SAYA
UCAPKAN SELAMAT KEPADA AHER-DEMIZ
Dan seluruh pendukungnya yang 'telah' memenangkan Pilgub Jawa Barat;
Selamat utk menanggung beban lebih berat
Selamat utk berpeluh berkeringat lebih deras
Selamat utk bahkan sampai berdarah-darah
Selamat utk mungkin saja bertaruh raga dan nyawa
Sementara yang lain baru mampu berkata-kata
Selamat utk merekonstruksi tujuan khidmatul ummah
Selamat utk merevitalisasi asholah da'wah
Selamat utk mewujud sebenarnya pelayan rakyat
Selamat utk mendapatkan penghisaban lebih lama tapi posisi lebih mulia -insya
Allah- di surga
Selamat utk mengerahkan semaksimal kemampuan ke arah tathbiq as Syari'ah. Agar
tdk ada lagi cemooh kenapa kalian memanfaatkan demokrasi ini sebagai washilah
ad Da'wah
Saya senang kalian menang, semoga rasa senang ini sebagaimana rasa senangnya
seorang mu'min atas kemenangan seorang mu'min. Sementara kaum mu'min di zaman
Rasulullah saja merasa senang dengan kemenangan Romawi (Nashrani) atas Persia.
Apatah lagi kita yang sesama muslim.
Saya senang kalian menang, karena kalangan 'Islam' Liberal itu bersedih dengan
kemenangan kalian. Saya akan bersedih bila kalian kalah, karena gerombolan
'Islam' Liberal akan merasa senang dengan kekalahan kalian.
Itulah kenapa saya bersimpati kepada kalian. Karena kalian dibenci kalangan
liberal.
karena
Apa yang mereka benci, saya cinta
Apa yang mereka cinta, saya benci
****
Kang Aher dan Bang Jack
Tidak banyak orang mendapatkan ladang amal begini besar sebagaimana kalian
dapatkan dari amanah berat ini.
Satu pesan saya, satu dari jelata Sunda pituin;
"MUNGKIN TIDAK AKAN ADA WAKTU DAN KESEMPATAN LAGI SELAIN KESEMPATAN AMANAH
SAAT INI UNTUK MENEGAKKAN SYARI'AT DI JAWA BARAT SEKEMAMPUAN MAKSIMAL KALIAN.
LAKUKAN DAN JALANKAN ! LAKUKAN APA YANG AKAN MEMBUAT ALLAH RIDHA DAN MEMBUAT
RASULULLAH TERSENYUM BANGGA. JALANKAN ! HANYA YANG MENJAGA ALLAH, MAKA ALLAH
AKAN MENJAGANYA.
JANGAN PERLAMBAT UMAT LAIN DAN MAHKLUK LAIN DI JAWA BARAT MENIKMATI RAHMATNYA
ISLAM. HAKIKATNYA MEREKA SUDAH TAK SABAR MENUNGGU."
*Sunda rindu syari'at, rindu hadirnya kembali Prabu Muslim Siliwangi.
3.25.2013
Melihat dari atas
Saya percaya,
bagi sebagian orang dalam skala tertentu tradisi menjadi sarana seseorang
menunjukkan identitas keislamannya atau paling tidak, dirinya tidak keliru
mencantumkan ISLAM di kolom agama KTP nya.
Tradisi seperti lebaran, halal bi halal, maulidan dan peringatan2 yang dianggap sebagai 'hari2 besar' dalam Islam penting untuk dilestarikan selama tidak melanggar ushulul aqidah wa syariah.
Oleh karena itu tradisi2 seperti ini dalam skala dan standar tertentu serta bagi sebagian kalangan tersebut harus tetap membudaya di tengah masyarakat. Sehingga tidak minder mengaku sebagai pemeluk ISLAM dan tidak malu-malu bahwa dirinya adalah MUSLIM, cukuplah sementara.
*Mungkin kontroversial
Tradisi seperti lebaran, halal bi halal, maulidan dan peringatan2 yang dianggap sebagai 'hari2 besar' dalam Islam penting untuk dilestarikan selama tidak melanggar ushulul aqidah wa syariah.
Oleh karena itu tradisi2 seperti ini dalam skala dan standar tertentu serta bagi sebagian kalangan tersebut harus tetap membudaya di tengah masyarakat. Sehingga tidak minder mengaku sebagai pemeluk ISLAM dan tidak malu-malu bahwa dirinya adalah MUSLIM, cukuplah sementara.
*Mungkin kontroversial
Ilham
Abinya Latif Saya sepakat. Ada tradisi yg harus kita tolak. Ada
tradisi yg harus perlahan2 kita modifikasi agar bersesuaian dgn batas2 Syariat.
Ada yg kita harus trima dgn tangan terbuka sbg sarana mmpererat ukhuwah. Bijak
mnempatkan porsinya masing2 mmbuat dakwah apapun smakin mdah trsampaikan.
Dsamping jg mnunjukkan ke-'alimannya dlm bermuamalah bainannaas.
Bila..
Bila mengedarkan kotak infaq saat
khatib Jum'at sedang khutbah adalah kebaikan, niscaya Rasulullah dan para
sahabat yang akan pertama kali melakukannya
Bila perayaan Idul Fitri lebih ramai syiarnya dibandingkan Idul Adha, maka Rasulullah dan para sahabatnya yang akan pertama kali melakukannya
Bila rutinitas kuliah tarawih di bulan Ramadhan adalah kebaikan, pasti Rasulullah dan para sahabatnya yang akan pertama kali melakukannya
Faktanya adalah Rasulullah dan para sahabat tidak pernah melakukan ketiga hal itu. Namun yang berdalih dgn falsafah 'BILA' ini justru mengamalkannya
Dalih: "Bila sesuatu hal itu baik, maka Rasulullah dan para sahabat terlebih dulu mengamalkannya" kontradiktif dengan 'BILA' di atas..
*Mohon pencerahan
Bila perayaan Idul Fitri lebih ramai syiarnya dibandingkan Idul Adha, maka Rasulullah dan para sahabatnya yang akan pertama kali melakukannya
Bila rutinitas kuliah tarawih di bulan Ramadhan adalah kebaikan, pasti Rasulullah dan para sahabatnya yang akan pertama kali melakukannya
Faktanya adalah Rasulullah dan para sahabat tidak pernah melakukan ketiga hal itu. Namun yang berdalih dgn falsafah 'BILA' ini justru mengamalkannya
Dalih: "Bila sesuatu hal itu baik, maka Rasulullah dan para sahabat terlebih dulu mengamalkannya" kontradiktif dengan 'BILA' di atas..
*Mohon pencerahan
Dulu dan kini
Dulu, di masa-masa sulit, saat merintis sekolah tersebut,
bersikap lunak dan bijaksana sangat diperlukan. Sama seperti saat ini merintis
sekolah baru.
Bila saat ini, sekolah baru ini memaksakan diri bersikap
keras dan tanpa kompromi dalam pelunasan biaya sekolah, mungkin para pendaftar
maupun yang berniat mendaftar akan berguguran dan mengurungkan niat.
Tahun2 awal waktu itu, tiap kali membuka pendaftaran siswa
baru, jantung terus berdegup kencang, adakah yang datang mendaftar hari ini ?
Bila sikap keras diterapkan saat ini di sekolah tersebut,
memang tdk akan ada kekhawatiran kekurangan pendaftar. ...Sudah mapan, dikenal,
dan punya nama besar. Tidak ada kekhawatiran kekurangan pendaftar.
Jadi, masih adanya tunggakan biaya sekolah sampai
bertahun-tahun bahkan menjelang kelulusan, semoga bukanlah 'kesalahan' yang
mesti ditimpakan kepada para perintis.
*Sikap lunak dan bijaksana, sesekali bersikap tegas, akan
tetap dipertahankan. Karena siswa, Orangtua, guru dan kita adalah manusia bukan
mesin.
Satu kesulitan dua kemudahan
Satu kesulitan diapit oleh dua
kemudahan..
Semakin tinggi tingkat kesulitan semakin dekat kepada lapangnya kemudahan..
Bahkan dalam kesulitan itu ada kemudahan..
"Fa inna ma’al ‘usri yusraa [yusran].
Sebab sesungguhnya beserta (sehabis) kesulitan itu ada kemudahan."
"Inna ma’al ‘usri yusraa [yusran].
Sesungguhnya beserta (sehabis) kesulitan ada kemudahan."
Oleh karena itu tidak ada waktu untuk berleha-leha..
Selesai satu urusan kerjakan urusan lain..
Semua urusan dalam rangka ibadatullah..
"Fa idzaa faraghta fan shab.
Maka apabila kamu telah selesai (urusan dunia) maka bersungguh-sungguhlah (dalam beribadah)."
Karena sesungguhnya bila semua perkara dilakukan LILLAH (semata karena Allah).. akan MUDAH dan INDAH ^.^
"Wa ilaa rabbika farghab.
Kepada Tuhanmu berharaplah."
Hanya Allah..
Pagi indah untuk ibadah...... Bismillahi tawakkaltu 'alallah la haula wa la quwwata illa billah
Semakin tinggi tingkat kesulitan semakin dekat kepada lapangnya kemudahan..
Bahkan dalam kesulitan itu ada kemudahan..
"Fa inna ma’al ‘usri yusraa [yusran].
Sebab sesungguhnya beserta (sehabis) kesulitan itu ada kemudahan."
"Inna ma’al ‘usri yusraa [yusran].
Sesungguhnya beserta (sehabis) kesulitan ada kemudahan."
Oleh karena itu tidak ada waktu untuk berleha-leha..
Selesai satu urusan kerjakan urusan lain..
Semua urusan dalam rangka ibadatullah..
"Fa idzaa faraghta fan shab.
Maka apabila kamu telah selesai (urusan dunia) maka bersungguh-sungguhlah (dalam beribadah)."
Karena sesungguhnya bila semua perkara dilakukan LILLAH (semata karena Allah).. akan MUDAH dan INDAH ^.^
"Wa ilaa rabbika farghab.
Kepada Tuhanmu berharaplah."
Hanya Allah..
Pagi indah untuk ibadah...... Bismillahi tawakkaltu 'alallah la haula wa la quwwata illa billah
Langganan:
Postingan (Atom)