1.06.2012

Pohon itu dan anak kita

Di sebuah pulau, Solomon namanya…

Terdapat sebuah pohon, pohon yang sangat besar. Kokoh kuat menjulang tinggi…

Penduduknya (yang masih primitif) merasa terganggu dengan ukuran pohon tersebut, lalu berupaya merobohkannya…

Berbagai upaya dan alat digunakan oleh mereka demi merobohkan pohon raksasa itu, namun hasilnya nihil. Pohon itu tetap perkasa tegak berdiri…

Akhirnya Ketua Adat meminta agar penduduk secara bersamaan meneriaki saja pohon itu. Berhari-hari penduduk mengelilingi dan memanjat setiap dahan pohon itu sampai puncaknya, lalu berteriak-teriak menyumpahinya…

Sampai hari ke empat puluh rontoklah daun-daunnya, melengkung dahan-dahannya, mengelupas kulitnya dan muncul akar-akarnya mencuat di atas tanah…dan robohlah si raksasa itu…

Bila pohon itu adalah anak kita. Anak yang dilahirkan dengan potensi dahsyatnya masing-masing. Kita teriaki dia, kita bentak-bentak dia, kita marah-marahi dia – anak kita itu – berapa harikah dia akan bertahan ???

Berapa kali kita membentak mereka dalam sehari, Berapa kali rona ketakutan tergambar di wajahnya yang suci, berapa kali tubuhnya menggigil saat kita – raksasanya – sedang murka ???

Pohon raksasa itu begitu besar dan kuat, hanya dalam 40 hari, roboh tak berdaya dengan hanya diteriaki. Sementara mungkin anda, saya, kita, para orangtua dan para guru, berbilang bulan bahkan bisa jadi bertahun-tahun membentak anak-anak kita…

Saya yakin tanpa bentakan dan teriakan yang tidak perlu menjadi menu sehari-hari anak kita. Saat ini anak kita sebenarnya bisa jadi jauh lebih baik, bila sejak awal menunya adalah ucapan terimakasih, penghargaan, dan penjelasan. Tidak ada kata terlambat, rubah sekarang!

Selamat menjadi orangtua dan guru hebat… :-)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar