akan
masuk SD,walau pun bagiku anak perempuan yg menyimpan kcantikan alami di
balik debu yg nempel di sekujur tubuhnya itu lebih pantas masuk TK
karena postur yg ringkih tsb hanya ditopang sepasang kaki size 25...

Alih-alih
menjawab pertanyaannya, aku sejenak termenung, banyak hal berkecamuk dalam
benakku...dan nampaknya lelaki kurus yg telah berjuang tampil necis tersebut
sedang beruntung, karena seharian ini aku hanya ditemenin "ustadz-ustadz" kritis dari
Frankfurt yang senantiasa menenangkan sekaligus merangsang utk bukan hanya
memahami realitas, melainkan bagaimana realitas tersebut seharusnya. Mereka jg
banyak menghiburku tatkala kegelisahanku menumpuk, luber melihat
"kebodohan" yg dipelihara secara hierarkis dan diberi kedok "tradisi
luhur" yg taken for granted. Mereka jg yg hari ini menolong lelaki tsb,
krn biasanya "pembeli gelo" yg nawar pricelist smpai 80% seperti ini,
lgsung dpt "counter attack" yg lebih nylekit klo kondisiku lg normal.

"bade
lebet ka SD pa?"kalimat tsb meluncurTrdorong keingintahuanku dan
komitmen emansipatoris. pdhal biasanya kalimat tsb hnya basabasi.
Niatnya sih mencoba metode refleksi-diri ala Freudian yg dulu prnah
diapresiasi dg nilai A oleh dosenku ktika msh di Jur Psikologi dan
Bimbingan atau lebih akrab di sebut BK di UNY. Serasa mendapat angin
segar, lelaki berkumis tak terawat itu spontan menjawab

“muhun, bade lebet ka SD Gan”.

Gan?
Siapa yang dia maksud Agan (Juragan)? Hatiku mulai kritis. Kata Agan
dalam kamus kehidupanku memang sangat akrab. Ketika aku kecil, kata Agan
senantiasa menjadi kata “mudhaf ilaih” yang menunjukan feodalisme dan
borjuisme, seperti ‘Kebon Agan’, ‘Balong Agan’, ‘Sawah Agan’ tempat
dimana aku dan kawan-kawanku biasa bermain-main di “daerah terlarang
bagi anak kampung, dekil dan proletar macam aku dkk., dan dengan biasa
pula diakhiri dengan adegan kejar-kejaran bak film standar Hollywood,
dimana aku dkk (yang dikejar) selalu lolos karena rela nyebur ke sungai
basah-basahan, sedangkan “bodiguard sang Agan” yang biasa kami panggil
si Giri, hanya menunjukan telunjuknya disamping ‘sasak’ sambil diiringi
repetan cacian bak Mike Shinoda, rapper Linking Park ketika ia
melantunkan ‘a place for my head’. Dari “rapper” gadungan sang Agan
inilah (si giri) aku juga mulai mengenal kata-kata cacian kotor dan
kasar, seperti ‘anjing’, goblog, bebel, kehed dll, yang digunakannya
secara sporadis untuk membantai kami. Pernah suatu saat aku penasaran
menanyakan arti kata ‘bebel kehed’ yang baru aku dengar dari si Giri
pecundang tersebut pada bapakku. Alih-alih dijawab bapakku balik
melontarkan pertanyaan, “dari siapa kamu mendengar kata tersebut? Karena
di keluargaku kata-kata tersebut sangat terlarang, “haram” mungkin yang
sangat tepatnya. Selain itu, perilaku sang Agan juga dalam pandanganku
sangat eksklusif, karena walaupun “istananya” berada di tengah kampung
kami, namun jarang sekali aku melihatnya keluar berbaur dengan orang
melarat dan nyaris sekarat macam kami. Pernah sekali aku melihat tampang
Agan tersebut ketika mau memantau ‘ngabedahkeun balongnya’ dengan
sedikit kumis tipis melintang bak zorro, baju safari hitam mengkilat
serta dilengkapi dengan aksesoris tongkat hitam ruyung di tangan
kanannya yang mempunyai fungsi ganda, untuk mementung pegawainya yang
kerjanya tidak becus, serta untuk menambah sangar penampilannya. ketika
berpapasan dengannya orang-orang seolah rebutan ingin menyapa sang
borjuis tersebut, “bade kamana gan? Seraya berharap si Agan akan
menoleh, tersenyum dan menyapa kembali dan tentunya mental orang miskin
yang tidak bisa sombong itu akan mengharapkan suatu saat akan ada
“stimulus” yang mencair dari hasil panen ikannya. Harapan yang
sia-sia!!! Karena tidak pernah sekalipun si Agan (sepengetahuanku)
memberi dengan cuma-Cuma.

Namun walaupun ia bersifat arogan dan
“pelit” serta tidak care pada wong cilik layaknya pembesar-pembesar
Quraisy zaman Nabi Muhammad dulu, si Agan tetap saja merupakan orang
dianggap dan dipandang “terpandang” karena limpah ruah hartanya membuat
ia dipandang. Hal yang biasa dalam sistem masyarakat feodalistik di
indonesia, bahkan sampai saat ini. Definisi subjektif seperti inilah
yang membuatku gusar dan tidak rido ketika lelaki yang tingginya
sedang-sedang saja tersebut mengalamatkan kata ‘Gan’ padaku.

Akhirnya
dengan tanpa menghiraukan kegelisahan hati, aku memulai aksi
freudian-ku. “Kamari TK-na dimana? Pancingku. “ah naminage di kampung,
teu aya TK atuh Gan, aya oge sakola SD impres.” Celoteh si lelaki
tersebut. Bah....Agan lagi... gerutuku dalam hati. “Aya oge di soreang
atuh gan, eta oge meni awis (mahal sekali) biaya lebetnya (masuknya)”,
sambung lelaki tersebut. Mahal? Apa betul biaya masuk TK mahal? “emang
sabaraha biaya lebetna pa?” tanyaku penasaran. “di TK anu caket (dekat)
puskesmas soreang mah kedah aya artos kirang langkung 2 jutaan upami
bade lebet na teh”. Bah.....2 juta? Aku masuk S2 aja juga Cuma 2juta
lebih dikit... maklum S2 “generik” paket hemat, dimana untuk ukuran S2,
tempatku nyantri lagi ini termasuk yang paling murah di Bandung. Maka
wajar fasilitas seadanya, perpus mengkhawatirkan, managemen sangat
tradisional (untuk tidak menyebut tidak profesional).

Kayaknya
si bapak tersebut hanya mengetahui TK yang dekat puskesmas tersebut,
karena memang puskesmas adalah tempat berobat orang-orang mustad’afin,
ongkos berobatnya pun Cuma 2000 rupiah, yah... namanya juga tempat
berobat yang murah.... jadi berbanding lurus dengan pelayanan yang
diberikan kepada sang pasien mustad’afin tersebut yang dipaksa untuk
memaklumi kondisi yang memang harusnya diperbaiki dan ditingkatkan dari
sisi layanan kepadda publik yang tidak mampu....jika pakai perspektif
agama sebetulnya pengelola puskesmas itu akan mendapat pahala yang
berlimpah dari Gusti Nu Agung karena banyak menolong orang-orang tidak
mampu apalagi jika pelayanan ditingkatkan lagi.

Di belakang
puskesmas itulah berdiri megah TK atau yang sekarang mulai dikenal
dengan sebutan PAUD. TK yang terbilang mempunyai fasilitas lengkap
tersebut, dibangun kurang lebih diatas tanah seluas 2 hektar, persis
menghadap ke arah matahari terbit gerbang kokoh dari besi ‘ala’
minimalis dengan cat warna hitam pekat yang memberi kesan elegan
tersebut menghadap. Di halaman terdapat saung-saung “paniisan” khas
sunda tempat ibu-ibu murid menunggu sambil “ngrumpi” atau bahkan
ngegosip, ngomongin orang, binatang, kerjaan suaminya, mobil suaminya,
laptop, HP, Blackberry, twiteer, dll dan tidak jarang terjadi pertengkaran hanya
karena masalah-masalah “keduniaan” yang dalam kacamata al-Qur’an bisa
menjadi khitab dari surat al-Humazah dan al-Takatsur....na’udzubillah
min dzalik (hamba berlindung dari hal-hal negatif seperti yang
demikian).

Masuk ke lokasi sekolah yang memang didesain khusus
untuk mendirikan TK “elite” , yang berbeda dengan TK-TK kebanyakan di
Soreang yang banyak memanfaatkan ruang kosong baik itu rumah, loteng
mesjid --seperti yang Ibuku rintis sejak 15 tahun yang lalu, rumah di
komplek perumahan yang sumpek, bahkan ada yang menggunakan serambi
mesjid dan surau untuk dijadikan tempat PAUD, terdapat kolam renang
ukuran 5x 6 M yang disampingnya persis terhampar pasir putih yang sengaja
dijadikan alas pelindung arena permainan dan out bond anak-anak...wes
anak kecil manapun pasti akan merengek-rengek pengen bermain disana.
Selain itu kelas yang terdiri dari empat lokal tersebut semuanya
bergambar dengan teknik air brush yang lumayan rapi dengan warna yang
mencolok khas Taman kanak-kanak. Di samping kelas terdapat aula atau
ruang serba guna yang cukup besar yang banyak peruntukannya, diantaranya
pertemuan orang tua murid dan pihak sekolah (ah..ini mungkin sudah
biasa), tempat anak-anak makan bersama (biasa juga), tempat anak-anak
berlatih balet, senam dan konon katanya, yoga....(biasa ga ya...yang
jelas dalam pandanganku hal ini sangat luar biasa). Oh..ya ada yang
lupa, ada juga ruang komputer yang terletak persis disebelah ruang
kepala sekolah. Dari ruang komputer inilah tersambung kabel-kabel audio
yang terhubung keseluruh penjuru sekolah, baik untuk menyampaikan
pengumuman maupun sekedar memutar lagu yang mengiringi saat anak-anak
bermain dan beristirahat...wuuuuhhh pokoke untuk ukuran daerahku Paud
ini dah keren banget.

Makanya mungkin tidak heran biaya masuknya
juga besar. Sekolah-sekolah macam inilah –yang oleh orang-orang di sebut
sekolah bonafide—tempat orang-orang berduit “menitipkan”anak-anaknya
supaya ‘pinter’, nggak ‘gaptek’, ‘gaul’ dan up to date dengan
perkembangan zaman. Ada kesan gengsi dari orang-orang berduit untuk
menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah murah, konon kata temanku, di
jakarta jika membuka lembaga pendidikan atau apapun yang terkait dengan
edukasi, motivasi, training dll, jika mematok harga murah tidak akan
laku, karena dianggapnya tidak bonafide, tidak bermutu, dll. Beuh....
maka tidak heran pula jika belakangan muncul trend “pengajian motivasi”
kalangan borjuis yang diselenggarakan di hotel berbintang yang tidak
pernah sepi peminat. Kenapa yaa..training seperti itu tidak mampu
dirasakan semua kalangan, khususnya orang-orang yang tidak berduit yang
sejatinya dalam hatinya juga mempunyai keinginan untuk “tercerahkan” dan
“sukses”, kenapa mesti di hotel? Tidak di madrasah aja? Di
pendopo-pendopo desa? Dan tempat lain yang bisa dijangkau oleh orang
mustad’afin?
Idealnya dan di atas kertas memang input yang dihasilkan
dari sekolah dan training macam ini akan menghasilkan “produk-produk”
unggul. Namun ini hanyalah itungan di atas kertas, kenyataannya bisa iya
bisa tidak....(setuju..)

“gan...” teguran lelaki itu
menyadarkanku dari lamunan kritisku. “kumaha...tiasa 30rb sapatu
teh?”.....pertanyaan yang sebenarnya gampang dijawab, namun entah kenapa
aku...dari tadi mengulur-ulur terus...namun akhirnya.....aku meneguhkan
hati untuk menjawab “upami anu artikel matrix mah teu tiasa pa...,
tapi aya anu mirah oge lumayan kualitasna, walau tos rada teu model
(udah tidak model)”. Tapi dulu dua tahun kebelakang sepatu ini termasuk
barang yang mahal juga... dan yang jelas kualitasnya bagus... beda
dengan kualitas ‘produk’ sekolah mahal yang belum tentu “bagus” pula,
namun untuk masalah sepatu “pangaos mah teu ngabobodo” (harga tidak
ngebohongin). Mahal ya... kualitasnya sepadan, murah juga sepadan,
disamping brand image merk-merk yang udah terkenal, selain mahal tapi
punya ‘Quality control’ demi ‘kepuasan konsumen’. Quality control inilah
yang mesti dirancang di lembaga-lembaga pendidikan zaman sekarang yang
seolah-olah kualitas sekolah yang bersangkutan hanya ditentukan oleh
lulusannya yang mudah dapet kerja dan diorientasikan pada kerja. Namun
juga harus dipertimbangkan bagaimana lulusan tersebut mampu memberikan
upaya yang disebut oleh Habermas Emansipasi, yaitu pencerahan dari
ketidak tahuan yang diakibatkan oleh adanya kesadaran palsu atau
dogmatisme. Sehingga upaya emansipatoris ini mesti dijadikan standar
kualitas lulusan orang-orang sekolahan.

Istilah emansipasi
menurut Habermas bukan semata-mata sebagai pembebasan dari kendala
sosial, seperti perbudakan, kolonialisme dan kekuasaan yang tiranik,
melinkan juga dari kendala-kendala internal seperti gangguan psikis, dan
ketidaktahuan. Seorang mengalami emansipasi jika ia beralih dari
kondisi ketidaktahuan menjadi tahu. Tetapi makna "tahu" bersifat relatif
terhadap situasi pengetahuan pada zaman tertentu. Pengetahuan dan
ketidaktahuan seseorang diukur menurut skala penilaian yang ada pada
zaman itu. Di sini Habermas bebicara mengenai "dogmatisme".
Bentuk-bentuk pengetahuan yang mapan pada situsi sosial tertentu
cenderung berkuasa sebagai juru tafsir satu-satunya yang benar atas
realitas. Bentuk-bentuk pengetahuan itu lalu juga menyingkirkan
tafsir-tafsir yang bertentangan sebagai "bid'ah". Sistem pengetahuan
absolut totaliter inilah dogmatisme. Emansipasi dalam pengertian
Habermas adalah proses pencerahan atas "ketidaktahuan" akibat dogmatisme

Selain
itu adanya fenomena ‘kerja oriented’ juga mengundang kecemasan yang
menghinggapi benak para pemikir. Kecemasan itu berkenaan dengan kemajuan
pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, yang semula dan seyogyanya
berjalan di atas rel kesejarahan dan kepentingan umat manusia, namun
belakangan justru berbalik “memperbudak”, “menyengsarakan” dan bahkan
“memperalat” manusia. Dalam kebudayaan masyarakat modern, yang
semangatnya berasal dari cita-cita “Barat” untuk melepaskan diri dari
agama, kecemasan ini nampaknya menjadi semakin beralasan. Bagaimana
manusia menghadapi problem-problem kemanusiaan modern dimana mereka
menghadapi apa yang disebut dengan mekanisasi kerja. Alat-alat produksi
baru yang dihasilkan oleh teknologi modern dengan proses mekanisasi,
otomatisasi dan standarisasinya, ternyata menyebabkan manusia cenderung
menjadi elemen yang mati dari proses produksi. Teknologi modern yang
sesungguhnya diciptakan untuk pembebasan manusia dari kerja ternyata
telah menjadi alat perbudakan baru. Manusia yang semula “merdeka”, yang
merasa menjadi pusat dari segala sesuatu (antroposentrisme), kini telah
diturunkan derajatnya menjadi tidak lebih sebagai bagian dari mesin,
mesin raksasa, teknologi modern.
Mengapa hal seperti ini bisa
terjadi? Ada beberapa jawaban yang dapat diajukan untuk itu : pertama,
argumen historis, “dosa” anak-cucu Renaissance yang memisahkan antara
aktivitas ilmiah dengan nilai-nilai keagamaan di masa lalu menjadikan
ilmu bergerak tanpa kendali dan kering dari rambu-rambu normatif. Kedua,
argumen etis-normatif, orientasi akademik mengalami pergeseran dari
wilayah keilmuan ke wilayah pasar yang cenderung profit oriented,
sehingga demi uang, segolongan ilmuwan tidak segan-segan melanggar kode
etik ilmiah. Hal ini juga membuat kalangan ilmuwan tertentu seolah-olah
sengaja “menutup mata” bahkan mengabaikan fungsi prediksi dan kontrol
dari ilmu pengetahuan. Sehingga disini patut kita renungkan ‘ungkapan
kegelisahan hati’ Albert Einstein :

"Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah,
hanya
membawa kebahagiaan yang sangat sedikit? Ilmu yang seharusnya
membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah
menjadikan manusia budak-budak mesin.
Jawaban yang sederhana adalah karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya
secara wajar"
wallahu 'a'lam bi al-shawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar