12.19.2011

Ini Tentang Cinta

Ya, ini tentang cinta. Tentang cinta kita kepada Allah, Rasulullah, Keluarganya, para sahabatnya dan seluruh kaum beriman yang mengikuti sunnahnya. Tentang cinta kita kepada sesama kita, kepada binatang, kepada tumbuhan dan kepada alam semesta raya.

Cinta kita semua ini mempunyai dampak yang luar biasa kepada kehidupan diri kita pribadi dan orang lain selama kita menggunakannya dengan baik dan benar.

Cinta itu Verb, kata kerja bukan kata sifat. Berarti kita harus action, action dan action dalam mewujudkan rasa cinta kita. Adalah bohong, saat kita berkata “Aku cinta dia” namun tak ada wujud nyatanya.

Dengan cinta apa saja bisa kita lakukan (biidznillah), dan sering keajaiban terjadi di sini karena kita meletakkan emosi kita dengan cinta.

Dengan cinta kita bisa survive dalam kehidupan ini. Dengan cinta kita bisa menikmati dan menghayati kehidupan ini. Dengan cinta kita bisa fight. Dengan cinta kita juga mempunyai spiritualitas yang tinggi.

Dengan cinta hubungan antara hamba Allah dengan Allah menjadi seperti hubungan “sepasang kekasih.” Kita menjadikan Allah sebagai “kekasih” kita. Bersama “Sang Kekasih,” kita bisa bercerita, bercengkerama dan curhat apa saja secara lepas. Sementara jabatan hamba memiliki jarak. Tentu bukan maksudnya kita masuk ke dalam konsep sesat Wihdatul Wujud atau Manunggaling Kawula Gusti, menyatu dengan Tuhan bahkan mengaku diri sebagai Tuhan. Bukan.

Nah, apakah kita ingin tetap berjarak dengan Allah, ataukah kita ingin melepas semua jarak yang ada antara kita dengan-Nya? Sementara Allah sendiri menyatakan lebih dekat daripada urat leher kita. Namun seringkali Allah ingin mendekat kepada kita, kita malah menjauh dari-Nya. Begitulah kita, manusia.

Cinta itu tak terhingga. Bahkan untuk menggambarkan rasa cinta Allah Rab semesta alam kepada kita, air laut untuk dijadikan tinta saja tidak akan cukup untuk melukiskannya. Dalam sebuah riwayat, kita yang hidup di dunia ini hanya diberikan setetes rasa cinta Allah saja sehingga kita bisa menjadi seperti ini dan itu. Bayangkan jika kita diberikan seember cinta Allah, apa jadinya kita sebagai makhluk-Nya?

Cinta itu seharusnya sesuatu yang sederhana, mudah dipahami dan gampang diaplikasikan. Hal yang paling sederhana dan jelas, kadangkala selalu diabaikan orang justru karena kesederhanaan dan kejelasannya.

Salah satu energi cinta terdahsyat yang dapat kita rasakan adalah rasa syukur. Betapa untuk menjaga rasa syukur kita, Rasulullah meminta kita untuk lebih sering melihat ke bawah daripada ke atas. Karena sikap syukur adalah tanda bahwa kita SIAP MENERIMA sesuatu yang LEBIH BESAR.

Salah satu bentuk cinta Allah kepada kita adalah mengabulkan setiap permintaan. Imam Ibnu Atha’illah Asy Syakandari dalam Al-Hikamnya mengatakan, “Janganlah pengabulan doa yang tertunda, sementara kamu merasa telah bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Allah, memutuskan harapanmu. Karena Allah menjamin akan mengabulkan doamu dalam bentuk yang Dia kehendaki untukmu, bukan dalam bentuk yang kamu kehendaki. Doamu itu akan dikabulkan pada waktu yang Dia tentukan, bukan pada waktu yang kamu tentukan.”

Cinta kadang terkendala. Terkendala penyakit-penyakit hati. Sehingga ungkapan cinta kita tidak tulus dan aplikasinya setengah hati. Pada gilirannya, tidak ada buah matang lagi manis dari cinta seperti itu yang siap disantap dan menyegarkan. Yang ada, rasa asam, kecut dan mendongkolkan.

Ada baiknya kita jawab dua pertanyaan ini:

“Bagaimana mungkin anda bisa terbang tinggi, jika anda masih membawa ransel yang berat di pundak anda?”

“Bagaimana mungkin kapal anda akan berlayar dengan cepat, jika masih ada jangkar berkarat yang tertanam di dasar laut?”

Ransel yang berat ini adalah luka batin, luka yang terdapat dalam diri kita. Tidak ada seorangpun yang dilahirkan sempurna dalam hidupnya. Ada kebahagiaan, kepedihan, suka, duka, cinta dan benci semuanya kita alami. Bukankah dengan seperti itu akan menciptakan kehidupan yang melezatkan? Sup ayam hangat akan terasa lezat jika di dalamnya ada pedas, manis, gurih, ada nyam-nyam yang memungkinkan semuanya menjadi maakan mak-nyus. That’s life is all about.

Maka maafkan dan minta maaf lah bila kita ingin terbang tinggi. Memendam benci dan dendam hanya merugikan kita sendiri. Fisik maupu psikis. Lepaskanlah, maka akan terasa ringan. Cobalah dan dapatkan keajaibannya.

Dimana kita merasakan senang, bahagia, cinta kasih? Dimana kita merasakan kekesalan, kepedihan, dendam, kebencian dan kekhawatiran?

HATI. Ya HATI adalah raja dan anggota badan adalah tentaranya. Jika HATI baik, maka baiklah seluruh anggota badan. Dan apabila HATI rusak, rusaklah seluruh anggota badan.

Memperbaiki badan tanpa memperbaiki HATI tidak akan berguna. Perhitungan statistik menunjukkan angka 80% dari pasien dengan berbagai macam penyakit di seluruh kota besar Amerika, disebabkan oleh hal-hal psikologis dan setengah dari mereka tergolong orang-orang yang tidak mempunyai penyakit organik dalam bentuk apapun.

Penyakit fisik hampir seluruhnya diakibatkan masalah psikis. Hilangnya rasa cinta mengakibatkan organ tubuh tidak seimbang. Dan tumbuhnya rasa cinta membuat sel-sel tubuh segar, berkembang dan mereorganisasi dirinya sendiri.

Oleh karena itu, kebaikan hati yang penuh cinta adalah bahasa yang bisa didengar orang tuli dan bisa dilihat orang buta.

Bangunlah di pagi hari dengan penuh cinta. Sholat fajarlah dengan cinta, niscaya kita merasakan betapa Allah membuka hati kita, menyegarkan fikiran kita dan menguatkan otot-otot kita sehingga dapat beraktivitas dengan penuh motivasi.

Bangunlah di pagi hari dengan menebar cinta. Apapun yang paling pertama kita lihat dan kita raba serta dengar, dialah yang paling berhak lebih awal mendapatkan cinta kita.

Peluklah istri sehangat mungkin, kecup keningnya. Jika dia yang paling pertama kita dapati dan sebaiknya selalu paling pertama kemudian anak-anak kita. Betapa kedamaian, kesyahduan, keagungan menelusuri setiap aliran darah kita. Begitu dinamis. Cair semua ketegangan, perselisihan dan kebekuan yang menggunung sebelumnya.

Peluk anak-anak kita. Dekap erat, erat sekali sepenuh bisa kita curahkan seluruh kasih sayang dan cinta kita kepada mereka. Betapa bersyukurnya kita telah dianugerahi anak-anak ini. Alirkan cinta itu, buat mereka merasakan bahwa kita betul-betul mencintai mereka sepenuh hati. Rasakan kemudian, betapa kita sangat menyesal telah mencap mereka sebagai anak nakal, anak bodoh, anak kurang ajar, anak malas.

Energi cinta itu akan mengangkat moral, mental dan spiritual istri, anak-anak dan seluruh orang yang kita cintai. Cinta yang tidak perlu banyak kata, cukup tatapan mata dan sentuhan rasa sedalam relung jiwa dan seluas samudera makna.

Basahi lagi kekeringan di rumah tangga kita. Dengan memeluk mereka anggota keluarga kita. Bisikkan dengan sepenuh ketulusan “Bu, ayah cinta sama ibu..ibu cantik sekali pagi ini,” Katakanlah “Nak, kaka, adek, ayah dan ibu sayang sekali sama kalian, kalian anak-anak yang berbakti, baik dan sholeh sholehah, berangkatlah sekolah semoga kalian menjadi anak yang berguna bagi Agama dan bangsa.”

Energi cinta itu akan membesar dengan dahsyat, otak istri dan anak-anak kita segera merespon dengan memekikkan komando: “LAKSANAKAN!”. Maka jadilah istri kita akan selalu menjaga dirinya terlihat cantik dihadapan kita dan anak-anak kita berupaya menjadi anak yang berbakti, cerdas, dan sholeh mewujudkan harapan kita.

Mulailah, demi basahnya kembali rumah tangga kita. Karena dalam setiap hati yang basah disitu ada sedekah. Mulailah dengan menghitung-hitung, berapa kali dalam sehari anda memeluk istri dan anak-anak? Berapa kali dalam sehari anda mengecup dan meniup ubun-ubun istri dan anak-anak? Berapa kali anda memeluk dan membisikkan doa kepada anak-anak sesaat akan berangkat sekolah? Berapa kali dalam sehari anda membisikkan kata-kata cinta kepada mereka? Berapa kali?

Mulailah dengan BISMILLAH

by: WH Foundation

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar