8.10.2009

Bonus Ramadhan

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

Suatu ketika direktur perusahaan di tempat anda bekerja memanggil anda ke kantornya. Ia memberitahukan bahwa berkat prestasi kerja anda selama ini, anda akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang prestisius. Namun dengan satu syarat, pekan depan anda harus mengikuti seleksi kerja satu bulan penuh. Seleksi yang setelah anda tanyakan ternyata relatif ringan bahkan dengan bonus yang menggiurkan. Bagaimana tidak hanya dengan melakukan kerja yang standar anda akan dapat bonus 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Ternyata itu belum seberapa, anda pun dijanjikan jika berhasil melewati seleksi tahap akhir dengan predikat sangat memuaskan maka anda akan diberikan jaminan kebutuhan hidup selama 83 tahun lebih. Wow! Sangat menggiurkan.

Anda pun jelas, sangat menunggu-menunggu waktu itu tiba, anda begitu hanyut dalam kerinduan penantian. Anda merasa waktu berjalan sangat lamban, lebih lamban dari siput pinggir sawah pak tani. Anda heran melihat jarum jam seolah berdetak malas-malasan, padahal baterainya baru anda ganti dua hari kemarin. Aaah…

Pun perbekalan telah anda siapkan sepulang dari kantor direktur anda, bahkan telah anda cek berulang-ulang khawatir ada yang terlewat dari catatan anda. Skill kerja anda yang telah lama menjadi decak kagum partner kerja anda, makin anda asah jauh lebih berkilat daripada zamrud dari India sekalipun. Bahan-bahan dan petunjuk kerja telah anda pelajari berulang-ulang, bahkan istri anda mengira anda telah jatuh hati pada buku-buku itu dan menjadikannya istri muda anda. Amboi, kerinduan memang memabukkan.

Pembaca, kiranya sudah mulai pahamkah anda akan saya bawa kemana arah cerita ini? Tentu sebagai muslim yang cerdas anda akan sontak menjawab “Inilah Ramadhan yang akan kita tempuh sepekan lagi.”

Ya, inilah Ramadhan. Bulan yang selain gaji tetap akan didapatkan juga bonus 10 hingga 700 kali lipat. Bahkan jika prestasi seleksi amalan di bulan ini konsisten sampai akhir, maka bonus pahala 1000 bulan (83 tahun lebih) bisa anda raih.

Bulan yang telah Allah informasikan kepada anda 1500 tahun yang lalu, tidak seperti direktur anda yang memberikan informasi hanya sepekan sebelum hari H. Jelas sekali persiapan dan perbekalan anda akan jauh lebih paripurna. Aneh nian, jika anda masih ragu dan gagap saat Ramadhan tiba padahal anda punya waktu 11 bulan untuk bersiap-siap menyambutnya. Bahkan anda sudah mengetahuinya sepanjang hayat anda.

Lihatlah para shahabat Rasulullah saw., manusia-manusia langit itu luar biasa gembira menyambut Ramadhan dan luar biasa pilu ditinggal Ramadhan. Mereka berharap setahun itu bulannya adalah Ramadhan semua. Layaknya anda yang begitu meluap kegembiraan saat bulan seleksi itu tiba menghampiri anda. Kegairahan memuncak untuk menelusuri satu ibadah yang Allah berkenan memberikan pahala melimpah-limpah secara langsung.

Allah menyeleksi manusia, kira-kira manusia macam apakah yang akan sanggup melaksanakan aturannya yang ini. Ternyata Allah mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman”, duhai berbahagialah orang yang beriman kepada Allah kerena mereka lulus seleksi, yang bukan hanya mengaku Islam, karena predikat muslim saja tidak cukup layak mengikuti lomba super hebat di bulan Ramadhan. Mereka tidak akan mampu, akan kepayahan…

Mereka, yang hanya Islam saja, sebagaimana sudah Rasulullah ingatkan “Betapa banyak orang yang shaum namun tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Mereka tidak tahan untuk tidak makan minum, tidak tahan untuk konsisten shalat tarawih, tidak tahan berlama-lama membaca al-Qur`an, tidak tahan untuk tidak mencaci orang lain, tidak tahan berbaik sangka kepada orang lain, tidak tahan untuk membatasi apa yang dia makan saat berbuka dan tidak tahan untuk tidak berhura-hura saat malam ‘Iedul Fithri padahal itu berpotensi menghapus seluruh pahala Ramadhan yang susah payah ia kumpulkan.

Memang nyata, kita belum seperti para shahabat Rasulullah saw., mungkin anda atau saya bahkan merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan. Atau yang lebih celaka, justru khawatir dan takut menjalani Ramadhan. Na’udzubillah. Yang menyambut gembira Ramadhan adalah orang beriman, yang menyambut dengan ekspresi datar agak berat mungkin fasiq, yang malah takut dan khawatir bisa jadi munafiq atau bahkan kufur.

Baiklah, ternyata bagi yang merasa berat, Allah telah sebutkan bahwa kewajiban shaum itu “telah diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian,” kalau umat-umat terdahulu saja sudah diwajibkan shaum lalu kenapa kita harus merasa berat seolah-olah hanya kita saja yang diberikan ‘beban’. Maka bagi siapa saja yang merasa terbebani oleh kewajiban shaum, sungguh ia hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja tanpa mendapatkan saripati dari ibadahnya sedikitpun. Sia-sia

Orang yang beriman dan bersabar tanpa terbebani akan dengan mudah mendapatkan saripati ibadah shaum Ramadhan sebagaimana target shaum itu sendiri yakni “supaya kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa,” kata Allah. Taqwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia disisi-Nya adalah insan yang bertaqwa.

Taqwa adalah juga konsistensi. Seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah “nasehatilah aku yang tidak akan aku minta lagi kepada orang lain.” Rasul menjawab: “katakanlah: aku beriman kepada Allah, lalu konsistenlah kamu dalam keimanan itu.” Iman plus konsistensi adalah taqwa. Maka ciri orang yang sukses meraih predikat taqwa dari ibadah Ramadhan adalah konsistensi ibadahnya di bulan-bulan lain sama seperti yang dilakukannya di bulan Ramadhan.

Shaum Ramadhan adalah start bukan final, adalah awal bukan akhir dari perjalanan ibadah sepanjang hayat kita. Maka tidak ada hari kemenangan bagi yang melaksanakan ibadah Ramadhan dengan biasa-biasa saja, yang asalkan tidak makan, minum dan bersenggama. Sementara hewan pun jika hanya sekedar itu mampu melakukannya.

Shaum Ramadhan adalah ibadah yang berfungsi sebagai charger untuk on-nya ibadah disebelas bulan berikutnya. Adalah mengerikan, orang berduyun-duyun di akhir Ramadhan merayakan hari kemenangan, sementara mereka sudah tidak lagi berpuasa. Kembali ke kulit palsunya yang mereka tahu bahwa itu palsu. Memang benar, orang paling bodoh adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu namun sok tahu seolah-olah dirinya tahu. Benarlah, hanya yang beriman dan bersabar dalam ibadah Ramadhan lah yang akan diampuni dosa masa lalunya.

Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan ditentukan oleh sebelas bulan berikutnya. Tarawihnya di bulan Ramadhan berlanjutkah dalam tahajud di bulan berikutnya, tilawah Qur’annya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, zakatnya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, dermawan dan pemaafnya di bulan Ramadhan berlanjutkah atau kembali menjadi bakhil dan pemberang selepas bulan itu?

Jika hal-hal di atas tidak terwujud, jangan salahkan jika ibadah kita tidak membawa dampak positif. Allah sendiri mencela orang shalat sebagai pendusta agama, yang shalat dalam keadaan lalai. Saat seharusnya shalat membuahkan proteksi atas perbuatan keji dan mungkar, namun anda, saya dan kita masih menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.

Bahkan Ramadhan kita kali ini, seharusnya tidak lagi menyantuni orang miskin yang sama, yang dulu kita serahkan zakat kita kepadanya. Tidak lagi, karena orang miskin itu tidak mau menerimanya, ia telah merasa mampu dari hasil pemberdayaan ekonomi melalui zakat kita di Ramadhan sebelumya.

Mampukah Ramadhan kita kali ini membuahkan hasil, paling tidak membuat petugas pembagi zakat menangis tersedu-sedu karena mereka ditolak dari pintu ke pintu, sebagaimana petugas pembagi zakat di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz. Semua menutupnya karena telah berdaya, harga dirinya terangkat untuk tidak terus menerus menjulurkan telapak tangan.

Sayangnya kita belum, bahkan kita secara tidak langsung melestarikan kemiskinan. Betapa tidak, kita berzakat ke orang yang sama selama bertahun-tahun. Membuat mereka haqqul yaqien bahwa zakat adalah rezeki pokoknya tanpa harus berpeluh-peluh.

Allahumma sallimnii Ramadhan, wa sallim Ramadhana lii mutaqabbalan

Kayutsha Kalashinov

8.02.2009

KARENA KITA LEMAH…

Saya pernah mendengar Aa Gym berkata: “Bukan karena mereka kuat, tetapi karena kita lemah.”

Mungkin Inilah dalilnya ;

Allah swt berfirman dalam hadits Qudsi :
“Wahai Muhammad, sesungguhnya jika aku sudah memutuskan suatu ketetapan, maka keputusan itu tidak dapat ditolak lagi. Dan sungguh aku telah menetapkan untuk umatku, bahwasanya mereka tidak akan dapat dibinasakan oleh kelaparan yang merata, dan tidak akan dapat dikalahkan oleh musuh, sekalipun mereka berhimpun dari segala penjuru dunia, sehingga sebagian mereka (umat Islam) membinasakan sebagian yang lain.” (Shahih Muslim, Bab “Halaka hadzihil ummah ba’dhuhu biba’dhin”)

Suatu hari Rasulullah saw membebaskan seekor unta yang meminta perlindungan kepada beliau karena akan disembelih oleh pemiliknya dengan membelinya seharga seratus dirham. Rasulullah saw berkata kepada sang Unta, “Pergilah, kamu bebas sekarang.”

Unta itu mengeluarkan suara. Rasulullah saw. mengucapkan “Amin” . Ketika ia bersuara lagi, beliau mengamininya lagi. Untuk yang ketiga kalinya unta itu bersuara lagi dan beliau mengamininya. Ketika ia bersuara untuk keempat kalinya, beliau menangis. “Tahukah kalian, apa yang dikatakan unta ini?” Tanya beliau kepada para Sahabat. “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Jawab para Sahabat

“Ia mengatakan, ‘Semoga Allah membalas jasamu terhadap Islam wahai Nabi.’ Aku katakan, ‘Amin.’ Lalu ia berkata, ‘Semoga Allah menenteramkan ketakutan umatmu pada hari kiamat sebagaimana engkau menenteramkan hatiku.’ Aku katakan, ‘Amin. ’ Kemudian ia berkata, ‘Semoga Allah melindungi umatmu dari musuh-musuh mereka sebagaimana engkau melindungi nyawaku.’ Aku katakan, ‘Amin.’ Selanjutnya ia berkata, ‘Semoga umatmu tidak saling berbunuh dan berperang sesama mereka.’ Mendengar doa terakhirnya aku menangis. Permohonannya itu sudah aku mintakan kepada Allah dan Dia mengabulkannya, kecuali permohonan terakhir. Jibril memberitahuku dari Allah bahwa umatku hancur karena saling berperang sesama mereka. Semuanya sudah tertulis.”

7.24.2009

PELATIHAN RU’YATUL HILAL

BULAN SUCI RAMADHAN SEGERA TIBA, MARI KITA SAMBUT DENGAN KAJIAN ILMIAH BULANAN PUSDIKLAT DEWAN DA’WAH

IKUTILAH TA’LIM BULANAN PUSDIKLAT DEWAN DA’WAH INI DENGAN MATERI PELATIHAN RU’YATUL HILAL BERSAMA:

UST. H. DR. AHMAD ZEIN AN-NAJAH, MA (DIREKTUR ISLAMIC CENTER AL-ISLAM BEKASI)

UST. KH. SYAFI’I (PIMPINAN PONPES FALAKIYAH CAKUNG)

AHAD, 02 AGUSTUS 2009 MULAI PUKUL 09.00 WIB DI MASJID WADHAH AL-BAHR PUSDIKLAT DEWAN DA’WAH SETIAMEKAR TAMBUN SELATAN BEKASI.

ACARA INI TIDAK DIPUNGUT BIAYA DAN TERBUKA UNTUK UMUM

CP: UST. DENI WAHYUDDIN (0813 1052 3771)

7.22.2009

TERORISME ISLAM: SEBUAH “PENYETANAN” ISLAM

Seorang bajak laut tertangkap oleh Kaisar Alexander Agung.
“Mengapa kamu berani mengacau lautan?” tanya Alexander Agung.
“Mengapa kamu berani mengacau seluruh dunia?” si bajak laut balik bertanya. “Karena aku melakukannya hanya dengan perahu kecil, aku disebut maling. Kamu, karena melakukannya dengan kapal besar disebut Kaisar.”
(Noam Chomsky, Menguak Tabir Terorisme Internasional)


Demonologi Islam

Berakhirnya perang Salib tidak berarti dendam Barat (Kristen) terhadap Islam dan umatnya berakhir begitu saja. Dendam kesumat yang berkepanjangan itu akhirnya dapat mereka lampiaskan ketika Eropa (Barat) melalui Columbus dapat mengetahui dan membuka pintu jalur perjalanan dan perdagangan ke dunia Timur dan dunia Islam.

Dengan dalih mencari rempah-rempah, mereka melakukan penjajahan terhadap dunia timur pada umumnya dan Islam pada khususnya. Selain membawa panji-panji gold (emas) dan glory (kebanggaan), mereka pun mengibarkan panji gospel (penyebaran Injil), dengan tujuan utama menyebarkan berita Injil dan sekaligus mengkristenkan dunia Islam serta menenggelamkannya ke titik nadir kehidupan manusia. Bagi dunia Timur dan Islam, misi ini bukan membawa glory, tetapi justru gory (berlumuran darah).

“PENYETANAN ISLAM” barangkali tepat untuk menerjemahkan istilah “Demonologi Islam”, meskipun terdengar sangat kasar. Penggunaan istilah demonologi Islam hanyalah sebagai penyederhanaan istilah bagi sebuah proses rekayasa sistematis kaum kuffar Barat yang terus-menerus memburukkan citra Islam di mata dunia. Pemburukan itu dilakukan dengan menciptakan label-label negatif dan menyeramkan, seperti; fundamentalis, teroris, ekstremis, fanatik, dan sebagainya yang dilekatkan pada seorang atau sekelompok aktivis pergerakan Islam.

Istilah “demonologi” (demonology) mungkin masih terasa asing di telinga kita. Ia bukanlah istilah populer. Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily mencantumkan kata demon yang berarti; setan, iblis, jin dan orang yang keranjingan sesuatu. Demonologi bisa diartikan studi tentang setan atau semangat kejahatan.

Untuk memahami atau memaknai istilah demonologi secara kontekstual dan faktual, Noam Chomsky mengartikan “demonologi” sebagai “perekayasaan sistematis untuk mendapatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan” dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi.

Dalam dunia ilmu komunikasi, “demonologi” barangkali dapat dimasukkan ke dalam wacana “teori penjulukan” (labelling theory). Teori tersebut menyatakan bahwa proses penjulukan dapat sedemikian hebat sehingga korban-korban misinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruhnya.

Dalam hal “demonologi Islam” kita dapat mengartikannya sebagai pengkajian tentang “penyetanan Islam” atau “penghantuan Islam”, yakni penggambaran atau pencitraan Islam sebagai demon (setan, iblis, atau hantu) yang jahat (evil) dan kejam (cruel). Kita dapat mendefinisikan demonologi Islam sebagai “perekayasaan sistematis untuk menempatkan Islam dan umatnya agar dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan.”

Hal itu dilakukan oleh pihak Barat (kaum Zionis Yahudi dan Salibis) yang memandang Islam sebagai ancaman bagi kepentingan dan eksistensi mereka. Demonologi Islam menjadi bagian dari strategi Barat untuk meredam kekuatan Islam, yang mereka sebut sebagai the Green Menace (Bahaya Hijau).

Demonologi Islam yang sasarannya bukan hanya masyarakat Barat melainkan juga masyarakat Islam agar mereka anti dan menjauh dari agamanya sendiri, berlangsung melalui pencitraan negatif tentang Islam dan para pejuangnya, melalui berbagai penjulukan-penjulukan “fundamentalisme Islam” (Islamic Fundamentalism), “terorisme Islam” (Islamic Terorism), dan “bom Islam” (Islamic Bomb), yang dipopulerkan media massa.

Dengan cara itu, Barat berupaya menenggelamkan citra Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dan sistem hidup (way of life) terbaik bagi umat manusia, membuat masyarakat dunia memusuhi dan memerangi Islam (menumbuhkan Islamophobia-ketakutan terhadap Islam), sekaligus mencegah dan melindas isu kebangkitan Islam (The Revival of Islam).

Pemburukan citra Islam adalah bagian dari upaya Barat –khususnya negara adikuasa Amerika Serikat-menata dunia menurut kepentingan mereka. Barat mengklaim diri sebagai pemegang supremasi kebenaran, sedangkan semua yang mengancam kepentingannya-dalam hal ini Islam atau komunitas Islam-atau bahkan tidak bersepakat dengannya dianggap berada di jalan yang sesat. Media massa sekedar sarana pembentuk makna. Kesan buruk mengenai Islam perlu diciptakan agar penindasan Islam dapat dilakukan dengan persetujuan khalayak.

Jadi, terbentuknya opini publik (public opinion) tentang bahayanya Islam atau Islam sebagai ancaman akibat pemburukan citra Islam tersebut, dapat memberikan semacam legitimasi dan justifikasi bagi Barat dan antek-anteknya untuk membasmi siapa saja dan kelompok apa saja yang mengusung bendera Islam dalam perjuangan politiknya. Bahkan, “Serangan terhadap ekstremis muslim-yaitu fundamentalisnya pers populer-dengan mudah berubah menjadi serangan terhadap seluruh umat Islam!”.

Terorisme Islam

Terorisme Islam atau teroris Islam merupakan label paling keji yang dialamatkan Barat kepada Islam dan kaum muslimin. Sebagai bagian dari upaya demonologi Islam, label tersebut dipopulerkan media massa Barat dan pro Barat (cermati pemberitaan media-media nasional akhir-akhir ini terkait bom Mega Kuningan) sebagai konsep untuk memahami aksi-aksi kekerasan bernuansa politis yang melibatkan kalangan Islam atau aktivis gerakan Islam, sekaligus membuat image dan public opinion bahwa Islam dan kaum muslimin itu penumpah darah, keji, barbar, sadis dan pembunuh.

Label ini, selain untuk menumbuhkan Islamophobia juga sekaligus untuk membatasi ruang gerak dan meredam aktivitas perlawanan bersenjata (perjuangan militer) gerakan-gerakan Islam sebagai reaksi atas penindasan atau operasi militer pemerintah terhadap mereka. Dengan istilah terorisme Islam pula, Barat hendak meredam semangat jihad fi sabilillah para pejuang muslim, sekaligus mendiskreditkan dan mengaburkan makna konsep jihad dalam Islam.

Terorisme sendiri merupakan istilah yang kabur dan bermakna ganda (ambiguous). Di kalangan akademisi atau ilmuwan sosial-politik pun tidak ada kesepakatan tentang batasan pengertian istilah yang kesannya mengerikan itu. Tidak ada satu pun definisi “terorisme” yang diterima secara universal. Yang jelas-dan ini pasti disepakati-terorisme merupakan sebuah aksi atau tindak kekerasan (violence) yang merusak (destructive).

Banyak analis sepakat bahwa terorisme memiliki cara yang khas, yaitu pengunaan kekerasan secara sistematis untuk mencapai tujuan politik. Metodenya adalah pemboman, pembajakan, pembunuhan, penyanderaan, atau singkatnya: aksi kekerasan bersenjata.

Dr. Knet Lyne Oot, mendefinisikan terorisme sebagai:
1.Sebuah aksi militer atau psikologis yang dirancang untuk menciptakan ketakutan, atau membuat kehancuran ekonomi atau material
2.Sebuah pemaksaan tingkah laku lain
3.Sebuah tindakan kriminal yang bertendensi mencari publisitas
4.Tindakan kriminal bertujuan politis
5.Kekerasan bermotifkan politis, dan
6.Sebuah aksi kriminal guna memperoleh tujuan politis atau ekonomis

Jika definisi tersebut dipakai, perang atau usaha memproduksi senjata pemusnah umat manusia dapat dikategorikan sebagai terorisme. Para pemimpin negara industri maju (Barat) dapat dijuluki “biang teroris atau mbahnya teroris” karena memproduksi senjata pemusnah massal seperti nuklir.

Istilah terorisme, menurut Chomsky mulai digunakan pada akhir abad ke-18, terutama untuk menunjuk aksi-aksi kekerasan pemerintah yang dimaksudkan untuk menjamin ketaatan rakyat. Istilah itu diterapkan terutama untuk “terorisme pembalasan” oleh individu atau kelompok. Sekarang, pemakaian istilah terorisme dibatasi hanya untuk pengacau-pengacau yang mengusik pihak yang kuat.

Kisah bajak laut dengan Alexander Agung di atas menggambarkan dengan sangat akurat hubungan antara Amerika dan berbagai aktor kecil di panggung terorisme internasional dewasa ini. Lebih luas lagi, kisah di atas mengungkapkan makna terorisme internasional dalam penggunaannya di Barat dan menyentuh inti kebiadaban menyangkut peristiwa tertentu yang hari-hari ini dirancang dengan sinisme yang paling kasar sebagai “selimut kebiadaban barat”.

Tudingan terhadap kaum muslimin sebagai pelaku teror, di satu sisi menunjukkan adanya “rasa bersalah” (guilty feeling) sekaligus “pengakuan” Barat khususnya Amerika terhadap dunia Islam. Pemerintah Washington bisa jadi merasa bahwa aksi-aksi kekerasan yang terjadi selama ini sebagai ulah kaum muslimin yang marah terhadapnya, karena selama ini Amerika dan sekutu-sekutunya selalu mendukung pembasmian “fundamentalisme Islam” dan menjegal naiknya kelompok muslim “garis keras” ke tampuk kekuasaan di berbagai negeri muslim, termasuk “dosa besar” Amerika yang menopang dan menjadi “centeng” setia Israel, musuh bersama dunia Islam.

Sumber Permusuhan

1.Dendam Historis

Selama berabad-abad, Barat takluk di bawah hegemoni Khilafah Islam. Kebencian kaum Kristen Barat pernah meledak dalam bentuk pengobaran api perang terhadap umat Islam, yaitu dengan terjadinya perang Salib (1096-1291 M) yang bertujuan utama penghancuran Islam. Akan tetapi, melalui peperangan tersebut, umat Islam gagal dilumpuhkan, bahkan kemenangan lebih banyak diraih umat Islam. Trauma perang tersebut berdampak pada tertanamnya rasa antipasti dan saling curiga di kedua belah pihak, terutama Kristen Barat yang berada di pihak yang kalah.

2.Kesalahpahaman Masyarakat Barat terhadap Islam

Masyarakat Barat umumnya melakukan kesalahan dalam memahami Islam. Hal itu terjadi karena masyarakat Barat umumnya mempelajari dan memahami Islam dari buku-buku orientalis, sedangkan para orientalis mengkaji Islam dengan tujuan menimbulkan miskonsepsi terhadap Islam, selain adanya motif politis untuk mengetahui rahasia kekuatan umat Islam demi melampiaskan ambisi imperialisme Barat.

Kekeliruan Barat dalam memahami Islam adalah juga karena menyamakan Islam dengan perilaku individu umat Islam. Misalnya, ketika ada orang atau sekelompok umat Islam melakukan aksi kekerasan, cap “teroris” pun dilekatkan pada Islam tanpa mau tahu mengapa aksi kekerasan itu terjadi. Sementara jika ada orang Kristen atau Yahudi yang melakukan kekerasan, tidak pernah kita dengar mereka disebut sebagai teroris Kristen atau teroris Yahudi. Inilah standar ganda yang diberlakukan Barat sebagai pengklaim kekuasaan dan kebenaran subyektifnya.

Selain itu juga diperparah oleh media massa Barat yang tidak menampilkan Islam secara utuh. Bahkan, Islam yang mereka kenalkan bukan Islam yang sebenarnya, tapi Syi’ah yang jelas-jelas telah menyempal dari Islam.

Bentuk Permusuhan

Bentuk-bentuk permusuhan Barat terhadap Islam meliputi tiga hal berikut:

1.Penyia-nyiaan. Barat bersikap masa bodoh terhadap keberhasilan peradaban umat Islam yang mengagumkan.

2.Penerapan standar ganda. Misalnya pada penggunaan istilah “fanatik muslim”, “teroris muslim” dan sebagainya, namun tidak pernah keluar istilah “fanatik Katolik” atau “teroris Katolik” dari mereka.

3.Permusuhan ateisme-rasialisme. Sekarang berkembang ketakutan masyarakat Eropa akan berdirinya pemerintahan Islam, takut bahwa ia akan tidak sesuai dengan pemerintahan sekuler di Barat. Persangkaan mereka itu sangat keliru karena pemerintahan Barat sendiri adalah Republik Kristen Demokrat.

Strategi Penaklukkan

1.Menciptakan kondisi ketergantungan. Program bantuan luar negeri (foreign aid) dalam berbagai bentuknya merupakan bagian dari penciptaan kondisi ketergantungan tersebut. Dengan ikatan bantuan tersebut, Barat dapat mengendalikan kebijakan negara-negara penerima bantuan agar melayani kepentingan mereka.

2.Penanaman rasa permusuhan dan saling curiga di antara negara-negara Islam (politik pecah belah, devide et impera).

3.Pencegahan program persenjataan nuklir di negara-negara Islam, tidak saja untuk melanggengkan supremasi Barat dalam persenjataan nuklir, tapi juga agar negara-negara Islam lemah secara militer.

4.Peredaman dan pembasmian “kekuatan Islam,” khususnya gerakan-gerakan Islam yang merupakan oposisi terdepan terhadap hegemoni Barat. Strategi ini dilakukan dengan mendukung pemerintahan tirani, diktator, dan otoriter di negara-negara muslim.

Ghazwul Fikri

Selain keempat strategi di atas, kaum kuffar secara sistematis juga berupaya mengeliminasi Islam supaya tidak berkembang dengan cara menghantam Islam dari dalam, yang terangkum dalam program al-ghazwul-fikr (penyerbuan pemikiran).

Program ghazwul fikri ini meliputi hal-hal berikut:

1.Tasykik, yakni gerakan yang berupaya menciptakan keraguan dan pendangkalan keyakinan umat Islam terhadap agamanya. Misalnya, melecehkan al-Qur’an dan Hadits, menghina Nabi Muhammad saw., atau mengkampanyekan bahwa hukum Islam tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

2.Tasywih, gerakan yang berupaya menghilangkan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya dengan memberikan gambaran Islam secara buruk sehingga menimbulkan rasa rendah diri.

3.Tadzwib, yakni pelarutan budaya dan pemikiran. Kaum kuffar melakukan pencampuradukkan antara hak dan batil sehingga menimbulkan kebingungan umat Islam.

4.Taghrib, yakni pembaratan dunia Islam, mendorong umat Islam agar menerima pemikiran dan Budaya Barat, seperti sekulerisme, pluralisme dan liberalisme.

Itulah di antara sedikit fakta yang nampak dari permusuhan abadi Barat (kuffar) terhadap Islam. Oleh karena itu adalah keharusan bagi kita untuk terus mengingat peringatan Allah swt di bawah ini:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka…” (al-Baqarah: 120)

“Sesungguhnya akan kamu jumpai orang-orang yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan kaum Musyrikin…” (al-Maaidah: 82)

“….Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sehingga mereka (dapat) memurtadkan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) jika mereka sanggup…” (al-Baqarah: 217)

“Sesungguhnya kaum kafir menafkahkan uang (harta) mereka untuk menghambat (orang) dari jalan Allah. Mereka akan terus menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan…” (al-Anfaal: 36)

“Orang-orang kafir itu membuat makar (tipu daya) dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan, Allah sebaik-baik pembalas makar.” (ali-Imran: 54)

Allahumma Tsabbit Quluubanaa ‘Alaa Diinika

7.21.2009

Tahanan Wanita di Iran Diperkosa Dahulu Sebelum di Eksekusi

Para anggota milisi Basij Iran yang ditakuti, melakukan perkosaan terhadap para tahanan wanita yang masih perawan sebelum para tahanan wanita itu dihukum mati. Mereka yang diperkosa adalah para tahanan wanita yang divonis hukuman mati dan masih perawan. Perkosaan ini adalah "ritual" wajib , kata salah satu anggota milisi Basij tersebut.

salah seorang anggota milisi yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa ini adalah bagian perintah dari pemimpin tinggi Iran Ali Khameini. Kepada The Jerusalem Post anggota milisi ini mengatakan bahwa pada saat berumur 18 tahun ia pernah diberi "kehormatan" oleh Khameini untuk sementara waktu "menikahi" tahanan wanita muda sebelum mereka dieksekusi.

Di negara penganut aliran Syiah yang sesat ini, adalah ilegal mengeksekusi mati wanita jika ia masih perawan, kata salah satu mantan anggota milisi.

Jadi, pemerintah mengatur pesta "pernikahan" semalam sebelum si tahanan wanita dieksekusi, dan si wanita dipaksa untuk melayani nafsu seksual si laki-laki , lapor situs Fox News.

Setelah digauli suami "barunya", maka si tahanan wanita sudah "halal" untuk dieksekusi.

"Aku sangat menyesal, walaupun pernikahan itu sah dan legal disini", kata mantan milisi tersebut kepada Jerusalem Post.

Beberapa tahanan wanita diberi obat tidur untuk membuat mereka tidak sadar, karena biasanya mereka melawan saat akan diperkosa, mereka lebih takut pada malam pertama mereka daripada saat menghadapi hari eksekusi mereka.

"Aku dengar mereka manangis keras dan berteriak-teriak setelah proses perkosaan itu selesai", kata mantan milisi tersebut.

"Aku tidak akan bisa lupa bagaimana salah satu gadis tersebut mencakari wajah dan lehernya sendiri dengan kuku-kukunya setelah ia digauli. Ia mengalami luka parah akibat cakaran kukunya sendiri", tutup mantan milisi tersebut.

Demikianlah praktek sesat aliran Syiah yang keluar dari Islam.

[muslimdaily.net/news.com.au]