8.18.2010

RAMADHAN SPIRIT KEMERDEKAAN

Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada hari Jumat 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H. Artinya, pada pekan pertama Ramadhan ini kita bersua lekat dengan hari, tanggal, dan bulan yang sama dengan 65 tahun yang lalu dalam hitungan qomariyah (65 tahun). Satu momentum yang sepatutnya mengingatkan kembali tentang fundamen moril dibalik kemerdekaan bangsa ini.

Bung Karno, dalam wawancaranya dengan Cindy Adam (US) menyatakan argumentasi yang sangat relijius. Bung Karno saat itu mengaku memilih tanggal tujuh belas dipengaruhi oleh kewajiban shalat yang dijalankan oleh setiap muslim sebanyak 17 rakaat dalam setiap hari. Saya tidak hendak mengajak kita untuk mengambil ini sebagai sebuah rujukan atau metodologis resmi dalam cara mengambil “hari baik”. Namun, apabila ada motivasi semacam itu, maka sepatutnya pula kemerdekaan sebagai sebuah “jembatan emas” haruslah punya makna untuk diantarkan kepada sebuah kehidupan baru. Kehidupan baru yang madani, yang tegak didalamnya kenyamanan dan support penuh struktural kultural dalam berbagai pelaksanaan ibadah. Sholat terutama.

Dalam wawancaranya pula, Bung Karno mengutarakan bahwa pemilihan bulan Ramadhan yang dikawinkan dengan tanggal tujuh belas pada hitungan masehi-nya, dimaksudkan agar identik dengan hari “nuzulul Quran” yang diyakini oleh mayoritas kaum muslimin di Indonesia. Hari tersebut merupakan hari turunnya Kitab suci yang menjadi pedoman hidup bagi setiap muslim, yang kemudian menjadi landasan berfikir sebuah manifesto politik termodern masa itu bernama Piagam Madinah.

Argumentasi ketiga, yaitu mengenai dipilihnya hari Jum’at juga disebabkan karena hari Jum’at dalam ajaran Islam merupakan “sayyidul ayyam“, ibu dari semua hari yang ada. Itulah tiga sebab Bung karno memilih hari Proklamasi pada Jum’at, tanggal tujuh belas masehi, dan bulan Ramadhan secara hitungan hijri.

Dalam konstitusi sah negara kita, teks pembukaan UUD menyebutkan bahwa “kemerdekaan adalah rahmat daripada Tuhan Yang Maha Esa”. Rahmat berasal dari kalimat: ra-hi-ma –yarhamu yang bermakna "sesuatu pemberian dan anugerah". Rahmat biasanya dihubungkan kepada pemberi rahmat, Tuhan Yang Maha Kuasa, sebab tidak ada yang dapat memberikan sesuatu rahmat kecuali hanya Allah saja. Jika ada seseorang manusia berkeyakinan bahwa rahmat dapat bersumber daripada selain Allah, maka orang itu telah terjatuh ke dalam kesesatan dan kemusyrikan. Sebab itu setiap bangsa harus meyakini bahwasanya kemerdekaan yang di dapat oleh bangsa Indonesia adalah rahmat daripada Allah semata-mata setelah masyarakat berjuang melawan penjajahan.

Ini ekspresi religiusitas yang amat nyata dari para founding fathers, sekaligus dapat ditafsirkan sebagai cita-cita luhur Indonesia pasca-merdeka. Bung Karno dalam banyak kesempatan, pidato-pidatonya, atau dalam edisi cetak “Indonesia menggugat” kita dengar sering mengatakan bahwa kemerdekaan adalah “jembatan emas”. Artinya, setelah jembatan itu jadi, ada sebuah cita tentang tata dunia baru. Merdeka adalah a bridge to the dream world, dan itu belum terwujud. Bahkan takkan pernah lahir dalam realita kita jika anak-anak bangsa tidak mengapresiasi rahmat kemerdekaan yang sudah ada secara tepat.

Diantara indikasi telah terlaksananya apresiasi terhadap rahmat Tuhan Yang Maha Esa adalah kerendahan hati untuk mengembalikan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Al Qur'an, surat Al-Kahfi mencatat kerendah-hatian seorang Dzulqarnain, ahli metalurgi sekaligus penguasa muslim, yang setelah sukses menyelamatkan sebuah kaum dari teror negara (state terorism) Ya’juj-Ma’juj kemudian menisbatkan kesukseskannya kepada Tuhannya.

Hadza rohmatun min rabbi (Ini rahmat dari Tuhanku) (Qs.18: 98)

Padahal jelas-jelas tembok itu dibangun atas kecerdasan dan kepeloporan dirinya! Namun, Dzulqarnain tetap mampu mengendalikan ego-nya untuk tidak berbangga diri dan menggunakan segala keberhasilannya untuk menerima ‘upeti’ yang ditawarkan oleh kaum yang telah diselamatkannya itu.

Mungkin, kita perlu mengkaji secara filosofis peran-peran Dzulqarnain dari caranya mengapresiasi rahmat ALLAH. Agar Indonesia yang diproklamirkan pada bulan diturunkannya Al Qur'an, dapat menuai berkah dari langkah-langkah kenegaraan yang Qurani.


Ramadhan bulan perjuangan

Setidaknya, ada 12 peristiwa yang sangat penting di dunia ini terjadi bertepatan pada bulan suci Ramadhan. Peristiwa-peristiwa penting itu antara lain, Perang Badar, peristiwa Rasulullah hijrah dari Kota Mekah, peristiwa saat sang khalifah Muhammad SAW merebut kembali Kota Mekah, peristiwa turunnya Al-Quran pada bulan suci Ramadhan, pelantikan nabi, pelantikan Rasul, dan kemerdekaan RI yang diproklamirkan pada 9 Ramadhan 1364 Hijriyah atau bertepatan 17 Agustus 1945.

Sejarah mencatat, tidak sedikit peperangan dalam Islam yang terjadi di bulan Ramadhan. Perang badar, fathu makkah, penaklukan Andalusia dan lain sebagainya sebagaimana disebutkan di awal. Dari sini bisa disimpulkan bahwa sebenarnya bulan Ramadhan yang ditetapkan sebagai bulan puasa bagi umat Islam bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Sejarah telah membuktikan bahwa puasa adalah titik tolak perjuangan umat Islam.

Dari sini juga, seharusnya kemerdekaan yang telah dicapai bangsa ini terus dipertahankan dan dikembangkan. Perjuangan pahlawan kemerdekaan yang telah bersusah payah merebut kemerdekaan Indonesia haruslah bisa lebih dihargai oleh generasi sekarang.

Seluruh elemen bangsa, mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi harus bisa lebih memaknai kemerdekaan yang ada saat ini. Ketika hitungan tahun bangsa kita telah merdeka selama lebih dari setengah abad, maka tentunnya perbaikan demi perbaikan harus terus diupayakan. Agar indonesia benar-benar menjadi negera yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Bagaimana mungkin, seorang anak bangsa berpangku tangan melihat keterpurukan negaranya. Terlebih lagi mereka yang diamanahi dengan bermacam jabatan pemerintahan. Kalau yang di gedung dewan saja sudah enggan memecahkan masalah negara, bagaimana lagi dengan rakyat biasa. Kalau orang nomor satu di negeri ini saja malu memutuskan siapa yang bersalah untuk kasus-kasus yang ada, bagaimana lagi dengan rakyat biasa.

Dan kalau para elit politik masih asyik dengan terobosan-terobosan partainya supaya dapat kursi lebih banyak di pemilu akan datang, bagaimana lagi dengan rakyat biasa.
Padahal lebih dari delapan puluh persen rakyat Indonesia adalah muslim. Dan mereka berpuasa. Artinya, puasa mereka harusnya bisa membendung syahwat-syahwat jabatan yang dimiliki. Harusnya puasa mereka bisa membebaskan diri mereka dari keinginan yang justru menghancurkan negara. Andai para pahlawan pejuang kemerdekaan dahulu tahu, maka sungguh mereka akan sangat kecewa. Tetesan darah yang tumpah memperjuangkan kemerdekaan, dibalas dengan keserakahan individu dan kelompok generasi bangsa sekarang.

Semoga, puasa saat ini bisa menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa bagaimana kemudian dapat mengisi kemerdekaan yang ada dengan bentuk syukur yang disukai Allah SWT sebagai Dzat yang memberikan nikmat kemerdekaan kepada kita semua. Amin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar