3.02.2012

KAJIAN PEMIKIRAN ISLAM

Islam, HAM dan Kebebasan Beragama (1)

Upaya pembaruan pemikiran keagamaan (tajdid) merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh kaum Muslim, sesuai sabda Nabi Muhammad saw (Sunan Abu Dawud), bahwa di setiap penghujung abad, akan muncul seorang yang memperbaharui (pemikiran) keagamaan Islam. Pembaruan – dalam arti tajdid – adalah suatu siklus alami dalam pemikiran keagamaan Islam. Di sepanjang sejarah Islam, memang terdapat pemikir-pemikir besar yang berilmu tinggi, serius, ikhlas, yang memberikan kontribusi besar dalam perkembangan khazanah pemikiran dan keilmuan Islam, dan disebut pembaharu. Sebut saja, nama-nama Umar ibn Abdul Aziz, Imam Sayfii, al-Ghazali, Ibn Taimiyah, dan sebagainya.

Mereka tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Islam, karena kesungguhan, keihklasan, dan kedalaman serta keluasan ilmu mereka. Sebagai pembaru selain menggali, mendalami, dan menekuni dengan serius ilmu-ilmu keislaman – al Qur’an, hadits, tafsir, sejarah Islam, dan sebagainya – mereka juga menguasai pemikiran dari peradaban lain, seperti filsafat Yunani, Teologi Kristen dan ilmu-ilmu lain yang berkembang masa itu. Akan tetapi para ulama masa itu tidak silau dan terjebak ke dalam “worldview” lain yang bertentangan dengan ‘worldview Islam”; mereka mampu memfilter dan menempatkan pemikiran dan konsep-konsep dari “peradaban asing” itu dalam kerangka “worldview” Islam.

Ketika peradaban Islam menjadi sangat kuat dan dominan pada abad pertengahan, masyarakat Eropa cenderung meniru atau “berkiblat ke Islam”. Kini ketika giliran kebudayaan Barat yang kuat dan dominan maka proses peniruan itu juga terjadi. Terbukti sejak kebangkitan Barat dan lemahnya kekuasaan politik Islam, para ilmuwan Muslim belajar berbagai disiplin ilmu termasuk belajar Islam ke Barat dalam rangka meminjam. Hanya saja karena peradaban Islam dalam kondisi terhegemoni maka kemampuan memfilter konsep-konsep dalam pemikiran dan kebudayaan Barat juga lemah.

Tidak heran, jika saat ini, banyak yang cenderung melihat Barat sebagai “kiblat pemikiran” tidak saja dalam sains-teknologi tapi juga dalam bidang keagamaan (religious studies). Pemikiran dan kebudayaan Barat yang berakar pada filsafat Yunani, tradisi Judeo-Christian, dan konsep-konsep tribalisme berbagai suku di Eropa, telah memukau banyak pemikir Muslim. Banyak yang kemudian berfikir, agar Muslim maju tidak ada jalan lain kecuali dengan menjiplak Barat, sampai hal-hal yang bersifat fisik – seperti yang dilakukan Kemal Attaturk di Turki.

Di saat kebudayaan barat semakin dominan timbul suatu pemikiran bahwa jika peradaban Barat lahir dan berkembang melalui alam pikiran, tradisi dan pandangan hidup Barat sendiri, maka adalah sesuatu yang afortiori untuk memandang Islam sebagai peradaban yang lahir, berkembang dan dapat terus berkembang melalui pandangan hidup dan tradisinya sendiri. Dalam artian bahwa peradaban Islam berkembang dan hanya dapat berkembang oleh karena pandangan hidup Islam sendiri.

Bersambung :-)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar