2.18.2012

ORANG TIMUR BERPIKIRAN BARAT

Oleh: Prof. DR. Yusril Ihza Mahendra, SH. M.Sc

Sudah lama rasanya saya tak memberi kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, kampus saya sendiri. Hari ini, jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UI memberi kesempatan pada saya untuk memberikan kuliah umum tentang sejarah ketatanegaraan Indonesia dan isu-isu aktual ketatanegaraan di Indonesia.
Memandang lebih dari 200 orang adik-adik mahasiswa duduk di hadapan saya sedemikian rupa, mengingatkan saya bagaimana indah, enak, sekaligus susahnya menjadi mahasiswa itu.

Dalam sejarahnya, sesungguhnya Indonesia tidak pernah mengalahkah siapa-siapa dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Awalnya, kita dijajah Belanda. Tahun 1942 Belanda dikalahkan, dan menyerah kepada Jepang. Selanjutnya, kita menjadi jajahan Jepang. Jepang memasukkan kita dalam satu barisan besar Asia Timur Raya. Ketika Jepang dibom oleh sekutu, Nagasaki dan Hiroshima hancur, Kaisar Jepang menyatakan menyerah kepada sekutu. Akibatnya, terjadi kevakuman di Indonesia. Kondisi kevakuman ini yang dimanfaatkan oleh Soekarno-Hatta memproklamasikan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pertanyaannya, siapa yang dikalahkan oleh Indonesia? Indonesia tidak mengalahkan siapa-siapa.

Selesai mengakhiri kalimat itu, saya perhatikan beberapa ekspresi serius di wajah mahasiswa itu. Ada yang heran, ada pula yang tampaknya tak setuju dengan pernyataan saya itu.

Sayangnya, hari ini, mahasiswa-mahasiswa dan intelektual kita, bidang hukum tata negara khususnya, lebih menguasai teori-teori ketatanegaraan di dunia Barat. Mereka menguasai bagaimana sejarah Amerika, Inggris, revolusi Perancis, negara-negara Eropah dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit yang paham detail-detailnya. Sementara, penguasaan atas ketatanegaraan di Indonesia sendiri relatif minim.

Hari ini , tanpa kita sadari, kita pada umumnya telah menjadi Orang-orang Timur yang Berpikiran Barat. Kita begitu fasih menceritakan tentang sejarah politik barat, filsafat barat, hukum di dunia barat, dan segala yang ada di barat. Sementara, pemahaman kita tentang dunia kita yang di Timur ini, sangat minim, bahkan dapat disebut mengkhawatirkan. Padahal, kalau saja kita mau menelaah lebih serius, pemikir-pemikir kenegaraan di Nusantara ini tidaklah kalah banyak dan bermutu.

Sebut misalnya, Raja Ali Haji. Kita hari ini, lebih mengenalnya sebagai Penyair dan Satrawan Melayu. Padahal, beliau juga termasuk intelektual pemikir kenegaraan di zamannya. Konsep negara yang tertuang dalam dua bukunya, Mukaddimah fi Intizam, dan Tsamarat Al Muhimmah, misalnya, jarang sekali dilakukan pengkajian mendalam. Kedua buku itu menelaah serius bidang ketatanegaraan, hukum, dan peradilan. Sementara mahakarya di bidang satra, Gurindam pun jarang dikaji pula. Bukan hanya itu, konsep Negara Kertagama dan semisalnya, serta konsep-konsep kesultanan di Nusantara jarang mendapat perhatian serius apalagi penelitian mendalam dari adik-adik mahasiswa dan intelektual kita hari ini. Seharusnya, penggalian atas khazanah sistem ketatanegaraan yang ada di Nusantara harus menjadi perhatian kita semua, mahasiswa hukum tata negara ini khususnya.

Sejenak saya perhatikan lagi wajah-wajah adik mahasiswa itu semakin serius dan penasaran.

Akhirnya kuliah dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, ada perasaan bangga dan senang dalam diri saya. Bobot pertanyaan dan perhatian atas kondisi kekinian dalam konteks ketatanegaraan, seperti persoalan Wakil Menteri yang ditanyakan oleh salah seorang mahasiswa, dan persoalan peran dan fungsi ahli tata negara ke depan, adalah beberapa di antara pertanyaan-pertanyaan yang saya jawab dengan serius pula.

Ya, rasanya memang saya harus kembali ke habitat semula, menjadi Dosen yang berhadapan dengan komunitas intelektual muda yang akan meneruskan generasi Indonesia ke depan, di samping sebagai politikus dan kegiatan yang berkaitan dengan dunia penasehat hukum (advokat), untuk berbagi dan menelaah persoalan-persoalan kebangsaan dan kenegaraan dalam perspektif yang lebih akademis itu bersama-sama generasi intelektual muda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar