2.05.2009

Keajaiban Gaza : “Hilang Bayi Gaza seribu, tumbuh tiga ribu”.

Tanda-tanda kebesaran Allah terus terkuak. Selama serangan Israel yang menelan 1500 nyawa, Allah memunculkan 3700 bayi. “Kalau mereka membunuh seribu dari kami, maka kami akan mendatangkan beribu-ribu penggantinya,” demikian ujar seorang ibu di Gaza.

Berbeda dengan mental tentara Zionis-Yahudi yang dikenal takut mati, Melahirkan adalah bagian dari pada jihad bagi warga Gaza. Karenanya, kematian bukan sesuatu yang ditangisi. “Kalau mereka membunuh seribu dari kami, maka kami akan mendatangkan beribu-ribu penggantinya,” demikian ujar seorang ibu di Gaza

Jika ada pepatah mengatakan, “hilang satu, tumbuh seribu". Di Gaza yang terjadi “HilangBayi Gaza seribu, tumbuh tiga ribu”. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1412 putra- putrid Gaza, justru diobati Allah dengan lahirnya 3700 bayi. Menariknya, mereka lahir selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan, dalam 22 hari serangan Israe, sebanyak 3700 bayi lahir di Gaza.

“3700 bayi telah terlahir antara 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009. ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” ujarnya.

Bulan Januari ini saja, terdaftar angka kelahiran tertinggi, dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza, dan dalam satu bulan tercatat 3000 hingga 4000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1300 kelahiran. Yakni dalam bulan Januari, terjadi peningkatan kelahiran hingga mencapai1000 kasus,” ucapnya dikutip islamonline.net.

“Ini adalah karamah untuk penduduk Gaza, yang telah kehilangan banyak nyawa,” ungkapnya dengan penuh kegembiraan.

Menurutnya, jika dibandingkan antara angka kematian dan kelahiran di Gaza, maka angka kalahiran mencapai 50 ribu sedangkan kematian mencapai 5 ribu tiap tahunnya.

“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus mesa depan Gaza, 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2000 anak serta 1000 wanita mengalami luka-luka,” unggapnya.

Langit Turunkan “Anwar Baru”

Anwar, adalah nama anak Gaza yang baru lahir dari keluarga Mahmud Ulyan. Nama itu juga nama saudara kandungnya yang telah syahid.

“Mereka membunuh Anwar, dan langit telah menurunkan Anwar yang baru.”

Jalan Al Yarmuk, barat kota Gaza telah kehilangan 15 penduduknya selama serangan Israel berlangsung. Akan tetapi mereka mendapatkan 30 bayi, yang lahir di masa itu.

Tampaknya Israel akan terus berhadapan dengan masalah demografi Palestina, dimana angka kelahiran di negeri itu semakin bertambah setelah terjadi peperangan. Ummu Ahmad, ibu 4 anak menegaskan hal itu.

“Dengan izin Allah, saya akan melahirkan setiap tahun satu anak, kami akan terus memerangi mereka, kalau mereka membunuh seribu dari kami, maka kami akan mendatangkan beribu-ribu penggantinya.”

Statistik menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun, terjadi peningkatan jumlah penduduk di Gaza, dari 1 juta menjadi 1,5 juta jiwa. Yakni bahwa peningkatan mencapai hingga 50%. Kalau tahun 1997 Gaza meyumbang 36% jumlah penduduk Palestina, kini penduduk Gaza menyumbang 40 % kepada penduduk Palestina secara keseluruhan.

Perkiraan tahun 2025 rakyat Palestina mencapai 6 juta jiwa. Peningkatan inilah yang dikhawatirkan Israel. Urnun Suvir, dosen Universitas Haifa menulis dalam buku terbarunya, bahwa meningkatnya jumlah penduduk Palestina, akan mengancam strategi Israel dan mengancam keberadaan ”negara Israel”.

Israel boleh saja berencana melakukan makar. Namun faktanya, makar oleh jauh lebih hebat dan lebih dasyat. (dakta)

2.01.2009

Gaza tonight

by: Michael Heart

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

"Tuhan Sembilan Senti"

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,


di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Tentang PKS Pragmatis / Ideologis?

Seorang kawan bernama Andri yang baru pulang studi di Al-Azhar Cairo bertanya via sms kepada saya:

Andri: “Assalamualaikum…a gimana pandangan antum tentang PKS menjadi partai terbuka?” (24-01-2009/06:42:15)
Saya: “Maka tunggulah kehancurannya. Sesungguhnya berpolitik praktis adalah juga perjuangan idiologis (agama). Bagaimana itu bisa sukses kalau ada talbisul haq bilbatil.” (24-01-2009/06:47:05)


Andri: “Iyah, ana juga merasakan kurang nyaman a..dengan gagasan PKS ke sininya..beda dengan dulu..sekarang terkesan cair dan kurang idiologis..” (24-01-2009/06:50:17)
Saya: “Yang paling sulit memang ISTIQOMAH.” (24-01-2099/06:53:39)
Andri: “Iyah memang..antum sekarang masih di PKS? Ana teh pengen banyak diskusi masalah ini..” (24-01-2009/06:56:01)
Saya: “Ana tidak pernah di PKS. Kalau simpatisan iyah…sampai sekarang untuk beberapa hal.” (24-01-2099/06:59:34)

Sebelumnya kawan ini ditawari untuk menjadi caleg PKS di daerahnya. Wa, yaa…ayyuhal mu’minun maa ro’yukum? wh

Obrolan warung kopi dengan aktifis JIL

Obrolan ini berawal dari keheranan saya kepada seorang aktifis JIL yang berkomentar saat acara debat di salah satu stasiun televisi swasta beberapa pekan yang lalu. Ia mengatakan bahwa menghina Yahudi sama saja dengan menghina para Nabi yang juga kebanyakan diutus dari kalangan Yahudi. Nampaknya ia lupa bahwa bangsa Yahudi juga yang membunuh para Nabi mereka itu.


Selesai tayangan debat saya SMS beliau:
“Bang, mari kita bicara tidak atas nama agama sebagaimana anda memang tidak menyukainya. Mari kita bicara atas nama kemanusiaan sebagaimana anda suka dan agung-agungkan. Maka atas nama kemanusiaan apa yang telah anda lakukan untuk Palestina?” Entah apa jawaban beliau karena saya SMS menggunakan Hp adik yang saat saya cek sudah dia hapus.

Marilah kita ikuti obrolan warung kopi yang saya lakukan dengan beliau (selanjutnya saya menggunakan ‘beliau’ untuk mengidentifikasi aktifis JIL tersebut). Selanjutnya anda dapat memberikan komentar dari obrolan di bawah ini:

(Saya sengaja lebih banyak mengajukan banyak pertanyaan-pertanyaan dengan tujuan membongkar landasan cara berfikir JIL yang rapuh dan seringkali tidak ilmiah. Saya tidak mau repot-repot membantah dengan panjang lebar, sementara pendapat JIL sendiri hanya merupakan ungkapan kegenitan intelektual dan sambil lalu).

Saya: “Bang maaf kemarin terputus, mari kita lanjutkan obrolan via sms, kalau lewat telpon khawatir banyak kata yang mubadzir. Soal; kenapa buat Ahmadiyah JIL dan kawan-kawan bisa demo, buat Palestina tidak bisa?” (16-01-2009 / 14: 36: 02)
Beliau: “Kami sudah 3 kali berdemo. Sekarang kami melakukan donor darah. Pertanyaan yang sama, kenapa kawan-kawan begitu antusias demo soal Palestina tapi Ahmadiyah yang diusir dan dibakar rumahnya tidak dipedulikan.” (16-01-2009 / 15: 00: 32)
Saya: “Kenapa demonya tidak sebesar demo dukung Ahmadiyah dan tidak terdengar? Siapa yang mengusir dan membakar, punya bukti valid? Kalau ada kirim ke wildanhasan@yahoo. com. Ane tunggu.” (16-01-2009 / 15: 05: 42)
Beliau: “Pasti demo kami tenggelam oleh kampanye PKS yang memanfaatkan momentum Palestina.” (16-01-2009 / 18: 07: 14)
Beliau: “Datanya cari sendiri, mulai dari Parung, Tasik, Garut Lombok…kawan-kawan sendiri sudah berbuat apa untuk Palestina?” (16-01-2009 / 18: 05: 24)
Saya: “Datanya cari sendiri, mulai dari ormas-ormas Islam, parpol, LSM non oportunis, relawan jihad, dana jutaan dolar, makanan, obat-obatan dan lain-lain. Pokoknya lebih berarti dari sekedar donor darah.” (16-01-2009 / 18: 13: 34)
Beliau: “Alhamdulillah. Mudah-mudahan bantuan teman-teman lebih berarti.” (16-01-2009 / 18: 24: 48)
Saya: “Amien…kenapa membela Palestina tidak boleh atas nama agama?” (16-01-2009 / 18: 26: 56)
Beliau: “Tentu saja boleh, karena agama mengajarkan untuk membela siapapun yang teraniaya.” (16-01-2009 / 18: 33: 00)
Saya: “Solat dulu yuk…” (16-01-2009 / 18: 33: 57)
Saya: “Lanjut…teraniaya dalam arti apa bang?” (16-01-2009 / 18: 50: 36)
Beliau: “Siapapun yang diperlakukan tidak adil apalagi dibunuhi seperti rakyat Palestina sekarang.” (16-01-2009 / 19: 10: 57)
Saya: “Menurut abang adil itu apa? Rakyat Israel yang ‘dibunuhi’ Hamas apakah mereka telah diperlakukan tidak adil?” (16-01-2009 / 19: 14: 53)
Beliau: “Adil dalam konteks apa? Politik, ekonomi, filsafat?” (16-01-2009 / 20: 28: 07)
Beliau: “Ya, mereka juga tidak diperlakukan tidak adil. Rakyat sipil tidak boleh jadi korban.” (17-01-2009 / 03: 17: 24)
Saya: “Bagaimana agar dalam perang, rakyat sipil tidak jadi korban?” (16-01-2009 / 20: 19: 43)
Beliau : “Ya berhenti perang. Belajar kepada perjuangan Gandhi atau Soekarno.” (16-01-2009 / 20: 27: 54)
Saya: “Bagaimana caranya?” (16-01-2009 / 20: 25: 23)
Beliau: “Berhenti berperang. Jalan diplomasi jauh lebih manusiawi.” (17-01-2009 / 03: 24: 04)
Saya: “Cara berhenti berperang? Cara belajar kepada Gandhi dan Soekarno? Samakah motivasinya?” (16-01-2009 / 20: 30: 06)
Beliau: “Motivasi bagaimana?” (17-01-2009 / 03: 32: 49)
Saya: “Arti adil juga belum dijawab?” (16-01-2009 / 20: 19: 43)
Saya: “Arti adil dulu dijawab?” (16-01-2009 / 20: 34: 06)
Beliau: “Bagi saya, adil itu tidak memaksakan sesuatu, memanusiakan manusia. Semua manusia sama.” (16-01-2009 / 20: 36: 27)
Saya: “kalau artinya seperti itu berarti hidup akan tanpa peraturan? Berarti kita tidak boleh memaksa Israel hentikan serangannya? Memanusiakan manusia maksudnya?” (17-01-2009 / 12: 54: 26)
Beliau: “Kalau kita mampu memaksa Israel mengehentikan serangan, maka seharusnya itu dilakukan. Tetapi sejauh ini upaya pemaksaan hanya menjadi alasan Israel menyerang balik dan memperluas wilayah.” (17-01-2009 / 20: 45: 57)
Saya: “baiklah kalau begitu kita biarkan saja Israel terus menghabisi rakyat Palestina?” (17-01-2009 / 13: 48: 44)
Beliau: “Terus menekan Israel dan AS untuk menghentikan serangan mutlak diperlukan. Kamu sendiri apa bisa dilakukan?” (17-01-2009 / 13: 56: 59)
Saya; “Katanya tidak boleh memaksa, apalagi menekan? Tidak ‘adil’ dong…” (17-01-2009 / 13: 59: 13)
Beliau: “Israel itu sekarang melakukan pemaksaan, oleh karenanya mereka berlaku tidak adil. Kita melakukan tekanan melalui seruan, pernyataan sikap, dan lain-lain agar ketidak adilan itu berhenti.” (17-01-2009 / 18: 34: 09)
Saya: “Saya ingin melihat JIL dan kawan-kawan mencantumkan seruan dukungan di Palestina di media massa nasional secara terbuka seperti yang lain-lain bagaimana?” (17-01-2009 / 18: 49: 21)
Beliau: “Bukalah website JIL, kami perjuangkan rakyat Palestina sepenuh hati. Besok, pukul 13, teman-teman akan kembali menggelar demo. Kalau ada kemampuan, pasti akan kami lakukan apapun untuk rakyat Palestina.” (18-01-2009 / 01: 55: 17)
Saya: “Oh ya…nanti saya lihat. Tapi yang lihat web kan terbatas. Paling tidak di Kompas biar gratisan?” (17-01-2009 / 18: 58: 59)
Beliau: “Maksudnya gratisan?” (18-01-2009 / 02: 07: 42)
Saya: “Tulis di media “JIL sepenuhnya mendukung perjuangan rakyat palestina” berani? Atau pernyataan pers secara terbuka, bisa?” (17-01-2009 / 19: 04: 05)
Beliau: “Kami sudah mengeluarkan sikap sebagai lembaga. Kenapa terlalu banyak menuntut orang lain? Kalau kamu mampu berbuat, berbuatlah.” (17-01-2009 / 21: 13: 14)
Beliau: “Beberapa orang JIL sudah mengemukakan itu lewat tulisan di media cetak, konferensi pers, talkshow radio dan televisi. Maksudnya berani apa?” (18-01-2009 / 02: 07: 42)
Saya: “Kita ingin dengar, baca, lihat JIL nya bukan person-personnya. Hehe…siapa tahu tidak berani.” (17-01-2009 / 21: 04: 50)
Saya: “Ariel Sharon bilang jalan diplomasi adalah kelemahan?” (19-01-2009 / 22: 14: 28)
Beliau: “Israel memang selalu menghendaki perang, sebab dengan perang mereka bisa memperluas wilayah. Hamas sering terjebak dalam perang yang diinginkan Israel.” (19-01-2009 / 22: 27: 08)
Saya: “Hamas terjebak, dijebak, diam atau melawan sama saja diperangi. Itulah watak imperialis. Dulu Indonesia sering melakukan perjanjian damai dengan penjajah Belanda, toh tetap merdekanya oleh perjuangan fisik. Sebutkan Negara mana di dunia yang kemerdekaannya dihadiahkan oleh si penjajah?” (20-01-2009 / 07: 07: 15)
Saya: “Ass. Bang apa kabar? Karena pertanyaan terakhir tidak dijawab. Saya ajukan pertanyaan lain, optimiskah abang bahwa Obama akan seriusi nasib palestina?” (22-01-2009 / 08: 00: 23)
Beliau: “Tidak optimis” (22-01-2009 / 19: 06: 52)
Saya: “Wah…nampaknya abang sudah bosan ya. Ya sudah kita sudahi saja. Semoga sehat selalu. Salam.” (22-01-2009 / 19: 19: 23)
Beliau: (Tidak ada jawaban)

Sebenarnya saya ingin menambahkan beberapa penjelasan dari obrolan tersebut. Tapi nampaknya tidak terlalu fair. Kecuali si ‘beliau’ berkenan bergabung bersama kita di blog ini memberikan tanggapan. Silahkan forum terbuka dimulai……
wh