12.23.2008

Ghazwul Fikri; Sebuah Tantangan Da’wah

Ghazwul Fikri; Sebuah Tantangan Da’wah
Oleh : Wildan Hasan

Tiada Da’wah tanpa Tantangan
Da’wah dimaknai beragam oleh para Ulama, namun tetap memiliki kesamaan hakikat makna yaitu menuju perbaikan Aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak terhadap setiap individu atau kelompok melalui konsep amar ma’ruf nahi munkar.

Da’wah berasal dari kata da’a, yad’u, masdarnya du’a-an wada’an, yang artinya memanggil dan mengundang (A.W. Munawir 1984:438)....
Sedangkan menurut istilah da’wah ialah suatu kegiatan ajakan, baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individu maupun kelompok suapaya timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengamalan terhadap ajaran agama yang disampaikan kepadanya. Menurut Imam Ibnu Taimiyah da’wah ialah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah swt dan kepada apa yang dibawa oleh para Rasul-Nya dengan cara membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.

Intinya Da’wah Islam adalah setiap usaha untuk mengajak manusia membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada hamba (‘Ibadatul Ibad) kemudian menyerahkan segala bentuk penghambaan hanya kepada Allah semata Robb semesta alam. Dalam pengertian yang lebih integeralistik, da’wah merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang ditangani oleh para pengemban da’wah untuk mengubah sasaran da’wah agar bersedia masuk ke jalan Allah, dan secara bertahap menuju kehidupan yang Islami. Suatu proses yang berkesinambungan adalah suatu proses yang bukan insidental atau kebetulan, melainkan benar-benar direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara terus menerus oleh para pengemban da’wah dalam rangka mengubah perilaku sasaran da’wah sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan.

Menurut Muhammad Natsir, dakwah mempunyai dua sisi yang komplementer yaitu membina umat dan membentengi umat dari bahaya yang batil (binaan wa difa’an). Maka dalam makna inilah bahwa setiap bentuk, sifat dan dzat pasti ada anonimnya. Begitu pula dengan da’wah pasti ada antitesisnya. Da’wah kepada kebenaran pasti ada tantangannya yakni da’wah kepada kebatilan. Sebagaimana Tauhid lawannya syirik, sunnah lawannya bid’ah dan seterusnya. Hal demikian niscaya terjadi karena semua telah diatur oleh Allah yang maha memiliki otoritas mengatur kehidupan. Allah telah mengatur dunia ini sebagai lahan ujian bagi manusia siapakah yang paling baik amalnya (QS. Al-Mulk:2). Sehingga Allah menghadirkan pada setiap kebaikan tantangan dan ujiannya. Maka sungguh kita harus optimis dan bersabar terhadap segala tantangan yang memang mesti adanya. Karena Allah hanya akan melihat dan menilai sebaik apa prosesnya bukan pada hasilnya. Maka dalam konsep Islam segala usaha mewujudkan kebaikan harus melalui proses yang baik sesuai dengan syari’at Islam. Sesungguhnya keimanan seseorang ditentukan oleh seberapa mampu dirinya menghadapi ujian. Allah swt berfirman “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?” (Al-Ankabut 29:2)

Ghazwul Fikri; Tantangan da’wah paling berbahaya
Tantangan da’wah bentuknya senantiasa berubah-ubah menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan tempat namun tetap memiliki hakikat yang tidak berubah yakni upaya mengajak kepada kebatilan dan kemunkaran. Maka dengan karakteristik seperti itu kebatilan tetap dapat diketahui sekalipun dibungkus dengan bungkusan yang indah dan mempesona. Sama halnya dengan tantangan da’wah terkini yang kemudian disimpulkan dengan istilah Ghazwul Fikri.

Ghazwul fikri berasal dari kata ghazwun dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan "Perang Pemikiran". Yang dimaksud dengan perang pemikiran ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah swt untuk meracuni pikiran umat Islam agar jauh dari Islam. Akhirnya membenci Islam, dan target akhir, Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini. Kenapa Ghazwul Fikri disebut sebagai tantangan da’wah paling berbahaya? Sebab dibandingkan dengan kebatilan-kebatilan dalam bentuk lain, Ghazwul Fikri jauh lebih merusak dan menghancurkan bahkan secara permanen. Dibandingkan dengan perang fisik atau militer, maka Ghazwul fikri ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

1. Dana yang dibutuhkan tidak sebesar dana yang diperlukan untuk perang fisik.
2. Sasaran ghazwul fikri tidak terbatas.
3. Serangannya dapat mengenai siapa saja, dimana saja dan kapan saja.
4. Tidak ada korban dari pihak penyerang.
5. Sasaran yang diserang tidak merasakan bahwa sesungguhnya dirinya dalam kondisi diserang.
6. Dampak yang dihasilkan sangat fatal dan berjangka panjang.
7. Efektif dan efisien.

Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan kaum muslimin dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran relatif berjumlah sedikit. Perang militer yang mereka lancarkan kepada kaum muslimin hanya membuahkan kelelahan tiada ujung. Karena bisa jadi bangsa muslim dapat mereka kuasai, kekayaannya bisa mereka keruk sedemikian rupa, tapi perlawan pasti selalu bergelora membuat mereka tidak bisa duduk tentram di bumi kaum muslimin. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadist dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (penelitian dan pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai.

Maka dilancarkanlah ghazwul fikri yang bertujuan Ifsadul Akhlak (merusak akhlak kaum muslimin) dan Tahthimul fikrah (menghancurkan fikrah). Ghazwul fikri menggiring umat Islam pada penyelewengan akhlak dan fikrah, dari akhlak dan fikrah islamiyah kepada akhlak dan fikrah jahiliyyah; misalnya adalah dengan berusaha memunculkan sifat munafik, yakni mengaku beriman kepada Al-Qur’an, tapi tidak mau berhukum dengan Al-Qur’an.

Target minimal dari ghazwul fikri adalah terjauhnya kaum muslimin dari ajaran agamanya. Dalam salah satu konferensi kristenisasi pada tahun 1935, Tokoh Yahudi Internasional Samuel Zwemer pernah dikritik seorang supervisor kristenisasi tentang upaya kristenisasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika yang dianggapnya gagal, “Meskipun sudah banyak uang yang dihamburkan dan tenaga yang dicurahkan, namun tidak seorang pun ummat Islam yang masuk Kristen…”

Zwemer menanggapi kritikan itu dengan perkataannya, “Tujuan kita bukan mengkristenkan umat Islam, ini tidak akan sanggup kita laksanakan. Tetapi target kita adalah menjauhkan bangsa muslim dari Islam. Ini yang harus kita capai, walaupun mereka tidak bergabung dengan kita. Sebenarnya tugas kalian bukan mengeluarkan orang-orang Islam dari agamanya menjadi pemeluk agama kalian. Akan tetapi menjauhkan mereka dari agamanya (Al Qur'an dan Sunnah). Sehingga mereka menjadi orang- orang yang putus hubungan dengan Tuhannya dan sesamanya (saling bermusuhan), menjadi terpecah- belah dan jauh dari persatuan. Dengan demikian kalian telah menyiapkan generasi-generasi baru yang akan memenangkan kalian dan menindas kaum mereka sendiri sesuai dengan tujuan kalian"

Begitu berbahayanya Ghazwul Fikri, maka harus ada langkah-langkah sistematis dan terarah untuk melawannya. Di antara langkah-langkah yang harus kita persiapkan adalah:

1. Meningkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an dan Hadits Nabi.
2. Menghidupkan forum-forum keilmuan, terutama pendalaman terhadap ilmu Diniyah. Dengan kata lain setiap kita harus meningkatkan tradisi ilmiah agar tidak tertipu propaganda-propaganda ilmiah yang dilancarkan musuh-musuh Islam.
3. Hidup Berjama’ah
4. Dakwah kepada masyarakat luas (pelajar, mahasiswa, buruh, pekerja, professional, birokrat, militer, politisi, dll.) untuk melakukan nasyrul fikrah islamiyah shahihah.
5. Mengisi dan menguasai seluruh lini kehidupan (ekonomi, sosial, politik, pendidikan, budaya)
6. Menguasai pemerintahan.

Ustadz Abdullah Nashih ‘Ulwan memberikan langkah-langkah penting yang harus dilakukan untuk membendung kebatilan Ghazwul Fikri diantaranya:
1. membentengi diri dengan kesadaran ilmu.
2. Membentengi diri dengan aqidah yang kuat.
3. bergabung dengan qiyadah (jama’ah) Islam yang mukhlis.
4. memperbanyak qa’idah mu’minah, yang terdiri dari kaum tua, muda, lelaki, dan wanita di seluruh negeri-negeri Islam.

Jika yang demikian itu telah kita lakukan, maka saat itu kita telah memikul tanggung jawab, telah menjalankan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas risalah yang terbeban di pundak kita dan telah membongkar sarang-sarang kerusakan dan komplotan musuh yang bercokol di tengah-tengah umat. Dan kita telah berhasil menegakkan eksistensi politik yang besar di tengah-tengah masyarakat. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Wallahu a’lam bish showab

Forum Kajian Muhammad Natsir
For World Civilization

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar