7.27.2010

KONTROVERSI ESQ

Akhirnya Ary Ginanjar Akui Kekeliruan ESQ

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Di tengah gonjang-ganjing status “keabsanan” ESQ Ary Ginanjar setelah
difatwa sesat oleh Mufti Malaysia, alhamdulillah, di Bekasi Jawa Barat
terjadi dialog dari hati ke hati antara seorang alumnus training ESQ,
Ustadz Farid Achmad Okbah MA dengan pendiri ESQ, Bapak Dr Ary
Ginanjar Agustian. Dialog diadakan pada hari selasa 20 Juli 2010 pukul
18.30 - 20.00 WIB di Meeting Room Radio DAKTA Jl. KH. Agus Salim
Bekasi.

Saya adalah salah satu saksi mata pertemuan antara Bapak Dr. Ary
Ginanjar Agustian dengan Ustadz Farid Ahmad Oqbah, MA (Direktur
Islamic Center Al-Islam Bekasi dan narasumber Kajian Aqidah Radio
Dakta 107 FM Bekasi). Pertemuan ini terkait penjelasan atas beberapa
koreksi Ustadz Farid terhadap ESQ yang dimuat di berbagai media,
antara lain voa-islam.com (baca: Nasihat Alumnus ESQ untuk Ary
Ginanjar Agustian).

Ustadz Farid Okbah berani mengoreksi beberapa ajaran ESQ Ary
Ginanjar, karena beliau telah mengikuti pelatihan ESQ tahun 2006 silam.
Ust Farid sendiri adalah alumni ESQ ke-46.

Dalam pertemuan itu sangat jelas dan terang Bapak Ary Ginanjar
menerima semua koreksi Ustadz Farid dan berjanji akan memperbaiki
kekeliruan-kekeliruannya. Di samping memang Pak Ary sendiri sangat
kooperatif, terbuka dan jujur menerima semua masukan Ustadz Farid.
Perlu dicatat bahwa hampir semua nasihat dan koreksi Ustadz Farid sama
persis dengan Fatwa Ulama Persekutuan Malasyia yang menyesatkan
ajaran ESQ. Dan itu tidak dibantah sedikit pun oleh Pak Ary. (Adalah
urusan Allah yang tahu apakah Pak Ary menerimanya atau tidak)

Sebelumnya kita tahu betul bahwa Bapak Ary Ginanjar menolak semua
dakwaan bahkan cenderung membenturkan ulama dengan ulama.
Sementara Majelis Fatwa Mudzakarah Malasyia yang mendukung ESQ pun
tetap dengan syarat ESQ memperbetul (memperbaiki) kekeliruan yang
sudah terjadi. (Karena kebenaran tidak bisa dikalahkan dengan
banyaknya jumlah yang mayoritas).

Sementara itu, Ust Farid memandang bagaimanapun juga ESQ adalah
aset umat yang sangat berharga yang harus dijaga dan didukung namun
tetap harus dikoreksi jika terdapat kekeliruannya di dalamnya, sebagai
kewajiban saudara muslim terhadap muslim lainnya agar sama-sama
selamat dunia akhirat.

...Ary Ginanjar dengan besar hati mengakui kekeliruannya. Ia
menegaskan bahwa dari awal ESQ sangat komitmen terhadap Al-Qur'an
dan As-Sunnah. Hanya beliau menyadari ada kekeliruan dalam
memahami tafsir dan syarah keduanya....

Ustadz Farid Okbah juga sangat menyayangkan pembelaan membuta KH
Said Agil Siradj dan Prof Dr Din Syamsuddin terhadap ESQ. Sementara
Bapak Ary Ginanjar sendiri dengan besar hati mengakui kekeliruannya.
Pak Ary menegaskan bahwa dari awal ESQ sangat komitmen terhadap
Al-Qur'an dan As-Sunnah dan akan terus berpegang teguh kepada
keduanya. Hanya beliau menyadari ada kekeliruan dalam memahami
tafsir dan syarah keduanya.

Pertemuan di atas berjalan penuh dengan nuansa kekeluargaan, akrab,
hangat dan cair. Salut buat Pak Ary yang bersedia mendatangi Ulama
untuk meminta taushiah, dan mengakui kekeliruannya. Semoga urusan
umat ini semakin melancarkan perjuangan Da'wah ilallah. Perbaiki
Bangkit, maju dan berkibarlah ESQ dengan semangat li’ilai kalimatillah.
Amien.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Wildan Hasan (Penyiar Radio Dakta 107 FM Bekasi)
Pusdiklat Dewan Da’wah Kp. Bulu Setiamekar Tambun Bekasi 17510
HP. 0813 8665 7822


ESQ Ary Ginanjar Difatwa Sesat Karena Merusak Aqidah dan Menghina
Nabi

JAKARTA (voa-islam.com) – Dinilai banyak yang bertentangan dengan
ajaran agama Islam, Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) milik Ary
Ginanjar Agustian difatwa sesat oleh Mufti Malaysia.

Fatwa Mufti Malaysia itu ditandatangani oleh Mufti wilayah persekutuan
Malaysia, Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh tanggal 10 Juni 2010, dan
dirilis dalam situs resmi pemerintah Malaysia www.muftiwp.gov.my,
Rabu (7/7/2010). Oleh Mufti Malaysia, ESQ dianggap ajaran yang dapat
merusak akidah serta syariah Islam.

Ciri-cirinya, menurut Mufti Malaysia adalah, ESQ mendukung paham
liberalisme karena menafsirkan Al-Quran dan As-Sunnah secara bebas.
ESQ mengajarkan bahwa pada dasarnya ajaran seluruh agama adalah
benar dan sama.

...ESQ mendukung paham liberalisme karena menafsirkan Al-Quran
dan As-Sunnah secara bebas...

ESQ juga dianggap menuduh para Nabi mencapai kebenaran melalui
pengalaman dan pencarian. Ini sangat bertentangan dengan akidah Islam
soal Nabi dan Rasul.

ESQ dituduh telah mencampuradukan ajaran kerohanian bukan Islam
dengan ajaran Islam. Mufti juga melihat jika ESQ menekankan konsep
‘suara hati’ sebagai rujukan utama dalam menentukan baik buruk suatu
perbuatan.

...ESQ juga dianggap salah karena telah menjadikan logika sebagai
rujukan, bukannya Al-Quran dan Hadits...

ESQ juga dianggap salah karena telah menjadikan logika sebagai
rujukan, bukannya Al-Quran dan Hadits. ESQ juga dianggap mengingkari
mukjizat karena bertentangan dengan keadaan zaman sekarang yang
serba logik, dan tidak dapat diterima akal.

ESQ dinilai salah karena menggunakan kode 19 rekaan dari Rasyad
Khalifah untuk menafsirkan Al-Quran. Rasyad Khalifah mengaku sebagai
rasul dan membawa agama baru yang dinamakan ‘submission’. Teori ini
bahkan dipandang lebih tinggi dibanding Al-Quran.

...ESQ menyamakan bacaan Al-Fatihah sebanyak 17 kali oleh orang
Islam dengan ajaran Bushido Jepang. Ini adalah tafsiran sesat...

ESQ menyamakan bacaan Al-Fatihah sebanyak 17 kali oleh orang Islam
dengan ajaran Bushido Jepang. ESQ dianggap telah menafsirkan makna
kalimat syahadat dengan “triple one”. Menurut Mufti, itu adalah tafsiran
sesat.

Dalam laman facebook yang dibuat oleh pengikut ajaran Ary, salah
seorang juga sempat menanyakan soal fatwa Mufti ini. Account dengan
nama ‘FKA ESQ 165 - Samarinda Kukar’ tersebut meminta tanggapan dari
pengikut yang lain terkait fatwa Mufti.

...ESQ juga dianggap menuduh para Nabi mencapai kebenaran melalui
pengalaman dan pencarian. Ini sangat bertentangan dengan akidah Islam
soal Nabi dan Rasul...

Hingga kini Ary Ginanjar belum bisa dihubungi. Dia masih berada di luar
negeri. Sedangkan sekretarisnya, Susi, tidak mau mengomentari fatwa
ini. Dalam situs resmi ESQ juga belum ada tanggapan terkait fatwa Mufti
Malaysia yang menyesatkan ajaran ESQ.

Sebenarnya beberapa waktu lalu telah ada yang menilai ESQ sesat di
Indonesia. Pada sebuah sesi tanya jawab dalam sebuah acara dari salah
satu radio di Bekasi, seorang ustadz yang mengisi acara tersebut ditanya
oleh pendengar yang meminta tanggapan ustadz tersebut tentang
training ESQ. Dengan sangat mengejutkan sang ustadz tersebut
membeberkan kesesatan ESQ menurut yang ia pahami dan poin-poin
yang ia anggap sesat itu agak mirip dengan apa yang difatwakan oleh
mufti Malaysia ini. [taz]


27 Penyimpangan ESQ Ary Ginanjar Versi nahimunkar.com

KRISIS multi dimensi yang menimpa bangsa tercinta, bangsa Indonesia
yang belum kunjung reda, dan bahkan makin melilit kuat menjerat rakyat
kecil tanpa ada rasa belas kasih, serta membuat angka kemiskinan anak
bangsa makin membesar, adalah akibat ulah tangan para pengelola yang
tidak bertanggung-jawab. Keseimbangan yang merupakan ciri khas
hukum penciptaan Allah diobrak-abrik oleh para pengelola bangsa yang
buta mata hatinya.

Berbagai upaya dilakukan oleh berbagai komponen bangsa, baik secara
kolektif, krusial dan rumit.

Di antara sekian upaya yang dilakukan itu adalah apa yang dilakukan
oleh Ary Ginanjar Agustian dengan ESQ Model-nya yang fenomenal. ESQ
Model ini sudah tidak asing bagi masyarakat kita, bahkan buku
monumental Ary yang berjudul “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan
Emosi dan Spiritual” sudah terjual lebih dari 150.000 eksemplar dan
sudah dicetak lebih dari 20 kali!

…Di balik berbagai kebaikan yang terdapat pada ESQ Model, terdapat
pula sisi negatifnya…

Ada sisi kebaikan yang terdapat di dalam ESQ Model ini, di antaranya
adalah:

1. Menumbuhkan kesadaran akan eksistensi para peserta di muka bumi
ini sebagai Khalifah (wakil Allah).

2. ESQ mampu menggugah nurani para peserta training dan
mengenalkan wujud Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada mereka,
kebesaran, keagungan, keperkasaan dan kemahapemurahan-Nya.

3. ESQ mampu menghidupkan kembali cahaya nurani para peserta
training yang selama ini padam.

4. ESQ mampu mengasah spiritualitas para peserta.

Hal itu tampak jelas dari pengakuan banyak mantan peserta training yang
selama ini merasa hati (spiritualitas)nya kering kerontang.

Namun, di balik berbagai kebaikan yang terdapat pada ESQ Model,
terdapat pula sisi negatifnya, bahkan boleh dikata sudah menyangkut
permasalahan yang sangat prinsip.

Di antara sisi negatif yang harus segera dihindari itu adalah sebagai
berikut:

1. Ary Ginanjar yang mencetuskan model ESQ Training ini tidak mau
mengatakan kalau ESQ Model yang diasuhnya sebagai lembaga dakwah
atau sebagai kegiatan dakwah, padahal training yang diselenggarakan
tidak lepas dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu
alaihi wasallam, bahkan ada kutipan-kutipan perkataan shahabat nabi
Shallallahu alaihi wasallam. Kenyataan ini ternyata berlawanan dengan
yang tertera di dalam buku saku ESQ Model yang dibagikan kepada
peserta secara gratis, sebagai berikut “Tiada hari tanpa dakwah” yang
kemudian dikutip pula ayat al-Qur’an 125 dari Surat al-Nahl.

…Ary Ginanjar tidak mau menyebut ESQ yang diasuhnya sebagai
kegiatan dakwah, padahal trainingnya tidak lepas dari ayat-ayat al-Qur’an
dan hadits-hadits Nabi. Dan buku saku ESQ Model yang dibagikan
kepada peserta tertera label “Tiada hari tanpa dakwah …

Di sela-sela trainingnya di hadapan para peserta dan pada saat emosi
dan spiritual para peserta tersentuh Ary mengatakan ‘ini bukan sekedar
training!’. Ia ucapkan lebih dari sekali.

Namun hal ini tidak masalah, apakah ESQ Model itu disebut lembaga
dakwah atau bukan, akan tetapi jujur itu lebih baik ! Atau memang ada
sesuatu hal yang terselubung di balik ESQ Model ini. Wallahu a‘lam.

2. Setiap suasana emosi dan ektasi, dzikir dan doa selalu diiringi dengan
lantunan musik lembut, dengan maksud agar bisa mencapai pada titik
alpha, tutur Ary. Bahkan dentuman suara musik yang selalu mengawali
acara training pun sampai membuat jantung terasa sakit, sehingga tidak
mungkin acara-acara seperti ini diselenggarakan di masjid-masjid. Ia
memang pantas kalau diselenggarakan di hotel-hotel? Cara-cara seperti
ini merupakan kebiasaan dan sunnah kaum Nasrani yang kita dilarang
oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengikutinya.

Dalam kaidah ushul disebutkan: “tujuan tidak boleh menghalalkan
segala cara.”

…Cara-cara seperti ini merupakan kebiasaan kaum Nasrani yang kita
dilarang oleh Rasulullah untuk mengikutinya. Kaidah ushul disebutkan,
tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara…

3. Bershalawat sambil nyanyi pun dilakukan, bahkan Haddad Alawi yang
berfaham Syi’ah yang sangat anti bershalawat kepada para shahabat Nabi
menjadi bintang tamu. Dalam shalawatnya Alwi tidak pernah menyebut
para shahabat Nabi.

4. Shalawat sambil menyanyi pun dianggap sebagai pengamalan
terhadap perintah bershalawat kepada nabi yang tertera di dalam surah
Al-Ahzab.

5. Shalawat kepada nabi Shallallahu alaihi wasallam itu artinya
memohon kepada Allah, berdoa kepada- Nya agar rahmat, kedudukan
yang mulia di sisi- Nya dianugerahkan kepada Nabi Muhammad,
Shallallahu alaihi wasallam. Oleh karena shalawat adalah doa, maka doa
harus dilakukan sebagai mana doa lainnya, bukan dengan bernyanyi…..!
Para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, para tabi‘in dan para
pemuka imam Mazhab yang empat yang sudah tidak diragukan kecintaan
mereka kepada nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah bershalawat
dengan cara bernyanyi.

…Dalam training ESQ ini, zikir Lâ ilâha illalloh bersama sambil
geleng-geleng kepala dengan suara nyaring pun dilakukan dan dipimpin
oleh Ary sendiri…

6. Nuansa sufistik pun sangat kental dalam training ESQ ini, zikir Lâ
ilâha illalloh bersama sambil geleng-geleng kepala dengan suara nyaring
pun dilakukan dan dipimpin oleh Ary sendiri.

7. Tafsir batiniy terhadap rukun iman dan rukun Islam pun sangat
kental, terutama dalam menafsirkan surat al-Fatihah dan ritual haji,
sebagaimana akan disebutkan di bawah.

8. Ketika peserta sudah berada dalam kondisi tersentuh spiritualitasnya
mereka disuruh sujud dan minta ampun dan ada juga yang bertakbir
histeris. Sujud apa ini? Tidak jelas, sehabis sujud kadang diselingi
dengan teriyakan yel-yel ESQ, Mars ESQ atau senam erobic atau lainnya.

9. Untuk menambah suasana histeris, petugas menghampiri peserta
yang histeris menangis dan memperdengarkannya kepada khalayak
melalui pengeras suara! Harus seperti inikah melatih dan mengasah ESQ
para peserta?

10. Tafsir sufi (batiniy, isyaariy) terhadap surat Al-Fatihah pun terjadi,
seperti ihdinas shirâthal mustaqîm (Ihdinâs dengan H besar, yang harus
dibunyikan dari dalam perut diartikan “menunjukkan kesungguhan dalam
beraksi” dan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya diartikan secara paksa
agar sesuai dengan jiwa managemen perusahaan.

11. Demikian pula tafsir terhadap ritual haji. Bahkan tiga hari pertama
dari training terkesan diartikan sebagai prosesi wuquf, yang dalam ESQ
training berwujud ZMP, sedangkan hari keempat sebagai prosesi thawaf
dan sa‘i. Thawaf dan Sa‘i diartikan sebagai simbol kerja keras (total
action).

Yang lebih nyeleneh lagi adalah pada hari keempat ada simulasi sa‘i dan
thawaf yang tidak hanya sekedar simulasi, melainkan benar-benar harus
dirasakan seperti melontar jumroh, sa‘i dan thawaf di Ka‘bah yang harus
dilakukan dengan ikhlas dan dengan niat yang sebenarnya .

Melontar diartikan membuang sifat-sifat buruk yang ada pada diri, dan
yang dilempari pun adalah gambar makhluk yang menyeramkan (setan)
yang telah disediakan panitia, berikut batu kerikil imitasinya. Sa‘i dan
thawaf diartikan sebagai simbol kerja keras (total action). Seusai Sa’i di
tempat training, maka peserta harus melakukan thawaf di tempat yang
sama dengan mengelilingi Ka‘bah buatan. Ini benar-benar ajaran sufi
yang menyimpang.

12. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan
hal-hal seperti itu kepada para shahabatnya. Bahkan, Umar bin Khatthab,
Radhiyallahu anhu (yang selalu mendapat ilham) pada saat
melaksanakan ibadah haji di masa ke-Khalifah-annya tidak pernah
mempunyai pemahaman seperti itu. Malah saat beliau akan mengecup
Hajar Aswad beliau berkata: Hai Hajar Aswad, aku tahu bahwa kamu
tidak bisa memberi manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan
madharat. Kalau saja bukan karena aku telah melihat Rasulullah
mengecupmu niscaya aku tidak akan mengecupmu.

13. Sebelum mereka melakukan ibadah haji pun sudah “total action”,
bahkan mengerahkan semua kemampuan dalam beramal dengan
semangat ikhlas dan ihsan sudah mereka sadari sebagai tuntutan tauhid
dan ketulusan mengabdi kepada Allah SWT, jauh sebelum mereka
mengenal ibadah haji.

14. Dengan empat hari itu terkesan bahwa ajaran Islam sudah lengkap
dan sempurna, maka ayat 3 surat Al-Ma’idah pun dibacakan sebagai
tanda sempurnanya ajarannya. Dengan demikian ESQ Training
mengesankan bahwa Islam ala ESQ itulah cerminan Islam sejati. Kesan
ini pun lebih nampak lagi dengan dibuatnya kartu alumni bagi para
peserta yang telah mengikuti training selama 4 hari, yang dengan kartu
itu peserta dapat mengechas kembali iman mereka, sekalipun beberapa
alumni sedang ‘ngechas’ yang kami wawancarai mengatakan “kami tidak
menangis seperti waktu dulu saat training, karena tidak ada yang baru
lagi bagi kami”.

…Bagi Ary Ginanjar, sumber utama kebenaran adalah suara hati.
Kebenaran ‘Suara hati’ bagi Ary di atas kebenaran al-Qur’an dan hadits
Nabi Shallallahu alaihi wasallam…

15. Bagi Ary, sumber utama kebenaran adalah suara hati. Kebenaran
‘Suara hati’ bagi Ary di atas kebenaran al-Qur’an dan hadits Nabi
Shallallahu alaihi wasallam. Berikut ungkapnya: “Pergunakanlah suara
hati anda yang terdalam sebagai sumber kebenaran, …..” Lebih lanjut ia
mengatakan: “…., dan ayat-ayat Al Qur’an sebagai dasar berpijak
(legitimasi). Dan yang terpenting adalah legitimasi suara hati anda
sendiri, sebagai nara sumber kebenaran sejati” (Lihat: Rahasia Sukses
Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, hal. Liv).

Suara hati dalam bahasa kaum sufi sering disebut dengan Dzauq (rasa
hati) yang pada prinsipnya sama, yaitu sumber kebenaran sejati. Maka
tidak heran kalau dari mulut mereka kita dengar ungkapan “haddatsanii
robbii ‘an nafsii” (Tuhan ku menginformasikan kepada ku melalui jiwa
ku). Juga ungkapan: “kalian belajar kepada orang yang sudah mati,
sedangkan kami belajar langsung kepada Yang Maha Hidup”.

16. Keyakinan Ary yang lebih rancu dan sangat berbahaya lagi adalah
ungkapannya bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalam
kepribadiannya sebagai Rasul yang sekaligus sebagai pemimpin abadi
sangat mengandalkan logika dan suara hati. Berikut ungkapannya:
“Itulah tanda bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
merupakan nabi penutup, atau yang terakhir, yang begitu mengandalkan
logika dan suara hati,…….” (Lihat buku Rahasia Sukses …. ESQ, hal.
100).

Padahal kita kaum muslimin meyakini bahwa Nabi Shallallahu alaihi
wasallam selalu bersandar kepada wahyu ilahi yang diturunkan melalui
Jibril. Wahyu ilahi bukan suara hati!

…Bisakah Ary membedakan suara Tuhan dengan suara setan? Saya
khawatir akan muncul Mirza Ghulam Ahmad abad baru lagi! Apa lagi Ary
mulai dan sering mengutarakan hal-hal ganjil, seperti melihat cahaya
yang ia yakini Allah, dan merasa ada hembusan angin malaikat di
wajahnya…

17. Bisakah Ary membedakan mana suara Tuhan dan mana suara syetan!
Saya khawatir akan muncul Mirza Ghulam Ahmad abad 21 dan Lia
Aminuddin baru lagi! Apa lagi Ary mulai dan sering mengutarakan hal-hal
ganjil, seperti melihat cahaya yang ia yakini Allah, dan merasa ada
hantaman angin di wajahnya sehabis memberikan materi trainingnya,
yang ia yakini hembusan angin malaikat! Subhanallah!!

18. Misteri Graha 165. Adalah graha yang dirancang untuk pusat Training
ESQ. Setelah uji kelayakan tanah, ternyata tanah ini serupa kwalitasnya
dengan tanah di Mekkah, maka Graha ESQ merupakan satu- satunya
bangunan pencakar langit di Ibu kota yang dibangun tidak menggunakan
pondasi pancang. Hal ini dianggap sebagai ‘karomah’ bagi Ary dan
ESQ-nya.

Sample tanahnya pun dibuat cindera mata yang dipersembahkan kepada
salah seorang tokoh di antar peserta training.

Graha ini pun dalam rencananya dilengkapi dengan satu ruang samedi
(pertapaan) khusus bagi para alumni ESQ yang terletak di paling puncak
bangunan. Ia bukan mushalla dan bukan juga masjid. Sebab mushalla
sudah di sediakan di lantai bawah. Hal ini diungkapkan oleh Ary sendiri
pada saat mengenalkan program pembangunan Graha 165 guna
mendapatkan dukungan dana dari para peserta.

Dalam Islam tidak ada semedi atau pertapaan. Bahkan, apa yang pernah
dilakukan Nabi Shallallahu alaihi wasallam di gua Hira’ sebelum diangkat
menjadi Nabi, beliau tidak pernah menganjurkannya kepada umatnya dan
tidak pernah pula dilakukan oleh seorang pun di antara shahabatnya.
Islam hanya mengajarkan i‘tikaf yang hanya bisa dilakukan di
masjid-masjid.

…ayat al-Qur’an sering diartikan tidak pada tempat atau maksud yang
sesungguhnya, hal ini banyak terdapat di dalam buku monumentalnya…

19. Ayat-ayat al-Qur’an sering diartikan tidak pada tempat atau maksud
yang sesungguhnya, hal ini banyak terdapat di dalam buku
monumentalnya. Seperti ayat QS 40 Surat al-Mu’minun, ayat 17, “Hari ini
setiap orang mendapat balasan menurut usahanya. Hari ini tiada
kezaliman. Allah sungguh cepat membuat perhitungan.”

Ary jadikan ayat ini sebagai legitimasi terhadap hadiah yang diberikan
kepada seorang karyawan berinisial “DS” oleh atasannya yang di luar
dugaan sebelumnya, karena telah melakukan suatu pekerjaan tanpa
mengharapkan sesuatu apapun. (Lihat kisahnya pada halaman 52 dari
buku ESQ). Padahal ayat di atas berkenaan dengan pembalasan Allah di
hari akhirat kelak, yaitu pada yaumul hisab.

20. Model ESQ yang dicetus oleh Ary nampaknya menganut faham
pluralisme agama. Hal itu tampak dari ungkapan salah seorang Profesor
UI yang menjadi salah satu petinggi ESQ dalam sambutannya pada acara
penutupan training. Bahkan, Prof Dr Komaruddin Hidayat yang menganut
faham pluralis pun digandeng dan ditetapkan sebagai salah satu anggota
sidang redaksi Majalah Nebula-nya ESQ yang dipimpin oleh Ary.

Faham pluralisme agama sudah difatwakan haram oleh majlis Ulama
Indonesia tahun lalu, bahkan para ulama-ulama Islam sebelumnya
menegaskan bahwa orang yang meyakini agama selain Islam benar
adalah murtad.

…Model ESQ Ary Ginanjar menganut faham pluralisme agama. Faham
pluralisme agama sudah difatwakan haram oleh majlis Ulama Indonesia…

21. Bagi para peserta yang selama ini belum pernah menangis karena
takut kepada Allah, dan belum pernah merenungkan ayat-ayat al Qur’an
dan ayat-ayat kauniyah, ESQ Training adalah segala-galanya. Bahkan
akan berkesimpulan “ESQ Training” adalah jalan hidupnya. Dan bagi
yang sudah pergi haji bersama group “ESQ Training” pun akan timbul
rasa bahwa tidak sempurna bila tidak beribadah haji bersama group “ESQ
Training”.

Tidak begitu halnya bagi orang yang sudah biasa dekat kepada Allah dan
mengenal keagungan, kebesaran dan rahmat-Nya, ESQ Training itu
biasa-biasa saja. Bahkan, bagi orang yang pernah tafaqquh fiddin dengan
benar yang bersumber kepada al-Qur’an dan Sunnah secara
komprehensif dan integral, ESQ Training perlu diluruskan.

22. Pengkultusan terhadap Ary dan ESQ-nya kini mulai kental terasa, dan
jika tidak segera diwaspadai dan Ary tidak siap diberi nasihat dan selalu
bersikap ZMP yang didengungkannya, maka tidak mustahil kalau “ESQ
Training” akan menjadi agama baru bagi bangsa Indonesia. Apa lagi Ary
dengan ESQ-nya mendapat respon dari pemerintah, bahkan mereka yang
ikut dalam training pun bukan sembarang orang, melainkan para petinggi
negara!

…Ary tidak siap diberi nasihat dan selalu bersikap ZMP yang
didengungkannya, maka tidak mustahil kalau “ESQ Training” akan
menjadi agama baru bagi bangsa Indonesia. Apa lagi Ary dengan
ESQ-nya mendapat respon dari pemerintah…

23. Dalam mengartikan al-Asma’ul Husna dan dalam upaya
merefleksikannya di dalam dunia bisnis dan leadership banyak
disalahartikan dan dipaksakan agar sesuai dengan keinginan Ary.

Seperti nama “al-aakhir” diartikan Allah bersifat visioner, dan akhlaq
yang harus diambil adalah manusia harus memiliki visi.

Al-jaami’ yang berarti Maha Penghimpun, Ary merefleksikannya dalam
arti keharusan “kerjasama”. Dan masih banyak lagi nama-nama Allah
lainnya yang disalahartikan. Di dalam menanamkan asma’ul Husna ini
Ary mengutip hadits palsu yang sering dipakai oleh kaum sufi untuk
menanamkan ajarannya, yaitu: takhallquu biakhlaaqil-llah (berakhlaqlah
dengan akhlaq-akhlaq Allah).

Al-Matin: akhlaq yang harus diambil adalah sikap selalu berdisiplin.
Kalau al-mutakkabbir yang ditiru atau diambil apanya ? Atau diartikan
Yang Maha Pembesar, lalu kita berupaya ingin menjadi orang- orang
pembesar?

Kalau al-hamiid apa direfleksikan kepada upaya keras agar kita menjadi
orang terpuji seperti Dia, sehingga pujian mengarah kepada kita? Lalu
kalau Allah adalah al-Khaliq, maka yang ditiru adalah sifat berkreasinya!
Sehingga ketika memahami al-asma’ul husna terdapat pemahaman yang
kontradiksi antara merefleksikan nama-nama Allah tersebut pada diri
kita, sehingga kita berbuat (bersikap dan bertindak) seperti Allah
(sebagai subject), dengan merefleksikannya pada diri kita sehingga kita
menjadi object. Seperti pada al-jaami‘ dan al-Khaliq. Sebaiknya saudara
Ary tidak memaksakan ayat, hadits atau pun nama Allah agar bisa sesuai
dengan kehendak dirinya. Bacalah buku-buku para ulama berkenaan
dengan masalah ini, lalu hayatilah!

Dalam masalah ini, kadang apa yang ditulis oleh Ary dalam bukunya,
berbeda dengan yang ia sampaikan saat training.

…apa yang ditulis oleh Ary dalam bukunya, berbeda dengan yang ia
sampaikan saat training…

24. Rukun iman juga mengalami tafsiran pemaksaan dari Ary, agar ESQ
Training nya bisa dikatakan berdasarkan rukun iman (Mental Building).
Untuk itu, rukun iman hanya dipahami dengan pemahaman-pemahaman
yang bisa diarahkan menjadi sebagai prinsip-prinsip leadership, tidak
komprehensif. Demikian pula rukun Islam yang diartikan sebagai
landasan ketangguhan pribadi. Syahadat rasul terkesan hanya shalawat
nya sebagai bukti cinta kepada Rasul, bukan bagaimana menjadikan
sunnahnya sebagai pegangan dan pedoman. Yang diambil hanya yang
berkaitan dengan keleadershipannya saja.

25. Rujukan dan sandaran Ary dalam penulisan bukunya adalah
buku-buku yang bermasalah, seperti buku Sejarah Kehidupan Nabi yang
ditulis oleh M. Haikal, juga tulisan Ali Syariati yang menganut faham
syi‘ah.

…Rujukan dan sandaran Ary dalam penulisan bukunya adalah
buku-buku yang bermasalah…

26. Hadits-hadits palsu yang biasa menjadi rujukan kaum sufi pun
dijadikan sandaran ESQ Model-nya Ary, baik dalam buku yang pertama
maupun dalam buku yang kedua. Sebut saja misalnya hadits palsu:
Apabila engkau mengenal siapa dirimu, maka engkau mengenal siapa
tuhannya, yang dalam terjemah letterlijknya sebagai berikut:
Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal tuhannya.

Hadits palsu ini telah menyeret kepada faham manunggaling kawulo gusti
(ittihaad, menyatu dengan Tuhan) dalam kalangan kaum sufi, dan ini pun
terjadi dalam faham Ary. Setelah ia mengutip tulisan Ali Syari‘ati yang
mengandung faham ittihad, Ary kemudian menyempurnakannya dengan
apa yang ia sebut “untaian kata mutiara Syamsi Thabriz” yang berbunyi
sebagai berikut: “Ka‘bah adalah pusat dunia. Semua wajah menghadap
ke Ka‘bah. Tengoklah. Lihat! Setiap orang menyembah jiwa
masing-masing”.

Faham sesat inilah yang dianut oleh al-Hallaj dan Syeikh Siti Jenar, yang
aromanya sangat kental di dalam ESQ Model-nya Ary.

27. Begitu pula atsar-atsar palsu banyak dimuat dalam bukunya, seperti
atsar (ucapan shahabat nabi atau tabi‘in), seperti atsar yang
dinisbatkannya kepada Umar bin Khatthab, Radhiyallahu anhu berikut:
Hatiku telah melihat Tuhanku karena hijab (tirai) telah terangkat oleh
taqwa. Barangsiapa yang telah terangkat hijab (tirai) antara dirinya
dengan Allah, maka jadi jelaslah di dalam hatinya akan gambaran
kerajaan bumi dan kerajaan langit”. (Lihat Buku Saku ESQ).

…Dalam kutipan-kutipan Ary sama sekali tidak bersandar kepada
rujukan-rujukan primer, melainkan mengekor kepada tokoh-tokoh sufi
dan orang-orang yang tidak jelas keislamannya….

Dalam kutipan-kutipan seperti ini Ary sama sekali tidak bersandar kepada
rujukan-rujukan primer, melainkan mengekor kepada tokoh-tokoh sufi
dan orang-orang yang tidak jelas keislamannya.

Maklum, Ary bukan seorang pakar dalam ilmu Agama, melainkan seorang
pebisnis tulen. Tetapi ia berani berbicara tentang masalah agama, bahkan
dalam hal-hal yang sangat prinsip dalam agama. Semoga Allah memberi
hidayah kepada kita semua. Amin.

Masih banyak lagi catatan-catatan yang seharusnya dituangkan di sini
untuk dijadikan bahan kajian dan kritikan yang membangun, bukan untuk
menyudutkan atau mencemarkan nama baik Ary Ginanjar.

Buku “Rahasia Sukses…… ESQ” karya Ary yang diberi pengantar oleh
sejumlah tokoh itu banyak memuat kejanggalan dan hadits-hadits palsu,
menempatkan ayat-ayat al-Qur’an bukan pada tempatnya, harus dikaji
ulang dan dikritisi secara objektif, sebagai wujud tawaashaw bil haqq.

…Sebaiknya, setiap para alumni Training ESQ Model-nya Ary jangan
menutup diri untuk belajar Islam lebih jauh, dan jangan mengultuskan
ESQ Model-nya Ary…

Sebaiknya, setiap para alumni Training ESQ Model-nya Ary jangan
menutup diri untuk belajar Islam lebih jauh, dan jangan mengultuskan
ESQ Model-nya Ary. Anda hendaknya tahu dan menyadari bahwa
kelezatan spiritual yang anda rasakan dalam training ESQ itu sama sekali
tidak menunjukkan kebenaran ESQ Model, sebab hal seperti bisa anda
temukan di semua kelompok faham, bahkan di semua agama dan
berbagai aliran kepercayaan!

Nabi Muhammad, Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya telah
menghayati sedalam-dalamnya ajaran Islam, sampai pada tingkat ihsan
yang paling tinggi, maka bercerminlah kepada mereka, dan cermin itu
ada di dalam sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
[taz]


Inilah Fatwa Mufti Malaysia tentang Kesesatan ESQ Ary Ginanjar

Fatwa Berkenaan Dengan Kursus ESQ Leadership Training Dan Fahaman
Yang Seumpama Dengannya

(a) Ajaran, pegangan dan fahaman yang dibawa oleh ESQ Leadership
Training anjuran Ary Ginanjar Agustian dan apa‑apa ajaran yang
seumpama dengannya adalah menyeleweng daripada ajaran Islam kerana
mengandungi ajaran‑ajaran yang boleh merosakkan akidah dan syariah
Islam. Ciri‑ciri penyelewengan tersebut adalah seperti yang berikut:

(i) mendukung fahaman liberalisme iaitu memahami atau mentafsir
nas‑nas agama (Al-Quran dan as‑Sunnah) secara bebas, dan fahaman
pluralisme‑agama iaitu fahaman yang mengajarkan semua agama
adalah sama dan benar. Kedua‑dua fahaman ini adalah sesat dan boleh
membawa kepada kekufuran.

(ii) mendakwa bahawa para Nabi mencapai kebenaran melalui
pengalaman dan pencarian. Ini bercanggah dengan akidah Islam tentang
Nabi dan Rasul. Menurut akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, kenabian dan
kerasulan adalah pilihan Allah SWT semata‑mata (Al-Isthifaiyyah), dan
bukan sesuatu yang boleh diusahakan (Al-Kasbiyyah),

(iii) mencampuradukkan ajaran kerohanian bukan Islam dengan ajaran
Islam. "SQ" adalah hasil penemuan seorang Yahudi, Danah Zohar,
manakala "God Spot" adalah hasil kajian seorang Hindu VS
Ramachandran. Kedua‑dua penemuan ini disahkan dengan ayat
Al-Quran (AI‑Hajj ayat 46).

...ESQ mencampuradukkan ajaran kerohanian bukan Islam dengan
ajaran Islam...

(iv) menekankan konsep "suara hati" atau "conscience" sebagai sumber
rujukan utama dalam menentukan baik dan buruk sesuatu perbuatan.
Konsep suara hati adalah ajaran paling suci dalam agama Kristian. The
Oxford Dictionary of World Religion menyebut: "In the main forms of
Christianity, conscience is the absolutely inviolable and sacrosanct centre
of the person as human as responsible for her or his decisions". Konsep
suara hati juga merupakan ajaran agama Hindu seperti yang dijelaskan
oleh Swami Vivekananda: "The Atman is the Holy Ghost of the Biblical
Trinity, and the purpose of all religions is to make men heard 'the still
small voice' within them". Menurut Imam Abu Al-Abbas, pendapat
demikian adalah zindiq dan kufur.

(v) menjadikan logika sebagai sumber rujukan utama. Ini bertentangan
dengan akidah Islam yang menetapkan bahawa Al-Quran dan as‑Sunnah
sebagai sumber rujukan utama.

(vi) Mengingkari mukjizat dan menganggapnya tidak dapat diterima oleh
akal dan tidak sesuai dengan zaman sekarang yang serba logik.
Mengingkari mukjizat adalah kufur dengan ijmak ulama kerana ia
bermakna mengingkari nas‑nas Al-Quran dan Hadits Mutawatir yang
mensabitkan mukjizat bagi para Nabi AS.

...ESQ kufur karena mMengingkari mukjizat dan menganggapnya tidak
dapat diterima oleh akal...

(vii) menggunakan Kod 19 rekaan Rasyad Khalifah untuk menafsir
Al-Quran. Rasyad Khalifah mengaku dirinya sebagai rasul dan membawa
agama baru yang dinamakan "submission." Teori Kod 19 dianggap lebih
tinggi daripada Al-Quran kerana mengikut teori ini, ayat‑ayat Al-Quran
perlu dibuang atau ditambah bagi menyesuaikan dengan Kod 19.

(viii) menyamakan bacaan Al-Fatihah sebanyak 17 kali sehari oleh orang
Islam dengan amalan Bushido oleh orang Jepun yang berteraskan ajaran
Buddha.

(ix) mendakwa bahawa kekuatan luar biasa seperti mukjizat boleh
berlaku melalui rumus Zero Mind Process (ZMP). Dengan rumus ZMP ini,
ESQ mengiaskan bahawa mukjizat Nabi Musa AS diselamatkan daripada
Firaun boleh juga berlaku kepada orang lain seperti yang berlaku kepada
juruterbang Kapten Abdul Razak. Kefahaman mukjizat seperti ini
merupakan ajaran a.aama Hindu seperti yan.g diterangkan oleh Swami
Vivekananda: 'When Jesus healed, they called it a miracle". What is a
miracle? A supernatural even says the dictionary. "Applied Raja Yoga",
says the Yogi. "Just because you don't understand it, you call it a
miracle. We know what it's about. It's natural to its".

...ESQ menafsirkan makna kalimat syahadat dengan "triple one" yang
digunakan oleh Kristian untuk menghuraikan Konsep Trinity...

(x) menafsirkan makna kalimat syahadat dengan "triple one". Ini adalah
tafsiran bid’ah dan sesat. Dalam konteks akidah, "triple one" digunakan
oleh Kristian untuk menghuraikan Konsep Trinity. Buku "Christianity For
Dummies", ketika menguraikan konsep ini menyatakan: "The Trinity:
How 1 + 1 + 1 Equals 1. Christianity says that God is Trinity ‑ one God
expressed in three beings. The term trinity means: "three‑oneness.”

(b) Mana‑mana orang hendaklah menjauhi ajaran, pegangan dan
fahaman sebagaimana yang. dinyatakan dalam perenggan (a).

Bertarikh 10 Jan 2010
[PMWP/100/20 Klt. 2; PN(PU2)530/VI]

Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh
Mufti Wilayah‑Wilayah Persekutuan


Amin Djamaluddin: Ajaran ESQ Ary Ginanjar tentang Asma Allah Jelas
Menyimpang

RAMAINYA kontroversi ESQ Model Ary Ginanjar Agustian setelah difatwa
sesat oleh Mufti Malaysia, tak luput dari perhatian H Amin Djamaluddin.
Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini memang telah menjadi
rujukan informasi berbagai aliran dan paham sesat di Indonesia. Hampir
setiap aliran sesat yang merebak di nusantara, Aminlah yang menjadi
saksi ketika kasusnya disidang di pengadilan.

Bulan lalu, tepatnya 1 Juni 2010 tokoh bersahaja yang akrab disapa Pak
Amin menjadi saksi ahli dalam sidang penodaan agama yang dilakukan
oleh aliran sesat Surga Eden Cirebon, Jawa Barat. Aliran Surga Eden
yang dipimpin oleh Nabi Palsu Tantowi ini divonis sesat karena ajarannya
menyimpang dari Islam, antara lain: pimpinannya, Ahmad Tantowi
mengaku sebagai Tuhan semesta alam yang menjanjikan surga bagi
pengikut wanitanya dengan satu syarat: mau ML (bersetubuh)
dengannya. Sebagai tuhan sekte, Tantowi melarang pengikutnya
mengamalkan syariat agama Islam, seperti shalat lima waktu, puasa
ramadhan, dan mengaji Al-Qur’an.

Ditemui wartawan voa-islam.com, Kamis malam (8/7/2010) di kantor
Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) kawasan Tambak,
Jakarta Pusat, pakar dan pemerhati aliran sesat ini bicara blak-blakan
tentang ESQ. Dengan bahasa yang gamblang, tanpa tedeng aling-aling,
Pak Amin yang juga pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
(DDII) Pusat ini menyatakan penyimpangan ajaran ESQ Ary Ginanjar
dalam buku resmi ESQ. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana tanggapan Pak Amin tentang kontroversi ESQ Ary Ginanjar.

Bagi saya, setelah membaca buku “Rahasia Sukses Membangun
Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ” yang ditulis oleh Ary Ginanjar,
pemahaman tentang Asmaul Husna itu jelas sangat menyimpang.

Sebab dalam ayat itu kan disebutkan “walillahil asmaa`ul Husna fad’uuhu
bihaa.” Begitu perintah Allah dalam Al-Qur'an. Terjemahan Depag
disebutkan, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah
kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.”

Di situ ada kata “hanya.” Asmaul Husna itu hanya milik Allah. Kita
diperintahkan “fad’uhu biha” bermohonlah kepadanya dengan menyebut
Asmaul Husna itu, yaitu berdoa dengan menyeru: Ya Allah, ya Rahman,
ya Ghaffar, dan seterusnya.

Tapi Asmaul Husna dalam buku ESQ diartikan menyimpang. Misalnya
“Al-Majid” diartikan saya bersifat mulia. “Al-Majid”nya Allah diartikan Ary
Ginanjar dengan makna “saya bersifat mulia.” Mengaku sebagai orang
yang mulia itu adalah sifat yang angkuh dan sombong. Kalau orang lain
yang menilai kita mulia, itu ndak masalah. Tapi kalau kita sendiri yang
mengaku mulia, ini kan pengakuan yang angkuh dan sombong.

Contoh lainnya, Asmaul Husna “Huwal awwalu wal-akhir” diartikan
menjadi “saya bersikap selalu menjadi orang pertama dan terakhir.”
Ayat “Huwal awwalu wal-akhir” itu disamakan dengan kita.

Tidak bisa manusia masuk menyerupai asma Allah, kekuasaan Allah,
kebesaran Allah, dan Rahman Rahimnya Allah. Tidak bisa! Jangan
dibandingkan manusia dengan Allah. Apa sih artinya manusia, kok
dibandingkan dengan kebesarannya Allah?

Apa saja yang dinilai menyimpang dalam buku ESQ tersebut?

Menurut saya, kesalahan yang paling mendasar dalam buku ESQ ini
adalah penyimpangan makna Asmaul Husna, karena ini adalah kunci dan
inti buku ini. Dalam buku ini, masalah Asmaul Husna merupakan
kesimpulan akhir.

Asmaul Husna “Al-Muqsith” diartikan saya adil dalam menghukum.
Bagaimana mungkin menyamakan keadilan Allah dengan keadilan
manusia?

Ini adalah penyimpangan yang ingin menyaingi Allah SWT. Sama kayak
HMA Bijak Bestari yang dulu sering tampil di televisi tiap Sabtu
mengobati orang. Bijak Bestari mengaku dirinya tuhan tertinggi di atas
Allahu Akbar. Allahu Akbar setingkat di bawah dia. Hampir sama ESQ
dengan HMA Bijak Bestari.

...kesalahan yang paling mendasar dalam buku ESQ ini adalah
penyimpangan makna Asmaul Husna. Ini adalah penyimpangan yang
ingin menyaingi Allah SWT...

Bagaimana dengan doktrin ESQ Ary Ginanjar yang menjadikan suara hati
sebagai sumber utama kebenaran?

Dalam buku tersebut Ary Ginanjar menulis imbauan: “Pergunakanlah
suara hati anda yang terdalam sebagai sumber kebenaran, yang
merupakan karunia Tuhan” (Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan
Emosi dan Spiritual ESQ, hal. liv).

Ini tidak benar. Tidak ada ukuran kebenaran dengan suara hati. Manusia
tidak bisa menemukan kebenaran kalau mengikuti suara hati. Karena
kebenaran itu hanya dari Allah dan Rasul-Nya. Al-Qur'an surat
Al-Baqarah ayat 147 Allah menyatakan: “Al-haqqu min robbika.”
Kebenaran itu hanya dari Allah. Jadi tidak ada jaminan kebenaran
berdasarkan suara hati.

Apa sih artinya suara hati? Kebenaran menurut Islam, sumbernya adalah
qolalloh dan qola rosululloh (apa kata Allah dan Rasulnya, red.). Jangan
jadikan suara hati sebagai sumber kebenaran, karena setan bisa
mengendalikan hati.

Apa ukurannya, rumusannya apa kalau suara hati dijadikan kebenaran?
Karena suara hati setiap orang itu berbeda-beda. Jangan coba-coba
jadikan suara hati sebagai sumber kebenaran!

...ESQ tidak benar. Manusia tidak bisa menemukan kebenaran kalau
mengikuti suara hati. Karena kebenaran itu hanya dari Allah dan
Rasul-Nya. Jadi tidak ada jaminan kebenaran berdasarkan suara hati...

Tapi menurut Ary Ginanjar, Nabi Muhammad adalah pemimpin yang
mengandalkan logika dan suara hati.

Tidak benar! Rasulullah itu bertindak sesuai dengan petunjuk dan wahyu
Allah. Rasulullah itu tidak menggunakan suara hati, tapi dibimbing
wahyu.

Rasulullah pernah memakai sepatu (khuf). Ketika bersuci, Rasulullah
mengusap bagian atas sepatu. Padahal menurut logika, seharusnya yang
diusap (dibersihkan) adalah bagian bawah sepatu, karena yang kotor
adalah bagian bawah sepatu. Makanya dalam hadits Ali radhiyallahu
‘anhu, ia berkata:

“Seandainya agama itu dengan akal niscaya yang lebih pantas diusap
adalah bagian bawah khuf daripada bagian atasnya. Sungguh aku melihat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas kedua
khufnya.”

Agama adalah wahyu, bukan logika dan suara hati. Logika dan suara hati
setiap manusia itu tidak sama.

...Agama adalah wahyu, bukan logika dan suara hati. Logika dan suara
hati setiap manusia itu tidak sama...

Bagaimana dengan klaim Ary Ginanjar bahwa mukjizat Nabi itu tidak bisa
diterima dengan akal?

Masuk akal atau tidak, mukjizat Nabi itu harus kita terima dengan iman.
Karena mukjizat itu memang tidak bisa diterima oleh akal. Tapi iman bisa
menerimanya. Jangan menolak mukjizat meskipun akal tidak bisa
menerimanya.

Makanya kayak aliran Isa Bugis yang menolak mukjizat karena dianggap
tidak sesuai dengan akal pikiran.

...Jangan menolak mukjizat meskipun akal tidak bisa menerimanya,
kayak aliran Isa Bugis yang menolak mukjizat karena dianggap tidak
sesuai dengan akal pikiran...

Apa sikap Pak Amin terhadap para tokoh Islam yang mendukung ESQ?

Saya akan temui MUI dan Dewan Dakwah yang mendukung ESQ Ary
Ginanjar. Juga kepada orang Depag yang membela ESQ akan saya temui,
akan saya jelaskan masalah ini.

Ini menegakkan aqidah. Ini bukan soal Malaysia atau Indonesia, tapi
masalah aqidah. Masalah aqidah tidak terbatas wilayah negara. Orang
kok diajak supaya menjadi seperti sifatnya Allah, ini tidak benar.

Asma Allah “Al-Majid” diartikan Ary Ginanjar dengan makna “saya
bersifat mulia.” Hanya iblis saja yang punya prinsip “ana khairun
minhum” (aku lebih baik, red.) itu.

Karena ini masalah akidah, siapapun yang bertanya akan saya jelaskan
bahwa ESQ ini menyimpang.

...Hanya iblis saja yang punya prinsip “ana khairun minhum” (aku
lebih baik)...

Apa imbauan Pak Amin untuk ESQ Ary Ginanjar?

Saya berharap agar dia kembali kepada kebenaran, mudah-mudahan
dalam hal ini hanya khilaf karena kurangnya pemahaman tentang agama.
Mudah-mudahan sadar kembali kepada kebenaran, dan mau mengakui
kesalahannya. Namanya manusia itu bisa saja salah. Kita bukan cari
ribut, tapi kalau dia tetap bertahan, ya akan jadi masalah nanti. Rujuklah
kepada al-haqq. [taz, zak/voa-islam.com]


Dewan Fatwa Nasional Malaysia Setujui ESQ Asal Kesalahannya
Diperbaiki

Putrajaya, Malaysia (Voa-Islam.com) - Dewan Fatwa Nasional Malaysia
menyetujui pelatihan kepemimpinan Emotional Spiritual Quotient (ESQ)
dengan syarat tertentu: unsur keraguan dalam kursus leadership ESQ
masih bisa diperbaiki dan pelatihan ESQ diadakan dengan pengawasan
yang ketat. Fatwa Dewan Nasional Malaysia ini agak bertentangan
dengan fatwa Mufti Wilayah Federal 10 Juni lalu yang mengharamkan
kursus ESQ Ary Ginanjar tersebut.

Ketua Dewan Fatwa Nasional Tan Sri Dr Abdul Shukor Husin mengatakan,
keputusan mereka dibuat dalam sebuah muzakarah 16 Juni lalu, setelah
penelitian dari sebuah panel yang dibentuk oleh Departemen
Pembangunan Islam Malaysia (JAKIM) dan penjelasan dari perusahaan
yang didirikan oleh motivator Indonesia Ary Ginanjar Agustian.

"Pelatihan kepemimpinan ESQ dapat dilakukan di Malaysia dengan
pengawasan penuh oleh Desan Syariah yang ditunjuk oleh ESQ," kata
Abdul Shukor kepada para wartawan hari ini.

..Pelatihan kepemimpinan ESQ dapat dilakukan di Malaysia dengan
pengawasan penuh oleh Dewan Syariah, karena sebagian besar unsur
keraguan dalam kursus pelatihan kepemimpinan ESQ bisa diperbaiki..

"Hal ini karena muzakarah yakin bahwa sebagian besar unsur keraguan
dalam kursus pelatihan kepemimpinan ESQ bisa diperbaiki," tambahnya.

Abdul Shukor menekankan bahwa panel syariah perusahaan tersebut
bertanggung jawab untuk memonitor isi dari pelatihan ESQ dan untuk
melaporkan setiap hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Panel syariah ESQ dipimpin oleh Datuk Mustafa Abd. Rahman (mantan
direktur jenderal JAKIM) bersama Datuk As-Sheikh Nooh Gadut (Dewan
penasihat Agama Johor), Datuk Paduka Syeikh Abdul Halim Hasbullah
(mantan Mufti Kedah), Tan Sri Kadir Thalib (mantan Mufti Wilayah
Persekutuan) dan Dr Adnan Yusof ( Dekan fakultas al-Quran dan Sunnah
di Universitas Sains Islam Malaysia).

"Sebagian besar dari mereka tidak memiliki kepentingan dalam dewan
keagamaan atau hal-hal yang menyangkut ESQ," Ketua Dewan Fatwa
Nasional menambahkan.

Pelatihan kepemimpinan ESQ telah memicu perselisihan antara mufti atau
kepala ulama terhadap kepatuhan kepada ajaran Islam.

Mufti Wilayah Federal Datuk Zahidi Wan mengeluarkan fatwa "ESQ
dilarang dengan alasan bahwa pelatihan itu melanggar ajaran Islam dan
"mendukung liberalisme dengan membuat penafsiran bebas dari Quran
dan [mendukung konsep] pluralisme dalam agama, yang mengatakan
bahwa semua agama adalah "sama dan benar."

..ESQ dilarang dengan alasan bahwa pelatihan itu melanggar ajaran
Islam dan "mendukung liberalisme dengan membuat penafsiran bebas
dari Quran dan [mendukung konsep] pluralisme dalam agama, yang
mengatakan bahwa semua agama adalah "sama dan benar."

Meski fatwanya agak berbeda dengan fatwa Mufti Wilayah Federal Datuk
Zahidi Wan, Abdul Shukor tetap menghormati fatwa yang mengharamkan
ESQ tersebut.

"Di Wilayah (Persekutuan), ESQ tidak diharamkan karena Lembaran
negara menentangnya," kata Abdul Shukor. "Itu adalah hak mufti
Wilayah Persekutuan dan kami menghormati keputusannya," tambahnya.

Abdul Shukor juga mengatakan bahwa fatwa Dewan Mufti Nasional
Malaysia yang menyetujui program ESQ tidak mengikat secara hukum
dan itu terserah kepada negara-negara bagian untuk menerima atau
menolaknya.

Namun, dia mengimbau agar mufti negara bagian berkonsultasi satu
sama lain sebelum mengeluarkan fatwa agama jika masalah tersebut
bersangkutan dengan kepentingan nasional.

"Jika masalah masalah kepentingan nasional, pendapat dari muzakarah
perlu untuk dikonsultasikan sebelum negara mengeluarkan sebuah
'fatwa'," kata Abdul Shukor.

"Dan ini (kursus kepemimpinan ESQ) adalah masalah nasional,"
tambahnya. [ab ajah/tmi]


Nasihat Alumnus ESQ untuk Ary Ginanjar Agustian

Oleh: Farid Achmad Okbah, M.A. (Alumnus ESQ ke-46)

Dalam rangka melaksanakan perintah Allah untuk saling menasihati
dengan kebenaran dan kesabaran (tawashau bil-haqq wa tawashau
bis-shabri), maka sebagai saudara Muslim saya tergugah untuk
memberikan nasihat kepada Bapak Ari Ginanjar, barangkali memberikan
manfaat.

Nasihat ini saya lakukan, setidaknya, karena tiga hal. Pertama, saya
mencintainya karena Allah. Kedua, karena saya sudah menyaksikan baik
lewat kumpulan VCD maupun pelatihan ESQ yang ke-46 dengan
registrasi nomor 166. Maka, tanggung jawab orang yang mengetahui
berbeda dengan orang yang tidak mengetahui.

Ketiga, bahwa saya tidak ada kepentingan apapun selain menyampaikan
kebenaran agar Bapak Ary terhindar dari ancaman surat Al-Ahzab ayat
66-68 karena mengajarkan yang salah dan diikuti oleh orang banyak,
meskipun bapak menyatakan bahwa ini training manajemen, bukan
agama. Namun, isi training ini lebih menonjol sisi agamanya. Allah
menyebutkan dalam surat Yunus ayat 32 "Adakah setelah kebenaran
kecuali kesesatan?"

Semoga nasihat yang keluar dari hati akan masuk ke hati.

…Sebagai saudara Muslim saya tergugah untuk memberikan nasihat
kepada Bapak Ari Ginanjar. Semoga nasihat yang keluar dari hati akan
masuk ke hati…

HAL-HAL YANG POSITIF

Setelah menyaksikan secara langsung pelatihan ESQ ke-46 di Hotel
Melia, Kuningan Jakarta, yang diikuti oleh 650 peserta dan dibuka oleh
Menteri Negara BUMN Sugiharto serta diramaikan oleh alumnus-alumnus
berbobot ESQ seperti AM Fatwa, saya melihat ada sejumlah kelebihan
pelatihan ESQ. Yaitu:

1. Penampilan menarik.
2. Situasi dibuat sedemikian rupa sehingga betul-betul mendukung.
3. Multimedia bagus.
4. Kerja sama tim yang rapi dan kompak.
5. Selingan humor dan olahraga.
6. Menampilkan hasil penelitian ilmiah.
7. Banyak memakai istilah bahasa Inggris.
8. Ary Ginanjar tampil all out.
9. Cerita-cerita yang memukau.
10. Pemberian hadiah memotivasi.
11. Banyak diikuti oleh kalangan elitis yang belum tersentuh pengajian.
12. Menampilkan pengalaman-pengalaman pribadi atau orang lain seperti
kapten Abdul Razak.
13. Insya Allah ini akan berkembang tapi perlu disempurnakan.

HAL-HAL YANG NEGATIF DALAM MASALAH AKIDAH YANG PERLU
DIPERBAIKI

Agar objektif dan jujur saya terpaksa mengemukakan hal-hal yang saya
pandang negatif agar diperbaiki dalam masalah akidah.

1. Meyakini Allah terdapat dalam hati.

Pak Ary Ginanjar dalam ungkapannya menyatakan keyakinan bahwa Allah
terdapat dalam hati. Seperti mengemukakan riwayat Umar yang telah
melihat Tuhan dengan hatinya.

…Siapa yang mengatakan sesuatu yang saya tidak mengatakannya,
maka hendaknya dia menempati tempat duduknya dalam api neraka. HR
Muttafaqun alaihi…

Koreksi:

Riwayat ini tidak benar. Tetapi yang benar adalah Aisyah bertanya
kepada Rasulullah apakah beliau melihat Tuhan di Sidratul Muntaha.
Rasulullah menjawab, "Cahaya, bagaimana aku melihatnya?"

Terdapat pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah b
melihat Tuhan dengan mata hatinya. Demikian keyakinan Ahlus Sunnah.

2. Mengutip hadits palsu dalam masalah aqidah

Berkali-kali Pak Ary Ginanjar menyebut hadits:

"Siapa yang mengetahui dirinya, maka dia mengenal Tuhannya."

Koreksi:

Kalimat di atas bukanlah hadits, melainkan ucapan Saad bin Muadz (lihat
kitab Al-Maqaashidul-Hasanah karangan Imam Shahawi). Sementara Abu
Nuaim dalam kitabnya Al-Hilyah jilid X hlm. 208 mengatakan bahwa
ucapan itu adalah kata-kata Sahal Attasturi. Ibnul Qayyim dalam kitabnya
Al-Fawaa’id hal 290 telah menjelaskan maknanya. Maaf, berbahaya
berbicara mengatasnamakan Nabi, padahal beliau tidak mengatakannya.
Rasulullah bersabda:

"Siapa yang mengatakan sesuatu yang saya tidak mengatakannya, maka
hendaknya dia menempati tempat duduknya dalam api neraka." (HR
Muttafaqun alaihi).

3. Aplikasi asmaul husna bertentangan dengan Al-Qur'an

Pak Ary sangat menekankan Asmaul Husna untuk diikuti dan berpegang
kepada ungkapan:

"Berakhlaklah dengan akhlak Allah."

Koreksi:

Al-Qur'an menekankan agar kita berakhlak seperti Nabi Muhammad. Allah
berfirman:

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung" (Qs
Al-Qalam 4).

Sedang terhadap asmaul husna, Allah memerintahkan untuk berdoa
dengannya.

"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya
dengan menyebut asmaa-ul husna itu…" (Al-A'raf: 180)

Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut al-ismul a'dham
(Nama yang paling agung) seperti dalam beberapa riwayat.

…Bapak Ary Ginanjar menyebut bahwa Allah menciptakan alam
semesta ini untukmu wahai Muhammad. Ini adalah bertentangan dengan
Al-Qur'an surat Adz-Dzariyat ayat 56…

4. Hanya menekankan Tauhid Rububiyah

Kajian tauhid hanya menekankan kepada tauhid rububiyah yang
menekankan kebesaran Allah SWT melalui ciptaan-Nya (ayat kauniyah)
yang sebenarnya Allah hanya menuntut memahaminya saja agar lebih
dekat kepada Allah dan menyampaikan ayat-ayat Qur’aniyah sebagai
pendukung. Padahal Allah menekankan ayat-ayat Qur’aniyah untuk diikuti
secara total. Dan misi utama para nabi justru pada tauhid uluhiyah atau
tauhid ibadah (Qs An-Nahl 36).

Dan jangan lupa sebanyak 84 surat turun di Mekkah untuk menekankan
tauhid selama 13 tahun tidak mungkin akan dipahami dalam 4 hari
dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan perintah Allah seperti
larangan tepuk tangan (Qs. Anfal 35) dan larangan musik-musik seperti
(Qs. Al-Mukminun 3).

…Beliau bersumpah seandainya mereka siap untuk dimatikan sekarang
dan masuk neraka. Jangan menantang Allah SWT. Rasulullah SAW ketika
bersumpah Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya…

Beliau bersumpah seandainya mereka siap untuk dimatikan sekarang dan
masuk neraka. Jangan menantang Allah SWT. Rasulullah SAW ketika
bersumpah Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya.

Dan lain-lain kesalahan akidah (saya sertakan beberapa makalah
barangkali bermanfaat).

Yang lebih fatal lagi, Bapak Ary Ginanjar menyebut bahwa Allah
menciptakan alam semesta ini untukmu wahai Muhammad. Ini adalah
bertentangan dengan Al-Qur'an surat Adz-Dzariyat ayat 56. Dan,
kalaupun itu ada yang menyebut hadits ternyata itu palsu. Dan keyakinan
harus didasarkan kepada Al-Qur'an dan sunnah yang shahih.

Dan masih banyak kesalahan lain yang belum saya sebutkan. Wallahu
A'lam.

Ary Ginanjar Bantah ESQ Sesat, Betulkah ?

JAKARTA (Arrahmah.com) - Bertempat di ESQ Leadership Center, Pondok Pinang, Jakarta, Sabtu (17/7), Ary Ginanjar membantah ESQ sesat. Selesaikah masalahnya ?

Di hadapan puluhan media Islam, Ary Ginanjar memberikan penjelasan tentang apa dan bagaimana ESQ, serta membantah tuduhan sesatnya ESQ oleh mufti Malaysia, serta beberapa tuduhan sesat lainnya yang berkembang. Dialog dan tanya jawab berlangsung seru hingga menjelang magrib. Apakah jumpa pers dan dialog ini dapat dianggap cukup untuk membantah bahwa ESQ sesat?

Tuduhan Sesat di Usia 10 Tahun Perjalanan ESQ

Ary Ginanjar pimpinan sekaligus pemilik ESQ Training Center akhirnya angkat bicara. Hal ini terkait dengan difatwa sesatnya ESQ oleh mufti wilayah persekutuan Malaysia, tertanggal 10 Juni 2010. Datuk Hj. Wan Zahidi Wan Teh, mufti resmi wilayah persekutuan Malaysia memuat 10 point kesesatan ESQ yang kini telah tersebar luas di masyarakat.

Membantah tuduhan mufti Malaysia ini Ary Ginanjar mengatakan :

"Tuduhan yang didakwakan pihak Malaysia lebih mengarah pada tudingan bahwa ESQ dinilai liberal dan cenderung pluralis. Itu yang tidak benar. Dan salah satu buktinya, semua wilayah di Malaysia akhirnya mendukung setelah kami jelaskan. Satu-satunya yang melarang tersebut adalah mufti yang belum pernah sama sekali mengundang diskusi ataupun mendengarkan penjelasan kami,".

Dalam kesempatan jumpa pers tersebut Ary Ginanjar juga membagikan dokumen Penjelasan ESQ Leadership Center Mengenai: Pelarangan Training ESQ oleh Mufti Wilayah Persekutuan di Malaysia. Dalam dokumen tersebut terdapat jawaban atas dakwaan fatwa mufti wilayah persekutuan Malaysia yang menghebohkan tersebut.

Ary Ginanjar juga menceritakan perjalanan ESQ yang sudah 10 tahun berkiprah dan menghasilkan ribuan alumni dari pelbagai kalangan tersebut. Sayangnya, di usia ke-10 tahun itulah ESQ dianggap sesat. Ary Ginanjar mengatakan :

"Kami sudah sepuluh tahun menggelar ESQ. Kalau memang ada masalah, seharusnya dari dulu sudah ada masalah. Yang di training juga dari beragam masyarakat. Sepanjang sepuluh tahun tersebut para ulama dan kiyai pimpinan pondok pesantren yang ikut training dan melihat itu hingga saat ini tidak ada masalah. Ini menjadi masalah karena Malaysia yang belum tahu training menerka-nerka hal tersebut,".

Betulkah demikian ? Mengapa baru 10 tahun berkiprah baru ESQ dianggap sesat ? Apakah sebelum mufti wilayah persekutuan Malaysia belum ada seorang Ustadz pun yang memberikan fatwa sesat terhadap Ary Ginanjar dan ESQnya ?

Klarifikasi & Uji Shahih Materi ESQ

Setelah break sholat ashar, jumpa pers dan dialog antara media-media Islam dengan ESQ pimpinan Ary Ginanjar kembali berlanjut. Kali ini masuk ke sesi tanya jawab dan klarifikasi tuduhan sesat ESQ. Dalam kesempatan pertama, ditanyakan apakah Ary Ginanjar dan ESQ sudah klarifikasi, mengundang, dan menjawab tuduhan sesat yang dialamatkan kepadanya dari ulama-ulama di Indonesia, seperti dari Ustadz Hartono Ahmad Jaiz.

Ustadz Hartono Ahmad Jaiz dalam situsnya nahimunkar.com mencatat ada 27 penyimpangan ESQ Ary Ginanjar. Ustadz Hajaiz yang dikenal concern meneliti aliran dan faham sesat ini mengungkapkan dalam kutipan-kutipannya Ary sama sekali tidak bersandar kepada rujukan-rujukan primer, melainkan mengekor kepada tokoh-tokoh sufi dan orang-orang yang tidak jelas keislamannya. Maklum, Ary bukan seorang pakar dalam ilmu Agama, melainkan seorang pebisnis tulen. Tetapi ia berani berbicara tentang masalah agama, bahkan dalam hal-hal yang sangat prinsip dalam agama.

Menjawab pertanyaan ini, Ary Ginanjar mengatakan bersedia dan mau diskusi dengan para ulama yang telah memfatwa sesat ESQ. Ary Ginanjar juga mengatakan bahwa dirinya telah diskusi dengan Ustadz Amin Djamaluddin dan bersedia merevisi beberapa tulisan di dalam bukunya yang dianggap menyimpang.

Sebelumnya, Ustadz Amin Djamaluddin, pakar dan pemerhati aliran sesat di Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), secara blak-blakan dalam sebuah wawancara mengatakan kesesatan ESQ. Berikut sebagian kutipannya :

"Bagi saya, setelah membaca buku "Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ" yang ditulis oleh Ary Ginanjar, pemahaman tentang Asmaul Husna itu jelas sangat menyimpang.

Sebab dalam ayat itu kan disebutkan "walillahil asmaa'ul Husna fad'uuhu bihaa." Begitu perintah Allah dalam Al-Qur'an. Terjemahan Depag disebutkan, "Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu."

Di situ ada kata "hanya." Asmaul Husna itu hanya milik Allah. Kita diperintahkan "fad'uhu biha" bermohonlah kepadanya dengan menyebut Asmaul Husna itu, yaitu berdoa dengan menyeru: Ya Allah, ya Rahman, ya Ghaffar, dan seterusnya.

Tapi Asmaul Husna dalam buku ESQ diartikan menyimpang. Misalnya "Al-Majid" diartikan saya bersifat mulia. "Al-Majid"nya Allah diartikan Ary Ginanjar dengan makna "saya bersifat mulia." Mengaku sebagai orang yang mulia itu adalah sifat yang angkuh dan sombong. Kalau orang lain yang menilai kita mulia, itu ndak masalah. Tapi kalau kita sendiri yang mengaku mulia, ini kan pengakuan yang angkuh dan sombong.

Contoh lainnya, Asmaul Husna "Huwal awwalu wal-akhir" diartikan menjadi "saya bersikap selalu menjadi orang pertama dan terakhir." Ayat "Huwal awwalu wal-akhir" itu disamakan dengan kita.

Tidak bisa manusia masuk menyerupai asma Allah, kekuasaan Allah, kebesaran Allah, dan Rahman Rahimnya Allah. Tidak bisa! Jangan dibandingkan manusia dengan Allah. Apa sih artinya manusia, kok dibandingkan dengan kebesarannya Allah?

Dalam dialog dan tanya jawab tersebut juga terungkap bahwa sebenarnya pada tahun 2006, Ustadz Farid Okbah, pimpinan Pondok Pesantren Al Islam, Bekasi, telah memberikan penilaian terhadap penyimpangan-penyimpangan ESQ dan disampaikan oleh beliau di Radio Dakta, Bekasi. Ustadz Farid Okbah dapat memberikan penilaian terhadap penyimpangan ESQ karena beliau sendiri pernah ikut langsung training tersebut dan sudah pernah secara tertulis menyampaikan hal tersebut kepada ESQ. Namun, hingga saat ini tidak pernah ada tanggapan dari ESQ.

Terhadap hal ini, Ary Ginanjar mengaku bersedia untuk bersilaturrahmi menemui Ustadz Farid Okbah mendiskusikan dan membahas permasalahan agar tuntas. Sementara itu, Ustadz Hajaiz agak keberatan dan pesimis bertemu dengan ESQ karena dianggap tidak bisa berlaku jujur. Hal ini sebagaimana SMS beliau kepada salah seorang rekan di media Islam.

"Dengan Pak Amin Djamaluddin yang sudah 3 kali saja masih diklaim bahwa hanya persoalan redaksional. Padahal kata Pak Amin, bukan soal redaksional tapi masalah aqidah! Dengan Pak Amin (Usdtadz Amin Djamaluddin) yang duduk di lembaga saja bisa diplintir apalagi dengan saya yang perorangan, ", ujar Beliau.

Kebenaran Tetap Kebenaran, Meski Hanya Seorang Diri!

Dalam kesempatan jumpa pers dan dialog dengan media-media Islam tersebut, Ary Ginanjar juga menegaskan bahwa ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) yang ia ajarkan merupakan salah satu metode pendidikan karakter, bukan merupakan lembaga agama ataupun bukan lembaga dakwah.

Ary menjelaskan, ESQ miliknya merupakan salah satu metode training SDM (sumber daya manusia) serta manajemen yang juga menambahkan unsur spiritualitas. Unsur spiritualitas tersebut yang membuat ESQ berbeda. Akan tetapi, ia meyakinkan bahwa metode spiritualitas yang mereka lakukan tidaklah sesat.

Terhadap masalah sesat dan tidak sesatnya ESQ ini, memang akhirnya membutuhkan klarifikasi dan uji shahih materi, dan tidak cukup hanya dengan jumpa pers dan tanya jawab singkat, lalu selesai dan dijustifikasi bahwa ESQ tidak sesat. Karena dibutuhkan pembahasan dan perincian satu persatu materi-materi training ESQ oleh yang memang benar-benar ahlinya.

Karena dalam training-training ESQ, Ary Ginanjar jelas-jelas membawa-bawa agama, bahkan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang sayangnya menurut penafsirannya sendiri, atau berdasarkan penafsiran yang lemah bahkan menyimpang.

Ustadz Hajaiz secara khusus menanggapi hal ini dalam situs nahimunkar.com, sebagai berikut :

"Ketika berbicara mengenai Allah Ta'ala (dalam hal ini di antaranya asmaul husna) dan mensifati Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, seandainya tidak ada yang mempersoalkannya pun mesti harus berdasarkan dalil (ayat ataupun hadits yang shahih) dan pemahaman yang benar. Itu semua hanya dapat dilakukan oleh yang berilmu, dalam hal ini tentang Allah dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Bila tanpa ilmu, maka walau benar, maka tetap dinilai salah, sebab memasuki satu perkara tanpa lewat pintunya. Sehingga, di sini untuk menilai Ary Ginanjar, perlu dibuktikan: apakah dia membawa dalil-dalil yang shahih dan pemahaman yang shahih. juga apakah dia ahli (memiliki ilmu) tentang yang dia kemukakan dan dipersoalkan oleh Mufti dan lainnya itu.

Lantas seandainya dia sudah terbukti bahwa memang punya dalil, dan juga punya ilmu tentang itu, masih pula perlu dinilai, apakah pemahamannya tentang dalil itu benar. setelah itu dilihat pula apakah memang pemakaiannya juga benar.

Bagi yang ahli dan mengerti serta tahu siapa gurunya, dan seperti apa pemahaman gurunya, sebenarnya untuk menilai Ary Ginanjar akan lebih dapat tahu dengan nyata, karena gurunya yang di Bali, mendiang Habib Adnan juga ada buku-buku tulisannya yang dapat dikaji pula beberapa masalah yang ada di dalamnya.

Sangat disayangkan, banyak tokoh yang mendukung Ary Ginanjar tanpa dalil yang jelas. Bahkan (maaf) terkesan seperti orang di dalam kakus, ketika orang di luar kakus menyatakan bahwa isi dalam kakus itu bau, kemudian buru-buru orang dalam kakus bilang, sama sekali tidak bau.

Maaf, kalau perkataan ini kurang pas, ini sekadar mengingatkan adanya kasus yang sebenarnya memerlukan dalil dan pemahaman yang benar namun disikapi dengan suara semacam koor nyanyian asma (asal mangap). Maaf."

Justifikasi tergesa untuk tidak menfatwa ESQ sesat memang terasa, sebelum dilakukan klarifikasi dan ujih shahih materi secara mendalam. Jawatan Fatwa Kebangsaan Malaysia (14/7) menyatakan pelatihan yang dilakukan oleh ESQ boleh tetap berjalan, sebagaimana dilansir oleh Republika (15/7).

Dalam dokumen Penjelasan ESQ Leadership Center juga disertakan dukungan dari beberapa lembaga keagamaan di Indonesia, seperti Menteri Agama, NU, Muhammadiyyah, bahkan dari kepolisian. Hal ini sempat disindir oleh salah seorang perwakilan media Islam yang hadir dengan peryataan apakah ESQ berusaha mengumpulkan sebanyak-banyaknya dukungan agar tidak dianggap sesat, meski harus menghalalkan segala cara untuk mendapat rekomendasi tersebut. Tentu saja, peryataan itu dibantah oleh Ary Ginanjar dan mengatakan bahwa hak masing-masing lembaga keagamaan untuk menolak atau menerima ESQ.

Hal ini akhirnya mengungkap sebuah fakta bahwa Surat Rekomendasi Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Pusat yang dimuat di Republika (13/7) di halaman 25, tidak sah mewakili sikap resmi DDII. Ustadz Syuhada Bahri, Ketua Umum DDII pada hari Jum'at (17/7) membantah telah mengeluarkan surat rekomendasi yang mendukung ESQ Ary Ginanjar.

Sebelum magrib, acara jumpa pers dan tanya jawab antara ESQ dan media-media Islam diakhiri. Banyak hal belum terjawab secara tuntas. Beberapa media Islam menawarkan kepada Ary Ginanjar dan ESQ agar kembali berdialog dan terus mengklarifikasi seluruh materi-materi training ESQ, baik secara formal maupun non formal. Media-media Islam berjanji dan bersedia untuk memfasilitasi dan memediasi Ary Ginanjar dengan beberapa Ustadz yang secara kritis telah membedah ESQ. Semua ini demi menjaga kemurnian aqidah Islam, kemaslahatan ummat, dan melakukan tugas amar ma'ruf nahi munkar media-media Islam. Bukankah secara tegas telah disampaikan dalam sebuah hadits dimana Sahabat Abdullah bin Mas'ud r.a. pernah berkata :

"Tetaplah bersama Jama'ah (kebenaran) meskipun jika kamu seorang diri."

Wallahu'alam bis showab!

(M Fachry/arrahmah.com)


Ary Ginanjar Sebut Metode ESQ Sebagai Pendobrak

Dalam jumper pers, apa yang dilakukan ESQ, dianggap Ary sebagai upaya mendobrak kevakuman penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam setiap aspek kehidupan

Hidayatullah.com -- Pendiri The ESQ Way 165, Ary Ginanjar Agustian, akhirnya membantah tuduhan sesat oleh mufti salah satu wilayah persekutuan di Malaysia yang memfatwakan haram terhadap metode ESQ Way 165 yang ia jalankan.

Ary menyatakan, metode ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) yang ia ajarkan merupakan salah satu metode pendidikan karakter, dan bukan lembaga agama ataupun bukan lembaga dakwah.

"Kalau ESQ memang ada masalah, seharusnya dari dulu sudah ada masalah. Ini menjadi masalah karena mufti di wilayah persekutuan malaysia ini belum tahu metode ESQ. Mereka juga tidak pernah ikut training dan bertanya langsung ke kami," kata Ary Ginanjar saat menggelar jumpa pers di Gedung Menara 165, Pondok Pinang, Jakarta, Sabtu (17/07) malam.

Ary juga menyangkal jika ESQ yang dipimpinnya menekankan konsep "suara hati" atau "conscience" sebagai sumber rujukan utama dalam menentukan baik dan buruk suatu perbuatan.

Menurut dia, dalam buku dan pelaksaan pelatihan ESQ, suara hati yang disebut itu adalah suara hati nurani yang berlandaskan pada Al-Qur'an dan Hadits. Sembari mengutip firman Allah SWT Surah Al A'raf ayat 172 dan hadits Nabi SAW tentang segumpal darah dalam diri manusia, Ary menjelaskan.

Apa yang dilakukan ESQ selama ini, terang Ary, hanyalah sebagai upaya mendobrak kevakuman penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam setiap aspek kehidupan masyarakat modern.

"Saya dengan ESQ mencoba mendobrak. Saya mau Al-Qur'an masuk ke semua sektor kehidupan. Menerapkan bisnis, ada nilai Qur'an. Di Politik ada nilai Qur'an. Di bidang hukum, ekonomi, kita ingin semua dengan nilai Qur'an," kata Ary menandaskan.

Ary menjelaskan, ESQ miliknya merupakan salah satu metode training SDM (sumber daya manusia) serta mananajemen yang juga menambahkan unsur spiritualitas. Unsur spiritualitas tersebut yang membuat ESQ berbeda. Akan tetapi, ia meyakinkan bahwa metode spiritualitas yang mereka lakukan tidaklah sesat.

"Tudingan bahwa ESQ liberal dan pluralis, ini tidak benar. Saya tidak pernah menyatakan dan menyetujui bahwa semua agama sama. Agama saya Islam dan hanya Islam yang benar. Ini keyakinan saya sejak kecil dan tidak akan pernah berubah," papar dia.

Ari Ginajar dan pihak ESQ juga menyatakan siap menerima masukan dari mana saja. Termasuk juga kesediaannya untuk menemui tokoh tokoh Islam Indonesia yang selama ini concern mengawasi pergerakan aliran sesat, seperti Ustadz Hartono A. Jaiz dan Ustadz Faridh Ahmad Okbah.

"Kita terbuka menerima masukan. Apa yang harus diperbaiki, kita perbaiki. Alhamdulillah, Ustadz Amin Jamaluddin (peneliti aliran sesat, red) sudah kami temui dan memberikan arahannya.

Dilarang di Malaysia

Metode training ESQ yang dibawa Ary sebelumnya sempat mendapat pelarangan oleh satu mufti Malaysia yang menilai ada unsur-unsur kesesatan yang diajarkan dalam training. Mereka mendakwakan sepuluh poin tuduhan yang dialamatkan pada ESQ dan akhirnya dimentahkan pihak ESQ setelah Ary Ginanjar menjawab tuduhan tersebut.

Fatwa tersebut ditandatangani oleh Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia tanggal 17 Juni 2010 dan dipublikasikan situs www.muftiwp.gou.my pada Rabu (7/7/2010). Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, Datuk Hj Wan Zahidi bin Wan Teh, menganggap ajaran ESQ Ary Ginanjar dapat merusak akidah dan syariat Islam.

Ciri-cirinya, tulis fatwa tersebut, ESQ mendukung paham liberalisme karena menafsirkan Alquran dan Assunnah secara bebas. ESQ mengajarkan bahwa pada dasarnya ajaran semua agama adalah benar dan sama.

Selain itu, ESQ juga disebut mencampuradukkan ajaran kerohanian bukan Islam dengan ajaran Islam. Mufti juga melihat ESQ menekankan konsep "suara hati" sebagai rujukan utama dalam menentukan baik-buruk suatu perbuatan.


ESQ kini memiliki cabang di seluruh Indonesia, bahkan di Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia juga sudah banyak pengikutnya. Pelatihan ESQ terbuka bagi semua agama dan kepercayaan. [ain/hidayatullah.com]


Dewan Dakwah Bantah Dukung ESQ Ary Ginanjar

Di Harian Umum Republika tanggal 13 Juli 2010, ESQ Ary Ginanjar klaim ajarannya tidak menyimpang karena didukung oleh para tokoh agama di Indonesia dan Malaysia.

Untuk membuktikan klaimnya, pada halaman 25 koran nasional itu juga dipajang beberapa surat rekomendasi berbagai ormas yang menyatakan ajaran ESQ tidak sesat. Salah satu surat rekomendasi yang paling ditonjolkan adalah Surat Rekomendasi Dewan Dakwah Indonesia (DDII) Pusat.

Ternyata, surat rekomendasi DDII itu tidak sah mewakili sikap resmi DDII. Dalam pernyataan resmi yang ditandatangani Ketua Umum Syuhada Bahri dan Sekretais Umum Abdul Wahid Alwi kemarin, Jum'at (17/7/2010), DDII membantah telah mengeluarkan surat rekomendasi yang mendukung ESQ Ary Ginanjar.
Berikut kutipan siaran pers DDII selengkapnya:



PERNYATAAN SIKAP DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA PUSAT

Tentang Kop Surat dan Stempel yang Mengandung Rekomendasi Untuk ESQ Ary Ginanjar
(Bantahan Dewan Da’wah tentang Berita Di Republika tanggal 13 Juli 2010)

No. 177/A-Dewan Da’wah/VII/1431 H/2010 M

Bismillahirrahmanirrahim

Sehubungan dengan terpampangnya kop surat dan stempel Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat di Harian Umum Republika tertanggal 13 Juli 2010 halaman 25 yang mengandung rekomendasi untuk Lembaga Pelatihan ESQ, maka dengan ini kami memandang perlu untuk menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

1. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat TIDAK PERNAH secara resmi mengeluarkan rekomendasi/pernyataan apapun tentang pelatihan ESQ.

2. Pernyataan atau ungkapan sebagaimana termuat di harian tersebut merupakan pernyataan pribadi yang bersangkutan, dengan menggunakan nama institusi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan BUKAN merupakan pernyataan resmi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Pusat terhadap Lembaga Pelatihan ESQ.

Demikianlah pernyataan ini dimuat dengan sebenarnya dan ditandatangani.
Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.

Jakarta 4 Sya’ban 1431 H/16 Juli 2010 M

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia



H. SYUHADA BAHRI
(Ketua Umum

H. ABDUL WAHID ALWI, MA
(Sekretaris Umum)



Paduan Suara Lagu 'Asma' Para Pembela ESQ Ary Ginanjar

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Ada masalah prinsip dalam buku ESQ karya Ary Ginanjar yang dipersoalkan orang, menyangkut Allah Ta'ala dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Buku berjudul “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual” itu banyak digugat, baik oleh Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia maupun banyak artikel yang beredar di Indonesia seperti di website nahimunkar.com atau buku “Rekayasa Pembusukan Islam.”

Ketika berbicara mengenai Allah Ta'ala (dalam hal ini di antaranya asmaul husna) dan menyifati Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, seandainya tidak ada yang mempersoalkannya pun mesti harus berdasarkan dalil (ayat ataupun hadits yang shahih) dan pemahaman yang benar. Itu semua hanya dapat dilakukan oleh yang berilmu, dalam hal ini tentang Allah dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

...Ada masalah prinsip dalam buku ESQ karya Ary Ginanjar yang dipersoalkan orang, menyangkut Allah Ta'ala dan Nabi Muhammad...

Bila tanpa ilmu, maka walau benar, maka tetap dinilai salah, sebab memasuki satu perkara tanpa lewat pintunya. Sehingga, di sini untuk menilai Ary Ginanjar, perlu

dibuktikan: apakah dia membawa dalil-dalil yang shahih dan pemahaman yang shahih. Juga apakah dia ahli (memiliki ilmu) tentang yang dia kemukakan dan dipersoalkan oleh Mufti dan lainnya itu.

Lantas seandainya dia sudah terbukti bahwa memang punya dalil, dan juga punya ilmu tentang itu, masih pula perlu dinilai, apakah pemahamannya tentang dalil itu benar? Setelah itu dilihat pula apakah memang pemakaiannya juga benar.

Sangat disayangkan, banyak tokoh yang mendukung Ary Ginanjar tanpa dalil yang jelas. Padahal dalam kasus ESQ ini sangat memerlukan dalil dan pemahaman yangbenar ini. Janganlah disikapi dengan gegabah ala koor (paduan suara) lagu “ASMA” (Jawa: asal mangap).

Bagi yang ahli dan mengerti serta tahu siapa gurunya, dan seperti apa pemahaman gurunya, sebenarnya untuk menilai Ary Ginanjar akan lebih dapat tahu dengan nyata, karena gurunya yang di Bali, mendiang Habib Adnan juga ada buku-buku tulisannya yang dapat dikaji pula beberapa masalah yang ada di dalamnya.

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Hajaiz Ahmad


Kontroversi Fatwa Haram ESQ, Malaysia Belajar Di Indonesia

PUTRAJAYA (Berita SuaraMedia) - Setelah sempat menjadi perbincangan hangat dan kontroversi di Malaysia karena fatwa haram terhadap ESQ yang dikeluarkan Mufti Wilayah Persekutuan, sejumlah ulama lain kembali mengeluarkan keputusan baru. Berbeda dengan fatwa sebelumnya, mereka mengeluarkan keputusan tentang halalnya ESQ.

Majlis Mudzakarah Fatwa Nasional Malaysia memutuskan pelatihan manajemen diri ESQ tetap diperbolehkan dilanjutkan di Malaysia. Keputusan tersebut dibacakan Ketua Majlis Mudzakarah Fatwa Nasional Abdul Shukor Husin dalan jumpa pers di Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) di Putrajaya.

Menurut Abdul Shukor, Jakim telah membentuk lembaga khusus untuk memantau ESQ sebelum mengeluarkan fatwa halal tersebut. Fatwa halal ESQ ini, lanjut dia, antara lain didasari pertimbangan sikap terbuka ESQ yang mendatangi langsung JAKIM untuk menjelaskan isu-isu yang dianggap meragukan, seperti isu 'suara hati' dan angka '165'.

Bahkan untuk mengetahui lebih jauh muatan materi ESQ, beberapa Mufti Malaysia pergi ke Indonesia untuk mengikuti secara langsung training manajemen diri yang digagas oleh Ary Ginanjar tersebut.

"Ada 8 orang Mufti dari 14 Mufti yang ada di Malaysia telah mengikuti pelatihan ESQ. Bahkan untuk lebih mengetahui ESQ lebih dalam, beberapa Mufti mengikuti pelatihan ESQ langsung di Indonesia," ujarnya.

Atas pertimbangan itulah, Majelis Mudzakarah Fatwa Nasional Malaysia memutuskan ESQ boleh tetap dilaksanakan di Malaysia. Apalagi karena pelaksanaan ESQ ini juga akan diawasi Dewan Syariah yang telah dibentuk ESQ.

Tidak hanya itu, bahkan Abdul Shukor mengungkapkan, fatwa ini diambil setelah Majelis Mudzakarah Fatwa Nasional mengadakan tujuh kali pertemuan untuk membahas masalah ESQ sejak April 2009 hingga yang terakhir 16 Juni 2010.

Keputusan halal ini berlaku untuk 13 Mufti kecuali Mufti wilayah Persekutuan yang meliputi Kuala Lumpur, Putrajaya dan Labuan yang telah mengharamkan ESQ.

Di Malaysia, Mufti merupakan pemuka agama Islam tertinggi di tingkat provinsi. Ada 14 Mufti yang mewakili 14 provinsi di Malaysia. Mufti Wilayah Persekutuan yang meliputi Kuala Lumpur, Putra Jaya dan Labuan adalah yang mengharamkan ESQ. Fatwa tersebut keluar pada 10 Juni lalu.

Fatwa haram itu diteken Datuk Hj. Wan Zahidi Bin Wan Teh yang menganggap Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) milik Ary Ginanjar Agustian melenceng dari ajaran-ajaran agama Islam. Dia beralasan, ESQ "Leadership Training" yang diajarkan Ary melenceng dari ajaran Islam dan mengandung ajaran-ajaran yang bisa merusak akidah dan syariah Islam. Penyelewengan itu, menurut Mufti Wilayah Persekutuan -seperti yang diberitakan dalam situs muftiwp.gov.my- karena ajaran Ary mengandung faham liberalisme di mana ia menerjemahkan nas-nas Al-Quran secara bebas serta juga mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan benar.

Kini, Majelis Fatwa Kebangsaan Malaysia untuk agama Islam menyatakan, pelatihan ESQ yang didirikan Ary Ginanjar Agustian, tidak melanggar akidah dan syariah Islam sehingga kegiatan ESQ Leadership Center dapat diteruskan di Malaysia, kecuali wilayah Kuala Lumpur, Putrajaya dan Labuan.

"Kami majelis muzakarah telah mengadakan rapat sebanyak tujuh kali, mulai dari April 2009 hingga 16 Juni 2010 membahas salah satunya adalah penilaian terhadap kegiatan ESQ di Malaysia," kata Ketua Majelis Fatwa Kebangsaan Malaysia, Dr Abdul Shukor Husin di Kualalumpur.

Dalam rapat itu, majelis fatwa mengundang 14 mufti (ulama) negara bagian dan para ahli di bidang agama Islam, serta para pengurus ESQ termasuk Ary Ginanjar untuk memberikan penjelasan mengenai isu-isu yang dituduhkan.

"Kami berbicara terbuka, Ary Ginanjar dan pengurus lainnya juga menjelaskan semuanya. Kami dapat terima penjelasan mereka," katanya didampingi beberapa pengurus Majelis Fatwa Kebangsaan Malaysia.

"Atas permintaan kami, ESQ telah mengangkat juga Dewan Syariah untuk memantau kegiatan dan pelatihan ESQ agar tidak menyimpangkan akidah dan syariah. Dewan Syariah ini diketuai oleh Mustafa Abd Rahman, mantan Ketua Jakim (Jabatan Kemajuan Islam Malaysia) dan para mantan mufti negara bagian serta akademisi yang ahli dalam pengajian Islam," katanya.

"Kita semua tahu reputasi mantan Ketua Jakim Mustafa Abd Rahman yang mengeluarkan fatwa mengharamkan kegiatan Darul Arqam," kata Dr Abdul Shukor Husin.

Delapan mufti mengikuti kegiatan ESQ, bahkan beberapa diantaranya mengikuti latihan di Indonesia untuk menilai apakah pelatihan di Indonesia sama dengan di Malaysia.

"Ternyata delapan mufti itu menyatakan, kegiatan ESQ positif dan tidak menyimpang dari akidah dan syariah Islam," kata dia.

Dukungan Majelis Fatwa Malaysia kepada ESQ juga didasarkan karena pelatihan ESQ telah berkembang pesat hingga ke beberapa negara muslim seperti Brunei, Arab Saudi dan negara nonmuslim seperti Singapura, Belanda, Australia dan Amerika.

Para peserta training merupakan pemuka agama Islam, politisi, akademisi dan para profesional hingga para artis.

"Saya baca di koran kemarin, ternyata artis terkenal Erra Fazira ikut pelatihan ESQ dan menyatakan sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri," katanya.

Sebelumnya, dalam rapat Majelis Fatwa Kebangsaan terakhir pada 16 Juni 2010, 13 mufti mendukung kegiatan ESQ dan hanya satu mufti menolak, yakni Mufti Wilayah Persekutuan.

"Usai rapat tanggal 16 Juni 2010, Mufti Wilayah Persekutuan mengeluarkan fatwa bahwa kegiatan ESQ melanggar akidah dan syariah Islam. Kami menghormati keputusan itu, walaupun tidak etis, seharusnya menunggu terlebih dulu keputusan Majelis Fatwa Kebangsaan barulah memberikan tanggapan," kata Abdul Shukor. (fn/dt/ant) www.suaramedia.com

Konsep ESQ Memang Bermasalah! (Bagian 1)

Oleh: AM Waskito (Penulis, tinggal di Bandung)


[A] LATAR BELAKANG

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Sejak lama saya bersikap netral dan apresiatif terhadap konsep ESQ, atau secara khusus pelatihan-pelatihan berbasis ESQ, yang dikembangkan Bapak Ary Ginanjar Agustian dan perusahaannya. Hal ini terjadi, karena saya lebih mengikuti penilaian orang lain . Banyak orang memuji dan kagum kepada ESQ, saya pun mengikuti saja. Selain itu, saya berpikir, konsep ESQ ini semacam upaya mengangkat citra Islam dengan bukti-bukti sains dan temuan modern. Ya, serupa seperti serial karya besar Dr. Harun Yahya itulah. Saya baru tergerak membaca buku ESQ setelah berkembang opini luas seputar fatwa dari ulama Malaysia yang menyebut konsep ESQ sesat di media-media internet.

Sejak beberapa tahun terakhir, isteri membawa buku ESQ original ke rumah. Judul lengkap: “ESQ, Emotional Spiritual Quotient. The ESQ Way165. 1 Ihsan, 6 Rukun Iman, dan 5 Rukun Islam. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan spiritual. New Edition.” Tentu saja buku ini karya Saudara Ary Ginanjar Agustian. Diterbitkan oleh Penerbit Arga Jakarta, cetakan tahun 2005. Kata pengantar ditulis oleh Bapak HS. Habib Adnan.

Beberapa tahun buku tersebut ada di rumah, saya tidak berhasrat membacanya. Saya anggap, isinya baik-baik saja. Jadi, tidak perlu dikaji pun, tak masalah. Baru ada keinginan membaca setelah muncul fatwa dari Mufti Persekutuan Malaysia, Datuk Haji Wan Zahidi bin Wan Teh, yang memvonis ESQ sebagai konsep menyesatkan, sehingga harus dilarang. Sebelum ada fatwa itu, segalanya tampak baik-baik saja. Saya tertarik untuk mengkaji fatwa tersebut, apakah ia sudah proporsional atau ada masalah di dalamnya? Jadi pada mulanya, benar-benar tak ada niat mengkaji buku ESQ.

Setelah berkembang isu fatwa sesat, manajemen ESQ memberikan klarifikasi. Dalam klarifikasi itu juga dicantumkan surat rekomendasi dari anggota MUI (KH. Amidhan Shabirah), anggota DDII, dll. Klarifikasi ini saya anggap mencukupi. Saya menyimpulkan, fatwa Datuk Wan Zahidi mungkin terlalu terburu-buru dalam memberikan vonis sesat. Saya berprasangka baik kepada MUI dan DDII. Di tubuh DDII ada seorang pakar Syariah, Dr. Zayn An Najah. Juga ada pakar liberalisme, Dr. Adian Husaini. Kedua tokoh ini insya Allah mumpuni untuk membahas konsep ESQ.

Namun belakangan Dewan Dakwah (DDII) melalui situs eramuslim.com menganulir surat pernyataan yang mengatasnamakan DDII itu. Dalam surat yang ditanda-tangani KH. Syuhada Bahri dijelaskan, bahwa DDII belum pernah memberi rekomendasi resmi terhadap ESQ. Kalaupun ada, itu adalah pernyataan anggota Dewan Dakwah, yang mewakili diri sendiri (pribadi). Surat klarifikasi Dewan Dakwah ini membuat saya gelisah sekaligus penasaran. “Wah, ada apa dengan konsep ESQ?” Sejak saat itu, saya tertarik membaca langsung buku ESQ tersebut. Namun harus dicatat, pembacaan buku ini terjadi sekian tahun, setelah kami mendapati buku original ESQ.

Setelah membaca buku original ESQ tersebut, saya mendapati bukti-bukti bahwa fatwa yang dikeluarkan Mufti Persekutuan Malaysia, Datuk Wan Zahidi, memiliki relevansi kebenaran. Meskipun saya tidak bisa membuktikan untuk seluruh item persoalan yang dituduhkan oleh Datuk Wan Zahidi, tetapi beberapa tuduhan saya menemukan bukti-buktinya. Malah dalam buku “ESQ New Edition” itu saya juga menemukan perkara-perkara lain yang tidak sesuai Syariat Islam.

Namun bagaimanapun, tulisan ini sebatas opini pribadi. Saya tidak memiliki wewenang untuk menyampaikan fatwa. Ini hanya opini tentang konsep ESQ, berdasarkan bukti-bukti dari buku yang diterbitkan Penerbit ESQ sendiri. Apa yang ditulis ini lebih sebagai analisis ilmiah, bukan produk fatwa. Kalau sepakat, silakan diterima; kalau tidak sepakat, silakan diabaikan.

Sebagaimana dalam ESQ diajarkan sikap jujur, adil, konsisten, integritas, dan lain-lain. Maka Saudara Ary Ginanjar, manajemen ESQ, dan semua kalangan yang mendukung konsep tersebut, harus legowo menerima kritikan. Jangan bersikap arogan, seolah suatu konsep pemikiran sudah dianggap final, dengan meniadakan kritik-kritik terhadapnya. Tidak ada yang final di dunia ini, selain Kitabullah dan Syariat Nabi Muhammad Saw.


[B] KAIDAH UMUM

Untuk menilai suatu perkara baik atau buruk, lurus atau sesat, halal atau haram, tidak bergantung pada banyaknya pujian yang dialamatkan ke perkara tersebut. Banyaknya pujian tidak menjamin keabsahan sesuatu. Buktinya, banyak selebritis di dunia maupun di Indonesia, mereka dicintai dan dikagumi ribuan, bahkan jutaan manusia. Melalui rekayasa media, mereka dielu-elukan manusia. Tetapi publikasi media dan kekaguman publik, tidak menjamin bahwa para selebritis tersebut memiliki moralitas yang baik. Banyak fakta, bahwa para selebritis cenderung mengalami krisis moral.

Dalam studi hadits ada kaidah bagus. Bahwa puji-pujian yang banyak kepada seorang perawi hadits, tidak menyelamatkan perawi itu dari kritik yang ditujukan kepadanya. Tetap harus dicermati adanya kritik-kritik obyektif yang diarahkan kepadanya. Sehingga pada akhirnya masyarakat bisa memilih sesuatu yang baik/benar berdasarkan argumentasi, bukan perasaan, atau fanatisme.



[C] SIKAP INFERIOR MASYARAKAT

Salah satu kritik besar untuk bangsa Indonesia, ialah sikap inferior (rendah diri). Ini merupakan penyakit akut yang sangat merugikan kehidupan bangsa ini. Akibat sikap inferior, lalu bangsa-bangsa asing berbondong-bondong membodohi bangsa ini, sejak dulu sampai sekarang. Bagaimana tidak akan dibodohi, sedangkan kita memiliki semua alasan untuk dibodoh-bodohi orang lain. Kata Malik bin Nabi rahimahullah, “Keadaan kita telah menghalalkan bagi terjadinya penjajahan.”

Contoh mudah sikap inferior ini ialah dalam masalah buku (pustaka). Orang Indonesia akan memandang suatu buku sangat ilmiah, perlu, layak beli, layak dikoleksi, jika dalam buku itu banyak dikutip pendapat pakar-pakar Barat. Sebuah buku, meskipun isinya baik dan metodenya lurus, jika tidak dihiasi dengan kutipan pendapat-pendapat pakar Barat, akan diremehkan. Dianggap tidak ilmiah, dianggap tidak berkualitas. Seolah, Barat merupakan hakim ilmiah di dunia ini. Sesuatu belum sah dan ideal, jika tidak melalui rekomendasi pakar Barat.

Buku ESQ Ary Ginanjar telah terjual sampai 500 ribu eksemplar lebih. Hal tersebut, menurut penilaian saya, karena dalam buku itu terdapat banyak kutipan-kutipan pendapat pakar Barat. Padahal “benang merah” pemikiran ESQ sendiri, belum tentu istiqamah sesuai ajaran Islam. Namun ketidak-istiqamahan itu bisa tertutupi oleh banyaknya pendapat pakar-pakar Barat.

Cara pandang seperti ini jelas tidak benar. Peradaban Barat atau Timur, tidak bisa menjadi hakim atas ajaran Islam. Justru sebaliknya, Islam menjadi hakim atas semua konsep pemikiran manusia. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an: “Wa kadza-lika ja’alnakum ummatan wasa-than, li takunu syuhada’a ‘alan naasi, wa yakunar Rasulu ‘alaikum syahida” (Dan demikianlah, Kami jadikan kalian sebagai ummat yang adil-pilihan, agar kalian menjadi saksi atas [kebenaran agama] manusia, dan agar Rasulullah Saw menjadi saksi atas [kebenaran keislaman] kalian. Al Baqarah, 143).

Islam tidak boleh diadili oleh pemikiran tokoh-tokoh Barat. Pemikiran manusia sifatnya relative dan tentative. Ia bisa berubah-ubah seiring penemuan informasi baru. Sedangkan Wahyu Allah bersifat abadi, kokoh, dan mutlak. Pemikiran manusia tidak boleh mengadili ajaran Pencipta manusia (Allah Ta’ala). Justru, ajaran Allah itu menjadi pelita hidup manusia.

Soal pemikiran-pemikiran Barat cocok atau mendukung ajaran Islam. Itu biasa. Sejak jaman Rasulullah Saw pun, Kaisar Romawi Hiraklius juga sudah mengakui kebenaran ajaran Islam. Meskipun Hiraklius tidak mampu mengajak para bawahan dan rakyatnya, sepaham dengan kesimpulannya. Pemikiran tokoh-tokoh Barat tidak boleh menjadi hakim bagi ajaran Islam. Paling, kedudukan pemikiran mereka sebatas penjelasan pelengkap atas kebenaran Islam.

Sebagai Muslim, seharusnya kita sadar bahwa diri kita adalah Ahli Tauhid. Dalam aplikasi Tauhid, tidak ada satu pun makluk yang berhak menjajah diri kita, selain hanya Allah saja yang berhak diibadahi. Tauhid akan membawa kepada kemerdekaan hakiki, lepas dari segala penjajahan makhluk.

Seharusnya, yang kita kembangkan TQ atau Tauhidi Quotient. Ini adalah cara membangkitkan rasa percaya diri dan martabat manusia, dengan jalan mengajari prinsip-prinsip Tauhid. Prinsip-prinsip Tauhid, kalau bisa diajarkan dengan pendekatan modern training, insya Allah bisa melahirkan revolusi hidup yang dahsyat. Bayangkan, dengan Tauhid itu manusia menjadi sadar posisi, dan sadar akan Keagungan Rabbul ‘alamiin.

Dulu para pahlawan Islam berhasil membangun peradaban religius yang mengagumkan, karena mereka dikader dengan sangat baik dari sisi Tauhidi Quotient-nya. Kalau boleh disebut demikian. Contoh bagus ialah pernyataan Shahabat Rib’i bin Amir Ra di hadapan Kaisar Persia, Rustum. Beliau ditanya oleh Rustum tentang missi yang dibawanya. Beliau menjawab: “Allah datang bersama kami, Dia mengutus kami untuk untuk mengeluarkan siapa saja yang mau, dari penghambaan ke sesama manusia kepada penghambaan kepada Allah, dari sempitnya kehidupan dunia kepada keluasannya, dari kesewengan agama-agama kepada keadilan Islam.”

Demi Allah, Rib’i bin Amir Ra, beliau tidak pernah ikut pelatihan-pelatihan SDM. Beliau tidak pernah mendengar pandangan-pandangan pakar psikologi Barat. Tetapi ucapan beliau mencerminkan kualitas “Tauhidi Quotient” yang sangat matang. Seharusnya, kalau kita percaya diri dan mau menggali nilai-nilai ajaran Islam dan sejarahnya, kita tidak membutuhkan referensi yang lain. Persis seperti ucapan Khatib Al Baghdadi rahimahullah, “Kalau seseorang memahami keindahan Sunnah Nabi, maka dia tidak akan membutuhkan lagi referensi yang lain.”

Seharusnya, kita mengembangkan Tauhidi Quotient, Muamalah Quotient, Dinar Quotient, Adab Quotient, Sirah Quotient, Jihad Quotient, dan seterusnya. Semua itu lebih jelas dan menjanjikan, daripada mengumpulkan remah-remah ajaran spiritual dari kalangan non Muslim.


[D] PUJIAN UNTUK “ESQ”

Sebelum diajukan beberapa kritik penting, terlebih dulu saya utarakan beberapa pujian terhadap konsep ESQ yang dikembangkan oleh Bapak Ary Ginanjar Agustian dan tim.

Pertama, konsep ini dikembangkan dalam lapangan pemberdayaan SDM. Kita harus menghargai setiap usaha untuk memberdayakan SDM masyarakat Indonesia, khususnya kaum Muslimin.

Kedua, dalam lapangan pelatihan, manajemen ESQ dipimpin oleh Saudara Ary Ginanjar Agustian, kerap memanfaatkan teknologi modern dan pendekatan pelatihan kreatif. Konon, untuk pelatihan ESQ yang asli, selalu memakai daya-dukung sound system yang mumpuni. Kreativitas dalam penyediaan sarana-sarana untuk mencapai hasil pemberdayaan SDM yang optimal, sangat dibutuhkan.

Ketiga, konsep ESQ secara umum setuju dengan tesis yang mengatakan, bahwa: “Selain IQ, manusia sangat membutuhkan EQ, untuk mencapai sukses.” Tesis seperti ini insya Allah benar. Para ulama menjelaskan, bahwa dalam tradisi studi Islam, pengajaran etika didahulukan sebelum pengajaran ilmu. Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, memulai kitabnya dengan bab etika, seperti ikhlas, taubat, shabar, dll. Al Ghazali dalam Al Ihya juga memulai kitabnya dengan bab tentang adab menuntut ilmu. EQ dalam arti akhlak dan adab, adalah sangat penting dalam Islam.

Keempat, dalam buku ESQ, Ary Ginanjar sering mengemukakan hasil-hasil pengalaman pribadi dalam bisnis dan mengelola perusahaan. Pengalaman seperti itu layak untuk disimak, menjadi hikmah dan pelajaran. Terlepas hal itu berhubungan dengan konsep ESQ atau tidak.

Kelima, Ary Ginanjar Agustian secara verbal mengakui keunggulan konsep Ihsan-Rukun Iman-Rukun Islam. Terlepas kemudian, dia menafsirkan konsep Ihsan-Rukun Iman-Rukun Islam itu tidak sesuai dengan pengajaran yang diberikan para ulama. Niatnya membela konsep Islam sangat dihargai, meskipun cara yang ditempuhnya tidak lurus.

Keenam, dalam versi pelatihan-pelatihan, ESQ banyak mengemukakan bukti-bukti penemuan modern yang semakin menunjukkan kebenaran Allah Ta’ala sebagai Rabb alam semesta.

Inilah beberapa pujian penting terhadap konsep ESQ dan penulisnya, serta program pelatihan SDM yang selama ini intensif mereka kembangkan. Mungkin ada pujian-pujian lain, namun yang terpenting ialah seperti poin-poin di atas. (Bersambung ke bagian-2)


Konsep ESQ Memang Bermasalah! (Bagian 2)

Oleh: AM Waskito (Penulis, tinggal di Bandung)



[E] BEBERAPA KRITIK FUNDAMENTAL

Berikut ini saya kemukakan beberapa catatan kritik terhadap konsep ESQ yang dirintis Bapak Ary Ginanjar Agustian. Referensi kritik ini berdasarkan isi buku ESQ New Edition yang diterbitkan oleh Penerbit Arga Jakarta.

Catatan-catatan kritik ini tidak bermaksud untuk menetapkan konsep ESQ sesat, tetapi mendorong agar konsep itu diperbaiki lagi, sesuai ajaran Islam.


(1) Klaim “The ESQ Way 165”

Yang dimaksud ESQ Way adalah konsep: “Ihsan, Rukun Iman, dan Rukun Islam.” Ihsan dihitung 1, Rukun Iman dihitung 6, dan Rukun Islam dihitung 5. Jadi semuanya digabung menjadi simbol “165”. Konsep “165” ini diulang-ulang dalam buku ESQ di banyak tempat.

Ary Ginanjar Agustian dan komunitas ESQ harus paham dengan baik, bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam itu merupakan PILAR AJARAN Islam. Kalau berbicara tentang pilar-pilar ini, harus sangat hati-hati. Tidak boleh sembrono, atau seenaknya sendiri.

Sekedar penjelasan, kalau seseorang mengalami catat dari sisi Rukun Iman, imannya bisa gugur, atau setidaknya bisa rusak iman. Begitu juga, kalau seseorang cacat dari sisi Rukun Islam, keislamannya bisa hancur atau rusak. Oleh karena itu, para ulama sangat hati-hati kalau bicara tentang Rukun Iman dan Rukun Islam, sebab keduanya merupakan konsep paling sensitive dalam akidah Islam.

Kalau membaca buku ESQ karya Ary Ginanjar itu, Bagian II tentang Mental Building (Membangun Mental), halaman 117-248. Disini dibahas tentang membangun karakter mental, berdasarkan inspirasi Rukun Iman yang 6. Tetapi kalau Anda baca bab yang melebihi 100 halaman itu, disana tidak akan ditemukan pembahasan tentang Rukun Iman. Bahkan istilah “Percaya kepada Allah”, “Percaya kepada Malaikat”, “Percaya kepada Kitab”, dan seterusnya sebagaimana lazimnya pembahasan Rukun Iman, tidak ada. Yang ada justru rukun-rukun keyakinan yang dibuat oleh Ary Ginanjar sendiri.

Lebih menarik lagi, untuk menjelaskan “Rukun Iman” tersebut, Ary Ginanjar sangat banyak mengutip pandangan pakar-pakar Barat. Lha ini, mau membahas Rukun Iman, tetapi referensinya pandangan-pandangan orang non Muslim.

Begitu pula, dalam soal Rukun Islam yang dibahas di Bab III, Personal Strength (Ketangguhan Pribadi), halaman 249-323. Dalam bab ini Ary Ginanjar membatasi pandangan-pandangan pakar Barat, dan lebih mengkaji konsep-konsep ibadah dalam Islam. Tetapi sayangnya, Ary Ginanjar membuat tafsiran-tafsiran sendiri atas ibadah-ibadah seperti Shalat, Zakat, Puasa, Haji itu. Dia membuat tafsiran independen atas ibadah-ibadah ritual dalam Islam.

Para ulama Islam sudah menjelaskan, bahwa masalah ibadah itu sifatnya tauqifiyah (tinggal dilaksanakan saja, tidak ada inovasi di dalamnya). Perkara ibadah sifatnya given (diberikan secara langsung) oleh Syariat. Disini tidak ada inovasi, baik secara amalan, maupun pemikiran. Tidak boleh kita membuat inovasi-inovasi dalam masalah ibadah. Dan Ary Ginanjar justru melakukan hal itu.

Ormas Muhammadiyyah dan Persis, terkenal sangat anti bid’ah. Terutama bid’ah dalam masalah ibadah dan keyakinan. Penafsiran Ary Ginanjar terhadap Rukun Islam itu jelas berbeda dengan tradisi pandangan yang dikembangkan oleh kedua ormas Islam tersebut.

Disini saya menyimpulkan, klaim ESQ terhadap konsep Ihsan, Rukun Iman, dan Rukun Islam, atau kemudian disimbolisasi dengan icon “165”, hanya sekedar klaim belaka. Tidak ada kenyataan seperti itu dalam ajaran-ajaran ESQ.

(2) Konsep “Zero Minds Process” (ZMP)

Konsep ini dibahas di buku ESQ, Bagian I. Judulnya, Zero Minds Process, Penjernihan Emosi, halaman 63-116. Dalam konsep ini diterangkan, sebelum seseorang mengkaji buku ESQ, dia harus membersihkan pikiran-pikirannya dari 7 belenggu pemikiran, yaitu: Prasangka, Prinsip-prinsip Hidup, Pengalaman, Kepentingan, Sudut Pandang, Pembanding, dan Literatur. Satu per satu belenggu pemikiran ini dibahas dalam bab I tersebut.

Dalam boks di halaman 99, Ary Ginanjar menulis, “Periksa pikiran Anda terlebih dulu, sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena pikiran Anda, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya.” Lalu di boks halaman 103 disebutkan, “Janganlah terbelenggu oleh literature-literatur, berpikirlah dengan merdeka, jadilah yang berhati ‘ummi’.”

Dalam konsep Zero Minds ini, kita harus membersihkan pikiran dari pemikiran, persepsi, opini, dan apapun yang lain. Setelah sampai di titik “Zero Minds”, kita baru siap untuk menerima kebenaran yang dibawa oleh ajaran ESQ. Dalam pelatihan, digambarkan ada gelas berisi penuh air. Maka sebanyak dituangkan air ke gelas penuh itu, ia menjadi tidak berguna. Gelas akan memuntahkan airnya, karena sudah penuh. Maka gelas itu harus kosong terlebih dulu, sebelum menerima kebenaran (ajaran ESQ). Inilah konsep ZMP, Zero Minds Process.

Kalau seseorang teliti dan kritis, dia akan menolak konsep “Zero Minds” ini. Ini bukanlah konsep yang Islami, bahkan ia bukan konsep yang manusiawi. Konsep “mengosongkan pikiran” dari pengaruh pandangan luar, kerap dipakai di dunia intelijen untuk mencetak agen. Ia juga dipakai di lingkungan negara-negara Komunis dulu, untuk tujuan indoktrinasi secara paksa. Anda tentu ingat apa yang disebut metode brain washing (cuci otak). Konsep Zero Minds mirip itu. Bahkan cara yang sama dipakai para ahli hipnotis untuk menghipnotis manusia. Anda tentu masih ingat ucapan, “Kosongkan pikiranmu, kosongkan pikiranmu, kosongkan pikiranmu!”

Dalam berdakwah kepada manusia, kita tidak usah menuntut supaya pikiran mereka kosong dulu. Biarkan saja mereka memiliki banyak persepsi, pikiran, opini, dan apapun. Tidak ada satu pun konsep Islam yang mengajarkan metode “kosongkan pikiran” itu. Malah Islam melarang manusia minum khamr, sebab minum khamr bisa membuat manusia “hilang akal” untuk sementara.

Nabi Saw saat berbicara di bukit Shafa di hadapan para pemuka Quraisy di Makkah, lalu menawarkan kalimat “Laa ilaha illa Allah”, beliau tidak menuntut mereka “mengosongkan pikiran”. Tidak sama sekali. [Coba baca lagi kisah di balik turunnya Surat Al Lahab atau Al Massad]. Begitupun ketika Mush’ab bin Umair Ra berdakwah ke Madinah, beliau juga tidak menuntut warga Madinah “mengosongkan pikiran”. Jadi dakwah itu ditempuh secara normal saja. Kalau mau terima, silakan; kalau menolak, ya silakan. Agama ini adalah pilihan, bukan pemaksaan. [Baca Surat Al Kahfi ayat 29].

Ary Ginanjar berdalil, bahwa Rasulullah Saw dulu, sebelum menerima Wahyu, beliau adalah manusia ‘ummi, yang tidak bisa membaca-menulis. Begitu pula manusia jaman sekarang, kalau mau menerima kebenaran, harus mengosongkan pikiran dari aneka macam belenggu pikiran. Disini Ary Ginanjar mendalilkan konsep Zero Minds Process (ZMP).

Disini ada kekelirun pemikiran yang fatal. Rasulullah Saw itu awalnya tidak mengenal Islam, lalu Allah memberikan Wahyu kepadanya. Jadi wajar jika beliau sebelumnya harus bersih dari pengaruh-pengaruh ajaran/ideologi apapun. Masalahnya, kaum Muslimin yang menjadi segmen pasar konsep ESQ ini, mereka bukan orang yang tidak beragama. Mereka adalah kalangan Muslim yang sudah beragama. Mungkinkah orang yang sudah beragama disuruh “mengosongkan pikiran” dari aneka macam pemikiran, kepentingan, pengalaman, dll.? Ini jelas tidak benar.

Prinsip “mengosongkan pikiran” boleh saja diterapkan kepada non Muslim, tetapi tidak boleh untuk kaum Muslimin. Bagaimana kalau mereka meninggal dalam keadaan sedang “kosong pikiran”? Itu sama saja, mereka meninggal dalam keadaan mabuk (hilang akal).

Andaikan metode Zero Minds itu boleh diterapkan kepada non Muslim, ia tetap bukan metode Islami. Islam sama sekali tak pernah mengajarkan cara “mengosongkon pikiran” dalam berdakwah. Biarkan manusia dengan segala keadaannya, maka Kitabullah dan Sunnah akan memperbaiki mereka, jika Allah menghendaki hidayah atas mereka.

Bahkan Ary Ginanjar sebenarnya tidak konsisten dengan konsep ZMP-nya itu. Buktinya mudah. Dalam konsep ZMP, seseorang tidak boleh dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman. Pengalaman dianggap sebagai belenggu pikiran. Namun dalam buku ESQ itu, Ary Ginanjar sendiri sangat banyak memuat catatan-catatan pengalaman, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Artinya, Ary Ginanjar mengakui bahwa dalam pengalaman-pengalaman itu ada sesuatu yang baik yang bisa dijadikan pelajaran hidup. Maka mengosongkan pikiran dari persepsi awal, termasuk pengalaman-pengalaman, bukanlah suatu pemikiran yang fair.

(3) Terlalu Berlebihan Mengagungkan “God Spot”

Konsep “God Spot” ini pertama kali dicetuskan oleh ahli syaraf VS Ramachandran dari California University, pada tahun 1997. Ramachandran menemukan eksistensi God Spot dalam otak manusia. God Spot itu merupakan struktur yang sudah build in dalam otak semua manusia. Hal ini disebut dalam buku ESQ halaman 44. Berulang kali Ary Ginanjar dalam bukunta menyebut istilah God Spot.

Terkait tentang kedudukan God Spot, Ary Ginanjar antara lain menulis, “Ketika jiwa manusia mengangguk, mengakui Allah sebagai Tuhannya, maka saat itulah Sifat-sifat Tuhan yang Suci dan Mulia, akan mengemuka dan memancar dalam God Spot-nya, dan dari sinilah dasar pijakan kecerdasan spiritual bermula.” (ESQ, halaman 108). Masih pada halaman yang sama, Ary Ginanjar menyebutkan daftar 99 Asmaul Husna yang diberi judul: “99 Sifat Allah yang terefleksikan pada God Spot (Core Values)”. Di halaman 110 disebutkan, “Inilah 7 spiritual core values (nilai dasar ESQ) yang diambil dari Asmaul Husna yang harus dijunjung-tinggi sebagai bentuk pengabdian kepada sifat Allah yang terletak pada pusat orbit (God Spot).” Begitu hebatnya God Spot sampai Ary Ginanjar menyandarkan Sifat-sifat Allah kepada God Spot itu. Jelas semua ini berlebihan.

Mungkin saja, hasil penelitian tentang God Spot itu layak dihargai. Tetapi kita harus hati-hati dan proporsional. Islam sudah muncul di dunia sejak 1400 tahun lebih, yang lalu. Sedangkan konsep God Spot itu baru dikenalkan tahun 1997 lalu. Apakah kaum Muslimin harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, setelah menunggu ditemukannya Got Spot? Jelas tidak mungkin. Tanpa ditemukan God Spot pun, kaum Muslimin sudah memiliki dasar-dasar keyakinan yang kuat. Alhamdulillah.

Sebenarnya, sejak lama sarjana-sarjana Islam juga sudah menjelaskan tentang tabiat religius pada setiap manusia, meskipun sifatnya bukan hasil penelitian neurologis (syaraf). Kalangan Hizbut Tahrir, dalam bidang pembinaan kejiwaan, menyebut manusia memiliki gharizatut tadayyun (instink untuk beragama). Mereka mendasarkan pendapat itu dari temuan-temuan arkheologis, bahwa manusia-manusia kuno yang tinggal di gua-gua, mereka memiliki ritual-ritual tertentu. Padahal mereka tidak mendapat pelajaran atau informasi seperti masyarakat normal.

Dalam konsep ESQ, God Spot dianggap segala-galanya. Kemegahan God Spot ini sampai dibuatkan model tersendiri, namanya ESQ Model. Kalau Anda lihat bagan ESQ Model, God Spot diletakkan di titik pusat (sentral). Lalu bagan ESQ Model ini dicantumkan berkali-kali di halaman: 59, 60, 64, 118, 121, 138, 153, 176, 202, 218, 241, 250, 258, 273, 301, 326, 331, dan 356. Ini untuk bentuk ESQ Model yang bersifat lengkap. Adapun ESQ Model yang dipecah-pecah, masih banyak lagi. Konsep ESQ benar-benar berhutang budi kepada Ramachandran dan tim dari California University yang menemukan God Spot. Tanpa penemuan Ramachandran, tidak akan ada ESQ.

Dalam masalah posisi God Spot ini kita menemukan TITIK KEKELIRUAN FATAL dari konsep ESQ. ESQ begitu berlebihan memposisikan God Spot, hingga menjadikan God Spot sebagai titik sentral ESQ Model. Konsep seperti ini jelas KELIRU. Pembaca harus sadar, God Spot itu adalah sebuah struktur syaraf di otak yang membuktikan bahwa dalam diri manusia ada tabiat religius. Jadi pada hakikatnya, God Spot itu merupakan SEBUAH yang terletak di susunan syaraf otak. Jadi God Spot itu sebenarnya tidak memiliki FUNGSI KOMPLEKS seperti yang dibayangkan oleh Ary Ginanjar Agustian. Pusat kesadaran manusia ialah QALBU atau hati, terletak di dada. Adapun pusat pemikiran manusia adalah otaknya di kepala. Andaikan otak isinya hanya God Spot saja, tanpa susunan fungsi-fungsi syaraf yang lain, maka otak itu tidak akan berfungsi. Jadi, bagan ESQ Model runtuh disini.

Dan lebih menarik lagi ketika Ary Ginanjar tidak bisa membedakan, mana otak di kepala (termasuk God Spot di dalamnya) dan maka hati nurani di dada. Pembahasan otak dan hati ini dalam buku ESQ sangat rancu. Ada kalanya pusat kesadaran disebut God Spot, ada kalanya disebut hati nurani. Mengapa kerancuan itu timbul? Sebabnya mudah saja, karena Ary Ginanjar tertawan oleh konsep pemikiran Barat dan Timur. Menurut pakar psikologi Barat, hati nurani di dada tidak dianggap. Mereka menganalisis jiwa manusia dengan sarana susunan syaraf di otak. Sementara menurut pakar kejiwaan Timur, mereka berpijak pada fungsi hati nurani di dada.

Harus dicatat dengan baik, posisi God Spot itu berada di jaringan syaraf otak. Artinya, ia berada di kepala. Kepala jelas bukan hati (qalbu). Kepala berbeda dengan qalbu. Rasulullah Saw menjelaskan, bahwa dalam diri setiap manusia ada segumpal daging. Jika daging itu baik, baiklah seluruh tubuh; jika daging itu buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Adapun daging itu adalah qalbu. Hal ini disebut dalam hadits Bukhari-Muslim, dari An Nu’man bin Basyir Ra.

Seharusnya, aspek yang lebih tepat diperhatikan adalah hati (qalbu), bukan Got Spot di otak. Bahkan menjadi ironi ketika konsep ESQ begitu serius memperhatikan masalah God Spot, sedangkan sejak awal Saudara Ary Ginanjar sudah menekankan, bahwa: “EQ lebih penting dari IQ.” EQ terletak di qalbu, sedangkan IQ terletak di otak. Jadi bagaimana dong?

Kesadaran tentang God Spot tidak otomatis membuat seseorang beriman kepada Islam. Konsep ini dianggap unggul di hadapan ideologi atheis. Tetapi kemudian setiap orang merasa bebas memilih agama apa saja, di luar Islam, selama dalam dirinya masih ada God Spot. Padahal jelas-jelas Allah sudah menegaskan, “Innad dina ‘indallahil Islam” (agama di sisi Allah itu adalah Islam).

Bagi seseorang yang mendakwahkan Islam, maka dakwahnya akan berhenti sampai membuat “manusia beragama”, apapun agamanya. Padahal sejatinya dakwah Islam mengajak manusia masuk Islam, tidak sekedar menjadi manusia beragama. (Bersambung ke bagian-3)

5 komentar:

  1. saya sebagai rakyat indonesia merasa sedih dengan esq way kenapa mengajarkan suatu kebaikan harus dengan biaya yang relatif mahal dan di hotel terkesan sangat eksklusif, kasian preman dan orang 2 jalanan , orang sussah yang membutuhkan nasehat 2 rohani justru tidak bisa menikmati sntuhan agama dengan , sudah gitu minta sumbangan lagi.... sedih ...sedih ... sedih.... , tobat .....

    BalasHapus
  2. ESQ = Al-Qur'an, Hadits, God Spot, ZMP, Bushido, ....

    Wahai Pa Ary, stop mencampur adukan akidah Islam kita dengan ajaran2 non-Islam.

    Marilah kita berpegang teguh pada Al Qur'an dan Hadits saja untuk kita jadikan pedoman hidup.

    BalasHapus
  3. blog ini isinya fitnah keji....hati2 menuduh sesama muslim sbg sesat. payah si Wildan, kelakuan gak berubah.

    MUI aja merestui ESQ koq.
    belajarlah menghargai karya orang lain.

    wallahu alam bis showaab

    BalasHapus
  4. Di Universitas Andalas Padang ESQ untuk mahasiswa baru sudah dilaksanakan sejak 6 tahun yll. dengan pungutan lebih dari satu milyar tiap tahun dari mahasiswa baru. Staf dosen dan pegawai adm juga sudah ESQ Praktis hampir semua orang di Univ. Andalas sudah mengikuti ESQ. Apakah ada hasil positif ESQ? Tidak ada! Mahasiswa nyontek terus. Dosen plagiat terus. manajemen amburadul terus. WC bau. mohon bantuan lembaga konsumen atau siapa pun yang berwenang: apakah boleh lembaga pemerintah membeli produk seperti esq yang tidak terbukti bermanfaat, apa pun argumen teoritis mereka tentang jualan mereka.

    BalasHapus
  5. Dari awal kemunculannya saya sudah tidak setuju dengan esq. bukunya 2 jilid saya baca habis, isinya jelas pemahaman seorang bisnisman yang mengupas tentang agama dari kulitnya saja. terlihat penulisnya hanya memahami agama sedikit tapi menguraikan secara detil menurut pemahaman dia sebagai bisnisman, yang tentu saya setuju dengan mufti malaysia, bisa menyesatkan umat.
    masyarakat indonesia jelas latahnya, bahkan saat booming bbrp waktu yang lalu pejabat di lingkungan pemerintah daerah di wajibkan ikut esq. hasilnya sama saja, korupsi tetap merajalela, karena ikut trainingnya harus bayar mahal, dari uang rakyat.
    di daerah saya asmaul husna esq, diwajibkan disetiap majelis ta'lim. yang gawat ternyata beberapa beberapa nama Allah Yang Maha Agung salah pengetikan dan pengucapannya, tidak ada yang koreksi, alasan mereka pimpinan majelis taklim sudah mendapat training esq dan fotocopy lembaran asmaul husna berasal dari lembaga training esq.

    BalasHapus