Dalam wawancara di radio Dakta Bekasi Selasa siang tanggal 8 Februari 2011 terkait pemberian sertifikat kesesuaian syariah kepada ESQ oleh MUI pada Senin 7 Februari 2011, Ary Ginanjar menyampaikan beberapa hal di antaranya:
Pertama, MUI telah melakukan kajian terhadap ESQ selama 6 bulan dan hasilnya ESQ tidak pernah melanggar aqidah, ibadah dan syariah Islam. Artinya ESQ tidak mengajarkan kesesatan dan pelanggaran terhadap syariah.
Kedua, Kekeliruan yang terjadi selama akibat komunikasi yang keliru bukan materi ESQ yang keliru.
Ketiga, yang terjadi selama ini adalah salah paham bukan paham ESQ yang salah.
Keempat, ESQ dan MUI telah membentuk Dewan Penasihat Syariah ESQ yang dipimpin oleh KH. Ma’ruf Amin, Prof. Dr. Didin Hafiduddin, Prof. Dr. Utang Ranuwiharja dan Dr. Khalil Nafis.
Kelima, ESQ berkomitmen untuk mendorong kebangkitan bangsa yang terpuruk akibat masalah moralitas
Keenam, diakhir wawancara Ary Ginanjar mengutip ‘al-Hikmatu dhollatul mukmin,,,” ia sebut sebagai sabda Rasulullah?
Bagi saya yang ikut menjadi salah satu saksi pertemuan antara Ary Ginanjar Agustian dengan Ust. Farid Ahmad Oqbah, MA (Direktur Islamic Center Al-Islam Bekasi/ Narasumber Kajian Aqidah Radio Dakta 107 FM Bekasi), pada hari selasa 20 Juli 2010 pukul 18.30 - 20.00 WIB di Meeting Room DAKTA Jl. KH. Agus Salim Bekasi. Pertemuan itu terkait penjelasan atas beberapa koreksi Ust. Farid terhadap ESQ sebelumnya. Sementara hingga saat ini saya masih mendampingi kajian beliau di Dakta, tahu betul bahwa beliau tidak pernah berhenti untuk terus mengingatkan ESQ. Beliau betul-betul merasa prihatin ESQ masih belum juga kembali kepada yang haq. Saat tulisan ini dibuat beliau masih berada di Qatar, entah apa pendapat beliau apabila beliau mengetahui MUI memberikan sertifikat kesesuaian syariah kepada ESQ. Sementara beliau beranggapan masih banyak problem di ESQ.
Ary Ginanjar sebenarnya mengundang Ust Farid melalui sms untuk hadir dalam pertemuan antara ESQ dengan MUI tersebut. Namun karena beliau harus berangkat ke Qatar beliau tidak dapat hadir dan meminta saya untuk hadir bersama salah satu santrinya Ust. Anung Al-Hamat, Lc. sayang saya maupun beliau juga tidak dapat memenuhi permintaan Ust. Farid. Saya kira pertemuan ESQ dengan MUI adalah upaya MUI mengklarifikasi isu yang mengemuka selama ini soal penyimpangan ESQ, ternyata di luar dugaan MUI memberikan sertifikat kesesuaian syariah kepada ESQ. Entah apakah Ust. Amin Djamaluddin Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) pakar dan peneliti aliran dan paham sesat yang juga pengurus MUI Pusat terlibat atau tidak dalam persetujuan MUI bahwa ESQ sesuai syariah?
Tentu saya tidak akan begitu sembrono mengomentari keputusan MUI tersebut, disamping hormat saya atas hasil pemikiran para ulama juga saya belum mendapatkan salinan keputusan itu beserta dasar-dasar pertimbangannya. Mungkin bang Asrarun Ni’am Shaleh sekretaris Majelis Fatwa MUI apabila ‘kebetulan’ membaca tulisan ini bisa berbaik hati kepada saya.
‘Ala kulli hal, dari point-point yang disampaikan Ary Ginanjar dalam wawancara tersebut saya menangkap kesan Ary Ginanjar tidak pernah merasa bersalah atau ada keyakinan bahwa ESQ tidak pernah keliru selama ini. Ini dahsyat! Ternyata ada juga manusia atau lembaga yang tidak pernah keliru apakah dari sisi aqidah, ibadah maupun syariah.
Sementara Rasulullah saw bersabda dari hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra: “Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang pernah berbuat salah adalah yang segera bertaubat.” (HR at-Tirmidzi bab as-shifat al-qiyamah: 2499 dan Ibn Majah bab az- zuhud: 4251).
Point pertama Ary Ginanjar menyampaikan, MUI telah melakukan kajian terhadap ESQ selama 6 bulan dan hasilnya ESQ tidak pernah melanggar aqidah, ibadah dan syariah Islam. Artinya ESQ tidak mengajarkan kesesatan dan pelanggaran terhadap syariah.
Seperti saya katakan diatas perlulah kita mengetahui apa dasar MUI mengeluarkan keputusan itu, agar kita tidak digolongkan kepada muqallid. Jika MUI benar, saya bertaubat kepada Allah swt atas kesalahpahaman saya selama ini kepada ESQ dan mudah-mudahan Ary Ginanjar dan para pembela ESQ memaafkan saya dan memaklumi kebodohan saya selama ini. Namun, nampaknya kita perlu menunggu apa pendapat dari ulama-ulama lain, Ust Farid khususnya. Ulama sekaliber beliau yang dakwahnya sudah mendunia perlu kita dengarkan pendapatnya, sekalipun tentu beliau juga adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar.
Point kedua Ary Ginanjar menyampaikan, Kekeliruan yang terjadi selama ini akibat komunikasi yang keliru bukan materi ESQ yang keliru. Subhanallah, komunikasi keliru seperti apakah yang dimaksud Ary Ginanjar? Apakah karena tidak pernah mengikuti pelatihan ESQ, buktinya Ust Farid sendiri adalah alumni ESQ ke-46. Apakah karena tidak seringnya berkomunikasi, pertanyaannya komunikasi sesering apa yang bisa tidak menimbulkan miskomunikasi. Apakah karena perbedaan kapasitas ilmu dan keimanan, kalau ini pertimbangannya bisa jadi demikian.
Ary Ginanjar mengatakan bukan materi ESQ yang keliru. Lalu kenapa saat dulu Ust Farid secara gamblang mengoreksi materi-materi ESQ, Ary diam saja dan mengangguk-anggukkan kepala? Saya menangkap kesan Ary menerima masukan Ust Farid waktu itu.
Point ketiga Ary Ginanjar mengatakan, yang terjadi selama ini adalah salah paham bukan paham ESQ yang salah. Berarti Ust Farid, Ust Amin Djamaluddin, Ust. Hartono Ahmad Jaiz, Ust. Muhammad Al-Khattath, Ust. Salimin Dani, Ust. Bernard Abdul Jabbar dan asatidzaat lainnya yang sepaham telah salah paham terhadap ESQ. Secara tidak langsung beliau-beliau ini dianggap oleh Ary Ginanjar memiliki pemahaman yang keliru dalam menimbang ESQ.
Point keempat Ary Ginanjar mengatakan, ESQ dan MUI telah membentuk Dewan Penasihat Syariah ESQ yang dipimpin oleh KH. Ma’ruf Amin, Prof. Dr. Didin Hafiduddin, Prof. Dr. Utang Ranuwiharja dan Dr. Khalil Nafis.
Hampir tidak ada yang bisa saya komentari dari point ini selain semoga Allah swt tetap memberikan cahaya petunjuk-Nya kepada beliau-beliau dari MUI dan para tokoh umat di atas terutama kepada saya yang jahil dan dhaif.
Salam hormat saya yang setinggi-tingginya teruntuk Ust Didin Hafiduddin yang berkenan menjadi mentor kami di Pascasarjana UIKA Bogor. Semoga ilmu yang beliau curahkan kepada kami menjadikan kami santri-santri yang hanif. Amien (maaf sedikit curhat).
Point kelima Ary Ginanjar mengatakan, ESQ berkomitmen untuk mendorong kebangkitan bangsa yang terpuruk akibat masalah moralitas. Ary Ginanjar berbicara hal yang sangat bagus terkait masalah moralitas dalam wawancara tersebut dan saya sepakat dengan beliau dalam hal ini.
Namun sedikit yang mengganjal, saat seseorang atau sekelompok orang yang terlalu cenderung berfokus hanya pada persoalan moralitas dan hati nurani tanpa mengindahkan aqidah dan syariah, kemungkinan terjadinya penyimpangan cukup terbuka. Apalgi jika dikaitkan dengan pergerakan the New Age Movement, freemasonry zionis yang juga untuk menutupi kesesatannya berselubung dibalik slogan-slogan moralitas dan hati nurani kemanusiaan. Tentu ini terlalu jauh atau sama sekali tidak berkaitan dengan ESQ. Wallahu A’lam
Point keenam Ary Ginanjar mengutip kalimat mutiara yang ia sebut sebagai ucapan Rasulullah saw yaitu “Hikmah itu barang hilangnya orang iman di mana dia menjumpai maka orang iman yang lebih berhak atas kalimat tersebut.”
Sebenarnya kalimat itu berdasarkan perkataan para ulama diantaranya Ibn Qayyim rahimahullahu dalam satu kitabnya, akan tetapi ada yang memahaminya secara marfu. Namun tidak saya temukan ‘yang shahih’ dalil yang menguatkannya.
Memang ada hadits berbunyi :
الكلمة الحكمة ضالة المؤمن حيثما وجدها فهو أحق بها
Artinya : ”Adapun kalimat hikmah itu barang hilangnya orang iman di mana dia menjumpai maka orang iman yang lebih berhak atas kalimat tersebut”.
Tapi hadits ini lemah sekali, diriwayatkan oleh Tirmidizi (5/51) no. 2687, beliau mengisyaratkan kelemahannya sebab Ibrahim ibn Al-Fadhl Al-Makhzumi dengan berkata, ”Gharib... dan seterusnya”. Ibn Majah (2/1395) no. 4169 – ini lafazhnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Lihat Ibn Hibban dalam Adh-Dhu’afa (1/104 – biografi no. 15, Ibrahim ibn Al-Fadhl Al-Makhzumi).
Imam Al-Albani berkata, ”Dha’if jiddan” (lemah sekali).
Ada juga hadits yang mirip :
احبسوا على المؤمنين ضالتهم قالوا وما ضالة المؤمن قال العلم
Artinya : ”Simpanan apa yang hilang dari kaum mukmin”. Para sahabat bertanya, ”Apa gerangan yang hilang dan sedang dicari kaum mukmin?”. Beliau menjawab, ”Ilmu”.
Hadits ini maudhu (palsu), Diriwayatkan oleh Ad-Dailami (1/20), didalam sanadnya ada Ziad ibn Abi Hasan yang terbukti banyak meriwayatkan hadits-hadits palsu. Juga ada Bakr ibn Khunais seorang perawi dha’if. Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah no. 821.
Tampaknya kontroversi ESQ belum berakhir dengan sertifikat kesesuaian syariah yang diberikan MUI kepada ESQ. Dengan demikian akan banyak lagi ilmu dan hikmah yang mengemuka sehingga kita bisa semakin cerdas dalam beragama.
Sebagaimana Ust Farid senantiasa sampaikan bahwa ESQ adalah aset besar umat. Oleh karena itu harus dijaga dengan dorongan, nasehat dan masukan agar aset ini tetap terarah dan potensial untuk izzul Islam wal Muslimin. Amien
2.09.2011
2.08.2011
Hadirilah Kajian remaja Islam
HADIRILAH....
Kajian Remaja Islam Intensif I yayasan Aqidah
Tema; "Ketika virus merah jambu itu hadir_kemanakah cinta harus berlabuh?"
Pemateri; Wildan Hasan (Magister UIKA Bogor/ Penyiar Radio Dakta 107 FM)
Waktu; Sabtu, 12 Februari 2011/ 15.00 WIB s/d selesai
Tempat; Aula SDIT Aqidah Perum Graha Cikarang ds Simpangan Cikarang Utara kab Bekasi (Lemah Abang dekat RS Annisa)
GRATIS u/ SMP dan SMA sederajat, peserta dapet snack, soft copy materi, door frice dan games2 menarik.
TEMPAT TERBATAS
Kajian Remaja Islam Intensif I yayasan Aqidah
Tema; "Ketika virus merah jambu itu hadir_kemanakah cinta harus berlabuh?"
Pemateri; Wildan Hasan (Magister UIKA Bogor/ Penyiar Radio Dakta 107 FM)
Waktu; Sabtu, 12 Februari 2011/ 15.00 WIB s/d selesai
Tempat; Aula SDIT Aqidah Perum Graha Cikarang ds Simpangan Cikarang Utara kab Bekasi (Lemah Abang dekat RS Annisa)
GRATIS u/ SMP dan SMA sederajat, peserta dapet snack, soft copy materi, door frice dan games2 menarik.
TEMPAT TERBATAS
Mohon Doa...>>>>>
Subhanallah....Sungguh MUSIBAH BESAR!
Dengan alasan kesibukan - alasan yang diada-adakan - produktifitas menulis menurun.
Harusnya tidak mencari-cari justifikasi, malas katakan saja MALAS. Huh....
Benar kata Bang Adian; "Menulis itu tidak sulit, yang sulit adalah mulai menulis. Maka menulislah."
Bismillah, mohon doa agar bisa bangkit lagi. Mohon doa agar kemampuan saya meningkat, dari menulis artikel ke menulis buku. Amien ya Rabb
Allahumma yassir amri...>>>>
Dengan alasan kesibukan - alasan yang diada-adakan - produktifitas menulis menurun.
Harusnya tidak mencari-cari justifikasi, malas katakan saja MALAS. Huh....
Benar kata Bang Adian; "Menulis itu tidak sulit, yang sulit adalah mulai menulis. Maka menulislah."
Bismillah, mohon doa agar bisa bangkit lagi. Mohon doa agar kemampuan saya meningkat, dari menulis artikel ke menulis buku. Amien ya Rabb
Allahumma yassir amri...>>>>
12.22.2010
Just About Mom...>>>>
Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal.
Kesesatan dan penyimpangan umat tidaklah terjadi melainkan karena jauhnya mereka dari petunjuk Allah dan dari ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya. Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, di mana kalian tidak akan tersesat selama berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ kitab Al-Qadar III)
Sungguh telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an betapa pentingnya peran wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, mapun sebagai anak. Demikian pula yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Adanya hal-hal tersebut juga telah dijelaskan dalam sunnah Rasul.
Peran wanita dikatakan penting karena banyak beban-beban berat yang harus dihadapinya, bahkan beban-beban yang semestinya dipikul oleh pria. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita untuk berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya, dan santun dalam bersikap kepadanya. Kedudukan ibu terhadap anak-anaknya lebih didahulukan daripada kedudukan ayah. Ini disebutkan dalam firman Allah,
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)
Begitu pula dalam firman-Nya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)
Dari hadits di atas, hendaknya besarnya bakti kita kepada ibu tiga kali lipat bakti kita kepada ayah. Kemudian, kedudukan isteri dan pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa seseorang (suami) telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -semoga Alah merahmatinya- menjelaskan pengertian firman Allah: “mawaddah wa rahmah” bahwa mawaddah adalah rasa cinta, dan rahmah adalah rasa kasih sayang.
Seorang pria menjadikan seorang wanita sebagai istrinya bisa karena cintanya kepada wanita tersebut atau karena kasih sayangnya kepada wanita itu, yang selanjutnya dari cinta dan kasih sayang tersebut keduanya mendapatkan anak.
Sungguh, kita bisa melihat teladan yang baik dalam masalah ini dari Khadijah, isteri Rasulullah, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di goa Hira’. Nabi pulang ke rumah dengan gemetar dan hampir pingsan, lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang demikian itu, Khadijah berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu.
Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)
Kita juga tentu tidak lupa dengan peran ‘Aisyah. Banyak para sahabat, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, menerima hadits darinya berkenaan dengan hukum-hukum agama.
Tidak diragukan bahwa rumah yang penuh dengan rasa cinta, kasih dan sayang, serta pendidikan yang islami akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Dengan izin Allah seseorang yang hidup dalam lingkungan rumah seperti itu akan senantiasa mendapatkan taufik dari Allah dalam setiap urusannya, sukses dalam pekerjaan yang ditempuhnya, baik dalam menuntut ilmu, perdagangan, pertanian atau pekerjaan pekerjaan lain.
Ibu... betapa indah dan sucinya kata ini. Kata yang membawa wanginya keramahan dan cinta kasih ke dalam jiwa, dan membuat kita merasakan kehangatan dan kemurniannya.
Dunia Barat sekarang baru menemukan nilai mulia Ibu, sedangkan umat Islam telah berabad-abad mempercayai kedudukannya yang mulia berdasarkan ajaran Ilahi melalui Islam. Islam percaya pada nilai ibu yang luar biasa, dan telah menarik perhatian manusia melalui berbagai ungkapan dan pernyataan. Bahkan Islam menganggap bahwa mencapai tahap akhir kesempurnaan, yakni sorga, tergantung pada kerelaan Ibu. Nabi Muhammad saw bersabda, "Sorga terletak di bawah telapak kaki ibu."
Dalam memuliakan kedudukan ibu, Islam tidak membatasi diri pada nasihat, perintah dan anjuran lisan. Tetapi Islam juga memandang perintah dan larangan ibu sebagai suatu kewajiban untuk dilaksanakan dalam hal-hal tertentu. Misalnya, dalam perkara yang disunnahkan Allah, tetapi berlawanan dengan larangan ibu, maka anak-anak dinasihati untuk menaati larangan ibu mereka.
Apabila seorang anak ingin berpuasa sunnah, atau melakukan perjalanan yang disunnahkan, tetapi ibunya melarangnya, maka wajiblah bagi si anak untuk menaati ibunya. Apabila anak itu melawan kehendak ibunya, maka bukan saja ia tidak memperoleh pahala karena amalnya itu, melainkan ia justru memperoleh dosa dikarenakan penolakannya untuk menaati ibunya.
Perkara lain dimana perintah ibu dihormati sebanding dengan perintah Allah ialah apabila perintah Allah berlawanan dengan larangan ibu, dengan syarat bahwa perbuatan itu tidak termasuk dalam perintah yang wajib seperti shalat fardhu atau puasa Ramadhan. Misalnya dalam masalah jihad, orang yang mampu berperang harus ikut serta dalam pertempuran. Tetapi apabila seorang muda memenuhi semua persyaratan untuk pergi jihad, kecuali bahwa ibunya tidak mengizinkannya pergi (dengan syarat bahwa keabsenannya tidak membahayakan umat Islam), maka ia boleh untuk tidak ikut dalam peperangan semata-mata karena larangan ibunya.
Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya muda dan kuat, siap bertindak dan berbakti, dan ingin sekali pergi ke medan jihad untuk kemajuan Islam! Tetapi ibu saya tidak membiarkan saya meninggalkannya untuk pergi berperang." Nabi yang mulia bersabda, "Pergilah tinggal bersama ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa pahala yang engkau dapatkan untuk melayaninya meskipun hanya semalam, dan membahagiakannya dengan kehadiranmu, jauh lebih besar dari pahala perang jihad selama satu tahun."
Mari kita renungkan kisah ini. Ini mengenai NILAI KSH IBU SeOrg ank yg mdpti ibu y sdg sibuk d dpur.Kmd mnuLis sst dsLbr krtas.Ibu mnrima krtas tsb&mbcny Ongkos upah mbnt Ibu: -Mbntu k warung 20rb -Mjg adik 20rb -Buang sampah 5rb -Mbrskn t4 tdr 10rb -Siram bunga 15rb -Nyapu 15rb JLh:85rb SLs mbc,Ibu tsnyum,m'ambiL pena&mnuLis dbLk krts: -Mngndung sLm 9 bLn-GRATIS -Jga mLm krn mjgmu-GRATIS -Airmata y mnetes krnmu-GRATIS -Kawatir mmikirkn kadaanmu-GRATIS -Mnyediakn mkn,mnum,pak.&kprLuanmu-GRATIS Jmlh KsLuruhn NiLai KasihQu:GRATIS Air mt ank bLinang stLh mbcny,lalu mmeLuk ibuny&bkata,"Aku Syg Ibu". Kmd dia m'ambiL pena&mnuLis dsurat yg dtuLisny: "LUNAS". "Mother is the super hero in the worLd".
Kesesatan dan penyimpangan umat tidaklah terjadi melainkan karena jauhnya mereka dari petunjuk Allah dan dari ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya. Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, di mana kalian tidak akan tersesat selama berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ kitab Al-Qadar III)
Sungguh telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an betapa pentingnya peran wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, mapun sebagai anak. Demikian pula yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Adanya hal-hal tersebut juga telah dijelaskan dalam sunnah Rasul.
Peran wanita dikatakan penting karena banyak beban-beban berat yang harus dihadapinya, bahkan beban-beban yang semestinya dipikul oleh pria. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita untuk berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya, dan santun dalam bersikap kepadanya. Kedudukan ibu terhadap anak-anaknya lebih didahulukan daripada kedudukan ayah. Ini disebutkan dalam firman Allah,
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)
Begitu pula dalam firman-Nya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)
Dari hadits di atas, hendaknya besarnya bakti kita kepada ibu tiga kali lipat bakti kita kepada ayah. Kemudian, kedudukan isteri dan pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa seseorang (suami) telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -semoga Alah merahmatinya- menjelaskan pengertian firman Allah: “mawaddah wa rahmah” bahwa mawaddah adalah rasa cinta, dan rahmah adalah rasa kasih sayang.
Seorang pria menjadikan seorang wanita sebagai istrinya bisa karena cintanya kepada wanita tersebut atau karena kasih sayangnya kepada wanita itu, yang selanjutnya dari cinta dan kasih sayang tersebut keduanya mendapatkan anak.
Sungguh, kita bisa melihat teladan yang baik dalam masalah ini dari Khadijah, isteri Rasulullah, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di goa Hira’. Nabi pulang ke rumah dengan gemetar dan hampir pingsan, lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang demikian itu, Khadijah berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu.
Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)
Kita juga tentu tidak lupa dengan peran ‘Aisyah. Banyak para sahabat, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, menerima hadits darinya berkenaan dengan hukum-hukum agama.
Tidak diragukan bahwa rumah yang penuh dengan rasa cinta, kasih dan sayang, serta pendidikan yang islami akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Dengan izin Allah seseorang yang hidup dalam lingkungan rumah seperti itu akan senantiasa mendapatkan taufik dari Allah dalam setiap urusannya, sukses dalam pekerjaan yang ditempuhnya, baik dalam menuntut ilmu, perdagangan, pertanian atau pekerjaan pekerjaan lain.
Ibu... betapa indah dan sucinya kata ini. Kata yang membawa wanginya keramahan dan cinta kasih ke dalam jiwa, dan membuat kita merasakan kehangatan dan kemurniannya.
Dunia Barat sekarang baru menemukan nilai mulia Ibu, sedangkan umat Islam telah berabad-abad mempercayai kedudukannya yang mulia berdasarkan ajaran Ilahi melalui Islam. Islam percaya pada nilai ibu yang luar biasa, dan telah menarik perhatian manusia melalui berbagai ungkapan dan pernyataan. Bahkan Islam menganggap bahwa mencapai tahap akhir kesempurnaan, yakni sorga, tergantung pada kerelaan Ibu. Nabi Muhammad saw bersabda, "Sorga terletak di bawah telapak kaki ibu."
Dalam memuliakan kedudukan ibu, Islam tidak membatasi diri pada nasihat, perintah dan anjuran lisan. Tetapi Islam juga memandang perintah dan larangan ibu sebagai suatu kewajiban untuk dilaksanakan dalam hal-hal tertentu. Misalnya, dalam perkara yang disunnahkan Allah, tetapi berlawanan dengan larangan ibu, maka anak-anak dinasihati untuk menaati larangan ibu mereka.
Apabila seorang anak ingin berpuasa sunnah, atau melakukan perjalanan yang disunnahkan, tetapi ibunya melarangnya, maka wajiblah bagi si anak untuk menaati ibunya. Apabila anak itu melawan kehendak ibunya, maka bukan saja ia tidak memperoleh pahala karena amalnya itu, melainkan ia justru memperoleh dosa dikarenakan penolakannya untuk menaati ibunya.
Perkara lain dimana perintah ibu dihormati sebanding dengan perintah Allah ialah apabila perintah Allah berlawanan dengan larangan ibu, dengan syarat bahwa perbuatan itu tidak termasuk dalam perintah yang wajib seperti shalat fardhu atau puasa Ramadhan. Misalnya dalam masalah jihad, orang yang mampu berperang harus ikut serta dalam pertempuran. Tetapi apabila seorang muda memenuhi semua persyaratan untuk pergi jihad, kecuali bahwa ibunya tidak mengizinkannya pergi (dengan syarat bahwa keabsenannya tidak membahayakan umat Islam), maka ia boleh untuk tidak ikut dalam peperangan semata-mata karena larangan ibunya.
Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya muda dan kuat, siap bertindak dan berbakti, dan ingin sekali pergi ke medan jihad untuk kemajuan Islam! Tetapi ibu saya tidak membiarkan saya meninggalkannya untuk pergi berperang." Nabi yang mulia bersabda, "Pergilah tinggal bersama ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa pahala yang engkau dapatkan untuk melayaninya meskipun hanya semalam, dan membahagiakannya dengan kehadiranmu, jauh lebih besar dari pahala perang jihad selama satu tahun."
Mari kita renungkan kisah ini. Ini mengenai NILAI KSH IBU SeOrg ank yg mdpti ibu y sdg sibuk d dpur.Kmd mnuLis sst dsLbr krtas.Ibu mnrima krtas tsb&mbcny Ongkos upah mbnt Ibu: -Mbntu k warung 20rb -Mjg adik 20rb -Buang sampah 5rb -Mbrskn t4 tdr 10rb -Siram bunga 15rb -Nyapu 15rb JLh:85rb SLs mbc,Ibu tsnyum,m'ambiL pena&mnuLis dbLk krts: -Mngndung sLm 9 bLn-GRATIS -Jga mLm krn mjgmu-GRATIS -Airmata y mnetes krnmu-GRATIS -Kawatir mmikirkn kadaanmu-GRATIS -Mnyediakn mkn,mnum,pak.&kprLuanmu-GRATIS Jmlh KsLuruhn NiLai KasihQu:GRATIS Air mt ank bLinang stLh mbcny,lalu mmeLuk ibuny&bkata,"Aku Syg Ibu". Kmd dia m'ambiL pena&mnuLis dsurat yg dtuLisny: "LUNAS". "Mother is the super hero in the worLd".
12.15.2010
Fatwa Ulama tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Para pembaca yang dirahmati Allah,
Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 1431 Hijriyah dan akan memasuki tahun baru hijriyah 1432, sebagian besar kaum muslimin telah mempersiapkan perayaan untuk tahun baru Islam tersebut, di antaranya dengan bertukar ucapan selamat satu sama lain maka apa kedudukan ucapan selamat tahun baru hijriyah dari sisi syar’i?
Di bawah ini kami mengutip beberapa fatwa ulama besar dalam seputar tahun baru:
1. Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz rahimahullah
Syaikh Bin Baz pernah ditanya:
Kami pada permulaan tahun baru hijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), maka apa hukum syar’i terkait ucapan selamat ini?
Syaikh Bin Baz menjawab sbb:
Ucapan selamat tahun baru hijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para Salafus Shalih, dan saya tidak mengetahui satupun dalil dari sunnah maupun Kitabullah yang menunjukkan pensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidak mengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semoga anda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itu kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya, adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.
2. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan 1:
Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah dengan pertanyaan sbb:
Syaikh yang mulia, apa hukum mengucapkan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita kepada orang yang mengucapkan selamat tahun baru hijriyah kepada kita?
Syaikh Utsaimin menjawab sbb:
Jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya. Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini. Seandainya seseorang mengucapkan mengucapkan selamat tahun baru kepadamu, maka jawablah: semoga Allah menyampaikan selamat kebaikan untukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan.
Tetapi ingat, jangan kamu memulainya karena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para Salafus Shalih bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah. Bahkan para Salaf belum menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafah Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu. (dikutip dari pertemuan bulanan ke-44 di akhir tahun 1417 H).
Pertanyaan 2:
Syaikh Utsaimin juga pernah ditanya: Syaikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah?
Maka Syaikh Utsaimin menjawab sbb:
Aku berpendapat bahwa memulai ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidak disyariatkan. Artinya, kami tidak menyatakan sunnahnya saling menyampaikan ucapan selamat tahun baru hijriyah.
Tetapi jika mereka melakukannya tidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun baru dengan memohon kepada Allah supaya menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan keberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah ini yang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasuk perkara ibadah.
(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-93 hari Kamis, 25 bulan Dzulhijjah tahun 1415H).
Pertanyaan 3:
Pada kesempatan lainnya, beliau juga pernah ditanya: Apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?
Maka beliau menjawab: Ucapan selamat atas kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan para Salafus Shalih. Maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengah manusia, meskipun fenomena ini sekarang berkurang, karena sebagian orang sudah memahaminya, alhamdulillah. Padahal sebelumnya mereka saling bertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.
Pertanyaan 4:
Pertanyaan lainnya kepada Syaikh Utsaimin: Apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?
Beliau menjawab: yaitu mereka mengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allah mengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikan pertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.
Pertanyaan 5:
Syaikh Utsaimin ditanya: Apakah diucapkan “Setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?”
Beliau menjawab: Tidak, setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitri atau di tahun baru.
(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-202 pada hari Kamis, 6 Muharram tahun 1420H).
3. Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah
Beliau pernah ditanya: Syaikh yang mulia semoga Allah memberikan anda taufik. Kebanyakan manusia saling mengucapan selamat tahun baru hijriyah. Apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah, misalnya: ‘Semoga menjadi tahun bahagia,’ atau ucapan: ‘Semoga kalian setiap tahun dalam kebaikan.’ Apakah ucapan ini disyariatkan?
Syaikh menjawab sbb:
”Ini adalah bid’ah. Ini bid’ah dan menyerupai ucapan selamat orang-orang Kristen dengan tahun baru Masehi, dan ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan para Salaf. Selain itu, tahun baru hijriyah adalah istilah para shahabat radhiyallahu anhum untuk penanggalan muamalat saja. Mereka tidak menganggapnya sebagai hari raya dan mereka mengucapkan selamat atasnya karena ini tidak ada dasarnya. Para shahabat menjadikan tahun hijriyah untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalat saja”.
4. Syaikh Abdul Karim Al-Khidhir
Doa kepada sesama muslim dengan doa umum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatan seperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapan selamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dan keceriaan pada wajah muslim lain.
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak memulai ucapan selamat, tapi jika seseorang memulai dengan ucapan selamat maka aku suka menjawabnya karena menjawab ucapan selamat itu wajib. Adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunnah yang diperintahkan dan juga bukan termasuk perkara yang dilarang.
KESIMPULAN:
1. Dari beberapa fatwa di atas dapat dipahami bahwa sebagian ulama besar membolehkan menjawab ucapan selamat saja tidak untuk memulainya, namun tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besar karena itu adalah adat kebiasaan, bukan diyakini sebagai ibadah yang disyariatkan.
2. Sebaiknya kita menjelaskan kepada umat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihan dalam ucapan selamat tahun baru hijriyah. Karena hal itu dikhawatirkan bisa terjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum Nasrani sebagaimana fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah.
3. Kita tidak disyariatkan untuk merayakan tahun baru hijriyah seperti perayaan hari raya (ied), karena perayaan sebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah. Wallahu a’lam bis-shawab. [ar/voa-islam.com]
Para pembaca yang dirahmati Allah,
Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 1431 Hijriyah dan akan memasuki tahun baru hijriyah 1432, sebagian besar kaum muslimin telah mempersiapkan perayaan untuk tahun baru Islam tersebut, di antaranya dengan bertukar ucapan selamat satu sama lain maka apa kedudukan ucapan selamat tahun baru hijriyah dari sisi syar’i?
Di bawah ini kami mengutip beberapa fatwa ulama besar dalam seputar tahun baru:
1. Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz rahimahullah
Syaikh Bin Baz pernah ditanya:
Kami pada permulaan tahun baru hijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), maka apa hukum syar’i terkait ucapan selamat ini?
Syaikh Bin Baz menjawab sbb:
Ucapan selamat tahun baru hijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para Salafus Shalih, dan saya tidak mengetahui satupun dalil dari sunnah maupun Kitabullah yang menunjukkan pensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidak mengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semoga anda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itu kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya, adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.
2. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan 1:
Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah dengan pertanyaan sbb:
Syaikh yang mulia, apa hukum mengucapkan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita kepada orang yang mengucapkan selamat tahun baru hijriyah kepada kita?
Syaikh Utsaimin menjawab sbb:
Jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya. Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini. Seandainya seseorang mengucapkan mengucapkan selamat tahun baru kepadamu, maka jawablah: semoga Allah menyampaikan selamat kebaikan untukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan.
Tetapi ingat, jangan kamu memulainya karena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para Salafus Shalih bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah. Bahkan para Salaf belum menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafah Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu. (dikutip dari pertemuan bulanan ke-44 di akhir tahun 1417 H).
Pertanyaan 2:
Syaikh Utsaimin juga pernah ditanya: Syaikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah?
Maka Syaikh Utsaimin menjawab sbb:
Aku berpendapat bahwa memulai ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidak disyariatkan. Artinya, kami tidak menyatakan sunnahnya saling menyampaikan ucapan selamat tahun baru hijriyah.
Tetapi jika mereka melakukannya tidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun baru dengan memohon kepada Allah supaya menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan keberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah ini yang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasuk perkara ibadah.
(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-93 hari Kamis, 25 bulan Dzulhijjah tahun 1415H).
Pertanyaan 3:
Pada kesempatan lainnya, beliau juga pernah ditanya: Apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?
Maka beliau menjawab: Ucapan selamat atas kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan para Salafus Shalih. Maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengah manusia, meskipun fenomena ini sekarang berkurang, karena sebagian orang sudah memahaminya, alhamdulillah. Padahal sebelumnya mereka saling bertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.
Pertanyaan 4:
Pertanyaan lainnya kepada Syaikh Utsaimin: Apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?
Beliau menjawab: yaitu mereka mengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allah mengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikan pertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.
Pertanyaan 5:
Syaikh Utsaimin ditanya: Apakah diucapkan “Setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?”
Beliau menjawab: Tidak, setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitri atau di tahun baru.
(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-202 pada hari Kamis, 6 Muharram tahun 1420H).
3. Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah
Beliau pernah ditanya: Syaikh yang mulia semoga Allah memberikan anda taufik. Kebanyakan manusia saling mengucapan selamat tahun baru hijriyah. Apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah, misalnya: ‘Semoga menjadi tahun bahagia,’ atau ucapan: ‘Semoga kalian setiap tahun dalam kebaikan.’ Apakah ucapan ini disyariatkan?
Syaikh menjawab sbb:
”Ini adalah bid’ah. Ini bid’ah dan menyerupai ucapan selamat orang-orang Kristen dengan tahun baru Masehi, dan ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan para Salaf. Selain itu, tahun baru hijriyah adalah istilah para shahabat radhiyallahu anhum untuk penanggalan muamalat saja. Mereka tidak menganggapnya sebagai hari raya dan mereka mengucapkan selamat atasnya karena ini tidak ada dasarnya. Para shahabat menjadikan tahun hijriyah untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalat saja”.
4. Syaikh Abdul Karim Al-Khidhir
Doa kepada sesama muslim dengan doa umum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatan seperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapan selamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dan keceriaan pada wajah muslim lain.
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak memulai ucapan selamat, tapi jika seseorang memulai dengan ucapan selamat maka aku suka menjawabnya karena menjawab ucapan selamat itu wajib. Adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunnah yang diperintahkan dan juga bukan termasuk perkara yang dilarang.
KESIMPULAN:
1. Dari beberapa fatwa di atas dapat dipahami bahwa sebagian ulama besar membolehkan menjawab ucapan selamat saja tidak untuk memulainya, namun tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besar karena itu adalah adat kebiasaan, bukan diyakini sebagai ibadah yang disyariatkan.
2. Sebaiknya kita menjelaskan kepada umat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihan dalam ucapan selamat tahun baru hijriyah. Karena hal itu dikhawatirkan bisa terjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum Nasrani sebagaimana fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah.
3. Kita tidak disyariatkan untuk merayakan tahun baru hijriyah seperti perayaan hari raya (ied), karena perayaan sebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah. Wallahu a’lam bis-shawab. [ar/voa-islam.com]
Langganan:
Postingan (Atom)